Everybody http://www.leapidea.com/blog?userId=1Everybody 's weblogsNPT - APA MASIH PUNYA GIGI?http://www.leapidea.com/blog?blogId=1Kenyataan menunjukan masih banyak negara yang mengembangkan teknologi persenjataan nuklirnya pada saat ini. Kenyataan juga menunjukan bahwa negara-negara inilah yang mempunyai bargaining power dalam percaturan politik dan perdagangan dunia. Kita ikut menanda tangani NPT, dan mengikutinya. Kemana kita akan melanglah dalam percaturan dunia? Sebagai bangsa besar dengan penduduk yang besar juga, apakah kita akan terus jadi "anak baik"? Ditakut-takuti terus dengan ancaman dipotong bantuan atau di-embargo?<br>
Dalam tulisan saya di media dan di beberapa seminar, saya mengemukakan bahwa kita harus membuat pilihan untuk mmempunyai bargaining power dipercaturan internasional. Ada dua pilihan teknologi yang saya kemukakan - peroketan atau nuklir. Dalam keadaan bangsa kita seperti sekarang ini, peeroketan yang jadi pilihan. Kita mempunyai potensi yang memadai, LAPAN, BPPT, TNI-AU, DEPT PERTAHANAN, PT DI, ITB dan lain-lain.<br>
Selalu jadi "anak baik" tidak menguntungkan. Kita harus mempunyai tekad.<br>
Jakarta, 10 Mei 2005. RR Rahardi Ramelan2005-05-09PE (PAJAK/PUNGUTAN -EKSPOR) KOMODITI PRIMER PERTANIANhttp://www.leapidea.com/blog?blogId=2Sudah beberapa waktu ini Menperdag menyatakan perlunya PE untuk komoditi primer pertanian, terutama kakao (KOMPAS 10 Mei 2005). Penerapan PE untuk komoditi primer pertanian ini sangat diperlukan untuk memperkuat agro-industri kita. Meningkatkan nilai tambah dan memperluas lapangan kerja. Tentu kebijakan ini tidak terbatas pada kakao saja yang saat ini banyak diekspor hanya sebagai biji kakao, dan kadang-kadang tidak melalui proses fermentasi, yang akhirnya merugikan kita. Foreign buyer yang dibantu oleh pengusaha pengumpul berkeliaran disentra-sentra pertanian. Hal ini bukan hanya terjadi pada komoditi kakao saja, tapi juga komoditi lainnya, seperti minyak kelapa sawit (CPO), kopi, biji mete dan lain-lain. Saya sebagai Menperindag sudah mengutarakan gagasan ini pada tahun 1999, dan mendapat tentangan dari mereka yang mendapatkan keuntungan dari mengekspor primary product ini (NERACA, 29 April 1999 dan 28 Mei 1999; BISNIS INDONESIA, 1 Juni 1999; MEDIA INDONESIA, 21 Agustus 1999). Janganlah Indonesia tetap dikenal sebagai pengekspor produk primer pertanian seperti zaman VOC dulu. <br>
Saya percaya, pemerintah SBY-JK akan segera menerapkan kebijakan ini.<br>
Jakarta, 10 Mei 2005. RRRahardi Ramelan2005-05-09SIARAN PERS RAHARDIhttp://www.leapidea.com/blog?blogId=3PENJELASAN PERKARA RAHARDI RAMELAN<br>
<br>
1. Hari ini tanggal 15 Agustus 2005, saya telah menerima Putusan MA No. 1460, tanggal 27 Oktober 2004, yang isinya menolak kasasi baik yang saya ajukan maupun diajukan oleh JPU. Ini berarti bahwa dalam kasus Buloggate II ini saya harus menjalani hukuman yang divonis oleh Pangadilan Negari Jakarta Selatan pada tanggal 24 Desember 2002, dan dikukuhkan oleh Keputusan Pengadilan Tinggi Jakarta pada tanggal 31 Desember 2003, yaitu 2 tahun penjara, 50 juta rupiah denda, 400 juta rupiah mengembalikan uang negara, dan 7500 rupiah biaya pengadilan. Saya dan banyak teman-teman saya, dan mungkin anda-anda mempertanyakan mengapa keputusan yang telah ditetapkan pada 27 Oktober 2004, baru saya terima pada hari ini. <br>
Kita semua boleh dan dapat menerka-nerka penyebab dan alasannya.<br>
Seperti pernah saya sampaikan pada tanggal 24 Desember 2002, setelah vonis dibacakan oleh Majelis Hakim, bahwa kasus Buloggate II ini adalah kasus politik yang dijadikan kasus “tindak pidana korupsi”. Maka hari ini (sesungguhnya sudah tanggal 27 Oktober 2004 yang lalu) menjadi lebih nampak bahwa perseteruan politik yang dipidanakan “melalui jalan hukum” telah menetapkan “kambing hitam” nya. Rahardi Ramelan harus masuk penjara. Peran utama Buloggate II telah lama bebas.<br>
<br>
2. Masalah dana non bujeter Bulog yang dicurigai mengalir ke Partai Golkar, Buloggate II, telah muncul sejak Juni 2000. Prof. DR. Mahfud selaku Menteri Pertahanan dalam pemerintahan Presiden Abdurachman Wahid (Gusdur), dengan data yang diterima dari DR. Rizal Ramli selaku Kepala Bulog, telah melaporkan hal tersebut kepada Gusdur. Kasus ini mereda karena ada kasus baru, mengenai penggunaan dana Yanatera Bulog, Buloggate I. Buloggate I telah disinyalir melibatkan Gusdur, dan melahirkan terdakwa Suwondo dan Dr. Sapuan. Buloggate I ini telah dimanfaatkan oleh musuh-musuh politik Gusdur untuk menyudutkannya, dan mendorong digelarnya Sidang Istimewa MPR. <br>
Pada Juli 2001, sewaktu saya berada di MIT sebagai visiting scholar, menjelang sidang istimewa MPR Buloggate II dimunculkan lagi oleh Kejaksaaan Agung, dan telah menetapkan saya sebagai tersangka. Sedang berita sebelumnya, saya saya ditetapkan sebagai saksi dalam kasus Ir. Akbar Tandjung. Kemudian proses character assassination terhadap saya telah dilakukan oleh berbagai kekuatan politik, dimotori oleh Kejaksaan Agung. Dituduh dan dicap sebagai seorang koruptor sekelas dengan Prayogo Pangestu dan Nursalim. Bersembunyi diluar negeri sehingga harus dikejar oleh Interpol. Walaupun pada waktu itu saya masih anggota Dewan Pembina Partai Golkar, tapi tidak ada pembelaan yang keluar dari Partai Golkar maupun dari mantan atasan saya, Presiden BJ Habibie. Para elit Partai Golkar gencar menghimbau saya untuk tidak kembali ketanah air. Dan berusaha meyakinkan saya bahwa perubahan akan terjadi setelah adanya pergantian kekuasaan. Disisi lain Menristek DR. A.S. Hikam, yang berasal dari PKB, mendesak saya segera kembali ke Indonesia, dengan alasan karena sangat diperlukan oleh BPPT. Baru kemudian saya menyadarinya bahwa upaya para elit Partai Golkar agar saya tetap berada diluar negeri, agar opini masyarakat terus terbentuk bahwa kasus ini adalah kasus Rahardi, dan bukan kasus Partai Golkar ataupun elitnya. <br>
Jelaslah bagi saya dan bagi kita semua yang tidak buta politik, bahwa kasus Buloggate I dan Buloggate II adalah kasus politik antara Partai Golkar dan PKB dalam perebutan kekuasaan. <br>
Sidang Istimewa MPR pada akhir bulan Juli 2001, tidak menempatkan Partai Golkar pada posisi yang lebih baik, dan terpaksa berkoalisi dengan PDIP, walaupun merupakan koalisi yang semu. Menyadari bahwa Buloggate II dapat mencuat kembali, partai Golkar terus melancarkan manuver politik, dengan menegaskan bahwa yang bertanggung jawab atas penggunaan dana nonbujeter Bulog tersebut adalah Kepala Bulog. Seorang fungsionaris Partai Golkar, melalui saudara Yan Juanda (yang kemudian menjadi anggota tim penasihat hukum yang pertama), mengirimkan usulan skema aliran dana non bujeter Bulog, yang kemudian dikenal dengan Skenario Mahakam, dan telah meminta agar saya mau menyetujuinya. <br>
Dalam keadaan terpojok sebagai tersangka itulah saya kembali ke Indonesia. Harga diri saya telah diinjak-injak oleh penguasa dan elit politik termasuk dilingkungan saya sendiri. Dan kemudian dijadikan terdakwa dan dijebloskan kedalam tahanan di LP Cipinang. Dijadikan terdakwa tindak pidana korupsi dengan kerugian negara sebesar 62,9 miliar rupiah.<br>
<br>
3. Selama pemeriksaan di Kejaksaan Agung, sebagian besar (85 persen) pertanyaan kepada saya berkisar pada masalah dana 40 miliar rupiah yang diterima Akbar Tandjung dan dana 10 miliar rupiah yang diterima oleh Jenderal Wiranto. Mengenai pengeluaran lainnya hanya ditanyakan sepintas lalu apakah tanda tangan persetujuan pemakaian dana tersebut berasal dari saya. Saksi Sdr. Ruskandar, yang kemudian dijadikan juga terdakwa, pernah menyampaikan kepada saya, telah mendapat intimidasi dari elit-elit Partai Golkar untuk mengakui bahwa cek dana 40 miliar rupiah diserahkan kepada saya, sesuai Skenario Mahakam, yang katanya sudah saya setujui. Dalam pemeriksaan dan proses persidangan, pengacara (yang lama) kemudian menekankan, bahwa saya akan tersandung hal-hal kecil lainnya. Demikian juga dalam pertemuan Mahakam, pengacara Akbar Tanjung menyatakan hal yang sama. Rupanya Skenario Mahakam yang direncanakan sudah bergulir jauh, tanpa sepengetahuan saya. Dan sayapun tetap pada pendirian saya, tidak bersedia untuk kompromi. Dan kenyataannya JPU mengdakwakan kepada saya, selain 40 miliar dan 10 miliar rupiah, selain “hal-hal kecil” lainnya, juga dana PT Goro Batara Sakti dan dana yang diberikan kepada DR. Laode Kamaluddin. Termasuk pembangunan mesjid didalam kompleks Kantor Pusat Bulog, didakwakan sebagai tindak pidana korupsi. Sudah banyak mesjid yang dibangun oleh Bulog, ditempat lain, oleh semua Kepala Bulog (termasuk DR. Rizal Ramli dan Drs. Yusuf Kalla). Mengapa hal tersebut tidak dikatagorikan tindak pidana korupsi? Jelaslah ketidak sediaan sya mengikuti Skenario Mahakam, telah dihadang dengan “hal-hal kecil” tersebut.<br>
Didalam persidangan, sebagian besar waktu telah disita untuk mengungkap kasus 40 miliar rupiah. Tetapi saksi-saksi yang penting, petinggi Partai Golkar, yang dimintakan oleh terdakwa untuk dihadirkan selalu ditolak, baik oleh JPU maupun oleh Majelis Hakim. Berkas perkara yang diajukan JPU setebal 20 centimeter, 85 persen berisi berita acara pemerikasaan yang berkaitan dengan dana 40 miliar. Berita acara pemeriksaan dilapangan di DKI Jakarta (12 buah), Jawa Tengah (25 buah), dan Jawa Timur (23 buah). Demikian juga barang bukti dari Yayasan Raudatul Jannah, merupakan bagian terbesar dari barang bukti, dan didalam sidang diakui bahwa kesemuanya atau sebagian besar adalah fiktif. Kebohongan demi kebohongan yang disuguhkan dalam sidang oleh para saksi. Demikian juga tidak jelasnya keberadaan Yayasan Raudatul Jannah Tetapi kesemua itu tidak diakomodasikan dalam Sidang dengan terdakwa Ir. Akbar Tandjung, Dadang Sukandar, dan Winfried Simatupang. Seolah-olah ada tembok Cina atau fire wall diantara kedua sidang tersebut. Sedangkan dalam dakwaan jelas-jelas dinyatakan bahwa kedua sidang tersebut ada hubungannya. Yang lebih mengagetkan lagi, diakhir tuntutannya, JPU meminta kepada Majelis Hakim agar menyatakan bahwa surat-surat dan berkas yang disita dari Yayasan Radautul Jannah dan Winfried Simatupang (PT Bintang Laut Timur) dirampas untuk dimusnahkan. Makin jelaslah bagi kita semua, bahwa upaya untuk mengamankan para elit politik Partai Golkar telah diskenariokan sejak awal sampai kepada pemusnahan bukti untuk menghilangkan jejak, sehingga tidak dapat dipelajari oleh generasi muda kita yang ingin mencari kebenaran, dikemudian hari.<br>
<br>
4. Salah satu keputusan baik ditingkat PN, PT dan MA adalah pengeluaran dana nonbujeter Bulog sebesar Rp. 4.630.520.784.-, untuk pencairan bank garansi dalam pembatalan perjanjian tukar guling dengan PT Goro Batara Sakti. Mengenai hal ini dalam persidangan, dalam nota pembelaan, memori banding dan memori kasasi telah dijelaskan, bahwa pengeluaran dana sebesar Rp. 4.630.520. 784.- tersebut, dalam waktu satu hari bank garansi telah cair dan masuk kedalam rekening Bulog sebesar Rp. 5.788.150.980.- yang merupakan keseluruhan nilai bank garansi. Tetapi dalam amar keputusannya Majelis Hakim menyatakan – “Menimbang, bahwa walaupun tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh terdakwa berakibat merugikan negara sebesar: - Rp. 4.630.520.784,- untuk menutupi Bank Garansi PT Goro Batara Sakti sehubungan dengan pembatalan ruilslag antara Bulog dengan PT Goro Batara Sakti;----------- Namun karena uang sebesar Rp. 4.630.520.784,- tersebut menjadi kewajiban dari PT Goro Batara Sakti untuk dibayarkan kepada Bulog, maka bukanlah jadi kewajiban dari terdakwa untuk mengembalikannya ---------“<br>
Disisi lain Majelis masih berpendapat – “ternyata Bulog hanya mendapatkan pengembalian sebesar Rp. 1.157.630.200.- sedangkan selebihnya sebesar Rp. 3.058.202.780,- masih berupa piutang BULOG kepada PT Goro Batara Sakti yang belum dibayar”. <br>
Pengadilan Tinggi Jakarta, pada tanggal 29 Desember 2004, dalam kasus dana nonbujeter Bulog yang sama, dengan terdakwa Drs. Achmad Ruskandar MBA , dalam pertimbangannya menyatakan - “Menimbang bahwa dari fakta tersebut diatas maka sebenarnya kerugian Negara secara riil tidak ada, karena dana talangan sebesar Rp. 4.688.150.980 telah kembali seutuhnya dalam waktu hanya satu hari dan bahkan telah berhasil menarik dana Bank Garansi yang tidak dapat dicairkan sebelumnya yang jumlahnya sebesar Rp 1.100.000.000,-“, kemudian ----– “Menimbang, bahwa dengan pertimbangan tersebut, Majelis Pengadilan Tinggi menilai, bahwa tindakan terdakwa itu salah dari Administrasi Keuangan, namun Majelis Hakim Pengadilan Tinggi menilai bahwa sebenarnya ada itikad baik dari Terdakwa untuk menyelamatkan keuangan Negara yang berupa Bank Garansi“. Bukankah ini berarti juga bagi saya yang menyetujui usulan Drs. Achmad Ruskandar, MBA tersebut, mempunyai itikad yang baik? Sehingga tidak ada kerugian negara, Tetapi Pengadilan Tinggi Jakarta dalam amar keputusannya ----„Menyatakan terdakwa Drs. Achmad Ruskandar, MBA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak Pidana „KORUPSI“; --------.“ <br>
Sungguh aneh. Dimana letak pidana korupsinya? Kenapa Pengadilan Tinggi yang sama, dalam perkara yang sama mempunyai pandangan yang berbeda?<br>
Bagaimana kalau saya tidak menyetujui usul Drs. Achmad Ruskandar, MBA, sehingga terjadi kerugian negara? Apa saya juga dipersalahkan?<br>
Demikianlah kalau masalah bank Garansi PT Goro Batara Sakti ini hanya menjadi tempelan yang dipaksakan kebenarannya. Tidak seorangpun dari PT Goro Batara Sakti pernah diperiksa di Kejaksaan Agung ataupun dijadikan saksi di persidangan. <br>
<br>
5. Dikeluarkannya dana sebesar Rp. 400 juta, untuk kepentingan forum Pengembangan Demokrasi Melalui Pemberitaan Pers yang Obyektif dan Berimbang, yang diterima oleh DR. Laode Kamaluddin melalui Mayjen (purnawirawan) Cholid Ghozali (waktu itu menjabat Irjen Deperindag). Didalam persidangan berulang kali telah diungkapkan bahwa seluruh dana tersebut telah dipertanggung jawabkan oleh DR. Laode Kamaluddin, dan bukti pertanggung jawabannya telah diserahkan kepada Mayjen Cholid Ghozali, dan ditunjukan dalam persidangan. Tetapi dalam dokumen yang diteruskan oleh Pengadilan Negeri ke Pengadilan Tinggi tidak tercantum sama sekali tentang keberadaan dokumen pertanggung jawaban DR. Laode Kamaluddin tersebut. Oleh karenanya saya kemudian menyampaikan kepada pengadilan Tinggi Jakarta Memori Banding Tambahan yang dilengkapi dengan kopi laporan pertanggung jawaban DR. Laode Kamaluddin yang dilegalisir oleh Notaris Ny. Asmara Noer, S.H.<br>
Pada tanggal 31 Desember 2003, Majelis Hakim Pengadilan Tinggi telah menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam pertimbangannya Majelis Hakim Pengadilan Tinggi sama sekali tidak menyebutkan adanya Memori Banding Tambahan. Selain itu dalam amar putusannya menyatakan bahwa kontra memori banding tidak diajukan oleh kedua pihak. Kedua hal tersebut betul-betul bertentangan dengan kenyataan dan bukti penerimaan dokumen-dokumen tersebut oleh Pengadilan Tinggi. Kejaksaan Agung tidak pernah memeriksa Dr. Laode Kamaluddin yang jelas-jelas menerima dana Rp. 400 juta, yang diperiksa dan kemudian dijadikan saksi justru orang lain yang menerima dana hanya Rp. 100 juta dari DR. Laode Kamaluddin. Memang kemudian DR. Laode Kamaluddin dijadikan saksi a de charge yang penuh kontroversi. <br>
<br>
6. Hari ini saya akan mematuhi dan menghormati keputusan institusi tertinggi peradilan kita, yaitu Mahkamah Agung. Ini bukan berarti bahwa saya menerima keputusan tersebut, atau mengakui bahwa saya bersalah, seperti yang telah saya jelaskan diatas.<br>
Keputusan seorang hakim menghukum penjara seseorang, tidak berarti menghukum orangnya itu saja. Keputusan itu juga menghukum keluarganya, anak dan istrinya. Orang tuannya dan keluarga lainnya. Menghukum kawan-kawannya. Dan yang penting dalam kasus saya, hakim telah menghukum kebenaran. Menghukum anda-anda juga. Apakah itu keadilan yang selalu didengung-dengungkan? <br>
Saya bersama Tim Penasihat Hukum sedang mempertimbangkan langkah hukum yan masih tersisa. <br>
Keputusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi saya , berarti juga merampas hak saya sebagai manusia yang paling mendasar yaitu kemerdekaan. Apa lagi dalam hari-hari ini, menjelang perayaan hari ulang tahun ke 60 kemerdekaan republik yang kita cintai ini, arti kemerdekaan menjadi sangat penting.<br>
Bagi para elit politik khususnya Partai Golkar, atau mereka yang telah diatur oleh para elit tersebut, yang mengakibatkan saya sampai pada titik ini, haraplah merenung untuk sadar atas kezholimannya. Atau menghadap kecermin dan menatap dalam-dalam dirinya.<br>
Sejak saya kembali ke Indonesia pada akhir September 2001, sudah hampir 4 tahun saya dicekal. Saya tidak dapat meneruskan profesi saya, khususnya diluar negeri.Ketetapan hukum yang belum pasti membuat banyak kawan-kawan saya (khususnya perguruan tinggi swasta) untuk tidak mengikat hubungan pekerjaan.<br>
Dan akhirnya saya dan keluarga menyerahkan segalanya kembali kepada Yang Memiliki Kita, Yang memiliki Alam Semesta, Illahi Robbi. Amien.<br>
Kepada Tim Penasihat Hukum,saya dan keluarga menghaturkan terima kasih atas segala, bantuan, nasihat dan dukungannya. Pekerjaan belum selesai.<br>
Kepada kawan-kawan saya, yang selalu mendukung saya selama dalam pemeriksaan, sidang pengadilan sampai hari ini, saya ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya.<br>
Kepada para insan pers, baik cetak maupun elektronika saya ucapkan terima kasih atas dukungannya, anda-anda memegang posisi yang penting dalam memberikan berita kebenaran kepada masyarakat untuk membentuk opini mereka.<br>
Dan akhirnya marilah kita panjatkan puji syukur kita, kehadirat Allah Penguasa Alam, agar kita selalu mendapat perlindungannya. Amien.<br>
Kepada semuanya saya mohon doa restu dan dukungannya.<br>
<br>
Jakarta, 15 Agustus 2005<br>
Rahardi Ramelan<br>
Rahardi Ramelan2005-08-29BBM dan ENRGI ALTERNATIFhttp://www.leapidea.com/blog?blogId=4Kelangkaan BBM dan tingginya harga minyak bumi, mendorong lagi kita ramai-ramai membicarakan mengenai alternatif energi, khususnya untuk kendaraan bermotor. Janganlah upaya ini nanti berhenti lagi kalau harga minyak bumi menurun dibawah 40 dollar per barrel.<br>
Di tahun 1980-an, kita pernah menggelar secara intensif dan extensif program bahan bakar alternatif ini. Tapi kemudian mati dengan menurunnya harga minyak bumi dan pergantian pejabat. Proyek gasohol, bensin dengan campuran 10% ethanol, telah tuntas dikaji dan diuji, bersama dengan produsen kendaraan bermotor. Lembaga penelitian dan pilotplant pembuatan ethanol khusunya dari pati singkong di Lampung, telah selesai dan beroperasi. Tapi kemudian program ini mati. Bersamaan dengan itu juga proyek pemakaian CNG diluncurkan. Guberbur DKI Jakarta telah menetapkan bahwa semua taksi baru harus memanfaatkan CNG. Pertamina menunjuk 7 buah SPBU di DKI Jakaarta untuk mendistrubusikan CNG. Kemudian perusahaan produsen bis diharuskan mengembangkan bis (khususnya bis kota) dengan menggunakan mesin yang memenfaatkan CNG. Sayangnya kemudian Menteri Pertambangan pada waktu itu mengijinkan juga pemanfaatan LPG. Proyek jadi tidak jelas. Desakan produsen mobil yang memakai mesin solar, menyebabkan Gubernur DKI kemudian mengijinkan juga taksi memakai mesin solar (mesin solar tidak bisa dikonversi untuk memakai CNG). Seandainya kita konsisten sejak waktu itu, dan diberlakukan luas diseluruh Indonesia, mungkin krisis BBM dan polusi udara dikota besar yang sekarang ini tidak perlu terjadi. Semoga kali ini kita bisa konsisten. RR September 2005 - LP CipinangRahardi Ramelan2005-09-19DWITUNGGAL - CHEMISTRY - HARMONIShttp://www.leapidea.com/blog?blogId=5Dugaan mengenai adanya ketidak serasian antara SBY dan JK, makin menjadi-jadi dengan diselenggarakannya sidang kabinet melalui telekonperensi dari Amerika. Ditambah lagi dalam telekonperensi tersebut JK hanya hadir satu kali. JK menyebut itu bukan sidang kabinet, jadi tidak perlu hadir. Sampai-samapi SBY harus menyatakan bahwa hubungan SBY-JK tetap harmonis.<br>
Kita mengenal istilah dwitunggal, untuk menggambarkan hubungan Presiden dengan Wakil Presiden ( zaman Sukarno - Hatta). Sebutan itu hilang sewaktu orde baru, karena Presiden dan Wakil Presiden, dipilih secara terpisah. Dan ini berkembang sampai era Presiden Megawati. Dengan perkembangan demokrasi kita bahwa Presiden dan wakil Presiden, dalam hal ini SBY-JK, yang dipilih secara paket, seharusnya mereka merupakan DWITUNGGAL. Mereka mempunyai konsep yang sama, berkampanye dengan program yang sama. Seharusnya mereka bisa menjadi dwitunggal. Tapi semuanya ternodai dengan adanya garis pemisah saat JK kemudian jadi Ketua Umum Partai Golkar. Sudah jadi perjuangan partai. Tidak ada lagi dwitunggal. Hanya harmonis!! Apa benar???. Disisi lain dimana SBY mempunyai legetimasi penuh untuk membentuk kabinet, ternyata sudah sejak awal, kita semua merasa tidak adanya kesatuan berpikir dan bertindak. Penanganan kasus-kasus tsunami, polio, busung lapar, dan akhir-akhir ini masalah flu burung dan BBM, makin melihatkan kesemerawutan dalam koordinasi. Seharusnya kabinet yang dibentuk SBY ini dapat melihatkan terjadinya CHEMISTRY antara menteri-menteri dan pejabat tinggi. Kenyataannya janganlah chemistry, koordinasipun sudah menjadi langka. Dalam keadaan demikianlah akhirnya masyarakat diminta mengerti, diminta memaklumi. Masyarakat diminta tetap HARMONIS, sambil melihat ketidak adaan DWITUNGGAL, dan tidak adanya CHEMISTRY dipemerintahan. Sabar, sabar, sabarlah kita anggota masyarakat. RR - September 2005, LP CipinangRahardi Ramelan2005-09-19REMISI RAHARDIhttp://www.leapidea.com/blog?blogId=6MENYOAL REMISI RAHARDI?<br>
Gara-gara remisi, sudah masuk penjarapun masih jadi persoalan.<br>
<br>
Sejak tanggal 15 Agustus 2005 sore hari, saya dipenjarakan oleh Negara, setelah siang harinya mendatangi Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan untuk menjalani eksekusi. Sebelumnya, pagi hari saya mendatangi Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk mengambil putusan Mahkamah Agung tertanggal 27 Oktober 2004, yang menolak kasasi saya. Jadi saya harus menjalani hukuman penjara selama 2 tahun dan subsider 3 bulan sesuai keputusan Majelis Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.<br>
<br>
Dalam upacara perayaan peringatan dasawarsa ulang tahun kemerdekaan RI, yang diselenggarakan di LP Cipinang, saya diberi tahu bahwa saya mendapatkan remisi dasawarsa sebesar 2 bulan 8 hari. Dalam kesempatan tersebut, beberapa wartawan dari media masa mengabadikan peristiwa di LP Cipinang dan mewawancarai saya. Salah satu pertanyaannya adalah mengenai remisi tersebut. Dan malamnya serta besoknya tanggal 18 Agustus 2005, mengenai keberadaan saya di LP Cipinang mengikuti upacara 17 Agustus dan mendapatkan remisi, menjadi berita.<br>
Mengenai remisi yang saya peroleh tersebut, rupanya menggelitik kehidupan politik kita. Dalam Rapat Kerja Komisi III dengan Departemen Hukum dan HAM, anggota DPR Trimedya Panjaitan dari Fraksi PDIP, telah menanyakan mengenai pemberian remisi kepada saya. Bagaimana Rahardi yang baru 3 hari menjalani hukuman sudah mendapatkan remisi, demikian katanya. Saya bersama kawan-kawan di penjara, menjadi tercengang, mengapa wakil rakyat, sebelum bertanya, tidak mendalami permasalahannya. Apa hanya sekedar ingin populer?<br>
Saya tidak pernah mengajukan untuk mendapatkan remisi. Remisi Dasawarsa, menurut keterangan yang saya peroleh dari pejabat Lapas Cipinang, diberikan berdasarkan keputusan presiden. Semua wargabinaan, sekali lagi semua, yang berada di Lapas, dan menjalani hukuman yang sudah tetap, mendapatkan remisi sebesar 1/12 dari masa hukuman. Jadi saya mendapatkan remisi sebesar 2 bulan 8 hari. Remisi ini diberikan tanpa kecuali, berlaku bagi semua narapidana.<br>
Apakah anggota DPR terhormat tersebut tidak mengetahui peraturan tersebut? Sedihlah rakyat yang diwakilinya.<br>
Tapi masalah ini tidak berhenti disini. Pada tanggal 20 Oktober 2005, saya diminta datang kekantor Kepala Lapas untuk menemui 2 orang pejabat Ispektorat Jenderal, Departemen Hukum dan HAM. Seorang wanita dan seorang pria. Maksud kedatangannya untuk menanyakan mengenai pemberian remisi. Apakah saya memberikan sejumlah uang dalam proses tersebut. Saya jadi sangat kaget, mengapa Departemen Hukum dan HAM, sampai sejauh itu. Apa mereka juga tidak mengetahui adanya peraturan mengenai remisi dasawarsa tersebut? Setelah Kalapas menjelaskan maksud kedatangan mereka, maka saya bersama kedua pejabat tersebut dipersilahkan menggunakan ruangan lain. <br>
Saya menjelaskan kembali bahwa saya tidak pernah meminta untuk mendapatkan remisi dasawarsa tersebut. Tapi jelas menurut peraturan, saya berhak mendapatkan remisi dasawarsa tersebut, walaupun pada waktu itu saya baru berada 3 hari dipenjara. Saya bertanya mengapa mereka sampai datang ketemu saya untuk menanyakan masalah remisi tersebut. Setelah saya desak, mereka mejelaskan bahwa Departemen Hukum dan HAM menerima pengaduan dari MKGR Golkar. Pengaduan MKGR Golkar tersebut berdasarkan keluhan dari seorang narapidana di Lapas Narkoba, Cipinang. (Kemudian saya mendapatkan informasi bahwa keluhan tersebut berasal dari saudara Lukman, narapidana kasus narkoba kelas berat). Saya mempertanyakan kepada mereka, apa hubungannya antara MKGR Golkar dengan saudara Lukman? Mereka hanya tersenyum. Apalagi waktu saya mengomentari mungkin ada hubungannya dengan kasus saya, dan bahwa saya keluar dari Partai Golkar.<br>
Saya sampaikan kepada mereka, mengapa hal demikian tidak mereka jawab dan jelaskan sendiri. Departemen mengetahui masalahnya, mengapa sampai harus mendapatkan penjelasan tertulis dari saya. Jawabannya kembali hanya senyum.<br>
<br>
Dalam penjelasan tertulis yang dimintakan, kembali saya mempertanyakan mengapa keputusan MA tanggal 27 Oktober 2004, baru saya terima tanggal 15 Agustus 2005. Bukankah itu yang seharusnya mereka pertanyakan dan perjuangkan. Karena hal tersebut sangat menentukan nasib seseorang seperti saya. Bukan soal remisi yang jelas ada peraturannya?<br>
Mengenai hal yang berkaitan dengan uang, mereka merasa tidak perlu mendapatkan tertulis dari saya.<br>
<br>
Saya baru 67 hari berada di LP Cipinang, masih panjang waktu menghabiskan masa hukuman yang 2 tahun. Apakah ada yang masih meributkan juga remisi-remisi yang akan datang? Sebentar lagi saya mungkin akan mendapatkan remisi Hari Raya. Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak meminta, tetapi itu hak sebagai terpidana mendapatkan remisi. Apa masih ada yang mau ribut? <br>
<br>
LP Cipinang, 22 Oktober 2005 (RR)<br>
Rahardi Ramelan2005-10-22LEBARANhttp://www.leapidea.com/blog?blogId=7<br>
MENGUCAPKAN SELAMAT IDUL FITRIE 1426 H<br>
<br>
MOHON MAAF LAHIR BATHIN<br>
<br>
Keluarga Rahardi Ramelan<br>
<br>
Rahardi Ramelan2005-11-03LP CIPINANG 1http://www.leapidea.com/blog?blogId=8Sudah empat bulan saya berada di LP Cipinang. Banyak cerita yang bisa saya bagi dengan anda-anda. Mulai hari ini, saya akan menyisihkan waktu paling sedikit sekali seminggu untuk berbagi cerita dari LP Cipinang, melalui blog ini.<br>
Selama empat bulan ini saya sudah menulis 6 buah artikel yang dimuat dikoran Tempo dan harian Republika. Setiap baca koran dipagi hari, rasanya republik kita ini tambah ruwet. <br>
Sebuah draft buku sudah selesai, sedang dibaca oleh kawan2 untuk komentar. Buku mengenai akhir dari Buloggate II.<br>
Sedang dalam penulisan buku mengenai teknologi dan industri. Agak santai saya tulis. <br>
Tapi saya melalui blog akan menulis hal-hal yang terjadi di LP Cipinang saja. RR (18 Des 2005)<br>
<br>
<br>
<br>
<br>
<br>
Rahardi Ramelan2005-12-17LP ATAU PENJARA?http://www.leapidea.com/blog?blogId=9Sekarang ini, tempat orang menjalankan hukuman badan dinamai LP atau Lembaga Pemasyarakatan. Sebetulnya para terpidana disiapkan untuk bagaimana mereka dapat kembali kemasyarakatan. Undang-undangnya ada. Peraturannya ada. Tapi apakah semuanya sejalan dengan keputusan politik yang berupa undang-undang? <br>
Jawabnya sangat jelas, tidak, tidak, tidak. Sekali lagi tidak. Hak-hak sebagai narapidana, sekarang disebut warga binaan, sama sekali tidak didapatkan. Ataupun harus di "perjuangkan". Tahukan maksud "perjuangan" dalam rantai peradilan kita. Hampir serupa dengan segala urusan publik kita ada ongkosnya. Kita mulai kehilangan arti public goods. Rasanya semua sudah hampir menjadi private goods, yang berarti ada harganya. Harga dan kwalitas ditentukan oleh rendah dan tingginya jasa atau service.<br>
Sebagai narapidana kita semua disamakan. Ingat 1984 - nya George Orwell? Begitulah gambaran kasarnya. Ruang gerak para napi (narapidana), dihadapi dengan batas-batas yang selamany dipisahkan dengan tembok atau jeruji besi. Ada sel atau kamar, blok, besukan (tempat menerima kunjungan), tempat ibadah, sel pengasingan dan lain-lain. Ada dapur dan rumah sakit. Siapa yang mengatur dan berkuasa? Apa ada perbedaan diantara napi? Ceritanya minggu depan. <br>
LP Cipinang 1 januari 2006.Rahardi Ramelan2005-12-31MA TERLAMBAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=10MASALAH PERHITUNGAN MASA HUKUMAN<br>
Prof. Dr. Ir. Rahardi Ramelan, M.Sc.<br>
<br>
1. Pada tanggal 27 Oktober 2004 Mahkamah Agung R.I. dengan Nomor 1260K/Pid/2004, telah memutus perkara Bpk. Prof. Dr. Ir. Rahardi Ramelan, M.Sc. dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun, sehingga sejak saat itu perkara tersebut telah berkekuatan hukum tetap dan dapat dilaksanakan pemidanaannya seketika itu.<br>
<br>
2. Namun demikian salinan Putusan Mahkamah Agung R.I. tersebut baru diberikan kepada Jaksa Penuntut Umum pada tanggal 11 Agustus 2005, dan baru diterima Bpk. Rahardi Ramelan dan Jaksa Penuntut Umum pada tanggal 15 Agustus 2005, sehingga eksekusi baru dilaksanakan Jaksa Penuntut Umum pada tanggal tersebut. <br>
<br>
3. Eksekusi mana dilakukan secara sukarela oleh Bpk. Rahardi Ramelan tanpa dipanggil oleh pihak Jaksa Penuntut Umum. Dimana Bpk. Rahardi Ramelan datang sendiri ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan untuk menjalankan eksekusi sesegera mungkin. Dan hari itu juga, tanggal 15 Agustus 2005, Bpk. Rahardi Ramelan memulai masa hukumannya di LP Cipinang, Jakarta. <br>
<br>
4. Akibat keterlambatan penyampaian salinan Putusan Mahkamah Agung R.I. tersebut, Bpk. Rahardi Ramelan telah dirugikan (kehilangan hak-haknya selaku Terpidana). Kalau seandainya salinan Putusan diterima pada waktunya dan eksekusi dilaksanakan sesegera mungkin, maka Bpk. Rahardi Ramelan bisa memperoleh hak Remisi Umum, Pemuka dan Donor yang biasa diberikan saat HUT Proklamasi, dengan pengurangan masa pemidanaan kurang lebih 4 – 5 bulan. Namun hak-hak tersebut tidak bisa diperoleh karena keterlambatan Mahkamah Agung R.I. dalam menyampaikan salinan Putusan.<br>
<br>
5. Hal tersebut mempengaruhi akhir masa pemidanaan, dan juga hak-hak Bpk. Rahardi Ramelan sebagai terpidana, seperti hak Cuti Mengunjungi Keluarga (CMK), menjalankan Asimilasi, Cuti Menjelang Bebas (CMB) ataupun hak Pembebasan Bersyarat (PB). Dimana hak CMK dan Asimilasi bisa diperoleh setelah menjalani ½ masa penghukuman, sedang CMB dan PB bisa diperoleh setelah menjalani 2/3 masa penghukuman.<br>
<br>
6. Dalam memperhitungkan saat pemberian hak tersebut, pejabat Lembaga Pemasyarakatan berpendapat bahwa pemberian hak dihitung sejak eksekusi dijalankan Jaksa Penuntut Umum yakni tanggal 15 Agustus 2005, sehingga hak CMK/Asimilasi dapat diberikan sejak bulan Mei 2006, CMB/PB dapat diberikan sejak bulan Agustus 2006, dan Bebas bulan Nopember 2006.<br>
<br>
7. Beberapa pejabat yang pernah mendalami masalah tersebut, yaitu Bpk. Oetojo Oesman, S.H. (mantan Menteri Kehakiman R.I.) dan Bpk. Adi Sujatno (mantan Dirjen Lembaga Pemasyarakatan, Departemen Hukum dan HAM R.I.), berpendapat bahwa masa Pembebasan/CMB/PB/CMK/Asimilasi dihitung sejak tanggal vonis (Putusan Mahkamah Agung R.I.), yaitu tanggal 27 Oktober 2004, sehingga Bpk. Rahardi Ramelan dapat memperoleh hak CMB/PB sejak bulan Nopember 2005, dan Bebas pada bulan Mei 2006.<br>
<br>
8. Terlepas dari kepentingan Bpk. Rahardi Ramelan, secara logika hak Pembebasan/CMB/PB/CMK/Asimilasi seyogyanya dihitung sejak Putusan memperoleh kekuatan hukum tetap, karena sejak saat itu putusan pemidanaan sudah dapat dilaksanakan dan hak-hak Terpidana sudah melekat. Adapun bilamana terjadi keterlambatan penyampaian salinan Putusan yang mengakibatkan terlambatnya pelaksanaan eksekusi, hal mana merupakan kelalaian dan tanggung jawab pihak Mahkamah Agung R.I. dan/atau Jaksa Penuntut Umum sehingga tidak semestinya berakibat merugikan hak-hak Terpidana. <br>
Terlebih dalam hal ini, Bpk. Rahardi Ramelan telah dirugikan dengan kehilangan haknya untuk memperoleh Remisi Umum, dan kemungkinan remisi Pemuka dan Donor.<br>
Sehingga sangatlah ironis bilamana Bpk. Rahardi Ramelan kembali harus dirugikan atas upayanya untuk memperoleh hak Pembebasan/CMB/PB/CMK/Asimilasi selaku Terpidana.<br>
<br>
9. Mengingat pelaksanaan perhitungan masa pemindanaan merupakan kewenangan jajaran Departemen Hukum dan HAM, perlu kiranya ada arahan dari Bpk. Menteri Hukum dan HAM R.I. ataupun pejabat yang berwenang.<br>
<br>
<br>
Jakarta, Oktober 2005<br>
Keluarga Bpk. Rahardi Ramelan.<br>
Rahardi Ramelan2006-01-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=11APAKAH EKONOMI RAKYAT ITU?<br>
Sudah sering kita dengar kata Ekonomi Rakyat. Sering diucapkan politisi untuk mencari simpati rakyat, terutama menjelang pemilu. Tapi apakah kita mengerti maksudnya? Bagaimana sebetulnya bentuk ekonomi rakyat dalam prakteknya?<br>
Pakar atau boleh dikatakan Empunya Ekonomi Rakyat Pak Mubyarto sudah tidak ada, jadi tidak bisa kita tanyai. Apakah mungkin yang dimaksud adalah Sistem Ekonomi yang memihak rakyat. Kemudian timbul pertanyaan, apakah ada sistem ekonomi yang tidak memihak rakyat? Kita juga pernah mengenal Sistem Ekonomi Terpimpin, kemudian ada Sistem Ekonomi Pancasila. Kita mengenal juga Sistem Ekonomi Kapitalis, Ekonomi Pasar, dan Ekonomi Sosialis. Setelah Perang Dunia II, misalnya Jerman (waktu itu masih Jerman Barat) menerapkan Sistem Ekonomi Pasar yang sosialis, disebut Soziale Marktwirtshaft, yang membawa Jerman menjadi negara maju. Kalau mengikuti segala macam definisi diatas, kita jadi bingung. Rakyat jadi bingung. Bisa-bisa tujuannya bisa jadi tidak tercapai. Tujuannya adalah mensejahterakan sebagian besar rakyat kita. <br>
Dalam suasana sekarang ini, kita menghadapi gelombang liberalisasi perdagangan didunia dan juga ditanah air. Persaingan berlangsung seperti dalam ekonomi pasar yang biasa. Katanya reformasi, tetapi dalam bidang ekonomi arahnya makin tidak jelas. Apa masih memihak ekonominya rakyat?<br>
Apakah kita semua masih sadar dan yakin bahwa kita masih menganut Ekonomi Pancasila? Politik Ekonomi yang memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Maksudnya rakyat kecil atau wong cilik? Apakah pemerintah pusat, pemerintah daerah, gubernur, bupati, camat, lurah, apa sudah berpijak pada Ekonomi Pancasila tersebut? Bagaimana dengan para wakil kita di depeer dan depeerde?<br>
Dalam prakteknya berbagai ragam penyebutan jenis usaha untuk lebih menjelaskan ekonomi rakyat secara spesifik telah dipergunakan, seperti: usaha kecil, usaha tradisional, usaha rumah tangga, usaha informal, pedagang kaki lima, pedagang asongan, , warteg, warung, bakul, dan lain sebagainya. Dalam angkutan kota kita kenal angkutan becak, ojek motor, ojek sepeda, delman, andong, dan yang lain. Yang jelas mereka ada karena ada pasarnya dan peminatnya. Peminatnya bukan hanya dari kalangan rakyat bawah saja, tapi juga kalangan menengah dan atas. Eksistensi mereka diperlukan oleh kita. Mereka bagian dari Ekonomi Pancasila. Mereka pelaku Ekonomi Rakyat. (rahardi@ramelan.com). (Pos Kota – 7 Februari 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-02-18EKONOMI RAKYAT 2http://www.leapidea.com/blog?blogId=12FORMALIN DAN JASA BOGA<br>
<br>
Baru terlepas dari wabah flu burung, muncul isyu formalin sebagai bahan pengawet makanan. Puncaknya isyu formalin ini baru saja lewat. Yang paling terkena dengan merebaknya pemakaian formalin tersebut, seperti halnya flu burung, lagi-lagi ekonomi rakyat, ekonomi dan usahanya rakyat kecil. Tahu dan tempe sudah jadi menu utama masyarakat lapis bawah. Lebih mewah sedikit menunya ditambah ikan asin. Bukan hanya merupakan menu dirumah, tapi juga menu di warung-warung makan, warteg, atau mbok bakul nasi. Tanpa disadari hampir seumur hidup kita sampai sekarang, setiap hari mengkonsumsi formalin. <br>
Mengapa ributnya baru sekarang? Depkes menuduh BPOM, demikian juga sebaliknya. Depkes minta BPOM kembali ke departemen. Pusat menuduh daerah, katanya sudah otonomi. Jadi dinas didaerah yang bertanggung jawab. Daerah menuduh pusat. Bagi yang menonton teve, seperti ada program humor dan lawak baru, program yang sedang populer. Sungguh menggelikan. Sepertinya mereka berusaha seperti stasiun teve untuk menaikkan rating saja. Yang menjadi korban kembali masyarakat dan pelaku ekonomi rakyat. <br>
Masalah zat kimia terlarang dalam makanan sudah lama jadi isyu nasional. Bukan hanya formalin, tapi juga boraks dan rodhamin B, zat pewarna tekstil. Setiap hari kita bisa menyaksikan bahwa perdagangan makanan-makanan tersebut berada disekitar hampir semua sekolah. Jadi makanannya anak-anak kita, generasi penerus bangsa. Bagaimana nasibnya bangsa kita ini?<br>
Selain pemakaian zat kimia terlarang tersebut, ada masalah lain dalam usaha jasa boga. Sering kita mendengar adanya keracunan ditempat kondangan, atau di kantin perusahaan dan sekolah. Setiap tahun kasus keracunan selalu ada dan jumlah kejadiannya besar. Menurut keterangan BPOM keracunan yang terjadi bersumber pada pengolahan makanan yang tidak higienis. Industri rumah tangga dibidang pangan (IRTP) menurut BPOM berjumlah lebih dari 500.000 buah, berada diseluruh bagian nusantara. Bisa kita bayangkan berapa ratus ribu tenaga kerja yang terserap, dan berapa juta yang jadi pelangganya. Ini menjadi masalah yang serius, jangan dianggap masalah sepele. Seperti halnya industri rumah tangga lainnya sukar bagi kita mengetahui asal dan mutu bahan yang dipakai, bagaimana prosenya, dan siapa yang mengawasi. Rasanya tidak mungkin ditingkat pusat, melainkan Dinas Kesehatan atau industri di kabupaten atau wali kota, merekalah yang harus paling mengetahuinya. Mereka adalah usaha informal, uasaha kecil, usaha ekonomi rakyat, mereka perlu bimbingan, mereka perlu perlindungan. Ratusan ribu tenaga kerja, jutaan pelanggan. Mereka bagian dari Ekonomi Pancasila. <br>
Para pengusaha IRTP-pun harus mempertahankan indentitas dan komitmennya, sebagai pengusaha rakyat untuk rakyat. Usaha yang tidak pernah ngemplang bank, dan tidak akan mengemplang pelanggan dengan racun. (rahardi@ramelan.com)<br>
(Pos Kota – 14 Februari 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-02-20EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=13OJEK<br>
Ojek atau ojeg, alat angkut masyarakat yang populer di pelosok kota, kampung, desa dan pinggiran kota. Lebih populer dari busway.<br>
Dari dulu hingga kini di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok dan kawasan Kota, dengan mudah kita temukan ojek sepeda. Di musim hujan muncul juga ojek payung, mengurangi curahan hujan dari kantor ke mobil, atau dari bis ke halte, ke gedung kantor atau mall. Yang paling ngetop adalah ojek motor. Resmikah alat angkut yang satu ini?<br>
Nyatanya ojek banyak dimanfaatkan masyarakat. Kalau ‘macet’ dimanfaatkan oleh siapa saja termasuk eksekutif, menteri, dan politisi. Seorang menteri, pernah terpaksa mempergunakan ojek untuk tepat waktu hadir di sidang kabinet. Di kota besar seperti Jakarta hampir di setiap muara jalan kita temui sederetan motor menunggu penumpang. Siap berebut penumpang yang keluar dari bis atau minibis, maklumlah sebagian sopir bis lebih memilih berhenti persis di mulut atau di simpang jalan, sesuai kehendak penumpang. <br>
Ojek menjadi angkutan utama di pinggir kota, vital bagi yang tinggal di kompleks perumahan. Ojek juga ditemui sepanjang jalan yang menghubungkan kota-kota. Ojek ditemui juga di desa-desa terpencil, menyusuri bukan hanya jalan beraspal, tapi juga jalan setapak. Ojek sudah menjadi moda angkutan yang tidak bisa dikesampingkan. Jumlahnya ratusan ribu mungkin jutaan, tak ada data pasti. Ada yang membuat organisasi sendiri. Mengatur antrian menunggu penumpang atau menyediakan helm untuk penumpangnya. Pangkalan diatur dengan rapih dan beratap. Tetapi ada juga yang semrawut, bersaing tanpa aturan. Jumlahnya tumbuh sangat cepat, bayangkan saja produksi sepeda motor tahun 2005 mencapai 5 juta unit. Berapa jumlahnya yang menjadi ojek? Sukar diterka dan juga tidak ada yang mencatat.<br>
Ojek resminya ilegal, usaha informal, usaha kecil, pokoknya tidak resmi, usahanya wong cilik. Mengojek menjadi pekerjaan yang menjanjikan untuk membiayai kehidupan keluarga. Tidak ada persyaratan, ada yang buta huruf, ada juga yang sarjana. Mengojek juga pekerjaan sampingan pegawai, guru, satpam, pegawai negeri, dan yang lain. Mempunyai motor yang disewakan untuk ojek, lumayan hasilnya.<br>
Sepeda motor mudah didapat melalui kredit perbankan. Kabarnya bisnis ojek ini dimanfaatkan juga sebagai penampungan motor bodong (hasil kejahatan).<br>
Ojek sesungguhnya angkutan umum yang paling tidak efisien. Satu pengemudi untuk satu penumpang. Juga tidak murah, jarak 2-4 km tarifnya bisa sampai Rp 5 ribu di siang hari, malam hari Rp 10 ribu. Bandingkan busway tarifnya Rp 3.500, jaraknya bisa puluhan km. Tetapi kenyataannya, ojek begitu menjamur karena memang dibutuhkan masyarakat. Sayangnya, pemerintah belum mengakui (secara resmi) ojek sebagai bagian dari sistem angkutan umum.<br>
<br>
Aparatpun seperti memaklumi keberadaan ojek. Walaupun berplat nomor hitam, tidak ada yang menindak meski dipakai untuk mengangkut penumpang. Toleransi! Keputusan ditetapkan bersama oleh para pelaku. Jauh dari jangkauan tangan birokrasi yang sering menyulitkan atau tambah biaya. Inilah ekonomi rakyat. Mereka perlu perlindungan. (rahardi@ramelan.com)<br>
(Pos Kota - 21 Februari 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-03-08EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=14TROTOAR dan PKL<br>
<br>
Trotoar dibangun untuk pejalan kaki. Tapi kenyataannya dipakai untuk berbagai kegiatan termasuk PKL. Raffles pernah mengatur bahwa pedagang boleh jualan di trotoar, five feet ( lima kaki) dari depan toko, agar masih ada tempat untuk pejalan kaki. Itulah mulanya PKL – pedagang kaki lima. Apa memang hanya PKL yang menempati trotoar sehingga mengganggu pejalan kaki?<br>
Banyak toko material bangunan, menempatkan tumpukan pasir dan barang dagangannya di trotoar. Di blok A Kebayoran Baru dan Pinangsia toko-toko keramik, saniter, lampu menempatkan dagangannya di depan tokonya, di emperan dan trotoar. Tambah lagi para PKL yang mangkal di depan toko, tidak menyisakan ruang untuk pejalan kaki. Hal serupa terjadi dimana-mana.<br>
Di jalan Radio Dalam dan dikawasan Kelapa Gading misalnya, bengkel mobil dan motor menyita trotoar dan tempat parkir untuk kegiatan bengkelnya. <br>
Ditempat lain misalnya dijalan Sabang dan Kramat, trotoar menjadi warung, tempat duduk para pelanggan sate, martabak, baso dan mie yang mangkal di tempat parkir.<br>
Pemanfaatan trotoar ini kelihatannya aman-aman saja. Ada pengertian antara pemakai, keamanan dan pengawas. Mereka diawasi dan mendapat “pengamanan” dari preman, Tibum, dan PP. Semua lancar karena ada biayanya. <br>
PKL selalu mencari tempat strategis, tempat lalu-lalangnya masyarakat. Terminal dan halte bis, stasiun, tempat parkir, rumah sakit, pasar, daerah pertokoan, pintu atau tangga masuk pusat perbelanjaan, disanalah yang menjadi lahan utama PKL. Dibeberapa tempat mereka sangat menjengkelkan, bukan saja mengambil alih trotoar, tapi juga sebagaian bahu jalan. Pasar Tanah Abang, Pasar Minggu, Kramatjati dan Cawang, pasar Ciputat, simpang Ciawi, hanya sebagian contoh saja.<br>
PKL sering dikejar-kejar Tibum dan PP, diusir, lapaknya dihancurkan, diangkut. Tibum dan PP pergi mereka datang lagi, dalihnya sudah dapat ijin. Tentu kalau ditanya oleh Walikota dari siapa dapat ijinnya, tentu mereka diam. Ijinnya ijin damai, pengertian, tidak tertulis. Masa bapak Walikota tidak tahu? Tetapi mengapa hanya PKL yang dikejar-kejar? Mereka mencari uang makan, uang sekolah anaknya. Mereka tidak bisa dapat beras Raskin (beras untuk orang miskin) karena tidak tercatat. Tidak bisa mendapat subsidi BLT (bantuan langsung tunai), karena tidak punya KK (kartu keluarga). Mereka bekerja mencari nafkah secara halal.<br>
PKL yang pengusaha kecil informal terus dikejar, bagaimana dengan toko material bangunan mengapa dibiarkan. Bengkel motor dan mobil, jelas-jelas bukan pengusaha kecil, terus beroperasi dengan aman. Apa mereka mempunyai hak istimewa dan dapat ijin memakai tempat publik? Apakah ini pencerminan “tebang pilih” dalam penerapan hukum? Dimana pemihakan kepada ekonomi rakyat? Kembalikan trotoar untuk pejalan kaki !!!(rahardi@ramelan.com)<br>
(dimuat Pos Kota 28 Februari 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-03-12EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=15KULI BANGUNAN DAN WARTEG<br>
<br>
Puluhan mungkin ratusan gedung mewah sudah dan sedang dibangun, pusat perbelanjaan, mall, hotel berbintang, apartemen, gedung perkantoran, bank. Di Jakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Yogya, Bandung, dan yang lain.<br>
Siapa yang membangun gedung-gedung mewah ini?<br>
Tentu investornya sebagai pengembang, meminjam uang dari bank. Kemudian artsitek dan konsultan perencana. Lalu kontraktor, yang menjelmakan impian investor menjadi bangunan sesuai rencananya.<br>
Tetapi siapa yang kita lihat bekerja diproyek bangunan tersebut? Mulai penggali tanah, tukang tembok, pemasang rangka beton, tukang cat, mereka mendominasi pekerja yang berada di areal proyek. Mereka bekerja dibawah sengatan terik matahari, guyuran hujan, bergantungan diketinggian puluhan meter. Ada yang pakai topi bisbol, ada juga yang hanya menutupi kepalanya dengan hanya sekadar kain. Siapakah mereka itu? Dimana dan bagaimana mereka makan?<br>
Mereka adalah pekerja, disebut kuli bangunan. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Bekasi, Tanggerang, Tegal, Purwokerto, Wonosari dan lainnya, mencari nafkah di Jakarta ini. Berkelompok, ada kepala tukang, sering disebut juga mandor, tukang, dan kenek. Mereka dipekerjakan oleh kontraktor. Seorang kenek mendapat upah sehari sekitar 25 ribu, tukang 35 ribu, kepala tukang 50 ribu. Bagi kenek sedikit diatas UMP. Tinggal dibedeng-bedeng yang tersedia di area proyek atau dimana saja. <br>
Kalau makan ada yang berkelompok memasak sendiri, ada juga yang di warung. Hampir disemua lokasi kegiatan proyek bermunculan warung makan, sering disebut juga warteg, bakul-bakul nasi yang menyediakan makanan utama bagi para pekerja bangunan. Berapa harga makanan yang masih bisa terjangkau oleh para pekerja tersebut, sehingga masih bisa mengirim uang untuk keluarga. Diwarteg biasanya mengeluarkan uang sekitar 3.500 rupiah untuk sekali makan. Sayur, tahu atau tempe, dan ikan asin. Kalau pakai telor atau daging mencapai 6 ribu. Kalau makan dari bakul nasi, porsinya lebih kecil, harganya rata-rata 1500 rupiah. Di Yogya dikenal nasi kucing yang harganya 500 rupiah. Bagaimana kalau para pekerja tersebut harus makan di kedai nasi atau restoran, adakah masih ada sisa uang mereka untuk keluarganya? Untuk membiayai sekolah anaknya? Atau upah mereka harus disesuaikan dengan harga makanan, keperluan hidup – KHM kebutuhan hidup minimum- untuk keluarganya?<br>
Pekerja bangunan, warteg, bakul nasi adalah ekonomi rakyat. Tidak ada yang mengatur, informal, tidak ada asosiasinya, tetapi berjalan. Inilah ekonomi rakyat yang mendukung dibangunnya gedung-gedung mewah. Mereka butuh perhatian dan perlindungan. Bukan dikejar dan diancam, karena ilegal. Atau dikutip ristribusi(?). Kapan mereka bisa menikmati hasil pekerjaannya? Makan di Food Court, dan ngopi di Starbuck atau Coffe Bean? (rahardi@ramelan.com)<br>
(dimuat Pos Kota 7 Maret 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-03-13EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=16BAJAJ OOH BAJAJ!<br>
<br>
Diganti, tidak, diganti, tidak `E. Begitulah nasib jenis angkutan yang ini selalu menghadapi ketidak pastian. Bajaj dibenci tapi juga dicintai. Mau dibuang sayang dan diperlukan, diteruskan beroperasi mengganggu (katanya). Bajaj sebetulnya menggantikan angkutan yang dulu dilayani becak. Sebelum Bajaj, Jakarta pernah mengenal “Helicak” dan “Super Helicak”, terus hilang entah kemana. Bajaj sering juga disebut angkutan ke IV, kendaraan roda tiga. Bajaj adalah angkutan umum perorangan, dari pintu ke pintu. Di awal tahun 90’ an, Bajaj ribut mau diganti dengan “Tuk-Tuk” asal Thailand. Kemudian heboh muncul “Kancil” ditahun 2004, walaupun peraturan mengatakan bahwa angkutan di pemukiman bisa dilaksanakan oleh kendaraan roda empat atau tiga, tetapi diijinkannya “Kancil” sebagai akat angkut perorangan, banyak menimbulkan tanda tanya. Apa ada perubahan konsep angkutan umum? Beberapa ruas jalan di ibukota dilarang untuk kendaraan roda tiga. Jadi kalau begitu “Kancil” boleh memasuki kawasan tersebut? Apakah iini bentuk diskriminasi terselubung? Apakah “Kancil” bisa memutar dengan radius kecil dijalan sempit? Bagaimana melayani mereka yang tinggal di jalan sempit? Atau jangan-jangan “Kancil” menjadi “mini taxi”? Maklumlah sekarang ini banyak taxi yang enggan melayani jarak dekat. Waktu itu pemerintah DKI begitu menggebu-gebu dengan “Kancil”. Ada apa ya?<br>
Bajaj dengan spesifikasi yang ada, memang banyak mengganggu lingkungan, apalagi dikawasan pemukiman. Suaranya sangat mengganggu pendengaran, apalagi dimalam hari. Gas buangnya (emisi) jelas melebihi ambang batas. Masalah utamanya adalah karena Bajaj memakai mesin 2 tak. Ketika harga BBM melambung, dan ketentuan mengenai batas emisi diberlakukan, maka perlu dicari jalan keluarnya. Masyarakat Jakarta yang hidupnya tergantung dari kenberadaan Bajaj jumlahnya puluhan ribu mungkin ratusan ribu. Ada juragan Bajaj yang memiliki puluhan. Ada juga yang memiliki hanya satu buah dan merangkap jadi sopir, seperti Bajuri! Kalau sopir hanya sebagai penyewa, biasanya setor 25 sampai 30 ribu untuk 12 jam. Ia bisa bawa pulang bersih sekitar 50 ribu. Bagi pemilik, bisa menyewakan 2 kali, dalam satu hari. Penghasilan yang lumayan.<br>
Sebab itu muncul berbagai upaya untuk mempertahankan Bajaj, dengan wajah baru. Upaya untuk menyelamatkan kehidupan puluhan ribu masyarakat ibukota. Bajaj yang ramah lingkungan. Bajaj dengan mempergunakan BBG dan Bajaj Rekondisi bermesin 4 tak, sebagai pilihan. Keputusan Bang Yos, yang kembali untuk mengoperasikan Bajaj perlu dapat dukungan. Keputusan yang memihak ekonomi rakyat. Hey - BPPT dan para perancang industri, bantulah Bang Yos, bantulah Bajuri, bantulah penumpang untuk menikmati Bajaj-Baru yang lebih cantik dan nyaman.<br>
Tokek, tokek, tokek, kek, kek `E Bajaj terus dipake. Tokek, tokek, tokek, kek, kek, kek `E Bajaj terus dipake. (rahardi@ramelan.com)<br>
(DIMUAT POS KOTA 14 MARET 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-03-20EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=17JAMU - OBAT TRADISIONAL<br>
<br>
Krisis 1998 masih terasa oleh sebagaian besar masyarakat di lapis bawah. Katanya reformasi akan membawa kesjahteraan, tapi tidak kunjung datang. Akhir-akhir ini beban masyarakat makin tambah berat, beras yang mahal. BBM bahan bakar mahal. Apalagi yang bakal naik?<br>
Selain makan dan pekerjaan, biaya kesehatan dan pengobatan makin mencekik. Sakit jadi momok, jadi harus tetap sehat dan bugar. Selain olahraga maka menkomsumsi vitamin, herbal, dan berbagai food supplement jadi trend, bagi masyarakat menengah keatas. Tapi bagi masyarakat bawah tetap merupakan “kemewahan”. Herbal dan food supplement, namanya saja keren, tapi sebetulnya sudah lama dikenal sejak nenek moyang, yaitu jamu. Bagi masyarakat bawah, memakai obat tradisional dan jamu adalah solusinya. Pemakaian jamupun meningkat pesat.<br>
Jumlah bakul jamupun meningkat. Warung dan kios jamu bermunculan dimana-mana. Pelaku ekonomi rakyat. Bekerja keras. Menciptakan lapangan kerja sendiri dan untuk yang lain. Tidak membebani pemerintah.<br>
Bakul jamu bangun sekitar pukul 5 pagi, menyiapkan dagangannya. Tidak kurang dari 10 kilo beban dipunggungnya. Semuanya perempuan, berparas sedang, ada juga yang manis, memakai kain kebaya lusuh. Pukul 6 pagi mulai menyusuri jalan dan gang sempit. Pukul 8 pulang untuk mengisi ulang botol-botol. Perjalanan tahap keduanya dimulai sekitar pukul satu, kembali pukul 3 sore. Hasilnya bisa menghidupi keluarganya. Rata-rata membawa pulang 80 – 85 ribu rupiah setiap hari. Modal 15 ribu untuk bahan baku, modal lainnya sebesar 30 ribu rupiah untuk membeli beberapa jenis jamu instan, telor dan madu. Hasil bersih sehari mencapai 30 – 35 ribu rupiah, kalau tidak hujan. Lebih baik dari UMP! Malam hari mempersiapkan jamu untuk hari berikutnya. Jumlah mereka di Jakarta ribuan malah puluhan ribu.<br>
Warung dan kios jamu bermunculan. Kios dikontrak 8 – 10 juta rupiah pertahun. Berbagai jenis dan merek jamu tersedia. Bangku panjang untuk duduk para pelanggan. Malam haripun tetap buka, lampu terang menarik para pelanggan untuk nongkrong. Semula jamu didapat dengan konsinyasi, sekarang tidak menguntungkan lagi. Sekarang jamu dibeli sendiri, demikian juga madu dan telor. Penghasilannyapun meningkat, disamping jamu juga jualan mangir, jamu tolak angin, jamu kuat, STMJ. Penghasilan kotornya sehari sampai 100 ribu. Pas-pasan untuk membiayai kehidupannya. <br>
Sekarang ada juga jamu gerobak. Jumlahnya belum banyak, beli gerobak satu juta rupiah. Penghasilan bersihnya 35-40 ribu rupiah perhari.<br>
Mereka interpreuner, memberikan alternatif biaya kesehatan dan pengobatan yang terjangkau. Tidak ada yang mengatur. Mereka penerus warisan kearifan nenek moyang. Pelaku ekonomi rakyat. Kapan Menteri Kesehatan dan Menteri UKM minum jamu, beramai-ramai dan diexpose? Kapan bakul jamu dapat tempat di mall dan pusat belanja?(rahardi@ramelan.com)<br>
(DIMUAT POS KOTA 21 MARET 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-03-28EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=18ODONG – ODONG<br>
<br>
Tadinya saya kira odong-odong hanya sejenis angkutan wisata yang digandrungi anak-anak penghuni pemukiman dipinggiran kota. Nyatanya odong-odong banyak artinya, misalnya didaerah Bogor adalah sebutan untuk angkutan roda tiga semacam becak sederhana. Didaerah terpencil di Jawa Barat angkutan yang menggunakan jip terbuka tanpa atap, juga disebut odong-odong. Dalam bisnis sukucadang odong-odong, juga berarti palsu atau aspal, atau juga disebut bodong. Yang agak lain menurut salah satu kamus disitus internet, odong-odong juga berarti PSK atau perek. Lain laut lain ikannya. <br>
Tetapi yang dimaksud odong-odong dalam tulisan ini adalah jasa angkutan wisata untuk anak-anak yang dilengkapi musik. Odong-odong ini semacam beca sederhana yang dihiasi dengan berbagai relief binatang, seperti gajah, garuda, kuda dan lain sebagainya, yang warna warni. Dibagian bawah depan dipasang alat pengeras suara lengkap dengan pemutar kaset. Berbagai jenis musik yang disenangi anak-anak tersedia. Dangdut, musik melayu, dan musik favoritnya anak-anak. Musiknya biasa distel kuat sekali agar sudah didengar dari jarak jauh. Odong-odong ini bisa ditumpangi 6 sampai 8 penumpang.<br>
Odong-odong biasanya dimiliki seorang juragan yang memiliki beberapa buah, dan disewa oleh pemakai atau operator. Ada juga pemakai atau operator yang memiliki odong-odongnya sendiri. Kebanyakan odong-odong dibuat dari komponen-komponen beca tua, ongkos pembuatannya sekitar 2 juta rupiah. Sang juragan selain menyewakan, juga menjual odong-odongnya kepada ‘operator’ dengan harga sampai 3 juta rupiah, bisa diangsur.<br>
Odong-odong ini sungguh merupakan sebuah inovasi. Inovasi bisnis. Memanfaatkan komponen becak yang sudah dibuang dari kota-kota besar. Dikawasan pemukiman dipinggiran kota menjadi hiburan anak-anak yang digandrungi. Musiknya yang distel keras sudah menjadi pertanda bahwa odong-odong lewat. Tarif paling murah 500 rupiah, keliling dengan 3 buah lagu 1000 rupiah. Untuk acara ulang tahun bisa disewa dengan tarif 100 ribu untuk pemakaian 3 – 5 jam. Operator rata-rata satu hari bisa mendapatkan penghasilan kotor 60-70 ribu, hari libur dan akhir minggu mencapai 100 ribu rupiah. Kalau bukan milik sendiri, maka setoran untuk juragan 15-20 ribu rupiah. Usaha yang menguntungkan bagi pemilik dan operator. <br>
Ibu-ibu di kawasan pemukimanpun merasa senang, tidak perlu membawa putra-putrinya mencari tempat bermain yang mahal. Membuat gembira dan menghibur anak-anak pinggir kota. Tidak ada yang mengatur, hanya pengertian dan kepercayaan. Produsen, juragan dan operator semuanya diuntungkan. <br>
Inilah kreatifitas rakyat yang bebas dan merdeka, jauh dari pengekangan dan pengaturan. Inilah inovasi bisnis rakyat, mengetahui kebutuhan masyarakatnya, menciptakan peluang pasar.<br>
Demikianlah bentuk Ekonomi Rakyat, yang tidak membebani APBN atau APBD. Diluar jangkauan layanan perbankan. Memberikan jaminan hidup untuk ribuan keluarga. (rahardi@ramelan.com)<br>
(Dimuat Pos Kota tanggal 28 Maret 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-04-19EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=19PERMAK LEVIS KELILING<br>
<br>
Blue jeans dikalangan bawah sering disebut jin atau sekadar menyebut salah satu merek, levis. Disekitar pasar tradisional kita jumpai kios-kios kecil dengan tulisan besar. ‘PERMAK LEVIS’. Demikian juga di mal atau pusat belanja dipinggiran kota, kita temui juga tukang jahit yang menerima merubah jin atau levis ini.<br>
Jin atau levis sudah jadi pakaian standar semua orang. Dikota besar, didesa, pakaian pesta, pakaian kerja, artis/selebritis atau tukang beca, semuanya memanfaatkan pakaian semacam ini. Tokoh-tokoh politik diwaktu santaipun pakai jin. Sudah jadi tren yang merasuk kesemua lapisan masyarakat. Warnanyapun bukan hanya biru, sudah ada hitam, putih, abu-abu, warna kaki dan lain sebagainya. Bahan yang dipakaipun bervariasi dan sangat menentukan harganya. Modelnyapun beragam, tergantung selera kita. Mereknya, apalagi yang ini, ada yang asli, ada yang palsu, aspal atau hanya sekedar mirip-mirip. Yang bermerek top dengan bahan prima di butik sekitar Kemang dan Darmawangsa harganya bisa mencapai 4 juta. Kalau beli di Mangga Dua yang paling murah mencapai 50-60 ribu rupiah. Ada merek-merek tertentu yang aslinya berharga diatas 2 juta, tiruannya dengan bahan bagus dijual dengan harga 300 ribu, bahan yang biasa 100 ribu. Bagi yang uangnya pas-pasan harga jin bekas sekitar 10 sampai 20 ribu rupiah.<br>
Bagaimana dengan ukurannya? Selain model, ukuran levis mengacu ukuran Amerika. Pinggang biasanya berukuran 26 atau 40, maksudnya lingkar pinggang 26 atau 40 inci atau sekitar 65 dan 100 cm. Panjangnya juga memakai ukuran inci, ada yang berukuran 30 atau 36, yaitu 30 atau 36 inci, berarti 76 atau 91 sentimeter. Membeli levis sewaktu oral besar atau bekas, biasanya ukuran tidak jadi penghalang dan masalah. Urusan ukuran inilah yang menjadikan bisnis permak levis jadi laku. <br>
Jumlah tukang jahit keliling yang mempergunakan sepeda, makin banyak kita temui dipinggitran kota, pemukiman sederhana, dan dipedesaan dan perkampungan. Kertas tebal dengan tulisan ‘PERMAK LEVIS’ digantungkan didepan sepedanya. Sepeda yang sudah diperkuat ditambah dengan mesijn jahit dan peralatannya bisa didapat dengan harga 2 juta. Sudah ada produsennya, beli sudah jadi. Kalau hanya memendekan kaki ongkosnya 3 sampai 4 ribu rupiah, permak pinggang saja sekitar 5 ribu rupiah. Kalau melakukan perubahan besar (biasanya untuk pakaian bekas) ongkosnya untuk celana pendek 4 sampai 5 ribu, celana panjang 10 ribu rupiah.<br>
Mereka tidak pernah kekurangan pekerjaan. Hari-hari yang agak sepi masih bisa membawa pulang uang 30 sampai 40 ribu, ungkap mereka dengan muka berseri. Hari-hari baik pendapatannya bisa mencapai 50 sampai 60 ribu. Masyarakat bawah ini sangat tangguh menghadapi tantangan hidup. Yang mereka butuhkan adalah jaminan pendidikan anaknya atau tabungan kalau sakit. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Pos Kota 4 April 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-04-22EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=20DANGDUT GEROBAK<br>
<br>
Rabu, Jumat dan Sabtu malam adalah harinya anak muda, atau yang merasa muda, untuk rileks dan meninggalkan rutinitas. Bagi yang berdompet tebal, kafe dan restoran jadi pilihannya. Kalau lampu-lampu sudah menggantikan matahari, kehidupan kota Jakartapun berubah. Kafe, klab, diskotik, jadi tempat mangkal anak muda kelas menengah atas. Atau bagi siapapun yang berduit, khususnya didaerah-daerah elit Jakarta. Dugem dan klabing menjadi bagian dari kehidupan mereka. Bagi mereka dengan uang terbatas, di pinggiran kota dan di kawasan pemukiman RSS, karoke dan warung kopi (juga mereka sebut kafe) menjadi tempat pelepas penat, ketemu dan ngobrol dengan kawan-kawan.<br>
Di lingkungan kampung dan pemukiman yang jauh dari keramaian, atau pemukiman RSS, mereka tidak mau ketinggalan dengan tren kehidupan metropolitan. Melepas lelah sambil menikmati musik yang sering dibawakan ben dan penyanyi kondang, terutama dangdut. Sejak beberapa waktu muncul ide kreatif mengisi pasar ini, dangdut gerobak.<br>
Anak-anak muda, yang menjadi penganggur karena krisis ekonomi, berkelompok 8 sampai 15 orang bersama membeli atau membuat gerobak, dilengkapi dengan alat pengeras suara, sound system, lengkap dengan pemutar kaset dan baterenya. Dengan 2 atau 3 gitar listrik dan perangkat perkusi (kecek-kecek), membuat disko keliling, yang lebih populer dijuluki dangdut gerobak. Merekapun harus merogoh kocek sekitar 8 sampai 9 juta rupiah untuk mendapakan yang baru. Kalau membeli seken bisa ditekan menjadi 5 sampai 6 juta rupiah saja. Ada yang jadi pemetik gitar, pemain perkusi, pemain suling dan yang paling penting ialah penyanyi. Penyanyi bisanya dipilih gadis yang genit, dengan suara yang cukup lumayan.<br>
Kalau jalan-jalan sudah mulai sepi, anak-anak muda masih nongkrong dan keliaran dipinggir jalan, berkelompok sambil ngobrol dan ketawa. Sekali-kali mereka saling menunjukan sms atau foto yang sedikit porno dari hp nya, diiringi dengan gelak ketawa. Kumpulan anak muda inilah yang jadi langganan dangdut gerobak yang mulai keluar pukul 8 malam. Suara yang keras dari pengeras suaranya, menarik anak muda sekitarnya memenuhi pinggir jalan. Mereka mulai ikut joged, ikut goyang, asyiiiiiik sekali. Lagu dan musik yang dilantunkan tergantung permintaan, setelah 5 atau 6 lagu dimainkan, salah satu diantaranya mulai keliling dengan kotak, atau topi bisbol. ‘Sawer, sawer, saweeeeeer’, teriaknya, koin 500 dan lembaran ribuanpun mengisi kotak atau topi. Setelah semua puas rombonganpun meneruskan perjalanan, mencari tempat lain. Mereka pulang sekitar pukul 3 pagi. Rata-rata dihari biasa mereka bisa menerima 30 ribu rupiah perorang, penyanyi dapat tambahan ekstra. ‘Pak, kadang-kadang kalau hujan, sepi banget, paling-paling seorang cuma bawa 10 ribu’, keluhnya. Setelah istirahat dan tidur secukupnya, besoknya mereka kembali dengan keaktifannya masing-masing. Siangpun terasa pendek. (rahardi@ramelan.com)<br>
(dimuat di Pos Kota tgl 11 April 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-04-29EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=21SOL SEPATU KELILING<br>
<br>
Belum lama ini lapak-lapak dikawasan Benhil dibersihkan oleh Tramtib dan Polisi PP. banyak diantara mereka adalah kios sol sepatu. Pengrajin sol sepatu ini selain mangkal dengan kios kecilnya, juga ada tukang sol sepatu yang keliling. Mereka mengerjakan bukan saja perbaikan sepatu atau sandal, baik karet maupun kulit, tapi juga berbagai barang terbuat dari kulit atau vinil, seperti dompet, tas, koper, dan lainnya. Tetapi dijaman globalisasi ini mereka dapat saingan dari berbagai fasilitas yang lebih canggih dan modern, yang kita temui di mal atau pusat belanja, seperti Mister Minit dan Stop n Go.<br>
Kebanyakan tukang sol keliling ini berasal dari daerah sekitar Garut, Jawa Barat. Tiap hari dimulai sekitar jam delapan pagi, menyusuri gang dan jalan kecil yang padat penduduknya. Dua kotak kayu yang dipikulnya berisi gulungan kulit, lem, benang berbagai ukuran, dan jarum jahit yang besar. Sekarang ini mereka juga membawa berbagai jenis sol dari karet, ada sol komplit, atau bagian depan dan bagian belakang saja. Bermacam hak untuk sepatu wanita, juga dibawanya. Modal untuk membeli berbagai bahan tersebut mencapai 500 ribu rupiah. Investasi yang utama adalah untuk membeli ‘segitiga besi’, kalau baru harganya 150 ribu rupiah, yang bekas 75 ribu. Ongkos pekerjaan, sudah termasuk bahannya, sangat bervariasi. Pekerjaan sol komplit baik sepatu maupun sandal ongkosnya antara 6 dan 7 ribu rupiah. Sol bagian depan atau belakang 3 sampai 4 ribu, ganti alas seluruhnya 25 ribu rupiah termasuk ongkos jahitnya. Sedangkan untuk sandal ganti seluruh alasnya ongkosnya 15 ribu. Sekarang ini sudah tidak ada yang memasang paku jamur atau paku jeruk seperti yang pernah populer tahun 50 dan 60an. <br>
Tukang sol sepatu harus berjalan beberapa kilometer setiap hari. Kalau hari sedang baik, ia bisa mendapatkan 60 ribu rupiah bersih. Di hari-hari sepi, seperti hujan atau akhir bulan, pendapatannya menurun tinggal setengahnya saja, 30 ribu rupiah. Mereka kembali ketempat pemondokannya sekitar pukul 5 sore untuk bisa istirahat dan mengumpulkan tenaga untuk mengadu untung keesokan harinya. <br>
Tiap bulan mereka berusaha untuk pulang kampung, menengok dan memberikan nafkah keluarganya. Sudah beberapa generasi mereka melakukan pekerjaan yang sama, tersebar keseluruh wilayah nusantara. Tapi anehnya di Garut sendiri tidak ada pabrik atau pengrajin sepatu, yang banyak berkembang justru pengrajin kulit yang membuat jaket, sarung tangan, dan tas dengan kwalitas ekspor.<br>
Tukang sol sepatu keliling ini adalah bagian dari kita, bagian dari ekonomi rakyat. Mereka tidak memerlukan perlindungan atau bantuan. Yang mereka perlukan adalah kesempatan yang lebih baik. Mal dan pusat belanja, bisa membantu mereka dengan menyediakan tempat agar mendapatkan kesempatan yang lebih baik. (rahardi@ramelan.com)<br>
(Dimuat Pos Kota 18 April 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-05-07EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=22<br>
MEREKA PERLU TEMPAT<br>
<br>
Sejak tanggal 7 Februari 2006, saya telah mengetengahkan berbagai jenis kreatifitas masyarakat untuk mempertahankan kehidupan keluarganya. Usaha perseorangan yang dapat memenuhi kebutuhan fisik minimum, hanya membawa 20 – 30 ribu rupiah atau 2 – 3 dolar Amerika sehari. Mulai dari usaha ojek, jamu gendong, sampai sol sepatu, usaha-usaha tersebut demikian meluas dan telah menimbulkan persaingan yang ketat. Tetapi tekanan ekonomi yang masih terus berlangsung, dan tidak adanya lapangan kerja lain, tidak ada pilihan lain selain meneruskan usahanya. Usaha-usaha yang saya ceritakan hanya merupakan sebagian kecil dari kegiatan ekonomi rakyat disekitar Jabodetabek. Masih banyak usaha-usaha demikian kita temui, khususnya dalam bidang makanan atau jasa boga, seperti bubur ayam, ketoprak, kupat sayur, mie baso, dan masih banyak lagi. <br>
Mereka adalah usaha informal, tidak memiliki ijin dan tidak terdaftar. Mereka sering menjadi sasaran pemerasan oleh preman dan oknum tramtib. Beberapa jenis usaha biasanya dilakukan secara berkumpul disatu tempat tertentu. Misalnya kalau mencari barang bekas elektronik untuk kendaraan, kita akan pergi ke Taman Puring dikawasan Kebayoran Baru. Masih ingat Pasar Ular – Tanjung Priok tempat barang-barang ex kapal (impor) diperjual belikan. Mencari barang antik kita kejalan Surabaya. Pernah pemda DKI mempopulerkan tempat mangkalnya gerobak dan tukang makanan - ‘Puja Sera’, entah kemana sekarang ini.<br>
Pemda DKI baru-baru ini meresmikan tempat mangkal tenda-tenda makan di sekitar lapangan Blok S Kebayoran Baru. Inilah kepedulian Bang Yos. Diperlukannya tempat bagi usaha ekonomi rakyat ini perlu lebih dikembangkan. Pemda bisa mengembangkan pasar yang buka hanya dihari Sabtu dan Minggu atau hanya beberapa jam dipagi hari. Tempat bagi mereka yang ingin menjual barang bekas atau sudah tidak dipakai, di kota-kota besar didunia pasar semacam ini disebut ‘Flea Market’. ‘Flea Market’ dapat memanfaatkan ruang-ruang publik yang terbuka, termasuk lapangan parkir perkantoran. Saya pernah melihat bagaimana ramainya semacam ‘flea market’ diruas jalan didepan kawasan perkantoran pemda Kabupaten Bogor. Para pengusaha mikro ini memerlukan tempat dimana para pembeli dapat berkumpul, dan mengetahui kapan dan dimana para penjual berada. Atau bagi mereka yang hanya datang untuk melihat-lihat sambil mungkin berbelanja. Kenyataannya pelaku ekonomi rakyat ini memerlukan tempat dan lingkungan untuk menjual barangnya, dan masalah ini harus menjadi kepedulian bukan hanya pemda atau pejabat publik saja, namun juga menjadi kepedulian para pengembang perumahan, kawasan pemukiman, dan pusat perbelanjaan. Ada beberapa pusat perbelanjaan dan mal, yang sudah menyediakan fasilitas untuk penjual makanan usaha kecil untuk bisa menyediakan makan dan minum bagi mereka yang tidak mampu makan atau minum di food court. <br>
Bang Yos!! Perjuangkanlah terus tempat bagi mereka!! Amankanlah mereka dari preman dan kutipan tidak resmi!! (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Pos Kota, tgl. 25 April 2006.<br>
Rahardi Ramelan2006-05-10EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=23<br>
BENGKEL MOBIL<br>
<br>
Dalam beberapa minggu kedepan saya akan mengetengahkan usaha kecil, yang bukan hanya memikirkan pemenuhan kebutuhan fisik minimum perorangan atau keluarganya saja, tetapi juga memikirkan kebutuhan dan kelangsungan hidup keluarganya, dan menciptakan lapangan kerja bagi sesama rakyat kecil. <br>
Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor dan meningkatnya pemakaian kendaraan bekas, membutuhkan jasa perawatan kendaraan tersebut. Satu bidang usaha yang tumbuh dengan pesat di Jakarta.<br>
Di jalan-jalan sempitpun banyak kita temui bengkel mobil, kadang-kadang di satu ruas jalan ada 3 sampai 4 buah bengkel. Selalu dipadati mobil yang sedang mereka kerjakan, rata-rata mobil tua tahun 70an sampai 90an. Bengkel mobil semacam itu membutuhkan tempat yang agak luas, antara 400 sampai 1000 meter persegi, dan lokasinya harus dipinggir jalan yang ramai. Mansur, sebut saja demikian namanya, sudah 9 tahun membuka bengkel mobil, dimulai sejak ia terkena PHK dari sebuah pabrik dikawasan Cileungsi. Ia bersyukur dapat mengkontrak lahan seluas 600 meter persegi dengan harga 3,5 juta untuk satu tahun. Dengan memanfaatkan uang tabungan dan pinjaman dari beberapa kawan, Mansur yang berusia 30 tahun dan tamat STM, membeli berbagai peralatan seperti genset, kompresor, dongkrak buaya, dan beragam tool kit senilai 20 - 25 juta rupiah. Selain peralatan tersebut ia harus menyediakan beberapa sukucadang umum dan material, keseluruhannya ia menghabiskan 40 juta rupiah. Peralatan tersebut tidak semua baru. ‘Pak! Semuanya sekarang sudah lunas, dan saya sudah menambah peralatan baru’ - katanya sambil tersenyum. Ia mempekerjakan 5 orang tenaga yang semuanya lulusan STM juga, hampir semua ada hubungan keluarga baik dengan dia sendiri maupun istrinya. Salah satu ciri budaya kita, keluarga besar.<br>
‘Bengkel saya dikenal untuk kerjaan mesin, pak’ - katanya bangga. Bengkelnya hanya mengerjakan mesin, persneleng, kaki dan as, sama sekali tidak menerima kerjaan body. ‘Sekarang kerjaan sedang banyak, maklum jalan banyak yang rusak’ - sambil mengajak saya keliling. <br>
Kebanyakan kendaraan yang dikerjakan adalah jenis minibus seperti Kijang dan Carry. Untuk turun mesin total upah dan jasa ia patok antara 500 sampai 600 ribu rupiah. Kadang-kadang ia terima juga pekerjaan turun mesin sedan atau jip, tentu ongkosnya lebih mahal, sampai 1 juta – ‘maklum agak ruwet dan harus hati-hati’. <br>
Penghasilan kotornya sebulan antara 25 sampai 40 juta rupiah. Montir mendapat upah bulanan antara 1 sampai 1,5 juta rupiah, belum termasuk tips pelanggan. Ia dapat menyisakan untuk kebutuhan keluarganya antara 10 sampai 15 juta. Satu penghasilan yang cukup untuk membiayai keluarganya.<br>
Ratusan bahkan mungkin ribuan bengkel semacam ini di sekitar Jakarta. Mereka memberikan pelayanan untuk warga Jakarta, untuk mengurangi kerusakan kendaraan dijalan. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Pos Kota, tgl 2 Mei 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-05-13EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=24LAS – KETRAMPILAN DAN KEINDAHAN<br>
<br>
Pembangunan perumahan terus berkembang, rumah baru maupun renovasi, mewah atau sederhana. Untuk pengamanan, penghuni biasanya membangun tembok pagar yang kokoh. Sebagai pengganti tembok pagar, ada juga yang ‘menghiasi’ rumahnya dengan pagar cantik terbuat dari besi. Dengan pertimbangan keamanan, jendela dan pintu kacapun dilindungi tralis besi. Pemakaian pagar dan tralis besi sudah sangat meluas dan digemari, dan menjadi trend di Jakarta. Konstruksi las besi ini dipergunakan juga untuk membangun kanopi, garasi tambahan, riling tangga dan balkon. Sebab itu bengkel las bermunculan dimana-mana. Ada yang menempati lahan hanya 200 meter persegi, ada juga yang memakai lahan sampai 1000 meter persegi. Biasanya usaha semacam ini berada dipinggir jalan, dan kebanyakan mengerjakan berdasarkan pesanan. Tetapi ada yang menyediadakan riling dan tangga putar yang sudah jadi.<br>
Sarimin sebut saja begitu namanya, 28 tahun Betawi asli, sudah 4 tahun menekuni usaha bengkel las ini. Bengkel yang memanfaatkan halaman rumahnya, seluas sekitar 400 meter persegi. Untuk ukuran bengkel las, termasuk kecil dan peralatannyapun sangat sederhana. Ia memulainya setelah terkena PHK dari satu perusahaan kontraktor, dan ternyata ketrampilannya mengelas lebih berguna dari ijazah SLTA nya. Ia memulai bengkelnya hanya dengan 2 orang tenaga jebolan SLTP, yang banyak menganggur disekitar tempat tinggalnya. Dengan uang pesangon yang diterimanya ia membeli berbagai peralatan yang diperlukan seperti trafo, perlengkapan las dan motor grinda. Selama 4 tahun peralatan yang ia miliki terus bertambah. ‘Sekarang alat-alat yang saya miliki mungkin sudah bernilai 50 juta rupiah’, katanya bangga. Ia hanya mengerjakan las listrik dan dapat melaksanakan pekerjaan ditempat pelanggan. Sekarang pekerjanya sudah sepuluh orang, semua jebolan SLTP, dan sejak awal beberapa orang diantaranya sudah memiliki ketrampilan mengelas.<br>
‘Sekarang ini pekerjaan lumayan, pak’ katanya sambil tersenyum. ‘Cukuplah buat saya dan anak-anak’, lanjutnya. Sekumpulan pekerja sedang mengerjakan kanopi, ‘kanopi yang itu dikerjakan borongan seharga 600 ribu rupiah, termasuk pasang’, katanya sambil mengajak saya mendekat. ‘Untuk mengerjakan kanopi ini, kita berempat menyelesaikan dalam dua atau tiga hari’, ujar salah seorang dari kelompok tersebut, ‘dan kami mendapatkan 15 persen dari ongkos borongan’. Kemudian Sarimin menjelaskan, kalau mengerjakan rilling balkon atau tangga harganya agak mahal, karena pekerjaannya harus hati-hati dan rapih. Pelanggan sangat memperhatikan keindahan, sehingga anak-anak memerlukan waktu yang lama untuk mengerjakannya. Untuk rilling balkon yang sedang dikerjakan harganya sekitar satu juta rupiah, dan 20 persen bagian dari mereka. Para pekerja dibengkel ini setiap bulan menerima antara 1 sampai 1,2 juta, belum termasuk tips. Sedangkan Sarimin sendiri bersih mendapatkan sekitar 5 juta rupiah. Ribuan Sarimin, pelaku ekonomi rakyat, bisa kita temui disekitar Jakarta. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Pos Kota, tgl 9 Mei 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-05-19EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=25MEMELIHARA KESEJUKAN<br>
<br>
Panasnya kota Jakarta telah membuat kita ingin minum yang segar dan dingin, dan menghendaki kehidupan yang nyaman dan sejuk. Pemakaian alat pendingin jadi makin menyebar. Bukan hanya rumah mewah, tetapi rumah RSS pun sudah mempergunakan alat pendingin ac untuk kenyamanan. Hampir semua pusat-pusat perbelanjaan, bioskop, restoran dan rumah makan di Jakarta telah memanfaatkan alat penyejuk ini. Minuman dingin bisa didapatkan dimana-mana, mulai warung dipinggir jalan, sampai di restoran kelas atas. Pemakaian AC untuk kendaraanpun makin meluas, selain kendaraan pribadi, juga taksi, bis kota dan bis antar kota telah memanfaatkannya, dan akhir-akhir ini juga mikrolet sudah dilengkapi dengan ac. Masyarakat Jakarta makin menginginkan jenis angkutan umum yang lebih nyaman. Kulkas dan ac dijual bukan hanya dalam keadaan baru, tetapi juga bekas atau hasil renovasi. Jakarta yang makin sumpek dan panas menjadikan pemakaian ac makin meluas, untuk memelihara kesejukan menjadikan usaha servis kulkas dan ac, menjadi usaha yang menjanjikan.<br>
Usaha ini biasanya memanfaatkan kios atau ruangan kecil, 6 sampai 10 meter persegi. Saya menemui beberapa pengusaha servis kulkas dan ac di sekitar Cisalak dan Pulo Mas, Jakarta Timur. Mereka menyewa kios denga harga rata-rata 60 rupiah setiap bulan. Pono asal dari Solo, setelah terkena PHK dan menganggur beberapa bulan, kemudian mendirikan usaha ini servis kulkas dan ac ini. Pono yang tamat STM memulai usaha ini setelah bertemu dengan beberapa saudara jauhnya yang juga sedang menganggur. Bersama empat orang saudaranya ini, yang juga tamat STM, setahun yang lalu membuka usaha servis kulkas dan ac. Setelah menjual sebagian apa yang dimilikinya serta mendapat pinjaman, dengan bermodal 4 juta rupiah ia memulai usahanya tersebut. Ia membeli peralatan seperti alat steam, alat las, blue gas, dan melengkapi usahanya dengan komponen-komponen, freon, oxygen, dan yang lain. Sehingga akhirnya modal yang diperlukan mencapai 10 juta rupiah.<br>
‘Kalau musim panas dan kemarau seperti sekarang ini pekerjaannya banyak, pak. Tapi kalau musim hujan agak turun’, katanya. Sambil ngobrol ia terus memberikan perintah kepada anak buahnya.<br>
Ia mematok ongkos untuk servis ac dengan 120 ribu rupiah, sudah termasuk isi freon, tapi belum termasuk sukucadang. Kalau hanya servis dan cuci tanpa isi freon hanya 30 ribu. Untuk servis kulkas satu pintu ongkosnya 200 ribu, sudah termasuk ganti filter, untuk kulkas dua pintu 350 ribu rupiah. Kadang-kadang ada pelanggan yang minta agar datang kerumahnya, untuk itu ditambah ongkos transport.<br>
Teman-temannya mendapatkan upah 1 sampai 1,2 juta rupiah sebulan, ditambah tips dari pelanggan. Ia sendiri setiap bulan dapat membawa pulang kerumah uang sebesar 4,5 sampai 5 juta rupiah. Cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Pos Kota, tanggal 16 Mei 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-05-22EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=26KALAU AIR TIDAK MENGALIR<br>
<br>
Pusing tujuh keliling kalau air dirumah tidak mengalir, juga rumah yang mendapat layanan PDAM. Entah kapan semua penduduk Jabodetabek akan menikmati layanan PDAM. Barangkali hanya Bang Yos yang bisa menjawabnya. Tapi air adalah kebutuhan manusia yang paling vital, menjadi keperluan hidup yang utama. Penduduk Jakarta mempunyai banyak cara untuk mendapatkan air untuk keperluannya. Dibeberapa bagian kota dan didaerah ‘kampung’, tukang jual air keliling selalu ditunggu kehadirannya oleh ibu rumah tangga. Cara ini sudah lama dikenal. Tetapi sekarang ini yang paling populer, air diperoleh dari sumur dangkal(air tanah). Di hampir semua kawasan perumahan, setiap rumah dilengkapi dengan sumur semacam ini. Tidak terkecuali apakah itu perumahan mewah atupun RSSS. Sumur pompa sudah menyebar keseluruh wilayah Jabodetabek mungkin juga seluruh Indonesia, rumah kontrakan atau bedeng pun dilengkapi dengan sumur pompa. Himbauan pemda untuk mengurangi pemakaian sumur pompa, lewat begitu saja.<br>
Dengan meluasnya jaringan listrik, maka pemakaian pompa airpun lebih banyak memanfaatkan pompa listrik. Dengan ditunjang oleh pemasaran melalui iklan teve yang gencar, pemakaian pompa listrik ini makin meluas. Pompa air listrik ini dipergunakan hampir diseluruh wilayah Jakarta, sehingga layanan purna jual, servis, dan reparasi pompa listrik ini menjadi kebutuhan yang mendesak. <br>
Bengkel reparasi pompa dapat kita temui dimana-mana, salah satunya saya temui di Cisalak. Hamdan mengelola bengkel berukuran 6X6 meter persegi bersama lima orang tukang yang membantunya. Bengkelnya sudah berada disitu sejak 22 tahun yang lalu, jadi sudah mempunyai pelanggan yang tetap. Hamdan, 40 tahun yang memiliki ijazah SLTA, meneruskan usaha bapaknya yang sudah sering sakitan. Tempat kerja itu mereka sewa dengan harga kontrakan 250 ribu rupiah perbulan. ‘Musim hujan ini pekerjaan agak kurang’, keluhnya. Pekerjaan akan meningkat pada musim kemarau, kadan - kadang Hamdan kewalahan dan harus memperkejakan tenaga tambahan untuk beberapa minggu.<br>
Kerusakan pompa air listrik biasanya di dinamonya, untuk gulung dinamo ditarik ongkos 200 ribu rupiah. ‘Maklum harga kawat tembaga sudah mencapai 120.000 rupiah satu kilonya’, ujarnya kecut. Kalau hanya servis pompa air, tanpa mengganti spareparts dikenai ongkos 35 ribu rupiah. Dengan ketrampilan menggulung dinamo, Hamdan juga menerima pekerjaan menggulung segala macam dinamo. Tukang yang mengkerjakan mendapatkan upahnya dengan cara borongan. Mereka menerima 20 persen dari ongkos pekerjaan.<br>
Dengan cara demikian para tukang dapat membawa uang sekurang-kurangnya 1 juta rupiah setiap bulan. Sedangkan Hamdan sendiri bisa menyisihkan uang sebesar 1,5 – 2 juta setiap bulan. Hamdan herharap dapat memperluas bengkelnya, dan melengkapinya dengan peralatan baru yang lebih modern. Mudah-mudahan harapan Hamdan dan ribuan pengusaha serupa disekitar Jabodetabek bisa menjadi kenyataan. Siapa yang mau membantu? (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat Pos Kota tanggal 30 Mei 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-06-07EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=27RADIO FM PINGGIRAN<br>
<br>
Suara Inul, Dewi Persik, Oma Irama, Dewa, Peterpan terus menggema saling bergantian di radio-radio dipinggiran Jakarta. Lirik dan irama lagu Bang Tojib dan Cecak Rowo membuat bukan hanya anak muda yang bergoyang, tetapi juga orang tua. Siaran radio FM pinggiran ini telah menambah semaraknya radio FM di Jakarta dan kota-kota besar, sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Setiap setasiun radio mempunyai penggemarnya atau masyarakatnya masing-masing. Berkendara disekitar Jakarta, atau kemana saja kita tidak akan kesepian ditemani oleh radio FM yang saling bersambung.<br>
Siaran FM pinggiran ini tidak mau kalah dengan trend diperkotaan, di sekitar Jabodetabek-pun bermunculan siaran amatir(?) lokal dengan frekuensi FM. Menurut informasi dari beberapa daerah, hal serupapun telah berkembang disekitar kota-kota besar seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan lain-lain.<br>
Saya menemui dua setasiun FM semacam ini di Cileungsi dan Parung, keduanya memiliki fasilitas yang hampir sama. Ruangan yang dipakai sekitar 50 meter persegi, dimiliki oleh salah seorang warga dan dioperasikan oleh pemuda-pemudi disekitar daerah tersebut. ‘Untuk peralatan saya menghabiskan 13 – 15 juta rupiah, pak’ – kata Nurcholis menjelaskan kepada saya. Uang tersebut dimanfaatkan untuk pengadaan berbagai alat, seperti Pemancar Radio FM, Sound System dengan perlengkapannya (untuk Cassete, CD), perlengkapan kantor, dan untuk pemasangan instalasi listrik 1200 Watt. Selain itu juga tersedia generator untuk keadaan darurat, maklum listrik didaerah tersebut sering juga mati. Antena pemancar setinggi 21 meter sudah kelihatan dari jauh. Dengan peralatan seperti itu jangkauan siarannya mencapai radius 5 km. ‘Sudah cukup untuk melayani masyakat sekitar daerah ini. Disini penghuninya padat sekali, pak’ – ujarnya sambil ketawa. Saya lihat diruangan ada empat orang, dua orang yang duduk dikantor dan dua orang sedang siaran. Seluruhnya ada 7 orang staf kantor dan delapan orang operator, hanya 2 orang yang kerja full time, sisanya kerja paruh waktu. Semuanya muda-muda, ada yang berstatus mahasiswa, sebagian lulusan SLTA dan sebagian lagi lulusan SLTP. Stasiun radio ini sudah beroperasi selama 1,5 tahun, dan tidak murni komersial. <br>
Siaran iklan dan atensi pendengar menjadi program yang populer. Iklan biasanya dari UKM seperti, kios penjual hp dan voucher, bengkel motor dan mobil, dealer mobil, pengembang perumahan, kredit berbagai macam alat rumah tangga dan lain-lain. Setiap iklan diharuskan membayar antara 150 – 300 ribu sebulan. Untuk atensi pendengar dipungut biaya 500 rupiah. Bagi karyawan dan penyiar, tergantung jam kerjanya, mendapatkan uang sekitar 200 – 500 ribu rupiah/bulan. ‘Untuk saya sendiri, ya cukup untuk beli rokok’ - kata Nurcholis tersenyum - ‘tapi kalau dioperasikan betul-betul secara komersial, saya bisa menyisihkan uang 2-3 juta perbulan’. <br>
Beginilah gambaran seorang ‘interpreuner’ kelas ekonomi rakyat mengembangkan usaha untuk warga sekitarnya. Ulet dan selalu optimis. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Pos Kota, tanggal 23 Mei 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-06-09EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=28KEPEDIHAN DI BANTUL DAN KLATEN<br>
<br>
Bagaimana tidak, bahwa kita juga merasakan kepedihan yang mendalam bersama dengan masyarakat Bantul dan Klaten. Lebih dari 6000 saudara kita telah mendahului dipanggil Sang Khalik, hampir 4000 diantaranya dari Bantul dan lebih dari 1000 orang dari Klaten, ribuan lainnya menderita luka berat dan ringan. Mereka saudara-saudara kita yang hidup dengan kesederhanaan dan pelaku ekonomi rakyat.<br>
Siapa yang tidak mengenal Bantul, sebuah kabupaten yang ekonominya syarat dengan peranan para perajin, para pelaku ekonomi rakyat. Para perajin yang menghasilkan devisa utama bagi daerahnya. Kearifan lokal dan tradisional sebagai perajin yang mengalir didarah setiap warga Bantul, menjadi identitas dan ciri yang melekat kuat disetiap warga Bantul.<br>
Kepedihan dirasakan semakin perih, begitu mengetahui bahwa lebih dari 600 ribu dari seluruh warga Bantul yang berjumlah 800 ribu, telah kehilangan tempat tinggalnya. Birokrasi dan ketakutan berbuat salah dimuka hukum telah mengalahkan rasa tanggung jawab dan hati nurani para pelayan publik untuk mengambil inisiatif dan membantu saudaranya sendiri dengan cepat. Akibatnya bantuanpun datang sangat lambat. Oleh sebab itu banyak saudara kita baik perorangan maupun berkelompok, apapun bentuknya, telah membantu mereka yang terkena musibah secara langsung, tanpa harus menunjukan KTP atau surat keterangan camat. Merekapun membentuk posko-posko sendiri dan menentukan sasarannya secara langsung, menghindari birokrasi. Sudah menjadi pedoman umum, bahwa dalam keadaan darurat semacam ini, bahwa mereka yang terkena musibah lebih baik mendapatkan bantuan yang lebih, daripada tidak mendapatkan bantuan samasekali.<br>
Ratusan kelompok perajin telah kehilangan bangunan dan peralatan produksinya. Ribuan atau mungkin puluhan ribu perajin di Bantul, telah kehilangan tempat mereka bekerja. Misalnya di desa Kasongan saja lebih dari 400 unit perajin grabah yang porak poranda, dan melibatkan lebih dari 4000 tenaga kerja. Belum lagi para perajin lainnya seperti di Buyutan dan Karangasem untuk kerajinan bambu, mebel antik di Jotawang, dan barang-barang kerajinan lainnya seperti patung, perak dan lain-lain. Khusunya perajin batik Bantul yang sangat terkenal di Giriloyo juga tidak luput dari goncangan gempa tersebut. <br>
Saudara-saudara kita sungguh sangat menderita. Sudah sepatutnyalah bagi kita selain memikirkan untuk membantu keperluan mendesak hari ini, seperti tenda, pangan dan pakaian, tetapi juga sudah waktunya kita membantu untuk menghidupkan kembali perekonomian rakyat, perekonomian perajin, yang jadi kekuatan ekonomi Bantul.<br>
Mal dan pusat perbelanjaan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, seyogyanya menyediakan counter-counter khusus untuk penjualan hasil perajin Bantul, hasil para pelaku ekonomi rakyat. Sedang warga Jakarta - warga Pos Kota yang saya cintai dapat menyumbang Bantul dengan cara membeli hasil kerajinan mereka, yang berarti membantu mereka secara langsung. Solidaritas pelaku ekonomi rakyat, harus kita tegakkan dan menjadi kekuatan ekonomi bangsa. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat Pos Kota tanggal 6 Juni 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-06-13EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=29SPESIALIS KUSEN<br>
<br>
Membangun atau merenovasi rumah diperkotaan lain dengan mengerjakan di desa yang bisa dikerjakan sendiri atau gotong royong. Bagi yang uangnya terbatas dan tinggal dikota, membuat atau merenovasi rumah bisa dilakukan bertahap sesuai ketersediaan anggaran. Khususnya untuk pekerjaan kayu, sekarang ini banyak tukang-tukang kayu yang dapat mengerjakan berbagai keperluan rumah, seperti rak dan lemari, perangkat dapur, dan juga spesialis kusen dan loster. Usaha pembuatan kusen dan loster adalah yang paling sederhana diantara para spesialis kayu ini. Modalnya sangat terbatas, dan peralatan yang diperlukan juga sangat sederhana, hanya peralatan tukang yang dasar saja, seperti gergaji, bor, serut, sirkel, dan profil.<br>
Salah seorang pengusaha kusen disekitar desa Harjamukti, pak Siman namanya, sudah 2 tahun memulai usaha ini. Pak Siman sebelumnya telah mencoba berbagai jenis usaha tapi selalu tidak berhasil. Mengetahui banyaknya perumahan yang sedang dibangun, dan RSS yang sudah berumur lebih dari 10 tahun dan memerlukan renovasi, pak Siman, yang lulusan SLTP, memulai usahanya bersama tiga pemuda yang juga jebolan SLTP. Ia mengkontrak sebidang tanah dipinggir jalan seluas 6 meter persegi. Untuk itu ia harus mengeluarkan uang 3 juta rupiah untuk kontrak satu tahun dan harus dibayar dimuka. Biaya peralatan dan membangun tempat kerja secukupnya ia menghabiskan uang 12 juta rupiah. Pelanggannya kebanyakan warga disekitarnya, terutama yang sedang membangun rumah kontrakan, mereka biasanya memesan kusen dan loster. Jadi bagi pria berumur 51 tahun ini, tidak merasa kekurangan pekerjaan.<br>
Kusen dan loster untuk rumah-rumah sederhana biasanya dibuat dari kayu kamper, dan untuk sebuah kusen gendong ukuran 1,2 X 2 meter misalnya, ia menawarkan harga 750 ribu rupiah sudah termasuk upah kerja. Sedang untuk sebuah loster standar ia jual dengan harga 350 ribu. Renovasi rumah-rumah kelas menengah keatas sekarang ini sedang banyak dilakukan dimana-mana. Demikian juga pembangunan rumah kontrakan yang sedang menjamur. ‘Sekarang ini banyak pesanan khusus kusen atau loster dari kayu jati. Ukuran dan bentuknyapun berbeda-beda, jadi tentu harganyapun lain’, ia menjelaskan dengan semangat. Para tukang mengerjakan berbagai pesanan dengan cara borongan, dan mereka rata-rata setiap bulan bisa mendapatkan penghasilan antara 900 ribu sampai 1 juta rupiah.<br>
Pak Siman sendiri dapat membawa pulang setiap bulannya sekitar 1,5 – 2 juta rupiah bersih. <br>
Usaha tukang kayu seperti pak Siman ini banyak kita temui disekitar Jakarta. Inilah usaha rakyat, usahanya wong cilik. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tanggal 13 Juni 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-06-20EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=30KRIIIIIIING ……………….. TUT – TUT --TUT<br>
<br>
Bunyi dering telepon sekarang ini bukan hanya kriiiiing atau tutututut. Kita bisa memilih berbagai macam dan jenis dering telepon, sampai lagu favorit kita. Inilah implikasi teknologi digital dan ditambah dengan teknologi tanpa kabel sudah merambah kesegala kehidupan kita. Mulai dari bidang yang rumit-rumit seperti militer dan kesehatan, sampai kebidang – bidang yang umum seperti komputer, telepon, dan mainan anak-anak. Sekarang ini siapa yang tidak mengenal hp (hand phone), ponsel atau telepon genggam? Mulai dari eksekutif perusahaan, menteri, pekerja, tukang ojek, anak sekolah dan ibu rumah tangga, hampir semua lapisan masyarakat memanfaatkan teknologi komunikasi yang ini. Presidenpun memiliki dan mengumumkan nomornya untuk memudahkan masyarakat melaporkan langsung berbagai masalah. <br>
Selain dimanfaatkan untuk komunikasi percakapan, hp juga dimanfaatkan untuk mengirim berita singkat atau sms, pengiriman foto dan film, juga untuk hubungan internet. Kemampuan dan kecanggihan hp pun terus berkembang, selain untuk komunikasi juga mempunyai kemampuan menyimpan rekaman lagu seperti walkman. Kasus beredarnya foto hubungan mesra dimungkinkan karena ada hp yang dilengkapi perangkat kamera digital yang canggih. Hargapun sangat bervariasi tergantung merek dan kecanggihannya. Hampir setiap tiga bulan muncul model dengan variasi baru, bagi kalangan yang trendy selalu ganti hp kalau ada model baru. Jadinya pasar hp atau ponsel bekas atau sekenpun berkembang. Puluhan juta ponsel beredar dimasyarakat, mulai dikota meptropolitan sampai didesa terpencil.<br>
Pusat-pusat penjualan ponsel di Jakarta tersebar dimana-mana, mulai yang serba modern sampai dipelosok-pelosok dan dijalan sempit. Kios ponselpun tumbuh pesat, terutama menjual voucher atau pulsa, pernak-pernik ponsel, mengisi nada musik, sampai menjual dan repararasi ponsel.<br>
Perkembangan hp ini telah memberikan peluang bagi usaha kecil. Salah satu yang saya temui adalah kios ponsel berukuran 3 X 4 meter, pemiliknya Didin, sebut saja demikian namanya, tamatan STM jurusan elektronik. Kios disewa dengan harga 400.000 rupiah setiap bulan.Baru dua tahun ia menjalankan usaha ini dengan modal sekitar 8 juta rupiah bersama dua orang saudaranya, sebagai mitra, yang juga tamatan STM. Modal dimanfaatkan untuk melengkapi kiosnya dengan etalase kaca, kelengkapan ponsel seperti casing dan sarung, solder dan toolkit. <br>
‘Penjualan voucher terus lancar’, katanya, ‘saat ini bisnis menurun, karena munculnya pesaing-pesaing baru’. Memang kita dapat menemui beberapa kios serupa disepanjang jalan tersebut. Selain voucher, yang laku juga casing buatan Cina yang dihargai 15 – 20 ribu rupiah. Casing asli bisa sampai 75 ribu tergantung merek dan model. Servis ponsel rata-rata dihargai 20 ribu, tidak termasuk spareparts. Dengan usaha kios ponsel ini Didin sekarang berpenghasilan 1 samapai 1,5 juta. Demikian juga kawannya sebagai mitra usaha. ‘ Sebelum banyak saingan seperti sekarang ini penghasilan saya bisa sampai 3 juta’, ucapnya sambil tersenyum kecil. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Koran Pos Kota tanggal 20 Juni 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-06-26EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=31MAU TULIS SKRIPSI?<br>
<br>
Keributan terjadi lagi, kali ini soal Ujian Nasional (UN). Memang titel dinegara kita ini masih jadi jaminan untuk diterima di masyarakat, lebih penting dari keahlian dan profesionalisme. Buktinya belum lama ini kita dikejutkan (atau tidak dikejutkan) dengan terbongkarnya lembaga yang memberikan berbagai ragam titel akademis tanpa susah payah. Pelakunya sudah masuk penjara. Tapi pemakainya tidak tersentuh hukum. Kita sering mendengar kasus ijazah palsu untuk memenangkan pemilihan didaerah. Biarlah penegak hukum menyelesaikan masalah ini. Ruwet!<br>
Disisi lain, mereka yang betul-betul mencari ilmu dan pengetahuan, harus bekerja keras dan menyisihkan waktu untuk memperoleh titel. Khususnya untuk pendidikan tinggi, diakhir masa kuliahnya harus menulis skripsi. Skripsi ini biasanya harus ditulis memakai mesin tulis atau komputer, dan dijilid rapih menjadi buku, serta dibuat beberapa buah. Bagaimana kalau tidak punya mesin tik atau komputer? Dengan mewabahnya berbagai akademi, sekolah tinggi, dan universitas disetiap kota, berkembang juga usaha pengetikan skripsi ini. Usaha ini biasanya berada disekitar kampus dan tempat-tempat pemondokan mahasiswa. <br>
Setelah keliling melihat beberapa usaha pengetikan skripsi, saya menemui yang berada di jalan Raya Bogor sebagai contoh untuk bahan pembaca. Usaha milik Aman boleh dikatakan baru, dimulai 1,5 tahun yang lalu. Aman, 26 tahun yang lulusan SMA, mengontrak kios 50 meter persegi dipinggir jalan dengan harga 7,5 juta rupiah pertahun. Dengan ruangan yang cukup luas ia juga memberi jasa fotocopy dan penjilidan. Usahanya dilengkapi denganseperangkat komputer dengan dua macam printer, mesin fotocopy, dan berbagai peralatan untuk penjilidan. Ia juga menyediakan berbagai jenis kertas dan menjual macam-macam ATK. Untuk semuanya ia mengeluarkan uang 20 juta rupiah, dan sebagian peralatan diperolehnya dengan mengangsur. Ia dibantu oleh dua orang karyawan, satu orang lulusan SMP dan seorang lagi lulusan SMA.<br>
Pelanggannya kebanyakan mahasiswa yang sedang membuat tugas penulisan dan skripsi. Untuk mengetik ongkosnya 85 rupiah satu lembar ditambah harga kertas sekitar 85 rupiah. Kalau hasilnya merupakan print out komputer, maka denga printer biasa harganya perlembar 250 sampai 500 rupiah. Kalau ingin hasil yang lebih baik dengan menggunakan printer laser maka harganya antara 500 – 1000 rupiah. Untuk pencetakan berwarna dengan harga 1000 – 2000 rupiah perlembar. Mahasiswa yang datang untuk memakai komputernya, untuk itu harus membayar 5000 rupiah perjamnya. <br>
Sekarang ini pengerjaan pengetikan skripsi agak kurang, mungkin sudah banyak yang memiliki komputer atau di kampuspun sudah tersedia komputer. Tapi jasa fotocopy dan penjilidan masih lumayan. <br>
Usaha ini tiap bulan menghasilkan antara 9 – 10 juta, dan Aman bisa membawa pulang kerumah sekitar 3 juta rupiah, sedang karyawannya menerima 1,2 – 1,3 juta rupiah setiap bulan. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Koran Pos Kota tanggal 27 Juni 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-07-07EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=32OLINYA………….?<br>
<br>
Masih ingat merebaknya usaha ojek? Dengan naiknya harga BBM, sepeda motorpun makin banyak dipergunakan, bukan hanya sebagai angkutan umum seperti ojek, tapi juga angkutan orang dan barang. Sudah menjadi pandangan biasa kalau kita melihat sepeda motor ditumpangi 3 atau 4 orang, keluarga atau anak sekolah. Sepeda motor juga sudah biasa dipakai untuk mengangkut bermacam-macam jenis barang, juga dipakai demonstrasi. Sepeda motor bukan lagi hanya dipakai untuk keperluan rekreasi, tapi sudah mempunyai fungsi sosial dan ekonomi. <br>
Sekarang, sepeda motor yang kita kenal tidak hanya buatan Jepang, tetapi juga ada buatan Korea, Taiwan dan Cina. Katanya sebentar lagi ada juga buatan India. Kapan kita punya motor merek sendiri? Walahualam. Tugas sepeda motor yang berat ini, memerlukan dukungan perawatan yang baik juga. Banyak sudah bengkel-bengkel resmi yang menyelenggarakan sevis untuk merek-merek tertentu. Tetapi bagi kalangan pemilik motor tua, dengan dana paspasan, ongkos servis dibengkel resmi dirasa berat. Oleh sebab itu kita temui bengkel-bengkel motor kecil yang tersebar dimana-mana. Mereka menerima pekerjaan servis untuk merek apa saja, dengan ongkos miring.<br>
Salah satunya ada di sekitar Cililitan, menempati kios sebesar 4 X 5 meter. Menurut Arief pemiliknya, tamatan SMA, ia mengontrak kios tersebut dengan harga 5 juta rupiah pertahun. Peralatan yang ia miliki bernilai 25 juta rupiah, sebagian ia beli dengan angsuran. “Tapi sekarang sudah lunas semuanya”, katanya sambil tersenyum, dan disambut gembira oleh kedua karyawannya yang berijazah STM dan memiliki sertifikat montir.<br>
“Sekarang ini banyak saingan, pak. Tapi order sih tetap aja ada”, ia menjelaskan dengan bersemangat. “Yang perlu memberikan servis yang baik, hubungan dengan pelanggan terus dipelihara. Saya juga tidak mengambil untung banyak”, jelasnya meyakinkan. Pekerjaan yang paling banyak dilakukan adalah ganti kampas rem, untuk ini dihargai antara 5 – 10 ribu, belum termasuk bahannya. Dibengkel resmi kerjaan semacam ini dipungut biaya 10 – 20 ribu. Untuk turun mesin setengah (servis ringan) 30 – 50 ribu, dan turun mesin penuh ( servis besar) 75 – 150 ribu rupiah, belum termasuk sukucadang yang diganti dan oli. Untuk para pelanggan, juga ditawarkan servis bulanan dengan harga 10 – 15 ribu rupiah, ditambah untuk oli dengan harga 17,5 – 30 ribu untuk setiap liter, tergantung mereknya. Selain peralatan yang harus lengkap, Arief juga harus menyediakan beberapa macam sukucadang dan asesori yang bernilai sampai 15 juta rupiah, sebagaian besar konsinyasi. Untuk sukucadang ia berlangganan dengan beberapa toko yang dapat dibayar kemudian.<br>
Arief dengan kawan-kawannya berpenghasilan kotor setiap bulan sekitar 9 juta rupiah. Dua orang karyawannya mendapat penghasilan 1,3 sampai 1,5 juta rupiah, dan Arief sendiri bisa membawa pulang 2,5 – 3 juta. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tanggal 4 Juli 2006.<br>
Rahardi Ramelan2006-07-11EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=33JANGAN BIARKAN OMPONG<br>
<br>
Kalau sakit gigi semuanya jadi serba salah dan gampang marah. Tidak pandang bulu, mulai dari tukang becak, kuli angkut, sampai menteri, gubernur dan presiden, kalau sakit gigi membuat pusing orang disekitarnya. Selain demi kesehatan, gigi juga penting untuk penampilan, tidak bisa disembunyikan atau dipoles. Pasta pemutih gigi sudah banyak dijual, gigi diratakan pakai begel, gigi ompong diganti gigi palsu atau prothese. Ada juga yang mengganti gigi dengan cara menanam gigi buatan atau implant. Bisnis perawatan gigi dan pembuatan gigi palsu makin marak berkembang. Selain untuk kesehatan, semua orang ingin tampil dengan senyum seperti model iklan pasta gigi.<br>
Bagi yang berkantong tebal di kota besar, tersedia pelayanan perawatan gigi yang mewah dan nyaman baik di mal, pusat-pusat perkantoran, maupun perumahan. Peralatannyapun serba canggih, untuk pasang sebuah gigi palsu ongkosnya bisa jutaan. Bagi kelas menengahpun tersedia pelayanan klinik-klinik gigi tersebar luas. Bagaimana bagi mereka yang uangnya pas-pasan, atau mereka yang tinggal didesa-desa atau tempat terpencil? Kita sering melihat papan reklame atau neon box dengan gambar gigi palsu, TUKANG GIGI atau AHLI GIGI. Mereka inilah yang melayani lapisan bawah untuk membenahi giginya, supaya jangan ompong.<br>
Saya menelusuri keberadaan para tukang gigi ini dibeberapa tempat. Ada yang bekerja sendiri, ada juga yang mempekerjakan beberapa “asisten”. Kebanyakan ruangan yang dipakai tidak besar sekitar 10 – 15 meter persegi. Peralatannya hampir standar, ada kursi reclining yang sederhana, bor dan grinda gigi, peralatan khusus gigi komplit (toolset), serta persediaan kawat. <br>
Saya menemui salah seorang dari mereka, pak Agun asal Jember, yang senang disebut ahli gigi palsu. Ia telah menekuni pekerjaan dan usahanya selama 10 tahun. Menempati ruang kontrakan 3 juta untuk satu tahun. Untuk peralatan ia mengeluarkan uang sekitar 3 – 5 juta rupiah, dan keseluruhan modal awalnya sekitar 6 - 7 juta rupiah. Bekerja dibantu oleh seorang saudaranya yang juga tamatan SMP, seperti ia sendiri. Harga pembuatan gigi palsu ditempatnya mulai harga 50 ribu, yang paling murah, sampai 200 ribu untuk sebuah gigi. Ia juga melayani panggilan kerumah. “Sekarang ini banyak saingan, tetapi pekerjaan masih cukup. Maklum sudah banyak warga yang memperhatikan kesehatan dan penampilan gigi”, katanya.<br>
Sebulan pak Agun bisa mendapatkan penghasilan kotor sampai 5 juta dan bersih sekitar 2 sampai 3 juta rupiah. Asistennya yang juga masih keluarga dekat ikut makan bersamanya, dan ia mendapatkan 750 ribu sebulan.<br>
Yang menarik dari beberapa ahli gigi palsu yang saya temui disekitar Cimanggis, kebanyakan berasal dari Jember, Jawa Timur. Ketrampilannya didapat dari Balai Latihan Kerja (BLK) yang ada disana. Apa banyak yang ompong disana? (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tgl 11 Juli 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-07-20EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=34KOPERASI MAU KEMANA?<br>
<br>
Peringatan Hari Koperasi tahun ini secara nasional diselenggarakan dikota batik Pekalongan, dan sekaligus diresmikannya museum batik oleh presiden SBY. Pekalongan tidak bisa terpisah dari koperasi, gabungan koperasi batik lahir disana, koperasi simpan pinjam yang berkembang disana, sering dijadikan contoh. Tetapi apakah bentuk usaha koperasi telah menjadi rumahnya ekonomi rakyat? Mengapa bentuk usaha koperasi selalu dikaitkan dengan usaha kecil dan menengah? Banyak tokoh-tokoh kita yang menggeluti masalah koperasi, seperti Prof Sri Edi Swasono, Adi Sasono, Prof Thoby Mutis, Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali dan yang lainnya, tetapi apakah mereka sudah sepakat kemana koperasi ini akan dibawa. Presiden SBY menegaskan bahwa koperasi dan UKM adalah pilar ekonomi rakyat. Pertanyaannya apakah pilar tersebut sama kuatnya? Sekarang ini jumlah UKM sekitar 44,69 juta unit, sedangkan koperasi 133 ribu dengan 28 juta anggota. Tentu diantara koperasi tersebut ada juga koperasi konsumen. Kalau koperasi ingin jadi pilar yang sama kuat dengan UKM, terutama bagi koperasi produsen, pekerjaan berat menghadang para tokoh koperasi. <br>
Mungkin dialam sana Bung Hatta, Bapak Koperasi kita, sedang sedih atau tersenyum kecut melihat perkembangan perkoperasian kita. Sedangkan saudara kita Mubyarto sedang merenung dan memperhatikan para pelaku ekonomi rakyat. Janganlah kita mengecewakan para pemikir dan pejuang kita. Yang penting adalah bukan hanya bentuk usahanya, apakah itu koperasi atau usaha mandiri, yang penting adalah tujuannya yaitu tumbuhnya kekuatan ekonomi rakyat.<br>
Koperasi dan UKM tidak hentinya menghadapi kendala kronis, modal dan pasar. Orde terus berganti, demikian juga kabinet, menteri yang menangani koperasipun terus berubah, pimpinan Dekopin (apa masih ribut?) terus berganti, tetapi berbagai kendala yang dihadapi koperasi dan UKM tidak pernah surut. Selain masalah modal dan pasar, mereka membutuhkan berbagai bimbingan teknis dalam produksi dan pamasaran. Desain, branding dan perlindungan HKI perlu mendapat bantuan dari berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi. <br>
Tanggal 12 Juli 2006 yang lalu, hari koperasi ke 59, telah diperingati. (apakah kita ikut memperingatinya?). Nuansanya tidak jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak negara-negara didunia, seperti Singapura, Jerman, Swedia dan lainnya, yang berhasil membangun usaha yang kuat dan besar dalam bentuk koperasi. Mereka tidak pernah menggembor-gemborkan mengenai koperasi. Koperasi lahir karena adanya kebutuhan, kesadaran dan jiwa gotong royong. Koperasi jangan selalu disatu nafaskan dengan usaha kecil, karena bentuk usaha koperasi juga dapat menjadi usaha yang besar.<br>
Gotong royong adalah modal sosial yang kita miliki, tetapi dengan gelombang kemajuan dewasa ini terasa sudah mulai terkikis. Jiwa gotong royong merupakan dasar utama lahirnya gerakan koperasi. Marilah kita memperkuat jiwa gotong royong sebagai langkah memperkuat modal sosial bangsa. Dirgahayu koperasi. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota tanggal 18 Juli 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-07-25EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=35JAM BERAPA?<br>
<br>
Hampir semua orang sekarang ini memakai jam tangan. Setelah diketemukannya jam tangan elektronik dengan memanfaatkan teknologi quartz dan digital, harga jamtanganpun makin bervariasi dan terjangkau oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Kita bisa mendapatkan jamtangan digital dengan harga 5 ribu rupiah. Tetapi ada juga jam tangan eksklusif dengan harga mencapai puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah. Anak sekolah SD pun banyak yang mengenakan jam tangan. Penunjuk waktu berada dimana-mana, tapi anehnya masih ada juga pegawai yang suka datang terlambat kekantor, atau kereta api yang terlambat. Rupanya jam karet sudah jadi kebiasaan.<br>
Dengan makin meluasnya pemakaian jam tangan, usaha servis dan reparasi jam juga menjadi pilihan bagi pengusaha kecil. Usaha yang paling sederhana dengan mempergunakan sebuah kotak kayu atau aluminium yang bagian atasnya ditutup kaca, dan biasanya menempati emperan kios dan toko disekitar pasar tradisional dan pusat-pusat perbelanjaan. Usaha yang demikian hanya dilakukan sendiri. Sedang yang agak besar biasanya menempati kios kecil, dan pekerjaannyapun macam-macam. <br>
Salah satu diantara mereka adalah Pak Sukanto, 30 tahun, yang membuka kios perbaikan jam dipasar tradisional Cimanggis. Ia menyewa kios ukuran 2 X 3 meter didekat tempat parkir dengan harga 2,5 juta rupiah satu tahun. Pak Sukanto yang tamatan SLTP dibantu oleh seorang keponakannya yang juga lulusan SLTP. Peralatannya sangat sederhana, ia peroleh dengan harga sekitar 4 juta rupiah. Waktu memulai usahanya modal seluruhnya sekitar 6 juta rupiah. Usahanya ini sudah berjalan selama 10 tahun. Selain servis dan reparasi jam, ia juga menjual jam dinding, kaca mata baca berbagai ukuran dan kacamata hitam (sunglass). <br>
Jenis pekerjaan yang sering dilakukan adalah servis kecil, termasuk ganti pen, ongkosnya 20 ribu, sedang untuk servis besar, termasuk cuci, ongkosnya 30 sampai 35 ribu. Untuk jam elektronik atau digital ganti batere yang paling sering dikerjakan, tergantung jenis baterenya harganya mulai 5 ribu sampai 30 ribu rupiah, termasuk ongkos pasang. Mengganti tali jam sedang menjadi tren, sebab itu persediannyapun macam-macam, harganya mulai 10 ribu sampai 25 ribu rupiah.<br>
“Sekarang ini agak sepi, tapi yaaah, masih cukup untuk keluarga”, kata pak Sukanto. Rata-rata pak Sukanto berpenghasilan kotor antara 4 – 5 juta rupiah, kalau sedang rame sampai 7 juta. Sehingga tiap bulannya dapat membawa pulang 2 – 2,5 juta kalau sedang sepi, dan kalau pasar sedang baik sampai 3,5 juta rupiah. Sedangkan keponakannya yang membantu usahanya, selain mendapatkan makan siang, setiap bulan mendapat uang 800 ribu rupiah. <br>
Usaha seperti yang dilakukan pak Sukanto, banyak kita temukan dipasar-pasar tradisional. Jampun berjalan baik, tapi jam umum yang ada dijalan-jalan Jakarta sering menunjukkan waktu yang berlainan. Kalaupun harus diperbaiki, biayanya bisa-bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Mengapa? (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Koran Pos Kota tanggal 25 Juli 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-08-07EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=36BANG TOYIB . . . . . BANG TOYIB<br>
<br>
“Bang Toyib, bang Toyib mengapa tak pulang-pulang …………………..”, begitulah lirik lagu yang digandrungi masyarakat akhir-akhir ini, apa lagi disenandungkan oleh Dewi Persik. Yang berjogetpun semakin asyik bergoyang mengikuti alunan dangdut, yang aerobik makin bersemangat, tidak ada rasa lelah semuanya bergoyang dan turut bernyanyi. “Tiga kali puasa, tiga kali lebaran ……”, kresek, kreseeeek, nguuuung, semuanya berhenti bergoyang. Tape-nya berhenti, digoyang dan dipukul, tetap saja Bang Toyib tidak keluar, tape-nya rusak. Kegembiraan dan keceriaanpun mendadak membeku. Arena tempat joget dan aerobikpun jadi kosong dan sunyi, tidak ada lagi ketawa. “Bang Toyib, bang Toyib …………..”’ kedengaran suara sumbang peserta joget dan aerobik menirukan Dewi Persik.<br>
Radio dan tape recorder bukan lagi barang mewah untuk rakyat kita. Ukuran dan kualitaspun beraneka ragam. Siaran radio terutama FM terus mengudara 24 jam sehari, radiopun dipasang tidak hentinya juga 24 jam, atau sampai baterenya habis. Kaset bisa dibeli dimana-mana, lapak diemperan pasar, halte bis, kaki lima, dan pasar kaget menawarkan kaset dengan harga murah. Biasanya hasil bajakan, yang telah membuat polisi dan tibum putus asa mengatasinya. <br>
Kalau radio dan tape rusak, kegembiraanpun hilang, hidupun bisa sumpek. Untung ada usaha perbaikan atau servis radio dan tape sederhana di mana-mana. Biasanya berlokasi jauh dari keramaian, disekitar perumahan sederhana atau perkampungan. <br>
Salah satu diantaranya saya temui di Pondok Gede, menempati ruangan seluas 12 meter persegi. Sebut saja Kosim namanya, ia membayar sewa 100 ribu rupiah setiap bulannya. Pemuda berumur 23 tahun ini telah memulai usahanya 5 tahun yang lalu, selepas tamat STM. Setelah beberapa lama usahanya berjalan, iapun diminta keluarganya untuk memberikan pekerjaan kepada dua orang saudaranya yang baru menamatkan STM. Jadi sekarang Kosim bekerja dibengkelnya dibantu dua orang, sehingga banyak pekerjaan yang dapat selesaikan. “Tapi sekarang ini agak sepi”, katanya sambil tetap tersenyum.<br>
Ia memulai usahanya dengan modal sekitar 4 – 5 juta rupiah. Untuk peralatan ia mengeluarkan kurang lebih 1,2 juta rupiah, yang mahal untuk menyediakan onderdil. Untuk servis kecil ia menarik ongkos 25 sampai 30 ribu rupiah, sedang untuk servis besar 200 sampai 300 ribu rupiah, belum termasuk onderdil.<br>
Setiap bulan Kosim dapat membawa kerumah antara 2 sampai 2,5 juta rupiah, tergantung dari ramainya pekerjaan. Karyawannya menerima 1 sampai 1,2 juta sebulannya. “Hari ini banyak tape yang rusak dan minta servis”, sambil menunjuk beberapa tape dimeja. “Kalau sudah selesai harus dites agar pelanggan tidak kecewa”, sambil memasukkan sebuah kaset untuk dicoba. “……… sadar-sadarlah abang, ?ingat anak istrimu,?cepat-cepatlah pulang,?semua rindukan dirimu ……….” terdengar suara Ade Irma berdesah. Bang Kosimpun ketawa lebar.(rahardi@ramelan.com) <br>
Dimuat di Pos Kota tanggal 1 Agustus 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-08-17EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=37MAGIC – CAT - OVEN<br>
<br>
Jarang ada mobil mulus di Jakarta ini. Lalulintas yang semrawut dan segala jenis kendaraan memadati jalan yang sama, akibatnya tidak dapat dihindarkan senggolan maupun tabrakan. Gerobak barang, gerobak penjual makanan, sepeda, becak, bajaj, mikrolet, segala macam bis, sepeda motor, taxi, mobil sedan, konvoi VIP dan VVIP, semuanya memadati jalan yang sama. Kalau terjadi senggolan dan tabrakan diusahakan diselesaikan damai, atau dibawah tangan. Lapor ke polisi hanya akan menambah masalah dan biaya. Itulah kenyataan. <br>
Asuransi kendaraan belum merupakan keharusan, sebab itu hanya sebagian masyarakat yang mengasuransikan kendaraannya. Kalau tabrakan dan mobilnya jadi penyok, harus mencari bengkel yang tepat, dengan kualitas sesuai dan harga terjangkau. Banyak bengkel yang menawarkan jasa perbaikan body seperti Ketok – Las – Duco, Body Repair, Ketok – Cat, Ketok – Cat – Oven, dan ada juga Ketok Magic., semuanya bahasa Indonesia. Orang asing jadi bingung, ada bengkel mobil yang pakai sulap “ketok magic”, ada juga yang menawarkan kucing panggang - “cat oven”.<br>
Khusunya yang satu ini, Ketok Magic, banyak menimbulkan pertanyaan, apa yang sebetulnya dilakukan didalam tempat yang tertutup rapat. Pemilik kendaraan tidak boleh melihat proses perbaikan mobilnya, ongkosnyapun konon selalu bilangan ganjil. Ada yang mengatakan dikerjakan oleh mahluk yang tidak kelihatan, seperti tuyul. Atau katanya dikerjakan dengan memanfaatkan tenaga dalam. Apa sebenarnya yang terjadi? Apa betul ada magicnya. Mereka menggunakan nama Ketok Magic asli Blitar, mungkin hanya branding saja untuk menarik konsumen, bukan waralaba. Menurut keterangan beberapa orang, ketok magic ini mempergunakan peralatan yang canggih dan rumit. Body mobil bukannya diketok, tapi seperti diurut, mungkin itulah rahasia mereka. <br>
Saya mendatangi sebuah bengkel Ketok Magic di sebuah jalan sempit di desa Harjamukti. Lahan seluas 400 meter persegi, disewa dengan harga 7 juta untuk satu tahun. Usaha Ketok Magic milik Atang ini sudah berdiri sepuluh tahun lamanya. Ia yang lulusan STM, segan menceritakan darimana memperoleh ketrampilannya dalam ketok magic. Di bengkelnya ia dibantu oleh 6 orang tamatan STM dan SLTA.<br>
Peralatan bengkel, termasuk peralatan untuk ketok magicnya dan ongkos membuat bangunan, harganya mencapai 20 juta rupiah. Kalau ditambah dengan modal kerja keseluruhannya mencapai 30 - 40 juta. Hasilnya, untuk perbaikan kecil Atang marik ongkos 400 ribu rupiah, kerusakan yang agak besar antara 600 – 700 ribu, tergantung dari besarnya kerusakan. Yang sering dikerjakan adalah ketok pintu, ongkosnya antara 250 sampai 400 ribu rupiah. Ongkos itu sudah komplit, ketok – dempul - cat. Semua pekerjaan dilakukan karyawannya dengan cara bagi hasil atau borongan. Atang yang berusia 32 tahun memperoleh penghasilan sebulan 5 sampai 5,5 juta.<br>
Sudah saatnya “Ketok Magic” dipikirkan untuk mengglobal dan jadi unggulan kita, dengan merek dagang “Magic Repair” yang terdaftar. Semoga. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Pos Kota tgl 8 Agustus 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-08-21EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=38MERDEKA!!!<br>
<br>
Merdeka!!!……….merdeka!!! Sambil mengangkat lengan kanan dan mengepalkan tangan, itulah salam dan sapaan, yang paling polpuler 61 tahun yang lalu. Slogan dan salam semua warga Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, yang waktu itu merayakan terbebasnya dari belenggu penjajahan. Kemerdekaan yang disambut dengan keceriaan oleh seluruh penghuni bumi pertiwi ini. Kemudian berbagai gelombang politik dan ekonomi telah menerpa tanah air. Bagi pelaku ekonomi rakyat mereka masih harus berjuang. Tapi haruskah mereka berteriak merdeka dengan mengepalkan tangan? Setiap tanggal 17 Agustus kita rayakan hari lahirnya bangsa Indonesia yang merdeka. Tapi apakah makna kemerdekaan tersebut masih menjiwai kita semua? Kita seluruh rakyat Indonesia?<br>
Acara 17 Agustusan sudah dimulai, pertandingan olah raga dilingkungan kantor pemerintah, perusahaan negara, penjara dan RT-RW, sudah mulai terasa aromanya pesta. Mengecet pagar, pasang umbul-umbul dan bendera kecil merah putih sudah nampak diberbagai sudut kota dan pedesaan. <br>
Penjual bendera dan umbul-umbulpun bermunculan, ada yang mangkal dan ada yang keliling memakai gerobak dorong atau sepeda. Seperti tahun-tahun sebelumnya mereka sudah menjajakan bendera mulai tanggal 4 Agustus. “Boss”-nya menyediakan gerobak ataupun sepeda serta beragam ukuran bendera dan tiangnya, penjaja hanya membayar kalau laku. Bendera ukuran 15 X 30 cm, harga di pangkalan 1500 dan dijual dengan harga 2500 – 3000 rupiah. Ukuran 90 X 150 cm dengan harga 12 ribu, untuk satu kodi harganya 140 ribu, bendera ukuran besar ini dijual 15.000 – 17.500 rupiah. Umbul-umbul harga pangkalan 20 ribu dan dijual 25 – 30 ribu, tiang bendera dengan harga pangkalan 3000 dijual 5000 – 7500 rupiah. Sampai tanggal 10 Agustus pasar masih sepi, maksimum bisa mendapatkan keuntungan 60 ribu sehari. Menjelang tanggal 17 mulai banyak permintaan dan penghasilanpun meningkat sampai 80 ribu. Mereka sehari-harinya adalah kuli bangunan atau penjaja berbagai jenis makanan. <br>
Selain menghias dengan bendera, keramaian yang paling populer adalah panjat pinang. Berbagai jenis hadiah tergantung dipuncak pinang, sekarang ini hadiah sudah bervariasi, ada televisi dan sepeda motor. Kita bisa menjumpai pedagang pohon pinang hampir diseluruh pelosok kota Jakarta. Batang pinang rata-rata tingginya 7 meter, lengkap dengan tempat gantung hadiah, sudah diserut, ukuran sedang harganya 350 ribu rupiah. Untuk yang belum diserut dengan ukuran besar 375 ribu, sedang 250 ribu dan ukuran kecil 200 ribu. Pembeli pohon pinang baru ramai beberapa hari menjelang tanggal 17 Agustus. Keuntungan yang diraih penjual pohon pinang bisa mencapai 2 sampai 3 juta rupiah.<br>
Lomba panjat pinang selalu jadi perhatian masyarakat, peserta perlombaan harus bekerja sama, gotong royong, dan bersatu, memanjat batang yang tegak dan licin, sekali-sekali jatuh, dan terus memanjat demi tujuan mendapatkan hadiah. Mereka, pemanjat pohon pinang, harus dijadikan contoh oleh para pemimpin kita untuk bersama, gotong royong dan bersatu melewati jalan terjal demi satu tujuan, kesejahteraan rakyat.<br>
Dirgahayu Indonesia. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Pos Kota 15 Agustus 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-08-28EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=39RODA DUA NON BBM<br>
<br>
Kalau harga BBM dan pencemaran udara diperkotaan mulai menguras kantong dan menyesakkan dada, maka alat angkut yang satu ini selalu menjadi bagian dari solusi - SEPEDA. <br>
Dipedesaan atau dikota-kota kecil masih banyak ditemui sepeda sebagai alat angkut yang penting. Anak-anak sekolah masih memanfaatkan sepeda untuk kesekolah, peternak masih mengangkut rumput makanan ternak memakai sepeda, bahkan kita bisa melihat gentong-gentong besar dari tanah liat yang diangkut dengan sepeda. Sepeda juga dipakai mengangkut tempat tidur, lemari danperabot rumah lainnya.<br>
Di Jakarta masih bisa kita jumpai tukang siomay, baso, bakpauw dan roti yang mempergunakan sepeda. Ada juga tukang vermak levis dan dan tukang asah pisau dan gunting. Bermacam olah raga sepeda sedang disenangi anak-anak muda, berbagai jenis bentuk dan ukuran. Pawai sepeda hias masih jadi bagian dari acara 17 Agustus di pemukiman. <br>
Sekarang ini ada sepeda yang memiliki versneling sampai 27 buah, 3 didepan dan 9 diroda belakang. Demikian juga dengan peredam kejut (shockbreaker), diroda depan ada yang memakai satu dan ada juga yang dua buah peredam kejut, sedang dibelakang satu buah. Bahan yang dipakai untuk rangka sepeda mulai dari besi, aluminium, titan, sampai serat karbon. Harganya pun bervariasi mulai sekitar 500 ribu sampai 20 juta rupiah. <br>
Sayangnya di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia belum disediakna jalur khusus untuk pengendara sepeda, jadinya khawatir juga memakai sepeda dikeramaian Jakarta. Jadi kapan Bang Yos memikirkan jalur sepeda di Jakarta, jangan hanya Busway, atau Monorel yang tidak kunjung datang.<br>
Bengkel reparasi sepedapun dimana-mana, ada yang melayani khusus sepeda kelas menengah dan atas, khususnya yang pakai versneling. Tapi juga masih kita temukan bengkel sepeda sederhana, melayani sepeda tradisional atau sepeda onta. Yang satu ini saya temukan di jalan Gas Alam, Cimanggis, ruangan yang dipakai tidak besar hanya sekitar 9 meter persegi. Sudah 4 tahun, Joko 24 tahun yang tamatan SLTA, menjalani hidupnya dengan membuka bengkel sepeda. Ruangan bengkelnya disewa 100 ribu rupiah sebulan. Berbagai jenis peralatan termasuk kompresor dan peralatan untuk tambal ban, ia beli seharga 4,5 juta rupiah. Selain itu ia melengkapi bengkelnya dengan berbagai sukucadang standar, pelek, ban, dan asesoris sepeda lainnya bernilai 4 juta rupiah.<br>
Karena kebanyakan yang datang adalah sepeda biasa, maka ongkosnyapun dapat dikatakan murah. Untuk servis kecil misalnya hanya 2000 – 4000 rupiah, sedang servis besar 10 ribu rupiah, semuanya belum termasuk suku cadang. Joko melakukan pekerjaannya sendiri. Penghasilan kotornya satu bulan rata-rata sekitar 2,5 juta rupiah, dan bersih ia membawa pulang 800 ribu sampai 1 juta rupiah. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Pos Kota 22 Agustus 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-09-01EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=40ANGIN TERUS BERHEMBUS<br>
<br>
Pelaku ekonomi rakyat yang ini agak lain. Pendidikan dasar tentu menjadi modal, tetapi belajar dan menekuni, serta tekad dan keuletan itu rahasianya. Ibu Siti Maisaroh yang berusia 51 tahun pernah mengenyam pendidikan SLTP, sedangkan ketrampilan memperbaiki kipas angin ia belajar dari mendiang suaminya, yang meninggal 1 tahun yang lalu. Pada tahun 1994, suaminya mendirikan usaha reparasi kipas angin yang berlokasi di Pasar Bengkok Tanggerang, yang menempati sebuah ruangan berukuran 9 X 3,5 meter, bagian dari rumahnya yang dibeli pada tahun 1989 dengan harga sekitar 7 juta rupiah.<br>
Sewaktu kami berkunjung ketempatnya, ibu Maisaroh sedang duduk dilantai, bersandar pada kusen pintu masuk, bersama kakaknya yang juga seorang janda. Ruangan dalam rumah dan emperan dipenuhi dengan berbagai komponen dan bangkai kipas angin, serta exhaust fan segala merek. Obeng berbagai macam ukuran dan bentuk, kunci pas, tang dan gegep, gergaji besi dan gunting berserakan dilantai. Gulungan kawat tembaga dan selotippun ada disana. “Peralatan itu dulu saya beli sekitar 1,5 sampai 2 juta rupiah pada tahun 1994”, ucapnya tegas. Dan matanya menerawang jauh, mungkin membayangkan waktu usahanya baru mulai 12 tahun yang lalu. “Sedang kawat tembaga itu saya beli 100 sampai 125 ribu rupiah untuk satu kilonya, tergantung kualitas”, sambil mengambil contoh gulungan kawat dilantai. Kawat tembaga merupakan bahan yang penting untuk memperbaiki motor dan dynamo.<br>
Kipas angin sekarang dipakai dimana-mana, bukan hanya untuk mengurangi rasa panas dan gerah didalam rumah, tapi juga di restoran, rumah makan dan warung, sampai-sampai warung satepun memanfaatkan kipas angin listrik pengganti kipas tradisional. Bu Maisaroh tidak pernah kekurangan pekerjaan, “Yah lumayan, pekerjaan selalu ada”, ujarnya dan diiyakan oleh kakaknya dengan anggukkan kepala.<br>
Ongkos servis ia bebankan antara 10 sampai 50 ribu. Ganti kipas antara 5 dan 10 ribu rupiah, menggunakan kipas bekas yang didapat dengan cara mengkanibal kipas angin yang rusak. Berbagai ukuran kipas tersedia, sehingga hampir semua permintaan dapat dilayani. Sedangkan untuk ganti as dan bos-as ongkosnya agak mahal sampai 60 ribu rupiah. Dulu bu Maisaroh membeli sendiri as dan bos-as serta kawat di pasar Poncol – Senen, tetapi sekarang ada sales yang menjajakan dan sudah menjadi langganannya. Ia menerima pekerjaan bukan hanya servis dan perbaikan kipas angin, tetapi juga exhaust fan, magic jar, dan gulung dynamo. <br>
Dalam satu bulan omset usahanya antara 2 sampai 4 juta rupiah, dan ibu Maisaroh bisa menysisihkan untuk dirinya sebesar 800 ribu sampai 2 juta rupiah. “Lumayan pak, itu juga karena rumah ini kepunyaan sendiri jadi tidak usah membayar sewa, rejeki dari Allah SWT”, katanya dengan penuh keyakinan. Sedang kakaknya, yang tinggal dan hidup bersamanya, mendapat uang saku 300 ribu rupiah setiap bulannya. (rahardi@ramelan.com)<br>
(Dimuat di Pos Kota tanggal 29 Agustus 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-09-05EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=42Oooooh . . . . gundul lagi!<br>
<br>
Tidak tahu kapan mulainya sebagian pemuda kita sekarang ini yang gemar dengan kepala gundul atau plontos. Kita masih ingat tokoh serial TV Kojak yang plontos, sedang pecandu bola tentu memuja Ronaldo asal Brasilia, dan si gaek Andre Agassi masih membuat kejutan di dunia tennis. Tetapi araknya anak muda berpenampilan plontos ini tidak membuat para tukang gunting rambut atau tukang cukur khawatir.<br>
Rata-rata kepala manusia ditumbuhi 100-200 ribu helai rambut, dan tumbuh rata-rata 1 centimeter setiap bulan, tapi sebagian juga ada yang gugur. Biasanya laki-laki memotong rambutnya setiap bulan, bagi yang ingin kelihatan rapih dipotong setiap dua minggu. Banyak cara dan tempat untuk memotong rambut. Mulai tukang cukur keliling, ODB atau DBP (onder de boom atau dibawah pohon), kios-kios, sampai kesalon. Sebutannyapun bermacam-macam potong rambut, cukur rambut, gunting rambut, pangkas rambut, barber, sampai hair stylist yang bekerja di salon. Ongkos tergantung tempat dan servisnya, mulai 5 ribu rupiah sampai 150 ribu rupiah sekali cukur.<br>
Dibeberapa tempat kita dapati kios dengan nama “barbershop”, dengan ruang ber- AC dilengkapi dengan kursi cukur yang besar dan reclining ala tempat cukur tahun 50 – 60 an. Di mal dan pusat perbelanjaan ada tempat cukur khusus untuk anak-anak, dilengkapi dengan video game ataupun play station. Sedang dijalan-jalan sempit kota metropolitan Jakarta, dipinggiran kota, atau disekitar pasar tradisional masih ada kios-kios “pangkas rambut” dilengkapi dengan kipas angin listrik, dengan dua atau tiga kursi yang tinggi. <br>
Yang satu ini berada di pasar tradisional kompleks perumahan Deppen, menempati kios berukuran 2,5 X 4 meter yang dikontrak dengan harga 3,5 juta rupiah setahun. Bung Hendra, tamatan SLTA, yang kini berusia 31 tahun, sudah menggeluti profesi ini selama 12 tahun. Bermodalkan berbagai perlengkapan cukur termasuk mesin listrik, yang bernilai 3 juta rupiah, kini ia bisa menampung dua orang saudaranya bekerja. “Alhamdulillah lancar, pelanggan ada terus”, menjelaskan usahanya sambil tersenyum.<br>
Bung Hendra menetapkan tarif untuk anak-anak sebesar 6 ribu, dewasa 7 ribu rupiah. Kalau ditambah potong dan merapihkan jenggot dan kumis menjadi 9 ribu rupiah. Kalau yang mengerjakan karyawannya, maka hasilnya dibagi dua setelah dikurangi biaya operasi. Dengan pelayanan ekstra, seperti pijat kepala dan pundak, biasanya pelanggan memberikan tips antara 2 dan 3 ribu rupiah. Penghasilan kotor Bung Hendra setiap bulan sekitar 4 sampai 5 juta rupiah, dan karyawannya bisa membawa pulang antara 800 ribu sampai satu juta rupiah. Sedang ia sendiri berpenghasilan bersih sekitar 2 juta rupiah tiap bulan. “Saya ingin memperluas usaha saya pak, dengan memiliki kios sendiri. Kalau ada yang bisa membantu saya mencarikan pinjaman, saya akan berterima kasih”, katanya berharap. Semoga Menteri Suryadharma Ali membaca artikel ini. (rahardi@ramelan.com)<br>
(Dimuat di Harian Pos Kota tanggal 5 September 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-10-07EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=43B 14 R G 4 YA<br>
<br>
Begitulah lagak untuk beda, BIAR GAYA. Banyak cara manusia ingin mengpersonifikasi barang yang disayanginya. Initial nama misalnya dipasang diperbagai asesoris seperti ikat pinggang, dompet, tas, perhiasan sampai laptop komputer. Tidak ketinggalan mobil juga dijadikan tempat untuk menunjukkan kekhususan pemiliknya. Interior yang dirubah dan disesuaikan dengan pribadinya, juga nomor polisi kendaraan disesuaikan dengan nama atau nomor yang menjadi favoritnya. <br>
Di beberapa negara orang dapat memilih nomor polisi kendaraan dengan berbagai gabungan huruf dan atau angka, sehingga pilihan menjadi lebih bervariasi. Sayangnya dinegara kita hal ini hampir tidak memungkinkan, sehingga pemilihan angka dimirip-miripkan dengan huruf yang diinginkan. B 10 LA yang berarti BIOLA, B 80 LA untuk BOLA, B 4 BY yang dimaksud BABY. Sampai-sampai Bung Yos juga memanfaatkan nomor B 1 DKI untuk kendaraannya guna menunjukan sebagai penguasa nomor satu DKI, karena nomor B 1 diperuntukan bagi presiden. Kalau dengan huruf B tidak mengena maka mencari kekota lain, seperti L 10 N (LION), L 1 AR (LIAR), W 15 NU (WISNU), F 64 NI (F GANI). Sewaktu PT Dirgantara Indonesia (dulunya IPTN) meluncurkan proyek pesawat N 2130, merekapun mencari nomor polisi N 2130 yang tetunya merupakan nomor polisi kendaraan dari Malang. Ada juga nomor polisi yang disesuaikan dengan hari jadi dan nomor keberuntungan lainnya. Tapi yangan ingin diceritakan bukan soal nomornya, tapi mengenai plat nomornya. Kita sering melihat plat nomor yang mewah dengan tulisan keemas-emasan. Plat nomor yang bisa diganti-ganti yang biasanya dipakai oleh anggauta TNI atau Kepolisian. Untuk memenuhi beragamnya selera masyarakat akan plat nomor ini, maka usaha penyediaan dan pembuatan plat nomor inipun menjadi menarik.<br>
Menempati kios kecil berukuran 4 X 4 meter yang dikontrak dengan harga 2,5 juta setiap tahun, Rinto sebut saja demikian namanya, memulai usahanya 2,5 tahun yang lalu. Lulusan SLTA yang berumur sekarang sekitar 21 tahun ini, telah mengeluarkan modal sebesar 3 juta rupiah untuk membeli berbagai peralatan seperti cetakan huruf dan nomor, kompresor dan berbagai peralatan lainnya. Sehingga untuk modal awal seluruhnya termasuk modal kerja ia harus mengeluarkan uang sebesar 6 juta rupiah. Lokasi yang ia tempati terletak dipinggir jalan yang ramai dilewati mobil maupn sepeda motor, beberapa angkotpun lewat didepan kiosnya. Sampai sekarang ia mengerjakan usahanya sendiri, “sementara ini semuanya bisa saya tangani sendiri, pak!” <br>
Ongkos membuat plat nomor untuk sepeda motor dipatok 20 ribu rupiah, sedang untuk mobil 30 sampai 35 ribu rupiah. Harga tersebut tergantung dari kwalitas dan ketebalan plat aluminum yang dipakai. Sekarang ini penghasilan kotor Rinto antara 2 sampai 3 juta sebulan, dan dapat membawa pulang sekitar 800 – 900 ribu rupiah.<br>
“Permintaan sekarang sih sedang-sedang saja pak”, sambil terus mengerjakan nomor plat pesanan. (rahardi@ramelan.com)<br>
(Dimuat Harian Pos Kota 12 September 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-10-07EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=44MENGENANG MASA LALU<br>
<br>
Beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Suci Ramadhan, menjelang dimulainya kewajiban bagi umat muslim untuk berpuasa. Masyarakat muslim berbondong-bondong berziarah kepekuburan untuk membersihkan dan mengenang kembali “zamannya” mendiang, seraya berdoa dan dan mengenang “periode” kehidupan yang dikubur didalamnya seperti yang tertulis pada batu nisan sebagai prasasti. <br>
Tugu, candi dan bangunan sering dipakai sebagai tanda berkuasanya satu dinasti, Upaya pelestarian bangunan-bangunan tersebut menjadi penting untuk kita mengingat kejayaan maupun peristiwa menyedihkan. Piramida di Mesir, reruntuhan bangunan di Yunani dan Itali menjadi kebanggan bangsa tersebut akan budaya bangsanya yang pernah berjaya. Di negara Eropa lainnya peninggalan sejarah lebih didominasi oleh bangunan yang berasal dari abad pertengahan Demikian juga dengan bangsa kita, antara lain Candi Borobudur dan Prambanan yang menunjukan pernah berjayanya raja-raja dan budaya pada waktu itu.<br>
Kita juga memiliki berbagai bangunan peninggalan zaman kolonial, istana presiden, gedung kesenian, stasiun kota, museum dan berbagai bangunan “tua” di daerah kota yang merupakan bagian dari tonggak sejarah. Walaupun zaman itu bukan menjadi kebanggaan sejarah bangsa, tetapi bangunan-bangunan tersebut dilestarikan sebagai bagian dari budaya. Bangunan peninggalan kolonial terdapat juga dikota-kota besar seperti Bandung, Semarang, Yogya, Surabaya, Medan dan lain-lain. Kadang-kadang dengan alasan modernisasi, kita telah menghilangkan tonggak sejarah seperti, pembongkaran Tugu Proklamasi di Gondangdia. Mudah-mudahan “modernisasi” LP Cipinang akan menyisakan beberapa bangunan yang bisa dijadikan tonggak sejarah sejak zaman kolonial sampai sekarang.<br>
Sekarang ini hampir semua gedung, terutama gedung pemerintah, jembatan, pelabuhan, bandara, pembangkit tenaga listrik, bendungan, dilengkapi dengan prasasti peresmiannya. Banyaknya gedung dan bangunan baru, dan selalu adanya manusia yang wafat, maka usaha pembuatan prasasti dan batu nisan banyak kita jumpai diberbagai sudut kota Jakarta, sebagai contoh digeluti oleh pak Abdullah disekitar jalan Raya Bogor yang menempati ruang 2,5 X 3 meter persegi dengan sewa 700 ribu rupiah setahunnya. Jebolan SD yang berumur 34 tahun ini sudah 3 tahun membangun usahanya dengan modal awal 4 juta. Setiap menjelang bulan Puasa ia disibukan dengan pembuatan batu nisan, baik batu nisan berdiri maupun batu nisan duduk. Harganyapun bervariasi mulai 150 ribu sampai 500 ribu rupiah yang paling mahal, tergantung dari bahan yang dipergunakan. Pak Abdullah menerima juga pesanan membuat batu prasasti untuk gedung dan perkantoran. Prasasti dengan ukuran 40 X 60 cm ia hargai 500 ribu, sedangkan yang besar 60 X 90 cm harganya 1,2 juta rupiah. “Membuat prasasti keuntungannya lumayan, tapi pekerjaannya rumit, harus teliti dan halus”, jawabnya dengan aksen Madura yang kental.<br>
Dengan bekerja keras dan berusaha tidak mengecewakan pelanggan, penghasilan Pak Abdullah stabil sepanjang tahun. Pendapatan kotornya 2 sampai 3 juta rupiah setiap bulan, dan bisa membawa pulang 1 sampai 1,5 juta. “Alhamdulillah, pak”, sambil terus mengerjakan pembuatan prasasti untuk sebuah mall di Jakarta. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota, 19 September 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-10-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=45MARHABAN YA RAMADHAN<br>
<br>
Hari ketiga kita menjalani puasa dibulan Ramadhan 1427 H, banyak harapan bagi bangsa ini dan pelaku ekonomi rakyat mendapat berkah dari bulan yang suci ini. Banyak yang harus kita jalankan dan lakukan dalam bulan suci ini untuk bisa mendapatkan berkahnya. Berbagai spanduk dan selebaran menyambut bulan yang kita nanti-nantikan – Marhaban ya Ramadhan. Dengan teknologi komunikasi yang maju seperti teknolog1 seluler, permintaan maaf menjelang puas ini juga disampaikan secara luas kepada saudara, keluarga dan kenalan melalui sms. Beberapa sms sangat menyentuh:<br>
“seputih kapas, sesuci melati, mari kita putihkan hati dan sucikan diri”.<br>
“bertitih embun diatas daun, jatuh kebumi bersama hujan; dosa tertimbun mohon diampun, terbentuk khilaf mohon dimaaf”.<br>
“JANJI kadang terabaikan, HATI kadang berprasangka, SIKAP kadang menyakitkan – HIDUP menjadi indah jika masih ada maaf diantara kita”.<br>
Begitu marak hubungan silaturahmi antara umat melalui sms ini, semoga ucapan-ucapan tersebut keluar dari hati yang dalam. <br>
Yang lebih penting lagi bagi Umat Muslim, ialah melaksanakan perintah Allah SWT tersebut utuk menyucikan diri, pikiran dan hati kita. Bulan suci Ramadhan baru kita mulai masih 27 hari kita hadapi. Selain dengankerabat dan keluarga, kita juga harus bersilaturahmi dengan warga bangsa kita yang hidup dengan ber “puasa” sepanjang tahun. Terbelenggu dalam kemiskinan dan kekurangan. Mereka menunggu uluran tangan kita, untuk bisa ikut “menikmati” bulan yang penuh berkah ini. Jangan lupakan mereka.<br>
Bulan Ramadhan juga membawa berkah bagi sebagian pelaku ekonomi rakyat. Berbuka puasa menjadi acara yang penuh dengan kebahagian, menghilangkan haus dahaga dan lapar, usaha pembuat minuman dan makananpun bermunculan. Di trotoar, pelataran parkir dan terminal bermunculan lapak pedagang makanan, khususnya disore hari menjelang buka puasa. Semoga Polisi, PP, Tibum, dan Tramtib mempunyai toleransi sepanjang bulan ini. Perlu juga dihimbau agar pusat-pusat perbelanjaan dan mall bisa menyediakan tempat bagi pengusaha-pengusaha ekonomi rakyat dapat mjual berbagai makanan yang digemari banyak masyarakat.<br>
Menjelang akhir bulan Ramadhan, gilirannya pengrajin kopiah, baju koko, kebaya muslim, keranjang untuk parsel, sarung, dan yang lainnya untuk mencari tempat menjajakan barangnya. Semoga pemerintah tidak terlalu kaku dengan peratutrannya dalam masalah parsel untuk pejabat, janganlah kurangi kesempatan bagi ekonomi rakyat. <br>
Saatnya bagi pemerintah dan pengusaha untuk menyediakan ruang publik bagi pelaku ekonomi rakyat, agar dapat sedikit merasakan pasar dan kesempatan yang lebih luas. Hanya sekali dalam setahun. <br>
“semoga gerbang surga yang terbuka selama bulan ini dapat dilewati oleh hati dan jiwa kita semua, sehingga dimaafkan dari segala kekhilafan kita”. Amien.<br>
Marhaban ya Ramadhan. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota, 26 September 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-10-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=46PENJAHIT RAKYAT<br>
<br>
Para selebritis dan kelangan jet-set, berpakaian dengan apa yang disebut Houte Couture atau Adi Busana, dan menjadi trend gaya berpakaian kelas atas. Memesan pakaian disesuaikan dengan bentuk badan, supaya kelihatan seperti peragawati ramping semampai. Ada juga penjahit yang namanya tidak terkenal menjadi langganan ibu-ibu pejabat memesan paiannya. Dalam bulan Ramadhan ini mereka sedang panen pesanan. Bagi sekelompok masyarakat kelas menengah atas, mereka cukup dengan pakaian konveksi bermerek. Merek lokal harus bersaing dengan merek asing yang lebih digemari. Pengusahapun kemudian memproduksi pakaian dengan merek aspal (asli tapi palsu), walaupun sebetulnya melanggar hukum. Barang-barang aspal ini beredar luas dibeberapa pusat perdagangan. Selain itu bermunculan FO (Factory Outlet) yang menawarkan barang-banrang bermerek dengan harga pabrik. Masyarakat kita masih banyak mengagumi barang luar negeri dibandingkan barang buatan sendiri, walaupun sebetulnya barang dengan merek luar negeri sudah dibuat di Indonesia. Lain halnya bagi masyarakat kelas menengah bawah, soal pakaian bukan soal merek, tetapi soal harga. Dibeberapa pusat perdagangan dan hiper-super market, serta kios-kios dipasar tradisional dijual berbagai jenis busana tanpa merek, yang harganya lebih terjangkau. Dalam bulan Ramadhan tempat-tempat demikian diserbu pembeli baik perorangan, pengecer maupun grosiran. <br>
Sebagian masyarakat lebih menyukai membeli kain sendiri dengan corak, warna dan kwalitasnya yang lebih cocok, dan menyerahkan ketukang jahit untuk dibuat sesuai model dan ukuran badannya. Semacam haute couture juga. Tukang jahit atau penjahit demikian banyak ditemui dimetropolitan kita. Pak Simin, demikian saja kita sebut namanya, sudah tujuh tahun menggeluti pekerjaan sebagai penjahit. Menempati kios 5 X 7 meter persegi yang dikontrak 3,5 juta pertahun, memperkejakan 2 orang keluarganya yang berpendidikan SD dan SMP. Ia mulai usahanya dengan modal 5 juta rupiah untuk membeli berbagai peralatan seperti mesin jahit, mesin obras, peralatan dan perlengkapan lainnya, serta berbagai jenis dan ragam kain.<br>
“Awal bulan puasa kali ini masih sepi, pak. Mungkin beberapa hari lagi, mudah-mudahan”, katanya agak lesu. Hari-hari biasa ongkos menjahit kemeja dan celana laki-laki dengan bahannya dihargai 90 ribu untuk bahan kwalitas biasa, kwalitas sedang 100 – 175 ribu dan kwalitas bagus 200 – 250 ribu rupiah perpotong. Hanya ongkos jahit saja tergantung dari model yang dipilih, untuk model biasa ongkosnya 45 – 50 ribu, sedang 60 – 70 ribu, dan model yang rumit 75 – 90 ribi rupiah.<br>
Pekerjanya melakukan dengan cara borongan, untuk satu potong pakaian 10 ribu, hari-hari biasa bisa menyelesaikan 3 – 4 potong, menjelang Hari Raya harus kerja lembur, dan bisa mengerjakan 5 sampai 6 potong. Pak Simin sendiri hari-hari biasa berpenghasilan kotor 2,5-3 juta rupiah, dan bersih 600 – 800 ribu setiap bulan. <br>
Berkah bulan Suci Ramadhan pekerjaan bertambah, ongkosnya naik, rejekinyapun bisa 2 - 3 kali lipat. Semoga tahun ini juga. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota, 3 Oktober 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-10-23EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=47MEMANJAKAN LIDAH<br>
<br>
Berbuka puasa merupakan saat berkumpulnya keluarga, kerabat atau kenalan, bersama-bersama menutup hari dari pengendalian segala nafsu duniawi. Kantor dan pejabat, berbagai perkumpulan dan organisasi, selalu menyelenggarakan buka puasa bersama dalam bulan Ramadhan. Berbuka puasa bersama anak yatim sudah menjadi tradisi dinegara kita. Berbagai jenis makanan mulai dari makanan penyegar sebagai awal berbuka puasa dan makanan utama untuk mengembalikan kekuatan badan dari berpuasa sehari, tersedia dengan ragam dan rasa yang bermacam-macam. Sepertinya lidah kita tiba-tiba menginginkan sesuatu yang lain, menjadi manja. Kolak, kelapa muda, belewah, kulang-kaling, cingcau, cendol dan masih banyak pelengkap minuman lain menjadi keharusan diawal berbuka puasa. Kemudian makanan utama seperti ayam bakar, ikan bakar, rendang, nasi jamblang, gudeg dan masih banyak lainnya menjadi menu yang diminati untuk makan malam. <br>
Selain dirumah, berbuka puasa juga jadi program di restoran dan hotel, berbagai cara dilakukan untuk menarik pelanggannya. Berbagai menu komplit untuk buka puasa ditawarkan dengan harga yang bervariasi. Bagi mereka yang tidak sempat memasak dan menyiapkan makanan sendiri, tersedia banyak pilihan untuk membeli berbagai jenis makanan. Muncul pasar-pasar dadakan seperti di Pasar Senen, Kramat, Bendungan Hilir, Blok M Kebayoran Baru, Tanah Abang, Cimanggis, Cisalak, dan hampir diseluruh Jabodetabek. Siapa sebenarnya yang jadi pelaku bisnis dadakan ini? Siapa yang memberi ijin mereka berjualan disana? Apa reaksi PP, Tramtib atau Tibum?<br>
Ibu Ani, sebut saja begitu namanya, sudah 8 tahun berturut-turut menjadi pedagang musiman dalam bulan Ramadhan. Dengan bermodalkan peralatannya milik sendiri seperti bangku dan meja, bersama dengan pedagang lainnya ia menempati pinggiran jalan, yang sudah berubah menjadi pasar makanan. Bu Ani yang lulusan SLTP ini berjualan dari pukul 3 sore sampai 7 malam. Untuk mengamankan tempatnya, seperti halnya dengan pedagang yang lain, ia memberikan kepada oknum “keamanan” uang sebesar 1000 rupiah setiap hari. Dengan modal sekitar 400 ribu rupiah untuk bahan mentah, bumbu dan gas, ia bisa mendapatkan penghasilan bersih setiap hari sekitar 70 ribu. Agar pelanggannya tidak bosan, ia mengganti jenis makanannya beberapa kali setiap minggu, dan harganyapun disesuaikan dengan kemampuan masyarakat sekitarya. Sebab itu untuk makanan pembuka seperti kolak dipatok harga 2500 rupiah perbungkus. Sedangkan untuk makanan utamanya seperti gudeng dengan telor pindang, rendang, atau balado, dijual dengan harga 3500 – 5000 rupiah perbungkus. <br>
Tahun ini menurutnya penjualan lebih baik dari tahun yang lalu. Ia berharap tahun depan bisa memakai modal yang lebih besar, untuk memenuhi permintaan yang makin besar, karena sekaranag ini banyak pelanggannya yang kadang-kadang kehabisan. Tahun ini Bu Ani memperkirakan dapat mengumpulkan uang sebesar 1,5 - 2 juta rupiah. “Lumayan untuk menambahi keperluan untuk Lebaran”, ucapnya sambil terus melayani pelanggannya. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Pos Kota 10 Oktober 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-10-23EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=48DODOL BETAWI<br>
<br>
Seminggu lagi Lebaran tiba. Ibu-ibu sudah sibuk menyediakan berbagai jenis makanan kering untuk sajian di hari kemenangan. Kebiasaan saling mengunjungi menjadi bagian dari tradisi dan budaya kita, sehingga setiap keluarga selalu menyediakan kue-kue kering untuk menghormati tamunya. Sekarang ini banyak tersedia kue-kue dalam kaleng dalam berbagai bentuk dan rasa hasil produksi pabrik-pabrik besar yang sudah terkenal. Para pengusaha kecilpun melipat gandakan produksinya sampai dua atau tiga kali dari biasanya. Untuk bersaing mereka mempercantik kemasannya, yang biasanya hanya memakai box dari plastik, sekarang dihiasi dengan pita kain berwarna. Agar kelihatan lebih menarik ada juga yang mempergunakan stoples dari gelas. Berbagai jenis kemasan hasil pengrajinpun mudah. Pengrajin bambu, pandan dan kayu banyak menyediakan berbagai bentuk dan ukuran kemasan, hanya tinggal memilih. Penjualan kue–kue keringan tersebut dilakukan dengan berbagai cara, ada yang melalui kenalan dikantor-kantor atau arisan ibu-ibu. Menitipkan di counter khusus yang disediakan dipusat-pusat perbelanjaan. Menjelang lebaran di berbagai macam pameran selalu saja ada yang menjual makanan dan kue kering ini. Sungguh menggembirakan melihat para pengusaha kecil menjelang hari raya ini dapat meningkatkan omsetnya, walaupun hanya sekali dalam setahun.<br>
Selain mereka yang usaha tetapnya pembuatan makanan dan kue kering, ada juga pelaku usaha dadakan yang memanfaatkan kesempatan untuk bisa ikut merayakan akhir Ramadhan. Biasanya yang dibuat makanan khas, yang jarang dapat dibuat secara besar-besaran. Contohnya di Jakarta ini, makanan khas Betawi untuk lebaran adalah dodol. Mpok Yus yang tinggal di desa Harjamukti – Cimanggis sejak 20 tahun selalu membuat dodol menjelang Idul Fitri. Akhir minggu kedua puasa, ibu yang berusia 42 tahun ini sudah mempersiapkan berbagai peralatan yang dibutuhkannya, seperti kenceng (wajan besar), centong besar untuk pengaduk, plastik dan tali rafiah sudah ia beli. Tahun ini modal yang ketat, ia membatasi targetnya hanya dengan mengolah 100 kg tepung beras ketan. Selain tepung beras ketan, mpok Yus juga harus menyediakan tepung beras, gula, gula jawa dan kelapa. Dengan bahan baku tersebut ia dapat menghasilkan 300 kg dodol. Dodol yang sudah jadi diletakkan diberbagi ukuran nampan antara 1 sampai 5 kilogram. Ada juga yang dimasukkan kedalam cetakan bumbung dengan diameter sekitar 5 cm. Harga jualnya perkilo antara 20 ribu sampai 24 ribu rupiah. Dengan segala keterbatasan tersebut mpok Yus bisa mendapatkan keuntungan bersih antara 2 – 3 juta rupiah. Ia melakukan pekerjaan ini dibantu 9 orang pekerja. Untuk 1 liter adonan mereka mendapat upah sebesar 4 ribu rupiah ditambah makan dan rokok, jadi dengan waktu pengerjaan 5 hari, mereka mendapatkan upah antara 150 – 200 ribu. <br>
“Beberapa tahun ini keadaannya repot buat orang kecil, pak! Kalau dulu dengan hasil dodol saya bisa bikin rumah kontrakan, sekarang sih boro-boro”, ucapnya polos khas Betawi. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tanggal 17 Oktober 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-11-07EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=49KEMENANGAN<br>
<br>
Hiruk pikuk persiapan menyambut Hari Kemenangan masyarakat muslim melawan nafsu fisik dan bathin, telah berlalu. Kesibukan penjahit rakyat, pembuat dodol, pedagang makanan dipasar kaget, antrean belanja di pusat perdagangan, kelesuan pembuat parsel, kegembiraan penjual baju koko dan kopiah, sudah reda. Hari-hari terakhir menjelang Hari Kemenangan masyarakat disibukkan dengan persiapan untuk berkumpul dengan sanak saudara untuk merayakan kemenangan tersebut, makanan khusus telah disiapkan, penjualan bungkus ketupatpun meningkat, mobil dan motorpun dipersiapkan untuk perjalanan jauh. Sudah menjadi kebiasaan dan budaya bangsa ini untuk berkumpul bersama sanak saudara ditempat asalnya. MUDIK.<br>
Berbagai cara untuk mudik dilakukan, banyak perusahaan yang menyelenggarakan acara mudik bareng bagi mitra usahanya, terutama pelaku ekonomi rakyat. Tukang jamu gendong, pembuat mie dan roti, loper koran, dan masih banyak yang lain dapat menikmati layanan mudik dengan bis. Pemilik warteg dan tukang martabak bersama-sama menyewa bis, minibis, truk, atau pikap untuk bisa mudik tepat waktu. Hari Kemenangan merupakan hari yang paling penting bagi bangsa ini, bukan hanya bagi mayarakat muslim. Cara apapun diupayakan untuk bisa berkumpul dengan sanak saudara, naik kereta api di atap atau gerbong barang, memakai sepeda motor yang biasanya dipakai ojek, atau mempergunakan bajaj. Truk dan pikap bak terbuka untuk angkutan barangpun disulap dengan kayu atau bambu, dan terpal sehingga bisa dipakai untuk angkutan orang. Tentu dengan toleransi para petugas. Terima kasih!<br>
Bagi pelaku ekonomi rakyat, Kemenangan kali ini mempunyai arti yang mendalam. Penghargaan Nobel untuk perdamaian telah diberikan kepada Mohamad Yunus, pendiri dan pimpinan Grameen Bank dari Bangladesh. Bank yang mengkhususkan untuk membantu ekonomi rakyat. Penghargaan ini harus diartikan kemenangan bagi semua yang telah berjuang melawan kemiskinan. Melawan kemiskinan berarti memperjuangkan perdamaian. Kitapun telah memiliki berbagai program pengentasan kemiskinan dan memperkuat usaha kecil dan mikro, mungkin belum dapat menjangkau menyeluruh. Perbankan mempunyai Kupedes, Simpedes, Candak Kulak dan yang lainnya, program-program khususpun sudah banyak dikembangkan, seperti IDT (Inpres Desa Tertinggal), BLT (Bantuan Langsung Tunai), dan RASKIN. BUMN telah menysisihkan labanya untuk pembinaan UKM. Kantor Kementrian Koperasi dan UKM mempunyai berbagai program dalam permodalan. Yang sering menjadi masalah adalah birokrasi dan KKN. Sekarang ini sedang menjadi trend perusahaan menjalankan CSR (Corporate Social Responsibility) atau Program Tanggungjawab Sosial. Mereka semua ikut mendapatkan penghargaan bersama Grameen Bank, dalam memerangi kemiskinan. Tapi kita tidak boleh puas dengan Kemenangan ini, karena kemiskinan masih terus membayangi dan mengintai kita.<br>
Kemenangan yang kita capai adalah juga kembalinya kita ke Fitri, kembali mempunyai hati yang bersih, pemikiran yang jernih, dan prilaku yang sejuk. Dalam keadaan seperti inilah sebagai khalifah di dunia ini, kita saling memaafkan, dan semoga apa yang telah kita capai dalam bulan Ramadhan dapat kita teruskan ditahun mendatang. Dari pojok EKONOMI RAKYAT, saya sampaikan Mohon Maaf Lahir Bathin, dan Selamat Idul Fitri 1427 H.(rahardi@ramelan.com)<br>
<br>
Dimuat di harian Pos Kota 31 Oktober 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-11-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=50BINATU<br>
<br>
Bagi sebagian penduduk Indonesia khususnya Jakarta dan sekitarnya, pakaian sudah bukan hanya merupakan kebutuhan untuk menutupi badannya, tetapi sudah merupakan bagian dari perhiasan. Berbagai ragam model dan bentuk, baik hasil perancang terkenal, merek luar negeri dan lokal, atau hasil pekerjaan penjahit pinggiran bisa didapat dipusat-pusat perdagangan. Berbagai jenis bahan dan material dimanfaatkan, mulai dari katun, polyester, sampai sutra. Ada juga yang menggunakan bahan campuran dari berbagai jenis material. Berbagai macam warna yang melebihi pelangi membuat pilihan makin sukar. Begitu ragamnya sandang yang dipakai oleh kita, menjadi pertanyaan bagaimana mencucinya agar tetap bertahan lama dalam bentuk dan warna aslinya.<br>
Industri-industri kimiapun mengembangakan berbagai jenis sabun dan deterjen. Persaingan yang ketat industri kimia ini menjadi tontonan yang menarik di layar teve. Berbagai merek, jenis, tipe dan harga mesin cuci menjadikan pilihan makin sulit. Bagi mereka yang tidak mau ambil pusing bisa memilih jasa binatu. <br>
Jasa binatu inipun makin luas dan beragam. Kwalitas jasa binatu ini susah untuk menentukannya. Merekapun menggunakan istilah-istilah asing seperti laundry dan dry cleaning. Ada juga yang merupakan cabang (waralaba) dari luar negeri. Pemasaran dilakukan dengan memanfaatkan selebriti sebagai pelanggannya. Mencuci pakaian ini juga menjadi masalah bagi mahasiswa yang tinggal ditempat kos atau diasrama. Waktu mereka sangat terbatas, tapi ingin tetap berpenampilan bersih dan rapi.<br>
Kebutuhan mahasiswa ini, menjadi bisnis binatu atau laundry diskeitar kampus dan pemondokan mahasiswa. Dibeberapa tempat dijumpai laundry semacam ini, dengan memanfaatkan ruangan 3 X 10 meter, 4 X 6 meter atau 5 X 6 meter. Rata-rata mereka menyewa ruangan dengan biaya sekitar 1 juta rupiah setiap bulan. Dengan mempergunakan 2 buah mesin cuci, 1 buah mesin pengering dan dua buah setrika, mereka membuka laundry kiloan. Peralatan ada yang dibeli dengan harga sekitar 5 – 6 juta rupiah, ada juga yang dengan cara leasing (sewa beli). Selain menerima cucian kiloan yang sangat populer, juga menerima cucian perpotong, karpet sampai boneka. Untuk kiloan, cuci + kering + setrika dihargai 6 ribu untuk setiap kilo, kalau hanya cuci + kering 4000 rupiah. Untuk karpet dan bad cover 6 ribu rupiah untuk setiap meter persegi.<br>
Sekarang ini pekerjaan sedang banyak, sebab itu mereka dapat mempekerjakan 2 sampai 3 orang. Penghasilah bersih bagi pemilik antara 1,5 sampai 2,5 juta setiap bulan. Sedangkan karyawan yang mendapat makan ditempat, bisa membawa pulang rata-rata sebesar 500 – 700 ribu rupiah. Usaha binatu kecil semacam ini merambat cepat keberbagai pelosok Jabodetabek. (rahardi@ramelan.com)<br>
<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 7 Nopember 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-11-18EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=51RUMAH KONTRAKAN<br>
<br>
Heboh mudik sudah berlalu, Jakarta dan sekitarnya mulai ramai kembali. Kehidupan dan ekonomi Jakarta tetap menggairahkan banyak orang untuk datang ke Jakarta. Pendatang barupun berbondong ikut dengan kawan, teman sekampung, atau saudara telah menambah sumpeknya ibu kota kita. Bagi pendatang baru mendapatkan penghasilan bukan merupakan hambatan, asal mau mengerjakan apa saja. Menjadi pemulung, pembantu rumah, kenek, tukang parkir, kuli borongan, preman, dan sederetan pekerjaan lainnya. Pekerjaan apapun, penghasilannya lebih baik dari pada tetap tinggal dikampung. <br>
Sambil mencari pekerjaan, mereka biasanya tinggal bersama kenalan atau keluarga yang sudah terlebih dahulu menetap di Jakarta. Setelah beberapa bulan di Jakarta dan mendapatkan pekerjaan, mulai mencari pondokan atau tempat yang lebih layak agar bisa membawa keluarganya ke Jakarta. Dimana tempat pondokan bagi mereka?<br>
Peningkatan kebutuhan perumahan di Jakarta dan sekitarnya sangat besar, karenanya bisnis properti baik kawasan perumahan maupun apartemen dan rumah susun berkembang seperti jamur. Tapi bagi pendatang yang ikut dengan arus pemudik yang kembali, bukan perumahan semacam itu yang mereka cari. Memenuhi kebutuhan mereka, disekitar Jakarta ini bermunculan rumah-rumah kontrakan sederhana. Dengan berbagai macam ukuran yang disesuaikan dengan harga sewa atau kontraknya. Rumah-rumah kontrakan ini biasanya dibangun sendiri oleh pemilik tanah, tapi ada juga yang bekerjasama dengan pemodal.<br>
Sebuah rumah kontrakan berada tidak jauh dari Cibubur Junction di Cibubur, diatas tanah seluas 140 meter persegi, selain rumah pemiliknya, dibangun 4 buah rumah kontrakan 2,5 X 7 meter. Rumah kontrakan semacam ini termasuk kecil, karena ada juga yang berukuran sampai 4 X 10 meter. Pak Siman, sebutnya saja namanya demikian, mulai membuat rumah kontrakan 2 tahun yang lalu, dengan modal 7 juta rupiah ia membuat satu rumah dan warung kecil. Dari hasil sewa dan warungnya setelah 6 bulan bisa membangun rumah kedua, dan akhirnya setelah 2 tahun pak Siman mempunyai 4 buah rumah kontrakan. <br>
Sekarang ini rumah kontrakannya penuh terisi dan masih banyak orang yang mancari rumah kontrakan semacam itu. Rumah dengan ukuran 2,5 X 7 meter ia sewakan 230 ribu rupiah setiap bulan. Tetangga pak Siman juga membuat rumah kontrakan dengan ukuran yang lebih besar, dan uang sewanya sampai 450 ribu rupiah. Dengan 4 buah rumah kontrakan pak Siman mendapatkan penghasilan bersih 600 – 700 ribu rupiah setiap bulannya. <br>
Puluhan rumah kontrakan tersebar di desa sekitar tempat tinggal pak Siman. Seperti halnya bisnis properti kawasan perumahan mewah dan apartemen, bisnis rumah kontrakanpun merebak di daerah pedesaan. Mereka mengembangkan bisnisnya tanpa bantuan perbankan. Mereka adalah pelaku ekonomi rakyat yang selalu melihat peluang. Semoga pemerintah daerah memperhatikan prasarana penunjang untuk lingkungan seperti jalan dan penanganan sampah.(rahardi@ramelan)<br>
<br>
Dimuat di Koran Pos Kota 14 Nopember 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-11-22EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=52AIR, AIR, AIR<br>
<br>
Hutan kita makin gundul, pembalak liar belum juga tertangkap. Pegunungan sejuk berubah menjadi vila. Situ tempat resapan air ditimbun. Iklim diplanet kitapun berubah, musim kemarau tahun ini belum juga berakhir. Hutan terbakar, sungai mendangkal, sumur mengering. Hujan yang diharapkan tiba, belum juga menunjukkan bayangannya. Masyarakat dipedesaan dan pinggiran kota dhadapkan dengan kurangnya air minum.<br>
Kekurangan air minum bagi sebagaian besar masyarakat kita, bukan hanya masalah dimusim kemarau panjang, tapi sudah menjadi masalah setiap hari. Jangkauan pelayanan PDAM sangat terbatas, itupun airnya tidak bisa langsung diminum. Berbagai jenis peralatan penjernihan airpun diperdagangkan, mulai yang sederhana sampai canggih. Hampir setiap hari mereka menawarkan peralatan tersebut diberbagai harian dan majalah. <br>
Sudah hampir 20 tahun usaha air minum kemasan dalam botol berkembang. Dimulai satu merek pada mulanya dan sekarang sudah puluhan merek yang beredar. Sebagaian merupakan merek-merek lokal yang beredar hanya untuk daerah-derah tertentu. Kebutuhan air minumpun terus tumbuh dengan pesat. Kadang-kadang kita dikejutkan bahwa harga air minum direstoran besar bisa lebih mahal dari bensin atau solar. Bersamaan dengan banyaknya persaingan harganyapun menjadi tertekan. Air minum merek terkenal sekarang harganya dipasar atau agen sudah dibawah 10 ribu rupiah untuk botol 19 liter (sering disebut galon), sedang merek lainnya berkisar 6 sampai 7 rupiah. Tetapi bagi sebagian masyarakat harga inipun masih tetap terlalu mahal.<br>
Beberapa tahun ini bermunculan usaha air minum isi ulang. Tumbuh bagaikan jamur dipinggiran kota, kota kecil dan pedesaan. Peralatan yang dipergunakan termasuk canggih, mulai untuk pencucian botol sampai pengisian. Peralatan tersebut dapat dibeli baik tunai maupun dengan kredit, ada juga yang menyediakan dengan cara sewa-beli atau leasing. Investasi yang diperlukan sekitar 70 juta rupiah untuk satu unit lengkap. Usaha ini selain bagi perorangan juga menarik bagi pemodal kelas menengah bawah. Ada yang memiliki sampai 3 atau 5 unit usaha demikian. Mereka biasanya mempekerjakan 2 sampai 3 orang pegawai untuk satu unit. Sebuah unit dengan investasi diatas dapat memberikan penghasilan kotor setiap bulan antara 8 sampai 10 juta rupiah. Air baku yang dipakai sangat beragam, ada yang mendatangkan dari Gunung Salak dengan harga 350 ribu untuk satu tangki yang 5000 liter, tetapi ada juga air baku yang berasal dari mata air setempat dengan harga hanya 50 ribu setiap tangki tergantung jaraknya. Sekarang ini satu botol dapat dijual ditempat dengan harga 3000 rupiah, kalau diantar 3500 rupiah. Konsumen air minum isi ulang ini terus makin besar, apalagi dimusim kemarau yang berkepanjangan. Pemodal bisa mendapatkan penghasilan bersih sampai 6 juta dan pekerjanya rata-rata mendapat penghasilan antara 600 sampai 700 ribu rupiah perbulan. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tgl 21 Nopember 2006<br>
Rahardi Ramelan2006-12-08EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=53MIKROMARKET ALIAS WARUNG RAKYAT<br>
<br>
Menjamurnya hypermarket dan supermarket, dengan beragam nama, baik asli maupun waralaba, telah membuat dahi para pejabat, pemikir dan pelaku ekonomi rakyat berkerut. Terutama hypermarket dan supermarket yang berlokasi tidak jauh dari pasar tradisional. Sudah banyak wacana dan gagasan yang dilontarkan para pembesar, apa itu menteri, gubernur atau bupati dan walikota, tetapi kenyataannya pendirian pasar modern atau warung raksasa ini berjalan terus dan dimana saja, tanpa ada yang bisa menghentikan. Setiap pembukaan pusat perbelanjaan yang baru, hampir selalu diikuti dengan pendirian warung raksasa ini. Bagi masyarakat konsumen keadaan ini menguntungkan, bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan berbelanja di “pasar” dengan hawa sejuk dan bersih. Segala macam barang, mulai dari sayuran, ikan dan daging, makanan, pakaian sampai HP dan komputer bisa didapatkan di satu tempat. Demikian juga dengan minimarket dari berbagai waralaba, juga telah menjalar bagaikan kanker, dan terus mendesak keberadaan warung rakyat atau mikromarket. <br>
Keberadaan mikromarket atau warung rakyat masih tetap menjadi andalan bagi masyarakat kelas bawah. Segala macam keperluan sehari-hari bisa dibeli secara eceran. Kopi, teh, atau jamu untuk sekali seduhpun tersedia. Rokok bisa dibeli secara batangan. Membeli minyak tanah setengah botolpun dilayani, atau disesuaikan dengan uang yang dimiliki pembeli. Membeli minyak gorengpun, tergantung uang yang dimiliki langganan. Bagi masyarakat bawah berapapun uang yang mereka miliki, tetap bisa mendapatkan barang yang diperlukan. Kalaupun tidak memiliki uang, berhutangpun dilayani. Biasanya warung rakyat demikian memanfaatkan bagian ruangan rumah, sehingga praktisnya mereka buka 24 jam.<br>
Disebuah ruas jalan sempit, sepanjang 300 meter, dikawasan Cibubur dijumpai 2 buah warung rakyat semacam ini. Satu diantaranya dimiliki oleh Andi, bukan nama sebenarnya, yang berbekal ijazah STM penghasilannya bekerja disebuah bengkel mobil hanya pas-pasan untk memenuhi kebutuhan hidupnya yang layak. Oleh karena itu untuk bisa hidup lebih baik, ia memanfaatkan sebuah ruangan yang terletak dibagian depan rumahnya untuk memulai usaha. Empat tahun yang lalu ia memperbaiki dan melengkapi ruangan 2 X 2,5 meter tersebut dengan biaya sekitar 2 juta rupiah. Ditambah pembelian barang-barang yang akan dijual, keseluruhan modal yang ia pakai waktu itu menjadi sekitar 3,5 juta rupiah. Hasil yang didapat dari usahanya dijadikan tambahan modal kerja, sehingga usahanya terus berkembang. Sekarang penghasilan kotornya dalam sebulan antara 2 sampai 2,5 juta rupiah, sedangkan yang dapat disisihkan mencapai 700 ribu rupiah. Karena istrinya sendiri yang mengelola warung tersebut, maka tidak diperlukan biaya untuk pegawai. Bagi Andi, walaupun tidak jauh dari tempatnya ada beberapa buah hypermarket baru, bukan menjadi masalah. Ia terus berupaya untuk bersaing dengan memberikan pelayanan dan harga yang terbaik. Yang ia beserta kawan-kawannya pemilik mikromarhet harapkan, sebagai pelaku ekonomi rakyat, agar pemerintah segera merealisasikan penataan keberadaan hiper- dan supermarket. (rahardi@ramelan.com)<br>
(Dimuat di Harian Pos Kota 28 Nopember 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-12-15EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=54K P B U <br>
<br>
Masa monopoli penyaluran bahan bakar untuk umum, khususnya untuk kendaraan bermotor, telah berakhir. SPBU, Setasiun Penjualan Bahanbakar Umum, bukan lagi hanya monopoli Pertamina. Sekarang ini di Jakarta Pertamina mulai mendapatkan saingan dari Petronas dan Shell, tidak tahu perusahaan mana lagi yang akan ikut meramaikannya. Persaingan membuat pelayanan bagi pembeli jadi lebih baik, ramah dan menarik. Mudah-mudahan tidak ada lagi yang suka mengakali meteran pengisian. Apalagi pelayanan SPBU – non Pertamina ini dikombinasikan dengan berbagai fasilitas lainnya, seperti toilet yang bersih, toko serba ada, dan restoran. Dibeberapa tempat mereka buka 24 jam, termasuk restorannya. Begitulah cara memanjakan pelanggan atau konsumen. Pertanyaannya, konsumen mana yang menikmati pelayanan ini. Sudah pasti bukan tukang ojek atau pemakai sepeda motor yang tinggal dikampung atau pemukiman penduduk terpencil. Atau juga bukan mahasiswa dikampus yang datang memakai sepeda motor. Sepeda motor di jalan-jalan umum sudah menjadi ciri kesemrawutan kota Jakarta, katanya sudah mulai diatur. Apakah akan dilakukan secara konsisten? Kenyataannya berbagai aturan lalu lintas termasuk rambu-rambunya dilanggar oleh semua pihak, termasuk pengendara sepeda motor. Tapi apakah juga pemerintah telah memberikan pelayanan yang optimal bagi para pengendara kendaraan bermotor dipelosok-pelosok? Dimanakah mereka bisa mendapatkan bensin?<br>
Angkutan umum dipedalaman perkotaan dan dipedesaan banyak dilayani oleh angkot (angkutan perkotaan), angdes (angkutan pedesaan) dan ojek. Mereka menelusuri jalan-jalan sempit, gang becek, maupun jalan setapak. SPBU tidak ada di rute yang dilalui. Uang pendapatan hanya cukup untuk membeli satu atau dua liter bensin, kalau dapat penumpang baru mengisi bensin lagi. Untunglah disepanjang rute yang mereka lalui ada KPBU (Kios Penjualan Bensin Umum). Jeriken kecil dan botol berisi bensin atau bensin campur, berderet diatas meja atau rak. Usaha KPBU bukan untuk mendapatkan penghasilan utama, melainkan untuk tambahan uang belanja. Udin, yang mengantongi ijazah STM, sejak krisis tahun 1998, belum juga mendapatkan pekerjaan yang dapat menghidupi keluarganya seperti sebelumnya. Untuk menambah kebutuhan rumah tangganya, ia membuka kios untuk menjual bensin eceran. Dengan modal 500 ribu rupiah, ia membuat kios berukuran 1 X 1,5 meter, dan melengkapinya dengan jeriken, botol, corong dan lain sebagainya. Ia tetap bekerja seperti biasa, dan mempekerjakan, Usman, anak tetangga untuk menunggu kiosnya. Udin menjual bensin dengan harga 5000 rupiah untuk satu liter, bensin campur 5.500. Makin ramai dan meningkatnya angkutan pedesaan, ojek dan mahasiswa, juga meningkatkan penghasilan bersih mencapai 300 - 350 ribu setiap bulan. Usman mendapatkan 60 persen dari hasil bersih tersebut, 180 sampai 200 ribu rupiah. Sedangkan keluarga Udin dapat menambah uang belanja mereka dengan 120 – 150 rubu. Mudah-mudahan bensin tidak akan langka seperti minyak tanah sekarang ini. Adakah Pertamina memikirkan SPBU mini atau mikro khusus untuk sepeda motor? (rahardi@ramelan.com)<br>
(Dimuat di Harian Pos Kota, 5 Desember 2006)<br>
Rahardi Ramelan2006-12-22EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=55MESIN JAHIT TUA <br>
<br>
Industri tekstil kita memang bermuka dua. Di satu muka katanya ekspor tekstil dan pakaian jadi meningkat, dilain sisi pasar dalam negeri dibanjiri tekstil dan pakaian dari Cina. Tidak ketinggalan juga pakaian bekas dari negara-negara tetangga, bak tsunami membanjiri pasar tradisional dan trotoar jalan. Ekspor yang terus meningkat dinikmati oleh industri besar. Pasar dalam negeri yang makin mengecil membuat industri kecil tekstil dan pakaian jadi kelimpungan. Tempat penjualan merekapun dipasar-pasar grosir dan eceran tradisional mulai digeser dan digusur dengan alasan peremajaan dan modernisasi.<br>
Walaupun tekstil dan pakaian jadi untuk golongan rendah cukup murah, tapi karena penghasilan yang berkurang dan pengangguran yang terus bertambah, tetap masoih tidak terjangkau, dan mereka tidak mampu membelinya. Pakaian bekas dan memperpanjang usia pakaian menjadi alternatif. Merombak pakaian bekas agar pas dipakai, dan memperbaiki pakaian lama menjadi pilihan. Mesin jahit tua peninggalan nenek mulai dikeluarkan dari gudang. Atau juga mencari mesin jahit tua dipasar loak atau di kampung-kampung.<br>
Keadaan perekonomian yang demikian juga dimanfaatkan oleh para entrepreneur kecil, atau wirausaha kecil untuk mengembangkan bisnis reparasi dan servis mesin jahit tua ini.<br>
Sebut saja Mas Bejo namanya, asal Jawa Tengah, sudah empat tahun ini menekuni bisnis servis mesin jahit. Sejak krisis ekonomi tahun 1998, Mas Bejo sudah tidak mempunyai pekerjaan tetap, tapi lumayan masih bisa membiayai kehidupan keluarganya dari pekerjaan serabutan. Ia mulai usahanya dengan mengontrak kios ukuran 4 X 4 meter dengan harga 2 juta rupiah setahun, berlokasi dipinggir jalan yang ramai. Mas Bedjo masih harus merogoh keoceknya sebesar 3 juta rupiah untuk membeli berbagai peralatan untuk pekerjaan mekanik maupun listrik.<br>
Pada awalnya pekerjaan cukup banyak, tetapi sekarang agak berkurang, sehingga ia mulai membeli rongsokan mesin jahit untuk dibangun kembali. Ongkos servis dihargai antara 20 dan 30 ribu, kalau termasuk servis atau ganti dinamo ditambah 60 sampai 70 ribu. Tapi sekarang ini lebih mudah menjual mesin jahit yang sudah diperbaiki, yang second hand. Terutama yang mereknya terkenal seperti Butterfly harganya sekitar 350 ribu, dan untuk merek Singer 400 ribu rupiah. Disamping itu ia juga menjual berbagai meja mesin jahit dengan harga 125 sampai 150 ribu rupiah.<br>
Usaha servis mesin jahit ini bagi Mas Bedjo menghasilkan pendapatan kotor antara 2 sampai 2,5 juta rupiah setiap bulan, sehingga penghasilan bersihnya bisa mencapai 1 juta rupiah. Usaha semacam ini banyak kita temui disekitar Jakarta ini. Sudah saatnya bagi KADIN, HIPMI dan asosiasi lainnya memikirkan Mas Bejo-Mas Bejo ini agar dapat meningkatkan produktivitasnya. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 12 Desember 2006<br>
Rahardi Ramelan2007-01-29EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=56MELADENI HOBI<br>
<br>
Berbagai jenis perkumpulan “hobbiest” tumbuh dan berkembang. Mereka berkumpul karena mempunyai interese yang sama dan menikmati bersama apa yang disukainya. Perkumpulan bagi mereka yang mencari identitas kebersamaan. Perkumpulan mereka yang memiliki hobi dan kegemaran yang sama, mulai dari musik, apakah itu jazz, keroncong ataupun country, sampai mobil antik, sepeda gunung, moge (motor gede). Di kalangan penggemar mobil berkembang juga perkumpulan-perkumpulan yang lebih spesifik atau khusus seperti perkumpulan Mazda kotak, Mini Cooper, Toyota Hardtop, VW Kodok dan masih banyak yang lain. Mereka sering mengadakan tour dan kegiatan sosial lainnya. Mrereka peduli dengan berbagai keterpurukan masyarakat dan bencana alam. Ongkos dan uang yang harus dikeluarkan nampaknya bukan menjadi ukuran dan masalah. Yang mereka cari adalah kebersamaan dalam lingkungan yang mempunyai kegemaran, cita-cita dan tujuan sama. Salah satu perkumpulan hobi yang banyak digemari adalah perkumpulan penggemar sepeda motor – scooter Vespa. Vespa muali sangat populer sejak diputarnya film “Three Coins in The Fountain” dan “Roman Hollidays” pada tahun 50-an. Penggemarnya makin meluas dan beragam keinginan, ada yang menginginkan agar Vespanya kembali seperti original, tetapi ada juga yang menginginkan berbagai variasi menghiasi Vespanya.<br>
Banyaknya penggemar Vespa seperti ini, satu tahun yang lalu telah mengilhami Budi untuk mendirikan bengkel sepeda motor yang mengkhususkan untuk Vespa. Budi juga memeiliki sebuah Vespa dan menjadi anggota perkumpulan penggemar Vespa.. Dengan berbekal pengetahuannya mengenai Vespa dan ketrampilannya yang ia peroleh dari STM, ia mengontrak sebuah tempat berukuran 5 X 12 meter dipinggir jalan yang cukup ramai di desa Harjamukti, Cibubur. Budi harus mengeluarkan uang tabungannya sebanyak 9 juta rupiah untuk bisa memulai usahanya tersebut, untuk membeli berbagai peralatan bengkel seperti tool kit, kompresor, serta mesin bubut dan grinda sederhana. Selain itu beberapa jenis suku cadang yang sering dperlukan, harus disediakan juga. Sedangkan sewa ruangan ia harus membayar setiap bulan sebesar 350 ribu rupiah. <br>
Sekarang ini pekerjaan sedang menurun, seperti halnya keadaan ekonomi lainnya. Keadaan kehidupan yang makin sulit menyebabkan pemakaian Vespa sebagai hobipun menurun, jadi makin jarang datang ke bengkel. Walaupun demikian bengkelnya masih dapat memberikan penghasilan kotor sekitar 3 juta rupiah setiap bulan. Di bengkelnya ia mempekerjakan 2 orang lulusan STM, yang dengan cara bagi hasil mereka bisa mendapatkan penghasilan sekitar 500 ribu rupiah. Sedangkan Budi sendiri bisa membawa pulang rata-rata 900 ribu.<br>
Masih banyak perkumpulan hobi yang membutuhkan dukungan perawatan dan perbaikan dari barangnya. Harga bukan merupakan ukuran, tapi kepuasan dan ketepatan yang dicari. Yang diperlukan adalah niat dan keberanian untuk memulai usaha, seperti Budi. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 19 Desember 2006)<br>
Rahardi Ramelan2007-01-29EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=57TEROMPET 2007<br>
<br>
Tahun 2006 akan segera kita lalui. Tahun yang penuh hiruk pikuk, kegalauan, dan kesedihan. Bencana alam gempa dan tsunami, gunung berapi, banjir dan longsor saling menyusul. Kita menjadi galau melihat tingkah laku para petinggi, orang besar, dan politisi kita, video porno, narkoba, dan jadi buron. Itu hanya yang ketahuan, puncak sebuah gunung es. Orang yang melanggar hukum dan melakukan tindak pidana banyak berkeliaran diantara kita di masyarakat. Di penjara-penjara hanya sebagian kecil saja, termasuk mereka yang dijebak, direkayasa, ataupun tak mampu membayar proses peradilan. Penghujung tahun 2006 beban masyarakat ditambah dengan melambungnya harga beras. Pemerintahpun kedodoran, seperti biasa saling tuding, ujung-ujungnya impor beras lagi. Bagaimana nasib petani waktu panen nanti?<br>
Katanya ekonomi sudah bertambah baik. Tapi untuk siapa? Kelompok masyarakat wong cilik, tetap saja tidak berhanjak dari keadaan semula. Serba kekurangan dalam berbagai hal. Pengangguranpun bertambah, sudah menjadi pemandangan biasa melihat buruh-buruh bangunan berkumpul dan tidur ditrotoar dan emper-emper bangunan menantikan mandor proyek mencari mereka. <br>
Untungnya masih ada kelompok masyarakat yang akan merayakan tahun baru dengan kemeriahan. Sudah menjadi tradisi, walaupun warisan penjajah, tahun baru disambut dengan meniup terompet. Beragam bentuk dan ukuran terompet mulai terlihat disepanjang jalan-jalan ramai. Ada yang menjajakan dengan hanya sekedar dipikul, tapi ada juga yang menggunakan sepeda. Kebahagian sesaat bagi wong cilik untuk bisa mendapatkan dan menikmati rejeki tambahan di akhir tahun. <br>
Sudah lima tahun, Karjo pemuda asal Kerawang, mengais rejeki dengan berjualan terompet menjelang akhir tahun. Seperti kebanyakan teman-temannya yang berjualan trompet, Karjo biasanya menjadi kuli bangunan atau menjadi kuli tani dimusim panen. Disaat-saat menjelang tahun baru semacam ini ia berdoa agar tidak hujan, berbeda dengan kawan-kawannya di Kerawang yang mengharap hujan. Dengan bermodalkan sepeda dan keranjang bambu yang ia beli beberapa tahun yang lalu seharga 350 ribu rupiah, ia sudah mulai menjual terompet sepuluh hari sebelum tahun baru. Sekarang ini, setiap hari paling banyak ia hanya bisa menjual beberapa buah, 30 – 40 ribu rupiah. Menjelang tahun baru omsetnya bertambah besar sampai 300 atau 600 ribu. Kalau tidak hujan rejekipun tambah. <br>
Terompet ia dapatkan dari juragan atau cukong yang jadi pemiliknya. Kalau laku baru ia membayar. Terompet sederhana dihargai sekitar 1500 rupiah, dan Karjo bisa menjual antara 2000 sampai 5000 ribu rupiah. Sedang terompet besar dan bagus, ia harus membayar sekitar 7 ribu rupiah, dan dijualnya dengan harga sepuluh sampai 17.500 rupiah. Dengan berjualan terompet selama 7 – 10 hari, diakhir tahun 2006 ini, ia berharap bisa mendapatkan penghasilan tambahan antara 400 sampai 600 ribu rupiah. Tahun ini diperkirakan lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya. Maklum kendala hujan dan daya beli masyarakat. <br>
Selamat Natal dan Tahun Baru 2007!!!(rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 26 Desember 2006<br>
Rahardi Ramelan2007-01-29EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=58GANTI JOK MOTOR?<br>
<br>
Pemakaian sepeda motor di Jabodetabek makin meluas. Lalu-lintaspun jadi semerawut. Disetiap lampu pengatur lalulintas (TL), sepeda motor memenuhi jalanan, mereka malang melintang berada dibaris paling depan, mereka berhimpit diantara dan didepan mobil dan bis. Perlombaanpun dimulai begitu lampu hijau menyala. Mereka memenuhi bukan hanya jalur lambat, tetapi memasuki semua jalur termasuk trotoar, kadang-kadang kita jumpai juga dengan arah yang berlawanan. Pemda DKI Jakarta mulai ingin mengatur para pemakai kendaraan ini untuk mematuhi peraturan. Jalur khusus dan keharusan menyalakan lampu mulai diterapkan. Akan samakah nasib peraturan ini diberlakukan di Jabodetabek, seperti halnya keharusan memakai helm dan penumpang hanya dua orang? Atau peraturan hanya diterapkan di beberapa lokasi dengan peringatan “Daerah Tertib Lalu Lintas”? Lain halnya dengan tempat parkir khusus sepeda motor telah berkembang pesat, baik yang berada dialam terbuka dengan panas atau hujan, maupun di dalam gedung. <br>
Dengan berkembang pesatnya jumlah sepeda motor berbagai jenis usaha penunjangpun bermunculan. Diantaranya adalah pembuatan jok motor. Pemakaian motor yang intensif, hujan dan panas; menyebabkan jok sepeda motor, yang terbuat dari bahan plastik atau polyester, menjadi cepat sobek dan rusak. Ribuan usaha kecil – usaha ekonomi rakyat – pembuatan jok sepeda motor berkembang tersebar diseluruh Jabodetabek. Ada yang menggambungkan dengan usaha pembuatan jaket yang serasi dengan joknya, baik warna maupun desain.<br>
Seperti halnya nasib puluhan ribu waga Jabodetabek yang menganggur, demikian juga Andi pemuda berumur 29 tahun lulusan SLTP, telah memulai usaha pembuatan jok ini. Mengamati banyaknya sepeda motor yang berlalu-lalang disekitar tempat tinggalnya, menjadikan peluang baginya membuka servis dan pembuatan jok sepeda motor. Enam bulan yang lalu dengan modal sebesar 5 juta rupiah ia memulai usahanya dengan mengontrak ruangan seluas 3 X 3 meter persegi dipinggir jalan dengan harga kontrak 2,5 juta setahun. Dengan modal tersebut ia membeli berbagai peralatan dan bahan baku untuk jok. Dengan usahanya tersebut Andi bisa mendapatkan penghasilan sampai 800 – 900 ribu rupiah sebulannya. Ia melayani pemakai sepeda motor dikalangan masyarakat bawah. Berbagai warna kulit imitasi terutama hitam dan merah ia sediakan, berbagai desain dan corak jok, serta cara memotongnya ia pelajari dan tiru dari yang lain. Dengan material yang tersedia, penggantian kulit jok dihargai mulai 25 ribu rupiah. Sedangkan untuk servis dan perbaikan yang robek, dikenakan biaya mulai 10 ribu rupiah. <br>
Memasuki tahun 2007, sejak bulan Desember yang lalu, pasar sangat sepi, mungkin dkarenakan musim hujan. Omsetnya dalam bulan Desember menurun dan hanya mencapai sekitar 800 ribu, sehingga penghasilan bersihnya hanya sekitar 400 ribu rupiah. Sebab itu ia mulai juga menjual jas hujan khusus untuk pengendara sepeda motor. Kalau mudah mendapatkan modal Andi ingin memperluas usahanya dengan membuat jaket. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 9 Januari 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-02-09EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=59RSS JUGA RUMAH<br>
<br>
Pembangunan perumahan untuk masyarakat menengah bawah perlu di-revitalisasi. Program RSS dengan luas mulai dari 70 meter persegi terus mengecil, dan sekarang ini ada yang 18 dan 24 meter persegi, sehingga muncul istilah atau ejekan menjadi RSSS ...SSS. Sangat Sedih Sekali! Harga tanah yang terus melambung disekitar perkotaan, mengakibatkan harga rumah-rumah RSS lebih ditentukan oleh harga tanah. Lokasinya makin menjauh dari kegiatan ekonomi, dan bukan saja tidak terjangkau oleh pelayanan PAM, tapi juga tidak terjangkau oleh angkutan umum. Bagi penghuni RSS pengeluaran biaya transportasi merupakan anggaran terbesar untuk kehidupannya, hanya ojek yang membantu mereka, walaupun ongkosnya mahal. Untung sekarang ini listrik sudah memasuki rumah-rumah mereka, lampu, radio dan televisi sudah menjadi perlengkapan standar. Ada juga yang melengkapi keperluannya dengan pompa air dan mesin jahit. Berbagai pedagang kelilingpun menjangkau daerah mereka, mulai pedagang sayuran, perlengkapan dapur, sampai hiburan untuk anak-anak seperti odong-odong. Termasuk juga tukang pasang dan penjual gorden keliling yang menawarkan jasanya untuk mempercantik RSS.<br>
Walaupun RSS adalah rumah sangat sederhana, bukan berarti pemiliknya tidak memperhatikan rumahnya untuk menjadi bersih, sehat, cantik dan menjadi tempat tinggal yang nyaman. Mengecat, menambah ruangan, menghias taman, membuat pagar, sampai memasang gorden. Ada juga yang menambah ruangan dengan membuat tingkat dua dan ruangan untuk mobil. <br>
Mempercantik RSS memberi peluang berbagai usaha penjualan dan jasa, diantaranya adalah pembuatan dan pemasangan gorden. Joko, 34 tahun, yang menyelesaikan pendidikannya di SLTA, setelah untuk beberapa bulan menganggur sepert beberapa kawan lainnya, memulai usaha membuka kios untuk pembuatan dan pemasangan gorden. Sebuah kios standar ukuran 3 X 3 meter, dikontrak dengan harga dua setengah juta rupiah untuk satu tahun. Dengan uang yang ia miliki pada waktu itu sebesar 1,75 juta, Joko membeli perlengkapan kerjanya seperti gunting, strikaan dan perlengkapan ruang kerja lainnya. Sedangkan modal kerja untuk membeli berbagai jenis bahan gorden dan rel aluminium serta perlengkapan lainnya diperlukan modal sekitar 13 juta. Untung ada perusahaan yang dapat menjual dengan konsinyasi. Pesanan banyak dari perumahan sederhana dan RSS, untuk pintu ukuran standar 2 X 0,7 meter dengan memakai bahan biasa, harganya 600.000 rupiah, sudah termasuk relnya. Sedangkan memakai bahan yang bagus harganya menjadi satu juta rupiah. Beberapa bulan terakhir ini pesanan sangat sepi. Semula omsetnya bisa mencapai 1,5 sampai 2 juta rupiah, dan hasil bersihnya antara 800 ribu sampai satu juta rupiah. Sekarang ini omsetnya drastis menurun hanya sekitar 700-800 ribu, dengan hasil bersihnya hanya sekitar 350 – 400 ribu rupiah setiap bulan. “Saya ngga mengerti pak, mengapa reformasi merugikan rakyat kecil seperti saya”, keluhnya. “Apakah demokrasi itu seperti ini?” sambungnya. Masih adakah yang memikirkan kekuatan ekonomi rakyat ini? (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 16 Januari 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-02-09EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=60PENJUAL KELONTONG KELILING<br>
<br>
Hidup dan tinggal diperkampungan pinggiran kota, atau pemukiman RSS.... yang terpencil bukan berarti terlepas dari denyut kehidupan kota metropolitan. Kita pernah menyoroti berbagai bisnis yang terkait dengan kehidupan ini. Untuk transpor ada ojek, untuk keperluan sehari-hari ada mikromarket, huburan anak-anak ada odong-odong, ada penjahit pakaian dan permak levis keliling, untuk tempat tinggal ada juga rumah petak kontrakan. Bengkel motor, dangdut keliling, dan kios gorden tidak ketinggalan. Semuanya merupakan kehidupan modern dalam ukuran mini dan kwalitas yang sederhana. Tapi harga dan ongkosnya belum tentu lebih murah. Siapa salah?<br>
Demikian juga untuk melengkapi kebutuhan peralatan rumah tangga, ibu-ibu tidak perlu pergi belanja kekota atau pasar. Dulu toko kelontong bisa kita temui dimana-mana, seperti Pasar Senen, Manggarai, Pasar Baru dan ruko-ruko atau tempat lainnya. Dikampung dan gang kota Jakarta ada penjaja kelontong keliling. Ada yang dalam ukuran kecil dan sederhana dengan dipikul, ada juga yang memanfaatkan gerobak dan sepeda motor. Sekarang ada yang mempergunakan mobil pick-up, seperti Mardi, lulusan SMU yang berumur 35 tahun, sudah lima tahun ini menggeluti bisnis sebagai penjual barang kelontong keliling. Gelombang PHK di tahun 2000an, telah merumahkan Mardi tanpa pekerjaan. Untung ia mendapatkan uang pesangon dan simpanan yang bisa dipergunakan sebagai modal untuk melulai usaha baru. Setelah dua tahun bekerja serabutan dan mengamati keliling, iapun memutuskan untuk menjadi penjual barang kelontong. Akhirnya ia dengan uang hampir 40 juta, ia membeli pick up bekas, melengkapinya dengan tape dan sound system, serta membeli barang-barang yang akan ia jual. Mulai panci, ember, sapu, rantang dan pokonya semua barang-barang keperluan rumah tangga. Ada yang terbuat dari plastik, stainless, dan juga dari aluminium dan kayu. Mardi memutuskan untuk memanfaatkan kendara bermotor, karena selain jumlah barangnya banyak, juga jangkauan pemasarannya jadi lebih luas. Untuk bersaing dengan kios-kios di pasar, ia harus menjual barangnya dengan lebih murah, atau menjual dalam paket misalnya dengan 10 ribu dapat tiga buah barang. Mardi beruntung dengan mobilnya bisa mengambil barang dari grosir dengan harga miring dan dapat dibayar 2 kali. Sehari-hari ia menuju satu tempat, kemudian parkir dan mulai memasang tape dan menjajakan barangnya. Ia baru kembali ketempat yang sama setelah satu minggu, jadi mempunyai jadwal tetap. Sedangkan pada hari sabtu dan minggu biasanya ia mangkal dengan berpindah tergantung adanya keramaian. Selalu ada saja pasar dadakan seperti dihalaman pabrik, tempat parkir, lapangan olah raga, dan tempat terbuka lainnya. Hasil dari mangkal ini biasanya lebih besar dari kalau keliling. Beberepa pedagang kelontong keliling seperti Mardi yang saya temui, kebanyakan berasal dari daerah Tasikmalaya.<br>
Dengan usahanya ini ia berpenghasilan bersih antara 1 sampai 1,5 juta rupiah sebulan. Sedang asistennya, yang tamatan STM, mendapat upah harian berupa prosentase dari hasil penjualan. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 23 januari 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-03-08EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=61ELPIJI UNTUK RAKYAT<br>
<br>
Masyarakat sudah lama menunggu elpiji (lpg), yang katanya untuk pengganti minyak tanah yang disubsidi. Sekarang ini memang bagi masyarakat berpenghasilan rendah harga elpiji dirasa sangat mahal dibandingkan minyak tanah. Tapi mengapa pemerintah mau mengganti minyak tanah dengan elpiji? Pertama pemerintah atau Pertamina tidak bisa mengendalikan aliran minyak tanah bersebsudi betul-betul hanya untuk masyarakat yang berhak, alias bocornya banyak sekali. Kedua, bahan baku untuk minyak tanah masih harus diimpor, sedangkan bahan baku untuk elpiji bisa didapatkan dari dalam negeri. Jadi kita semua setuju!<br>
Percontohan elpiji untuk masyarakat akan diedarkan dengan tabung yang 3 kilogram. Kadang-kadang kita heran untuk mengadakan tabung saja harus tarik urat antara impor dan buatan dalam negeri. Apa bapak-bapak itu kurang pekerjaan? Lebih baik bapak-bapak itu memperhatikan nasib para agen dan pengedar minyak tanah dan pengrajin kompor minyak. <br>
Selain bagi masyarakat atas dan menengah atas, bagi masyarakat kelas menengah bawah juga elpiji untuk memasak sudah lama dipakai. Demikian juga penjual pengedar elpiji banyak berkembang dan memberikan penghasilan yang lumayan. Surachman misalnya, pemuda berumur 39 tahun lulusan SMA, sudah 15 tahun menekuni pekerjaan sebagai penjual elpiji. Ia tinggal di daerah pemukiman diperbatasan DKI dan Depok. Pemukiman campuran antara penduduk asli, rumah kos-kosan, RSS, KPR-BTN, kompleks rumah sedang dan beberapa penghuni rumah besar, yang menjadikan pasar elpiji di wilayah tersebut menjadi lumayan. Menggunakan ruangan sebesar 6 X 9 meter persegi yang ia sewa 400 ribu setiap bulan, Surachman menjalankan usahanya sebagai penjual elpiji. Selain pembeli datang ketempatnya, para pelanggan juga bisa menerima dirumah dengan diantar, cukup menelpon dengan handphone. Untuk meningkatkan jangkauan pasarnya sudah beberapa tahun terakhir ini ia memiliki sebuah pick-up untuk mengedarkan elpijinya. <br>
Pada awalnya ia harus mengeluarkan modal untuk membeli 60 buah tabung gas yang harganya 230 ribu satu buahnya. Kemudian ditambah modal yang diperlukan untuntuk membeli kendaraan, yang untuk seluruhnya ia telah mengeluarkan uang sebesar 40 juta rupiah. Walaupun harga elpiji sering naik, tetapi bagi Surachman konsumennya tetap ada dan setia. “Maklum Pak, semua orang harus makan. Jadinya perlu elpiji untuk masak”, ucapnya sambil tersenyum. Ia mendapatkan elpiji dari agen, untuk yang 12 kg ia menjual dengan harga sekitar 52 ribu rupiah. Sedangkan untuk yang 10 kilogram atau Blue Gas ia jual dengan harga 45 ribu rupiah. Kepada pelangganya ia tidak menjual tabung, maksudnya agar ada keterikatan sebagai pelanggan. Omsetnya setiap bulan rata-rata 3,5 sampai 4 juta, dan Surachman bisa membawa pulang penghasilan bersih antara 1,5 sampai 2 juta rupiah. “Alhamdulillah pak, Allah SWT masih memberikan rezeki”. Mengenai program tabung elpiji 3 kilogram ia samasekali belum mendapatkan informasinya. Rakyatpun terus menanti. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tanggal 30.1.2007<br>
Rahardi Ramelan2007-03-08EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=62MODAL BAGI EKONOMI RAKYAT<br>
<br>
Hujan yang mengguyur Jakarta diakhir minggu yang lalu membuat beberapa sektor perekonomian kita terganggu. Kegiatan ekonomi rekan-rekan kita uasaha kecil dan mikropun terganggu. Bukan saja terganggu karena tidak ada pembeli atau tidak bisa kemana-mana, tetapi sebagian rekan-rekan kita di Kampung Melayu, Cipinang, Bendungan Hilir, Kelapa Gading, Pelumpang, Sunter dan daerah lainnya mengalami nasib yang mengenaskan. Habis seluruh modal mereka dalam sekejap, katanya karena bencana alam. Atau bencana alam yang terjadi karena olah manusia sendiri? Janganlah selalu hanya menyalahkan masyarakat kecil. Bagaimana dengan Rencana Umum Tata Ruang yang terus dilanggar demi berdirinya perumahan mewah dan gedung tinggi hanya dengan alasan nilai ekonomi? Nasib yang sama juga dialami rekan-rekan kita di Tanggerang, Depok, Bogor dan Bekasi.<br>
Hujan yang masih terus mengguyur, lalu-lintas yang terkendala banjir, dan siaran TV penuh dengan berita soal banjir, menjadikan sebagian penduduk Jabodetabek terpaksa betah tinggal dirumah. Seluruh halaman dan isi koran dan majalah habis dijelajahi. Didalam penderitaan dan musibah yang sedang dialami oleh rekan-rekan kita yang terkena banjir, ada berita yang menggembirakan bagi para pelaku ekonomi rakyat, yaitu tersedianya sumber modal dari pemerintah, dan yang diumumkan secara luas di media.<br>
Pengumuman Kementrian Koperasi dan UKM – “KEMANA ANDA MEMPEROLEH DANA UNTUK USAHA MIKRO DAN KECIL” dengan alamat disetiap Kacamatan di Seluruh Indonesia. <br>
Misalnya untuk DKI Jakarta dengan Pola Konvesional, alamat yang dapat dihubungi:<br>
Jakarta Pusat: Kec Gambir – Koperasi KOWARI, Gd Dewan Pers lt.9, Kebon Sirih; Kec Menteng KOPWAN Pengusaha Indonesia, Kalipasir 38, Cikini.<br>
Jakarta Timur: Kec Duren Sawit – KSU Mari, H Gandun No 55, Karang Tengah; Kec. Makasar – KSU Bina Sejahtera, Budi Harapan No 46, Cipinang Melayu; Kec Ciracas – Koppas Ciracas, Mustika Ratu 22; Kec Pulogadung – Koppas Enjo, Pisangan Lama II, Psr Rebo Pisangan Timur.<br>
Jakarta Selatan: Kec Kebayoran Lama – Kop. Pengelola Hasil Hutan, H Nurisan 28, Pondok Pinang; Kec Tebet – KSU Menteng Dalam, Jl. Persada II, Menteng Dalam; Kec Cilandak – Kop. Mitra Niaga (KOMIGA), H Gandun No. 55, Karang Tengah; Kec Tebet Barat – Kop Usaha Guyub Rukun, Swadaya I 16.<br>
Jakarta Utara: Kec Koja – Kop Serba Usaha Lagoa, Dukuh 31 A, Lagoa; Kec Tj Priok – KSP Mitra Jaya, Sunter Jaya; Kec Penjaringan – KOPWAN Setia Wanita Mandiri, Muara Angke 28, Peluit.<br>
Sedangkan untuk Pola Syariah:<br>
Jakarta Barat: Kec Cengkareng – BMT Cengkareng Syariah Mandiri, Pasar darurat 99 Kapuk.<br>
Jakarta Selatan: Kec Tebet – Kop BMT Al Mushonnif, Jl Saharjo/Rambutan, Manggarai Selatan; Kec Jagakarsa – BMT El-Syifa, Moh Kahfi Ciganjur.<br>
Jakarta Pusat: Kec Tanah Abang – Kopsyah BMT Imarotul Muslim, Kebon Pala I/283A, Kebon Melati.<br>
Semoga upaya pemerintah ini betul-betul membantu rekan-rekan pengusaha ekonomi rakyat. Marilah dicoba. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tannggal 6 Pebruari 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-03-08EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=63PIJAT KELILING<br>
<br>
Kehidupan di kota Metropolitan, seperti Jakarta ini penuh dengan tantangan, tetapi juga menyuguhkan kesempatan, semuanya tergantung dari kita sendiri. Kerja keras sepanjang hari, sampai jauh larut malam. Untuk mendapatkan sukses, pasangan suami-istripun harus bekerja kedua-duanya. Pendidikan saja tidak menjamin keberhasilan dan kesuksesan. ketrampilan, profesionalisme dan etos kerja harus menjadi motivitasi yang kuat. Tetapi hidup harus tetap seimbang, berbagai fasilitas untuk menyeimbangkan kehidupanpun menjamur, mulai dari restoran dan kafe, fitness center, bioskop, sampai layanan massage dan spa. Lokasi dan kemewahannyapun berbeda-beda, mulai yang super mewah untuk masyarakat kelas awang-awang, sampai untuk masyarakat papan bawah. Itulah pasar yang terus berkembang yang dapat terus diantisipasi oleh pelaku ekonomi rakyat.<br>
Khususnya jasa massage dan pijat ini, selain tempat-tempat mewah seperti spa, banyak juga berkembang tempat-tempat massage dan spa tradisional, panti pijat, sampai pelayanan pijat dirumah.<br>
Anwari, bukan nama sebenarnya, asal Jawa Timur telah 15 tahun menggeluti pekerjaan sebagai tukang pijat panggilan kerumah-rumah. Menjadi tukang pijat hanya secara kebetulan, yaitu sewaktu bekerja disebuah perusahaan ia sering diminta pemilik perusahaan memijat kakinya yang kaku karena stroke. “Ia bisa berjalan lagi, pak, setelah dipijat secara teratur”, ucapnya sambil terus memijat kaki saya. Dari mulut kemulut berita kemampuan Anwaripun tersebar kemana-mana. Pelanggannya yang tetap sekarang ini sampai Bekasi dan Tanggerang yang bisa dijangkau dengan mempergunakan sepeda motor. Beberapa kali pernah dipanggil sampai ke Lampung Utara dan Bandung. “Pekerjaan saya utama yaitu melapisi kusen, jendela dan pintu kayu dengan melamin, itu saya jalankan terus. Istri saya tetap jualan kecil-kecilan”, katanya merendah. Biasanya untuk memijat selama satu jam ia mendapatkan imbalan antara 20 sampai 40 ribu rupiah. “Pokonya berapa mereka rela memberi, itu yang saya terima.” Ia juga pernah mendapat semacam “kontrak” sampai 400 ribu rupiah untuk memijat beberapa jam dalam 2-3 hari; mereka biasanya pelanggan yang datang dari luar kota yang sedang berada di Jakarta. Pelanggannya sangat beragam, ada tukang ojek, pengusaha, jenderal, Sekjen salah satu departemen, sampai mantan menteri. Dari memijat Anwari bisa mendapatkan sampai 3 juta rupiah sebulannya.<br>
Selama 15 tahun ini, Anwari juga mempelajari dan mengikuti kursus berbagai cara pengobatan tradisional lainnya termasuk akupunktur. Ia dengan keluarganya tetap hidup sederhana dirumah kontrakan 350 ribu sebulan. Dari hasil jerih payahnya selama ini, selain sepeda motor yang ia miliki, ia juga bisa membangun rumah untuk orang tuanya dan mertuanya di kampung. “Tidak ada mereka, saya juga tidak begini, pak”, katanya menerima. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tgl. 13 Pebruari 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-03-19EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=64MINYAAAAAAAAAAAK!<br>
<br>
Teriakan khas penjaja minyak tanah keliling yang masih terus kita dengar. Pengadaan botol elpiji 3 kilogram, belum juga tuntas. Polemik kembali terjadi antara instansi pemerintah untuk pengadaan kompor gas yang akan dibagikan. Elpiji untuk rakyat kecil diharapkan bisa menggantikan kedudukan minyak tanah yang disubsidi. Rakyat sudah lama menunggu, jangan hanya diberi contoh atau pilot project. Mudah-mudahan kekeliruan seperti program-program sebelimnya tidak terulang. Misalnya dulu program minyak tanah bersubsidi diharapkan dapat menggantikan kayu bakar yang merusak lingkungan terutama hutan. Kenyataannya hutan dan lingkungan tetap rusak bukan karena ulah rakyat kecil pemakai kayu bakar, tapi ulahnya para pembabat hutan dan perusak pemakai lahan yang resmi maupun liar. Dipedesaan dan dipedusunan, selain minyak tanah, kayu bakar tetap menjadi andalan untuk keperluan rumah tangga. Sedang dipinggiran kota dan diperumahan penduduk kelas menengah bawah, minyak tanah tetap menjadi andalan ibu rumah tangga. Pemakaian minyak tanah yang meluas, selain telah memungkinkan berkembangnya industri kecil pembuat kompor, tetapi juga teknologi kompor minyak tanah berkembang dengan pesat. Pemakaian minyak tanah untuk keperluan rumah tanggapun menjadi efisien dan bersih.<br>
Agen dan penjual keliling minyak tanah tetap bergairah dalam usahanya, mereka tidak peduli dan tidak takut dengan rencana program elpiji untuk masyarakat bawah. “Mereka aja masih ribut,pak. Kapan jadinya?”, kata Andi dengan sinisnya. <br>
Andi, 47 tahun lulusan SLTA, sudah 12 tahun menjadi agen minyak tanah disekitar Cimanggis. Memanfaatkan pekarangan rumahnya, ia membangun kios seluas 60 meter persegi untuk usahanya itu. Bermodalkan uang sebesar 20 juta rupiah pada waktu itu, Andi melengkapi usahanya dengan berbagai peralatan seperti drum, jerigen, alat pengukur serta membeli sebuah pick-up seken (second hand). Ia membeli minyak tanah dengan harga 2.380 rupiah rupiah per liter dengan sistem setoran, dan menjualnya rata-rata 2.500 rupiah untuk satu liternya. Jadi ia tidak memerlukan modal kerja yang terlalu besar. Sekarang ini pasar tetap bergairah, malah permintaan terus berkembang, dan Andi sama sekali tidak khawatir dengan program elpiji untuk rakyat. “Dulu semua ribut program briket batu bara, belum ada hasilnya, sekarang ganti elpiji”, katanya sambil memberikan instruksi kepada karyawannya.<br>
Sekarang karyawannya berjumlah empat orang, seorang tamatan SLTA, satu lagi SD, dan 2 orang lainnya jebolan SD. “Untuk pekerjaan seperti ini, bukan ijazah yang menentukan, pak. Tapi bagaimana mereka bekerja dan meladeni pelanggan”, sambil terus menghitung lembaran uang yang ada ditangannya. Penghasilan karyawannya rata-rata setiap bulan antara 600 sampai 700 ribu rupiah. Setelah dipotong dengan ongkos opersi usahanya, Andi setiap bulan bisa membawa uang penghasilan bersih antara 1,6 sampai 1,75 juta rupiah. “Insya Allah usaha saya terus berkembang, pak”. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tgl. 20 Pebruari 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-03-19EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=65LONTONG SAYUR ATAU BUBUR AYAM?<br>
<br>
Kesibukan kota Metropolitan Jakarta ini memang beragam dan bergairah. Hampir semua kebutuhan sehari-hari bisa didapatkan didepan rumah. Dilingkungan perumahan elit dan apartemen, sudah biasa dengan pelayanan home delivery, atau antar kerumah. Belanja melalui internet dan telepon sudah menjadi trend kehidupan para eksekutif muda dan keluarga muda kelas menengah atas. Demikian juga bagi mereka yang hidup di kampung dan rumah petak dipinggiran Jakarta, atau perkampungan di tengah kota yang terhimpit gedung-gedung pencakar langit, kehidupan yang sedang ngetren seperti diatas juga bisa dinikmati. Tentunya dengan skala, kwalitas dan bentuk yang berbeda. Tukang kelontong, minyak tanah, sayur, roti, ketoprak, bubur ayam dan yang lainnya selalu lewat dimuka rumah. Sebagian dari mereka terkena banjir, walaupun demikian masih bisa tersenyum dan ketawa dimuka juru foto dan kamera tv. Bukan karena mereka senang atau menikmati banjir, tetapi sekedar berpose. Kepedihan dan kegalauan, mereka simpan dalam-dalam, siapa yang senang rumah dan harta bendanya hanyut diterjang banjir? Bukankah begitu Pak Menteri?<br>
Karim, pemuda 39 tahun tamatan SMP, bersyukur karena rumah dan lingkungannya tidak terkena malapetaka banjir, sehingga bisa melanjutkan usahanya berjualan lontong sayur. Sembilan tahun yang lalu, dengan uang tabungannya 2 juta rupiah, ia mulai usahanya. Ia membeli gerobak yang dibuat khusus, panci, kompor, dan peralatan lainnya seperti piring dan sendok. Setiap hari pukul setengah enam pagi Karim sudah mendorong gerobaknya keliling kompleks perumahan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Pukul 11 lontong sayurnya sudah habis, kemudian ia belanja bahan-bahan dan malam hari mempersiapkan segala sesuatu untuk esok harinya. <br>
Lontong sayur dijual dengan harga 2.500 rupiah, kalau pakai telur tiga ribu. Pelanggannya mulai tukang ojek, pegawai, sampai pengusaha dan pejabat. Rute jualannya sudah tetap, karena sudah ada pelanggan yang menginginkan agar waktunya tepat sebelum berangkat kekantor. Kalau dagangannya masih ada, kemudian mangkal disimpang jalan dekat pangkalan ojek. Dengan usahanya ini ia rata- rata berpenghasilan setiap bulan antara 750 sampai 800 ribu rupiah. “Lumayan untuk membiayai anak sekolah pak”, katanya datar.<br>
Lain halnya dengan Siman yang berjualan bubur ayam, memakai gerobak yang dibuatnya sendiri, ia mengelilingi komplek perumahan yang sama, dengan rute yang agak berbeda dari Karim. “Waktu saya memulai usaha ini beberapa tahun yang lalu, modal saya 1 juta rupiah”, ia menjelaskan. Sayapun memesan bubur dengan sate, dan sambil makan bubur didepan rumah, sayapun bertanya mengenai kehidupannya. Siman aslinya dari Tegal, datang ke Jakarta ikut pamannya. “Pakai sate, jadinya 5 ribu pak”, menjawab pertanyaan saya. Kalau bubur biasa ia jual antara 2 dan 3 ribu rupiah untuk setiap porsinya. Hampir sama dengan Karim, Simanpun berpenghasilan sekitar 800 ribu rupiah setiap bulannya. Makan pagi boleh pilih lontong sayur, bubur ayam ataupun ketoprak. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tanggal 27 Pebruari 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-03-19EONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=66GEROBAK SAYUR<br>
<br>
Masih tentang kehidupan di pemukiman menengah bawah, mengenai keberadaan tukang dagang keliling yang menggunakan gerobak. Bagi ibu rumah tangga dipemukiman sederhana atau rumah petak, dan para pembantu dikawasan perumahan papan atas dan mewah sering dibuat pusing untuk membeli keperluan masak sehari-hari. Angkutan umum jarang-jarang ada, becak dan ojek mahal. Pergi kewarung yang dekat tidak mungkin, khawatir harus meninggalkan rumah tanpa ada yang jaga. Untunglah ada para pelaku ekonomi rakyat, usaha informal berbagai kebutuhan rumah tangga yang keliling dijalan-jalan sunyi dan gang sempit, maupun jalan licin yang lengang, termasuk diantaranya gerobak sayur.<br>
Itulah pekerjaan pak Unang sejak akhir abad yang lalu, setelah terkena PHK akibat krisis ekonomi. Sukar bagi pak Unang dengan umur yang makin bertambah, dan hanya sempat menghirup pendidikan SD, untuk mencari pekerjaan baru, sampai akhirnya memutuskan untuk menjadi tukang sayur keliling. Setelah mengadakan riset kecil-kecilan, dengan modal 2 juta rupiah yang dimilikinya, ia membeli gerobak dan berbagai peralatan lainnya seperti keranjang, kantong plastik, dan tali rapiah.<br>
Setelah sembayang subuh ia pergi kepasar untuk belanja berbagai kebutuhan ibu rumah tangga seperti, daging, ayam, tahu-tempe, ikan asin, sayuran dan berbgai jenis bumbu. Kemudian barang-barang tersebut dipotong dan dikemas dalam kantong plastik sesuai dengan ukuran yang sesuai dengan kebutuhan pelanggannya atau disesuaikan dengan harga yang terjangkau. Tentu dagangan pak Unang kwalitasnya berbeda dengan mikro maupun supermarket. Iapun tidak mengambil keuntungan yang banyak. Untuk ayam potong ia mengambil untung antara 1500 – 1750 rupiah, sedang untuk sayur keuntungannya hanya sekitar 100 – 200 setiap ikat atau bungkus plastik. “Akhir-akhir ini penghasilan saya berkurang pak. Selain mini market dimana-mana, juga hiper market”, sambil terus melayani pelanggannya. “Ditambah lagi anak-anak sekarang banyak yang mau disuruh ibunya belanja di mal atau hipermarket, sambil main dan jalan-jalan.” Walaupun demikian, sekarang ini penghasilan pak Unang masih lumayan. Setiap bulan ia dapat menyisihkan bersih sekitar 800 ribu rupiah.<br>
Antara pedagang keliling ini telah ada kesepakatan, mengatur pembagian daerah pemasarannya masing-masing. Tidak ada konflik, tidak ada keributan, juga tidak ada pengaturan. Itulah demokrasi yang sesungguhnya, masyarakat mengatur dirinya sendiri. Pemerintah masih bisa membantu mereka dengan menciptakan perdagangan komoditi yang mereka perlukan dengan lebih baik dan transparan. Harus ada penambahan pasar induk, pengaturan mengenai pedagang besar atau grosir, dan pengecer. Kita semua mendambakan untuk memperoleh sayuran, tempe, tahu, daging dan bahan lainnya dengan kwalitas yang sama, baik di hipermarket, supermarket, minimarket, makromarket, maupun gerobak keliling. Kita sudah memiliki undang-undang mengenai perlindungan konsumen, semoga pemerintah daerah DKI dapat mempelopori melindungi warganya sebagai konsumen. Semoga ada bakal calon gubernur DKI yang memikirkan perlindungan bagi warganya sebagai konsumen? (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 6 Maret 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-03-25EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=67MENDUKUNG UPAYA PENGHIJAUAN<br>
<br>
Ketrampilan teknik dan memiliki ijazah STM bagi Atang tidak memberikan garansi untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di bidangnya. Sejak beberapa tahun ini, setelah terkena PHK dari sebuah bengkel, ia melakukan pekerjaan serampangan, apa saja asal halal untuk mendapatkan uang belanja bagi keluarganya. Mengamati perkembangan pembangunan pemukiman disekitar tempat tinggalnya, sejak satu tahun yang lalu Atang memulai usaha berjualan berbagai keperluan penghijauan untuk rumah dan perumahan. <br>
Ia mengontrak ruangan sebesar 4X5 meter dipinggir jalan menuju kepemukiman yang padat. Untungnya pemilik ruangan itu mengijinkan ia membayar uang kontrakan sebesar 4,5 juta pertahun, secara bertahap. Didalam kiosnya ia menjual berbagai kebutuhan untuk tanaman rumah. Berbagai ukuran pot bunga dari tanah dan plastik, serta polibag tersedia di kiosnya. Ia juga menyediakan berbagai jenis pupuk dan media untuk tanaman pot. Berbagai jenis tanaman hias dalam pot ia kerjakan bersama dengan penjual tanaman hias yang ada disekitarnya dengan cara bagi hasil. Untuk itu ia telah mengeluarkan modal kerja sebesar 2 juta rupiah. . Mengelola usaha kiosnya ini, ia dibantu oleh seorang tamatan SMU yang masih keluarganya.<br>
Masyarakat dipemukian sekitarnya sangat bergairah melakukan penghijauan dan mengasrikan rumah serta halamanya. Bulan-bulan pertama ia membuka kiosnya, Atang kewalahan melayani pembelinya. Banyak pesanan, berbagai ukuran dan jenis pot bunga yang harus ia adakan. Demikian juga ia harus menyediakan berbagai jenis tanaman dan bunga yang diminati oleh masyarakat sekitarnya. “Wah, waktu itu saya memang kewalahan, pak, tapi saya bersyukur sehingga sewa rumah bisa saya lunasi”, katanya sambil menatap wajah saya. “Tapi waktu hujan dan banjir bulan yang lalu, sepi banget. Sekarang sudah mulai lumayan lagi”, ungkapnya sambil tersenyum.<br>
Pot tanah ia jual dengan harga antara 20 ribu sampai 60 ribu rupiah. “memang agak mahal, pak. Ada risiko pecah yang harus saya tanggung”. Pot plastik yang tersedia di kiosnya ia jual mulai 2 ribu sampai 20 ribu rupiah. Sedang polibag ia jual dengan harga 18 ribu rupiah untuk setiap kilonya. Dengan adanya pusat perbelanjaan disekitarnya ia harus bisa bersaing, dengan cara mengambil keuntungan hanya pas-pasan.<br>
Untuk tanaman hias, tergantung dari jenis tanamannya, harganya bisa sampai 600 atau 700 ribu rupiah, sudah dalam keadaan hidup. Setelah dipotong harga pot dan media, hasilnya dibagi dua dengan pemilik tanaman. Usahanya itu telah menimbulkan gairah warga sekitarnya untuk menanam tanaman hias, dan dijual dengan kerjasama dengan Atang.<br>
Dari usaha kiosnya, Atang berpenghasilan bersih sekitar 1,2 sampai 1,6 juta rupiah setiap bulannya<br>
“Sekarang sih saya merasa cukup pak. Tapi kalau nantinya ada pekerjaan lagi dipabrik seperti dulu, ya pikir-pikir”, lirihnya lembut, “tergantung besarnya penghasilan”, menjawab pertanyaan saya. (rahardi@ramelan.com)<br>
Mohon maaf atas ketidak hadiran hari Selasa yang lalu.<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tgl 20 Maret 2007.<br>
Rahardi Ramelan2007-03-25EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=68LAPAK BUAH<br>
<br>
“Papaya, mangga, pisang, jambu. Dibawa dari Pasar Minggu. Disana banyak penjualnya, dikota banyak pembelinya”. Lirik lagu yang populer ditahun 1950-an, bukan hanya sekedar lirik yang dikarang oleh penulisnya, tapi merupakan ungkapan yang menggambarkan keadaan sebenarnya. Bagaimana sekarang nasib buah dari Pasar Minggu? Apakah lirik tersebut masih menggambarkan kenyataan saat ini? Apakah kita harus membuat lirik baru?<br>
Kenyataannya pada tahun 1980 dan 1990an, kita mulai diinvasi oleh melon Taiwan, jambu dan durian Bangkok, kemudian ditahun 2000an ini muncul juga jeruk Cina. Bukan hanya buah-buahan tropis, kita sekarang ini dibanjiri juga dengan buah-buahan “Eropa” seperti apel, anggur, pear, dan yang lain. Lidah anak bangsa ini telah berubah dalam menilai rasa, bukan hanya dari makanan dan minuman, tapi juga rasa buah yang digemari.<br>
Untuk masyarakat kelas menengah atas, berbagai mal, hipermarket, supermarket, foodhall, dan toko-toko khusus, menyediakan berbagai macam buah, baik yang berasal dari dalam negeri maupun impor. Selera mereka selalu dapat terpenuhi baik rasa, kwalitas, maupun kwantitasnya. Meningkatnya kebutuhan makan buah bagi masyarakat kita menjadikan peluang, bagi pengusaha mengembangkan kios buah ditempat-tempat strategis, terutama dipinggir jalan. Kios yang dilengkapi lampu neon yang terang benderang menjadi perhatian bagi semua yang lewat. Bermacam buah-buahan disusun rapih dan menarik, harganyapun hanya terjangkau bagi kelas menengah.<br>
Bagaimana dengan kalangan masyarakat bawah bisa menikmati buah? Bulan-bulan tertentu seperti Desember dan Januari, Jakarta dibanjiri buah-buahan karena sedang musimnya. Biasanya muncul pedagang-pedagang dadakan. Menjual buah untuk masyarakat bawah ini, telah dilakukan oleh Anto dan keponakannya, yang sama-sama berijazah SMP, sejak 3 tahun yang lalu. Menyewa sepetak tanah 2 X 3 meter, dipinggir jalan, ia membuat lapak sederhana, dengan mempergunakan kayu dan bambu, yang ditutupi kain tenda. Untuk keperluan itu ia mengeluarkan uang sebesar 800 ribu rupiah. <br>
Kemudian dengan modal 2 juta rupiah, Anto membeli berbagai macam buah dari Pasar Induk, dan menjualnya dilapak sederhananya. Misalnya untuk semangka yang dibeli dengan 8 ribu, ia menjual dengan harga 10 ribu rupiah perkilogram. Untuk buah anggur untungnya bisa sampai 5 ribu untuk setiap kilogram. Setiap hari ia harus membayar sewa tanah 3000 rupiah, maklum tanah tersebut adalah tanah garap yang sudah dikuasai seseorang.<br>
Dengan usaha jual buah seperti ini, Anto berpenghasilan bersih 35-40 ribu rupiah, demikian juga keponakannya.<br>
“Sekarang ini agak sepi, tapi Desember yang lalu sungguh sangat menyenangkan. Panen rambutan disekitar sini bagus sekali”, katanya sambil menyusun anggur yang baru dibelinya. Anto mengharapkan keadaan akan membaik, sehingga ia bisa bekerja kembali seperti dulu, sebagai tenaga administrasi disebuah perusahaan. Bagi Anto menjadi penjual buah merupakan keterpaksaan untuk menunjang kehidupan keluarganya. (rahardi@ramelan.com)l<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tg 27 Maret 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-04-11EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=70SABLON<br>
<br>
Sudah menjadi tradisi masyarakat kita untuk menyatakan pendapat, atau menonjolkan identitasnya melalui tulisan di T shirt atau kaos oblong. Bandung, Yogya dan Bali merupakan tempat munculnya kreatifitas penulisan di kaos oblong dengan proses sablon. Setiap ada demonstrasi, acara ulang tahun organisasi, musyawarah partai politik, gerak jalan, dan pertandingan olah raga selalu dibuat kaos oblong dengan berbagai tulisan. Kadang-kadang acara masyarakat di desa dan kelurahanpun memakai kaos oblong khusus untuk acara tersebut.<br>
Sebab itu usaha sablon akhir-akhir ini sangat memberikan peluang besar. Proses demokrasi yang mengharuskan adanya pemilihan langsung sudah dimulai dari pemilihan lurah atau kepala desa, bupati dan walikota, gubernur, anggota DPRD, DPR dan DPD, sampai pemilihan presiden, kesemuanya memerlukan alat promosi untuk kampanye, yaitu kaos oblong.<br>
Tarto, seorang pemuda tamatan SMU, sudah sembilan tahun menggeluti usaha sablon ini. Dengan memanfaatkan kios yang berukuran 4 X 4 meter, yang dibangun disamping rumahnya, ia menjalankan usahanya dengan dibantu oleh 2 pemuda tamatan SMK yang masih keluarganya. Berbagai peralatan untuk kios dan untuk pembuatan sablon ia persiapkan dengan mengeluarkan biaya sebesar 1,5 juta rupiah.<br>
Sekarang ini pesanan cukup banyak, dan kelihatannya akan terus meningkat. Ia menjual kaos yang sudah bergambar atau bertulisan rata-rata dengan harga 25 ribu rupiah, tergantung dari kwalitas kaos dan rumitnya gambar dan tulisan. Untuk memudahkan pelangganya, Tarto sudah menyiapkan berbagai jenis dan warna kaos yang ia beli dari pedagng besar di pasar Tanah Abang. Kaos-kaos tersebut ia beli dengan harga antara 10 sampai 12 ribu rupiah dalam jumlah yang besar. <br>
Selain modal untuk peralatan, ia memerlukan juga modal untuk mengadakan kaos, tetapi kadang-kadang ia bisa mendapatkan dana tersebut dari uang muka pemesan. Kebutuhan dana untuk kaos ini sangat besar, karena pesanan sering berjumlah antara 50 sampai 400 buah kaos, memerlukan modal antara 500 ribu sampai 4 juta rupiah.<br>
Dengan usaha sablon ini ia mendapatkan penghasilan antara 900 ribu sampai 1 juta rupiah setiap bulannya. Kalau ada pesanan besar, karyawannya mendapat penghasilan dengan cara bagi hasil. Sedangkan kalau sedang kurang pesanan, mereka mendapatkan gaji harian sebesar 50 ribu rupiah.<br>
Tarto berkeinginan memperluas usahanya, tetapi modal selalu menjadi masalah yang ia hadapi. Ia juga menawarkan kepada kawan-kawannya untuk menjadi pemodal dalam usahanya. Tetapi sampai sekarang belum ada yang mau. Mungkin semua masih delam kesusahan. “Kapan berakhirnya keadaan yang sulit ini, pak?, tanyanya sewaktu saya berkunjung ketempatnya. Sayapun terdiam, karena tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tgl 3 April 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-04-11EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=71KIOS OBAT<br>
<br>
Rasanya bangsa kita ini sedang dirundung banyak masalah. Bencana banjir, longsor, gempa bumi, lumpur LAPINDO, kecelakaan pesawat terbang, kapal laut, kereta api, sampai berbagai jenis penyakit seperti DBD, flu burung serta sederet jenis masalah dan penyakit lainnya. <br>
Pemerintah dan masyarakat berupaya mencari jalan menghadapi dan mengatasi masalah-masalah tersebut. Keterbatasan kemampuan masyarakat menghadapi kehidupannya, terutama lapisan menengah bawah, menyebabkan upaya masyarakat menanggulangi berbagai masalah tersebut menghadapi halangan dan hambatan.<br>
Selain berbagai musibah-musibah tersebut, masyarakat masih terus dihadapkan dengan berbagai penyakit dan gangguan kesehatan yang sepertinya sudah “kronis”. Walaupun apotik sudah mulai memasuki lingkungan pedesaan dan perkampungan dipinggiran kota, dan Puskemaspun sudah mulai beroperasi secara teratur, tetapi kenyataannya masyarakat masih saja dihadapkan dengan sukarnya mencari obat yang terjangkau. Apalagi dengan adanya berita mengenai obat-obat palsu yang beredar, kekhawatiran masyarakat makin bertambah. Kita pernah mengiulas dirubrik ini mengenai merebaknya kios jamu diberbagai tempat di Jabodetabek. Dibeberapa tempat di pinggiran dan pedalaman Jakarta kita temui juga kios atau warung penjual obat. Kios obat ini banyak membantu masyarakat yang memerlukan obat dengan harga yang lebih miring.<br>
Dengan menyewa sebuah kios berkuran 3X 5 meter, Sabar, yang berumur 40 tahun tamatan SMU, sudah dua tahun ini menjalani usaha berdagang obat-obatan. Ia dibantu oleh dua orang yang masih anggota keluarganya mengelola kios obatnya.<br>
Kios disewanya dengan harga 3 juta rupiah setahun. Ia harus mengeluarkan uang sebesar 6 juta rupiah untuk kebutuhan berbagai peralatan kios dan modal kerja untuk pengadaan obat-obatan. Ia mengambil keuntungan untuk setiap penjualan obat antara 1000 sampai 5000 rupiah. Harga obatnya harus bisa bersaing dengan toko obat atau apotik, contohnya obat sakit gigi Cataflam ia jual dengan harga 20 ribu rupiah, sedangkan ditoko obat atau apotik harganya 25 ribu rupiah. Pokoknya ia harus dapat menjual obat lebih murah dari toko obat atau apotik. “Waduh pak, saat ini omset sedang menurun. Maklum dengan merebaknya peredaran obat palsu. Kami yang dirugikan, Pak”, keluhnya.<br>
Dengan usaha penjualan obat ini Sabar bisa mendapatkan penghasilan antara 1,2 sampai 1,5 juta rupiah setiap bulannya. Sedangkan para pembantunya masing-masing mendapatkan penghasilan rata-rata 1 juta rupiah. Walaupun diperlukan pengaturan untuk penjualan obat seperti ini, agar masyarakat konsumen tidak dirugikan, tapi janganlah birokrasinya justru bisa mematikan usaha seperti yang dilakukan Sabar. Semoga. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tgl 10 April 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-04-25EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=72DAUR ULANG PLASTIK<br>
<br>
Kehidupan modern melahirkan budaya pakai-buang. Kalau yang dibuang itu adalah bahan organik, maka alam akan memproses sendiri bahan tersebut. Tapi kalau yang dibuang adalah bahan non-organik seperti plastik dan gelas, alam tidak dapat memprosesnya sendiri. Plastik dan gelas akan tetap berada di alam dan dalam jumlah yang besar akan mengganggu lingkungan alam kita. Sebab itu salah satu usaha untuk menanggulangi penurunan kwalitas lingkungan hidup, adalah proses daur ulang atau recycling. <br>
Ditanah air kita yang tercinta ini daur ulang sampah terutama plastik masih dilakukan manual oleh pemulung. Usaha industri daur ulang sampah seperti yang akan dilakukan di Bantar Gebang, mendapat tentangan masyarakat. Saya sendiri kurang memahami apa sebenarnya yang telah terjadi disana. Kenyataannya dimana-mana kita temui pemulung yang mengkhususkan pada plastik.<br>
Untuk menampung plastik yang dikumpulkan oleh para pemulung, Pak Wagiman sudah sejak tshun 1998, membuat usaha pengumpulan barang plastik bekas. Dengan memanfaatkan tanah sewaan seluas 1000 meter persegi di sebuah jalan sempit, ia bekerja dengan dibantu oleh 8 orang karyawan, Mereka kebanyakan berlatar belakang pendidikan SD seperti Pak Wagiman, tetapi ada beberapa orang diantara mereka berpendidikan SMU. Mereka kebanyakan berasal dari desa yang sama di Jawa Tengan, ada juga yang masih terkait saudara dengan Pak Wagiman. Modal yang dikeluarkan oleh Pak Wagiman sewaktu mulai usaha ini sebanyak 20 juta rupiah. Selain untuk sewa tanah sebesar 2juta rupiah setahunnya, juga modal itu dipergunakan untuk memperbaiki bangunan yang telah ada, kemudian membeli berbagai alat kerja, seperti ganco, timbangan, karung dan pembayaran plastik kepada para pemulung. Ditempat penampungan limbah plastik, Pak Wagiman bersama ke 8 orang rekannya memilah dan mencuci plastik yang didapat dari pemulung atau sisa dari pabrik plastik. Limbah plastik bekas botol infus harganya paling tinggi. Kemudian plastik bening bekas botol atau gelas air kemasan, sedang untuk plastik berwarna harus di pilah menurut warna. Ia membeli plastik bening dari pemulung dengan harga 4 sampai 5 ribu rupiah perkilogram dalam keadaan bersih, kemudian menjualnya kepabrik pengolahan dengan harga 6 sampai 7.500 rupiah. Sedangkan untuk plastik bekas botol infus harganya mencapai 9 sampai 12 ribu per kilogram, sudah dalam bentuk butiran. Rata-rata ia membeli plastik dari pemulung sebesar 2 juta rupiah setiap minggu.<br>
Dengan usaha ini Pak Wagiman bisa mendapatkan hasil bersih antara 2 sampai 3 juta setiap bulan. Sedangkan para karyawannya mendapat upah antara 300 sampai 500 ribu setiap bulannya.<br>
Usaha pengumpul plastik bekas bukan saja usaha yang menguntungkan, melainkan juga membantu menanggulangi pencemaran lingkungan. Semoga Pak Wagiman dan kawan-kawannya mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tanggal 17 April 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-04-25EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=73KRIPIK PISANG<br>
<br>
Sudah lebih dari 13 bulan, rubrik EKONOMI RAKYAT kita mengetengahkan berbagai usaha masyarakat disekitar JABODETABEK dalam mengatasi kehidupan sulit pasca krisis. Proses reformasi yang sudah berjalan sejak 1998 belum juga dapat dirasakan oleh masyarakat lapis bawah. Hal ini bukan hanya dirasakan oleh masyarakat JABODETABEK saja, melainkan juga dirasakan oleh masyarakat didaerah lain. <br>
Sebagai contoh kita simak apa yang dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta yang dikenal tempatnya berbagai jenis ragam usaha kecil dan industri rumah tangga, baik berupa kerajinan (handycraft) maupun makanan. Dua minggu pertama bulan April 2007 ini telah diadakan kunjungan ke Gunung Kidul – DI Yogyakarta untuk mengetahui berbagai jenis usaha masyarakat disana dalam mengatasi kesulitan hidup sekarang ini.<br>
Salah satu kegiatan ekonomi rakyat disana adalah usaha kripik pisang yaitu usaha makanan kecil yang berkembang pesat di Gunung Kidul. Salah satu diantaranya adalah yang dikerjakan oleh Pak Sastro, usia 40 tahun, di Mendak – Sumbergiri, Ponjong. Sudah 4 tahun ini ia dibantu oleh dua orang anggota keluarganya mengerjakan usaha kripik pisang dengan memanfaatkan ruangan 6 X 7 meter. Untuk memulai usahanya Pak Sastro mengeluarkan dana sebesar 500 ribu rupiah untuk membeli berbagai peralatan, alat masak, dan kompor. Usaha ini bagi Pak Sastro merupakan usaha tambahan disamping pekerjaannya sebagai petani. Karena pada siang hari ia mesih harus bekerja diladang, maka usaha pembuatan kripik pisang ini ia kerjakan dimalam hari selama 2 sampai 3 jam. <br>
Satu tandan pisang ia beli antara 11 – 12 ribu rupiah, dan keripiknya ia bungkus dan dijual dengan harga 1000 rupiah setiap bungkusnya. Dari satu tandan pisang Pak Karto bisa mendapatkan keuntungan antara 7 sampai 9 ribu rupiah. Modal kerja yang ia keluarkan untuk usaha kripik ini sebesar 200 ribu rupiah. Selain untuk membeli pisang, juga untuk membeli minyak goreng, minyak tanah dan plastik pembungkus. Pasar untuk kripik pisang ini masih terbuka lebar, oleh karenanya di Gunung Kidul berkembang beberapa usaha kripik pisang ini. Kendala yang ia hadapi hanya waktu, karena pekerjaan utamanya adalah tani. Ia belum memikirkan untuk memperluas usahanya itu, karena tentu akan menyita waktu yang lebih banyak, memerlukan tambahan modal, dan memerlukan pemasaran yang lebih baik.<br>
Dengan usaha yang terbatas yang dikerjakan sekarang, ia bisa mendapatkan tambahan penghasilan bersih rata-rata 400 ribu rupiah setiap bulannya. Cukup ukup untuk mengatasi kebutuhan hidupnya sehari-hari bersama keluarga. Sedangkan kedua pekerjanya, masing-masing mendapatkan penghasilan antara 120 – 125 ribu rupiah setiap bulan. Buat merekapun penghasilan ini hanya merupakan tambahan, karena siang hari mereka bekerja juga sebagai petani. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tanggal 24 April 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-05-07EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=74TAS BATOK KELAPA<br>
<br>
Gunung Kidul betul-betul tempat lahirn dan tumbuhnya berbagai kreativitas, terutama dibidang kerajinan. Sebagai daerah dengan keterbatasan sumber daya alam, Gunung Kidul melahirkan manusia yang harus mencari jalan untuk bisa keluar dari keterbatasan tersebut. Kalau minggu yang lalu kita berada di desa Ponjong, kali ini kita mengunjungi Padokan Kidul di Kasihan. <br>
Setelah banyak mengamati berbagai kemungkinan untuk mendirikan usaha, maka sekitar 3 tahun yang lalu Jhon S, seorang pemuda berumur 37 tahun, memulai dengan usaha mengolah batok kelapa. Ia membuat tas wanita dari sebutir batok kelapa yang dengan mudah ia dapatkan dari daerah tersebut. Untuk memulai usahanya tersebut Jhon mengeluarkan uang sebesar 4,5 juta rupiah untuk membeli berbagai peralatanseperti mesin bubut, gerinda dan yang lainnya. Untuk usahanya itu ia memmanfaatkan sebuah ruangan miliknya sendiri seluas 400 meter persegi. Dalam kurun empat tahun usahanya berkembang dengan pesat dan ikut membantu mengatasi pengangguran. Walaupun Jhon tidak pernah tamat sekolah, ia saat ini memperkerjakan 10 orang pemuda, justru yang mempunyai ijazah SLTA. <br>
Batok kelapa, ebagai bahan baku dibeli dengan harga antara 800 sampai 900 rupiah untuk satu butir. Pengerjaannya dilakukan dengan cara borongan, dan untuk sebuah tas seorang pekerja mendapat upah 600 rupiah. Rata-rata seorang pekerja bisa mengerjakan sebanyak 35 – 40 buah tas dalam satu hari. Sekarang ini permintaan pasar akan tas batok ini cukup lumayan.<br>
Dari usahanya ini John memperolah keuntungan bersih sebesar 8 juta rupiah dalam satu bulan. Sedangkan bagi pekerjanya, dengan cara borongan seperti dijelaskan diatas, bisa mendapatkan penghasilan setiap bulan sekita 500 – 600 rupiah.<br>
Jhon dengan brand nya “Jhon Collection Art”, terus berusaha meningkatkan kualitas produknys. Ia juga harus memikirkan produk-produk baru, yang akam menggantikan tas batok, yang saat ini jadi satu-sarunya produk “Jhon Collection Art”. Sekarang ini pemasarannya banyak dilakukan melalui tengkullak yang selalu datang ketempatnya di Gunung Kidul. Sekarang ini ia sering mendapatkan pesanan dalam jumlah besar, dengan berbagai macam desain, yang katanya akan dikirim keluar negeri. Jhon bercita-cita satu waktu bisa memiliki toko sendiri. Disekitar Gunung Kidul pengrajin yang membuat tas batok kelapa ini ada beberapa buah. Keadaan mereka hampir sama, beberapa diantaranya dengan pengerjaan atau workmanship yang sangat sederhana. Mungkin para pembelinya, yang juga pedagang, melakukan penyempurnaan dan penyesuaian sebelum akhirnya dapat dijual dengan harga yang lebih baik. Dengan kualitas yang ada, Jhon menjual sebuah tas dengan harga antara 40 – 50 ribu rupiah. Sedangkan untuk pedagang besar yang membeli dengan jumlah yang besar dijual dengan harga yang lebih murah. (rahardi@ramelan.com)<br>
<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tanggal 1 Mei 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-05-07EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=75PUPUK BUATAN GN KIDUL<br>
<br>
Minggu ini kita masih menggali kegiatan masyarakat di Gunung Kidul. Memang alam Gunung Kidul terkenal dengan bukit kapur dan tandus, air menjadi masalah yang paling serius. Masyarakatnya diharuskan bekerja keras untuk bisa bertahan dan melanjutkan hidup. Mereka harus kreatif dan berinovasi dengan memanfaatkan apa saja yang ada disekitarnya, atau harus meninggalkan tempat lahirnya untuk mencari pekerjaan dan kehidupan baru. Tetapi ikatan dengan tempat kelahirannya tetap kuat, seperti halnya sebagian besar bangsa kita. Inilah yang menyebabkan budaya “mudik” menjadi tradisi yang tidak dapat ditinggalkan, walaupun dalam zaman modern seperti sekarang.<br>
Kali ini kita mengunjungi desa Payak, Ponjong – Gunung Kidul, untuk mengetahui usaha yang dilakukan oleh Haji Rustamaji. Dibalik bukit kapur yang terus menjadi tantangan, Gunung Kidul juga memiliki sungai dibawah tanah dan gua – gua dengan stalaktit dan stalakmitnya, yang sudah terbentuk ratusan bahkan ribuan tahun. Dengan pengetahuan yang ia dapatkan dengan cara autodidak, serta adanya kebutuhan mendesak akan pupuk yang kian mahal, Pak Rustamaji sejak tahun 1993 mendirikan usaha pembuatan berbagai jenis pupuk organik dan phospat. Sedang dengan memanfaatkan bahan-bahan yang didapatkan digua, dan juga kotoran kelalawar dibuat pupuk guano.<br>
Untuk usahanya ini investasi yang dtelah dikeluarkam sangat besar untuk ukuran usaha ekonomi rakyat, yaitu sekitar 200 juta rupiah. Modal yang besar ini diperuntukan untuk membeli berbagai mesin seperti giling, mesin pencampur dan pengaduk, serta alat-alat lainnya seperti linggis dan cangkul. Pengeluaran yang besar juga dipakai untuk membeli kendaraan truk dan pick-up. Keseluruhan modal, termasuk modal kerja, menjadi 250 juta rupiah. Usaha yang dirintisnya ini dapat menampung 125 orang pekerja, dan 4 diantaranya tamatan perguruan tinggi berijazah S 1. <br>
Rata-rata untuk memproduksi 1 ton pupuk, dikeluarkan uang sebesar 200 ribu rupiah untuk pengadaan bahan baku, sedangkan ongkos untuk energi (bahan bakar dan listrik) sebesar 15 ribu, dan untuk upah pekerja 65 ribu rupiah. Untuk penyusutan mesin dan peralatan diperhitungkan 30 ribu rupiah. Dengan harga jual sebesar 500 ribu rupiah untuk setiap tonnya, maka keuntungan kotornya adalah sebesar 150 ribu rupiah. Buat pak Rustamadji usahanya berkembang dengan cepat dan mempunyai masa depan yang cerah. Sejak dimulai usahanya, dalam satu tahun beroperasi sudah tidak perlu disubsidi. <br>
Sekarang ini ia memikirkan dan merencanakan pengembangan dan perbaikan kualitas. Antara lain diperlukan mesin pemecah batu-batuan (stone crusher), selain juga teknologi dan mesin granulasi. Sedangkan dimusin penghujan, diperlukan juga mesin pengering. Ia mengharapkan bisa mendapatkan bantuan permodalan dengan syarat lunak untuk bisa mengembangkan usahanya itu. Bagaimana Pak Menteri Koperasi dan UKM, apa bisa dibantu? (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 8 Mei 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-05-15EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=76PENGRAJIN BATU ALAM<br>
<br>
Pembangunan rumah, restoran, perkantoran dan apartemen, rasanya tidak pernah berhenti. Ruangan-ruangan yang dibangunpun bukan hanya sekedar tempat berteduh, duduk, bekerja, makan dan tidur. Kebutuhan sebagian manusia Indonesiapun sudah meningkat, mereka memerlukan kenyamanan, suasana dan lingkungan yang bisa meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas. Perkembangan inilah yang memberikan peluang baru bagi usaha interior desain, lanskap, dan produk pelengkap keindahan dan keserasian.<br>
Di Jabodetabek ini kita banyak mendapati pedagang-pedagang dan pengrajin berbagai kerajinan dari batu, paras, dan semen. Ada yang mendatangkan produknya dari Bali dan ada juga yang berasal daru Gunung Kidul – Yogyakarta. Produk kerajinan hiasan batu dari Bali dan Gunung Kidul dan daerah lainnya juga telah merambah kemanca negara.<br>
Selama ini kita sering membayangkan usaha yang ada di Gunung Kidul merupakan usaha mikro atau kecil sekali, merupakan usaha rumah tangga yang hanya bisa memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga. Tetapi kenyataannya sekarang sudah berubah, sudah banyak usaha-usaha kecil, pelaku ekonomi rakyat, yang usahanya sudah merupakan perusahaan. Demikian juga halnya dalam usaha kerajinan batu alam. <br>
Kali ini kita masih berada di Gunung Kidul, tepatnya di desa Kranggan Ngeposari. Sejak tahun 1997 Agus I, telah memulai usaha kerajinan batu alam, dengan modal investasi mencapai 250 juta rupiah. Selain menggunakan uang sendiri, modal juga didapat dari perbankan. Modal yang agak besar ini terutama diperuntukkan pembelian kendaraan untuk mengangkut bahan baku maupun produknya, genset, berbagai jenis alat pemotong batu, dan peralatan pengukir batu. Untuk pembelian bahan baku dan bahan penolongnya Agus juga harus mengeluarkan uang sebesar 35 juta sebagai modal kerja. <br>
Sekarang ini usahanya memberikan penghidupan bagi 25 orang tenaga kerja, dan dua diantaranya berpendidikan D 3. Dengan fasilitas produksi dan tenaga kerja yang dimilikinya, setiap hari bisa diproduksi sekitar 70 m2 batu tempel, dan 50 – 100 buah beragam bentuk kerajinan/handicraft dalam berbagai ukuran. Keuntungan yang didapat dari usahanya ini tidak besar, tapi yang penting memberikan penghidupan bagi masyarakat sekitarnya dan memanfaatkan bahan baku lokal. Misalnya untuk satu meter persegi batu tempel yang dijual dengan harga 40 ribu, didapatkan dari material seharga kurang lebih 17 – 18 ribu. Kemudaian ditambah upah dan ongkos lainnya termasuk penyusutan, akhirnya Agus mendapatkan keuntungan bersih sekitar 4000 rupiah.<br>
Dengan bermunculannya perusahaan yang baru, sekarang ini terjadi persaingan yang tidak sehat diantara produsen kerajinan batu alam. Harga menjadi turun dan barang banyak menumpuk. Pemasaran kerajinan untuk interiorpun mengalami hambatan, diperlukan bantuan untuk membuat desain yang trendy dan digemari masyarakat kota. Agus dan kawan-kawannya di Gunung Kidul mengharapkan bantual modal dengan syarat lunak untuk terus mengembangkan usahanya. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 15 Mei 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-06-05EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=77BATU KEPRUS<br>
<br>
Masih ada yang tertinggal dari perjalanan di Gunung Kidul. Kali ini mengenai industri penggilingan batu keprus. Produk ini diperlukan sebagai bahan baku tambahan untuk pembuatan keramik, gelas, dan cat. Industri ini memerlukan tenaga kerja dalam jumlah yang cukup banyak.<br>
Salah satu diantaranya terletak di desa Gebluk Kentong, Gunung Kidul. Pak Sugiyo dan Supoyo telah melakukan pekerjaan ini sejak tahun 1992. Dengan bermodalkan uang sebesar 150 juta rupiah pada waktu itu, yang diantaranya untuk membeli berbagai alat produksi seperti mesin diesel, mesin penghancur, blower, dan mesin jahit karung. Sekarang usahanya dapat memberikan pekerjaan kepada 120 orang, satu diantaranya menyandang pendidikan S 2, sedang 3 orang merupakan lulusan universitas dan politehnik. <br>
Dalam melakukan usahanya ini masih diperlukan modal kerja sebanyak 50 juta rupiah. Sejak krisis tahun 1998 usahanya menurun, tiba-tiba pasar seolah-olah menjadi menciut. Tapi pak Sugiyo dan Supoyo masih terus dapat mempertahankan usahanya. “Dasarnya kita membantu masyarakat disini. Kalau tidak ada usaha seperti kita ini, akan banyak pengangguran”, ucap pak Sugiyo serius. Ditambah lagi tahun ini musim hujan cukup lama, keadaan ini juga mengurangi penghasilannya. <br>
Usaha yang mereka lakukan, kelihatan sudah dikelola secara lebih profesional. Demi kelanggengan usahanya, penyusutanpun telah diperhitungkan, disisihkan untuk pengembalian modal atau memperluas usahanya. Sampai sekarang modal yang diperlukan untuk usahanya merupakan uang pribadi masing-masing. Perluasan usaha sangat didambakan untuk bisa menampung lebih banyak lagi pemuda di Gunung Kidul agar mengurangi pengangguran. <br>
Dengan keadaan usaha yang lesu seperti sekarang ini, mereka bisa mendapatkan penghasilan bersih antara 6 sampai 7 juta setiap bulannya. <br>
Inilah penutup cerita dari perjalanan disekitar Gunung Kidul, semoga bisa memberikan sedikit informasi mengenai kehidupan ekonomi rakyat disana. Tentu masih banyak usaha lain disana yang belum sempat saya amati. Mungkin lain kali.(rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 22 Mei 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-06-05EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=78TAHU YANG TETAP LARIS<br>
<br>
Setelah beberapa minggu kita mengunjungi Gunung Kidul, mari kita kembali ke Jabodetabek yang terasa semakin sumpek. Sore hari, usai jam kantor, jala-jalan di Jakarta dan sekitarnya selalu macet dipadati kendaraan bermotor, yang tidak pernah bisa diatasi, seperti penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan. Keadaan macet ini tidak terkecuali di dekat kantor Polda dibilangan Semanggi. Kemacetan disekitar Polda itu juga membawa rejeki untuk pengusaha kecil, antara lain pedagang bakpau dan tahu goreng. Para penjaja tahu ini masuk kejalan toll dan leluasa menjajakan jualannya diantara mobil-mobil yang “parkir” di jalan karena macet. Penjual tahu goreng tiap hari kita temukan dimana saja, dikaki lima, halte bis resmi dan bayangan, diplataran mall dan kantor. Tukang tahu goreng juga makin banyak berkumpul di tempat-tempat keramaian seperti pasar malam, pameran, gedung kesenian dan pertunjukan, Ragunan, TMII, sampai disekitar acara keriaan di kampung-kampung.<br>
Tahu jadi bahan pangan yang paling populer. Tahu menjadi bagian dari berbagai jenis makanan seperti gado-gado, ketoprak, siomay, batagor, dan berbagai makanan lainnya yang biasa kita santap sehari-hari dirumah. Tahu bisa kita dapatkan dipasar tradisional, minimarket, supermarket sampai hipermarket. Jenis dan harganyapun beraneka ragam.<br>
Pak Uus yang tinggal disekitar Cibubur, sejak 7 tahun yang lalu memulai usaha memproduksi tahu. Ia memanfaatkan bangunan sederhana seluas 150 meter persegi miliknya sendiri. Selain biaya untuk tempat usahanya, pak Uus mengeluarkan juga modal sebesar 10 juta rupiah, antara lain untuk mengadakan berbagai peralatan, seperti mesin diesel, mesin penggiling dan membuat beberapa bak air. Sekarang ia menampung tiga orang yang berasal dari desanya. Mereka berpendidikan SD, seperti halnya pak Uus sendiri, dan seorang berpendidikan SLTP.<br>
Akhir-akhir ini ia merasakan hampir semua bahan baku naik, kedelai harganya 6000 rupiah perkilo, minyak tanah harus dibeli dengan harga 3000 untuk satu liternya. Dari 50 kilogram kedelai ia bisa menghasilkan tahu sampai 4000 – 5000 buah. Kepada pedagang ia jual dengan harga 100 rupiah perbuah dan untuk eceran 125 rupiah.<br>
Dengan kemampuan keuangannya yang terbatas, omsetnyapun tidak terlalu besar, setiap bulan penghasilan kotornya antara 9 sampai 10 juta rupiah. Sedangkan untuk keperluannya sendiri bisa disisihkan sekitar 1,6 juta, terutama untuk keperluan rumah tangganya. Sedangkan rekan yang bekerja untuknya mendapatkan penghasilan antara 300 sampai 500 ribu rupiah perbulan, tergantung dari jumlah hari bekerja. Tentu penghasilan ini dibawah upah minimum propinsi yang ditetapkan pemerintah. Tetapi pengangguran ada dimana-mana, bagi mereka yang penting bisa mendapatkan penghasilan seadanya untuk tidak mengemis. Pak Uus bersama pelaku ekonomi rakyat lainnya, masih terus bersabar menanti perbaikan. Apakah mereka masih harus menunggu sampai Pilpres 2009? (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 29 Mei 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-06-05EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=79BAK TRUK<br>
<br>
Berkendaraan di jalan raya, kita sering terjebak dalam kemacetan dengan antrean kendaraan yang panjang. Sepeda motor ada dimana-mana, makin menganggu kelancara lalu lintas. Bis menurunkan penumpangnya dimana saja sesuai kehendal penumpang. Di jalan tol, yang seharusnya truk dan bis berada di lajur yang paling kiri, mereka malah berderet di jalur tengah atau kanan. Pickup yang mengangkut sayuran dari pasar induk, juga dimuati oleh ibu-ibu pedagang sayuran. Polisipun acuh terhadap keadaan demikian. Segala peraturan sudah tidak diindahkan lagi, marka jalan dan rambu lalu-lintas seperti tidak ada artinya lagi.<br>
Berbagai jenis tulisan dan gambar di bak truk hampir selalu menjadi perhatian saya. “Doa Ibu”, “Gadis Bali”, “Kutunggu Jandamu”, “Gadis Desa”, “Lambat asal Selamat”, dan masih banyak yang lain, mengundang kita untuk tersenyum. <br>
Pak Tain sudah sejak tahun 1982 membuka usaha pembuatan bak truk, baik dari besi-baja maupun dari kayu. Diatas tanah miliknya seluas 80 meter persegi di jalan Raya Bogor, ia mengerjakan berbagai pesanan pembuatan bak truk, dan dibantu oleh tiga orang keryawannya yang berpendidikan SMA dan SMP. Untuk melaksanakan pekerjaan ia menggunakan berbagai peralatan, seperti bor tangan dan listrik, paralatas las, gergaji listrik dan yang lainnya. Investasi yang ia sudah tanam diperusahaan tersebut mencapai 250 juta rupiah, termasuk untuk modal kerja sebesar 125 ribu rupiah.<br>
Sekarang ini bahan baku kayu dan baja melambung harganya. Untuk sebuah bak truk dari 9,5 juta ruiah, sedang yang terbuat dari bak baja harganya Segala peraturan sudah tidak diindahkan lagi. Pak Tain juga melayani perbaikan, terutama perbaikan lantai bal truk. Ongkos perbaikan ini sangat berbeda tergantung dari keadaannya, antara 900 ribu sampai 2 juta rupiah. Walaupun pasar masih lesu, tapi Pak Tain sudah bisa membawa uang untuk keluarganya sebesar 2,5 sampai 3 juta rupiah setiap bulannya. Sedang untuk pegawainya ia berikan rata-rata 1,80 juta perbulan. Kadang-kadang mereka mengerjakan pembuatan bak juga dengan cara borongan. Kalau borongan upah untuk sebuah bak truk bisa mencapai 1 juta rupiah, atau dihitung seperti pekerja harian, dan upahnya ialah 70 ribu rupiah per hari. <br>
Setelah bak tersebut selesai, ada juga yang menginginkan untuk diberi gambar atau tulisan. Tetapi pak Tain tidak mengerjakan itu, ia membantu pelangganya dengan memanggil kawannya yang hobinya melukis apa saja (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 5 Juni 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-06-30EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=80SKOTENG PENGHANGAT BADAN<br>
<br>
Musim dimuka bumi ini sedang mengalami perubahan. Di Indonesia, bulan Juni yang biasanya sudah memasuki musim kering, tetapi kali ini kita masih terus diguyur hujan. Perubahan musim ini disebabkan oleh terjadinya pemanasan global dan berkurangnya hutan tropis dibeberapa negara, termasuk di negara kita. Kita mengecam adanya pembalakan liar yang menghabiskan hutan tropis kita, tapi anehnya sampai sekarang sepertinya aparat pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa dalam mencegah kejahatan ini. Apa masalahnya? Sesungguhnya negara-negara industri maju dan China adalah yang paling bersalah dan bertanggung jawab atas terjadinya pemanasan global. Akibatnya, dibulan Junipun kita sering merasa masih sejuk dan malam hari menjadi dingin. Minuman hangat jadi pilihannya, skoteng.<br>
Inilah yang dikerjakan oleh mas Tarmat, sebut saja demikian namanya, yang berusia sekitar 39 tahun, dan sejak tahun 2002 telah berjualan skoteng. Ia datang dari Brebes dan tinggal dirumah kontrakan bersama istri dan seorang anaknya berumur 3 tahun. Untuk keperluan jualan skoteng, ia membeli berbagai peralatan seperti pikulan, langseng kecil, kompor, beberapa toples, dan mangkok serta sendoknya. Untuk itu ia mengeluarkan uang sebesar 200 ribu rupiah. Setiap pagi mas Tarmat telah membeli berbagai kebutuhan untuk membuat skoteng. Kacang dan kedelai harus digoreng terlebih dahulu, dan sekarang ini minyak goreng harganya hampir setiap hari naik. Jahe, susu, dan pacar cina merupakan bahan baku yang ia perlukan. Bahan-bahan untuk pembuatan skoteng ini ia beli rata-rata dengan harga 15 sampai 20 ribu rupiah. Pukul 4 sore kemudian bersama istrinya mempersiapkan barang dagangannya tersebut.<br>
Ia mulai berjualan sekitar pukul 6 sore setelah magrib. Baru kembali kerumah sekitar pukul 2 pagi hari, kadang-kadang sampai pukul 3 pagi. Kalau hari lagi sepi ia hanya bisa menjual sekitar 25 sampai 30 ribu rupiah. Hari-hari baik ia bisa membawa uang kerumah 50 sampai 70 ribu rupiah, dan kalau skotengnya sampai habis dapat dibawa pulang 100 ribu rupiah. Dari pengalamannya setiap hari Kamis malam Jumat selalu sepi, jadi iapun tidak berjualan dihari itu. Di komplek perumahan ia menjual untuk satu mangkok skoteng dengan harga 3000 rupiah, sedangkan di lingkungan kampung, harganya hanya 2500 rupiah.<br>
Dari usaha tersebut penghasilannya sebulan sebesar 850 ribu sampai 1,25 juta. Pas-pasan untuk membiayai hidupnya dan membayar kontrak rumah 175 ribu setiap bulannya. “Saya hanya tamatan SD, pak. Hanya ini yang bisa saya kerjakan. Kalau ada rejeki pingin jualan pakai sepeda”, ujarnya nrimo. Berjualan skoteng dengan mempergunakan sepeda, volumenya bisa dua kali lipat serta jangkauannya lebih luas. Untuk berjualan mempergunakan sepeda diperlukan modal sekitar 600 sampai 700 ribu rupiah. “Maklum harga sepeda bekaspun sudah mahal, pak”. Jakarta masih terus menjadi tujuan mas Tarmat-mas Tarmat untuk bisa hidup lebih baik. (rahardi@ramelan.Com)<br>
Dimuat Di Harian Pos Kota 12 Juni 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-06-30EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=81KASUR PALEMBANG <br>
<br>
Sudah beberapa tahun belakangan banyak ditemui penjual kasur gulung. Ada yang menjajakannya dipinggir-pinggir jalan, tapi ada juga yang berjualan diruko atau pasar tradisional. Tidak tahu dari mana asalnya, tapi sering juga disebut kasur Palembang. Kasur gulung ini banyak digemari oleh mesyarakat menengah bawah, mungkin karena harganya yang terjangkau. Warnanyapun beragam, tapi yang paling banyak adalah warna biru tua, merah tua dan hijau tua. Kasur Palembang ini banyak dikerjakan sebagai industri rumah tangga dan dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga.<br>
Sairi, tamatan SMA ayah dua orang anak, sudah sejak tahun 1998 menjadi pembuat kasur Palembang dirumahnya disekitar Kelapa Dua, Depok. Memanfaatkan ruangan rumahnya seluas 200 meter persegi, ia dibantu oleh 4 orang, dan kadang-kdang sampai 8 orang tergantung jumlah pesanan. Yang bekerja dengannya tidak mempunyai hubungan saudara. Mereka adalah tetangga disekitarnya, walaupun berpendidikan sampai SLTA pun tetapi dalam keadaan ekonomi yang tidak karuan sekarang ini, mereka banyak menganggurnya. “Bagaimana sih, pak. Kalau dengar TV, bapak-bapak pemimpin bilang bahwa ekonomi kita membaik. Tapi buktinya semua jadi mahal, listrik, bensin, beras, sampai minyak goring”, keluhnya sambil menerawang, entah kemana.<br>
Sairi tidak usah mencari sendiri bahan-bahan untuk kasur, pedagang bahan keliling membawa kain yang dibutuhkan. Dari satu roll, 60 yard, kain kasur polos ibisa dibuat 11 buah kasur ukuran 140X200 cm, atau 15 buah dengan ukuran lebih kecil 100X200 cm. Untuk pengisi kasur ia selalu memanfaatkan kapuk randu yang banyak diitawarkan oleh pedagang. Untuk kasur ukuran besar diperlukan 3 kilogram dan ukuran kecil 2 kilogram kapuk. Disekitar kampung tempat tinggalnya ada beberapa pengrajin kasur Palembang. Persainganpun makin ketat, sebagai bahan pengisi ada yang mempergunakan potongan plastik atau stirofor. Sehingga harganyapun bisa lebih murah, atau keuntungan bertambah. Tetapi bagi pembeli yang jeli, mereka mengetahui jenis pengisi kasur yang berbeda.<br>
Sairi mrnjual kasur buatannya, baik kepada pedagang maupun langsung kepada pemakai. Bagi pedagang, ia jual dengan harga 95 ribu rupiah untuk ukuran besar, sedangkan ukuran kecil 75 ribu. Bagi konsumen yang langsung membeli dan mengambil sendiri, ukuran besar berharga 100 ribu, dan ukuran kecil 85 ribu rupiah. Demikian juga bagi yang pesan dalam jumlah besar, harganya seperti harga pedagang. <br>
Saat ini pasar agak sepi, sehingga yang membantu pak Sairi hanya 4 orang. Mereka bekerja secara borongan, rata-rata berpenghasilan antara 500 sampai 750 ribu setiap bulan. Pak Sairi sendiri bisa mnenyisihkan penghasilannya antara 1,5 sampai 2,5 juta setiap bulannya. “Cukup tidak cukup, ya dicukup-cukupkan. Sekolahpun sudah mahal”, sambil tersenyum pahit. Sairi sudah menghitung keperluan biaya kalau anaknya yang sekarang di TK akan masuk SD tahun depan. Semoga banyak kasur yang akan terjual. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 19 Juni 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-06-30EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=82KASUR PALEMBANG <br>
<br>
Sudah beberapa tahun belakangan banyak ditemui penjual kasur gulung. Ada yang menjajakannya dipinggir-pinggir jalan, tapi ada juga yang berjualan diruko atau pasar tradisional. Tidak tahu dari mana asalnya, tapi sering juga disebut kasur Palembang. Kasur gulung ini banyak digemari oleh mesyarakat menengah bawah, mungkin karena harganya yang terjangkau. Warnanyapun beragam, tapi yang paling banyak adalah warna biru tua, merah tua dan hijau tua. Kasur Palembang ini banyak dikerjakan sebagai industri rumah tangga dan dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga.<br>
Sairi, tamatan SMA ayah dua orang anak, sudah sejak tahun 1998 menjadi pembuat kasur Palembang dirumahnya disekitar Kelapa Dua, Depok. Memanfaatkan ruangan rumahnya seluas 200 meter persegi, ia dibantu oleh 4 orang, dan kadang-kdang sampai 8 orang tergantung jumlah pesanan. Yang bekerja dengannya tidak mempunyai hubungan saudara. Mereka adalah tetangga disekitarnya, walaupun berpendidikan sampai SLTA pun tetapi dalam keadaan ekonomi yang tidak karuan sekarang ini, mereka banyak menganggurnya. “Bagaimana sih, pak. Kalau dengar TV, bapak-bapak pemimpin bilang bahwa ekonomi kita membaik. Tapi buktinya semua jadi mahal, listrik, bensin, beras, sampai minyak goring”, keluhnya sambil menerawang, entah kemana.<br>
Sairi tidak usah mencari sendiri bahan-bahan untuk kasur, pedagang bahan keliling membawa kain yang dibutuhkan. Dari satu roll, 60 yard, kain kasur polos ibisa dibuat 11 buah kasur ukuran 140X200 cm, atau 15 buah dengan ukuran lebih kecil 100X200 cm. Untuk pengisi kasur ia selalu memanfaatkan kapuk randu yang banyak diitawarkan oleh pedagang. Untuk kasur ukuran besar diperlukan 3 kilogram dan ukuran kecil 2 kilogram kapuk. Disekitar kampung tempat tinggalnya ada beberapa pengrajin kasur Palembang. Persainganpun makin ketat, sebagai bahan pengisi ada yang mempergunakan potongan plastik atau stirofor. Sehingga harganyapun bisa lebih murah, atau keuntungan bertambah. Tetapi bagi pembeli yang jeli, mereka mengetahui jenis pengisi kasur yang berbeda.<br>
Sairi mrnjual kasur buatannya, baik kepada pedagang maupun langsung kepada pemakai. Bagi pedagang, ia jual dengan harga 95 ribu rupiah untuk ukuran besar, sedangkan ukuran kecil 75 ribu. Bagi konsumen yang langsung membeli dan mengambil sendiri, ukuran besar berharga 100 ribu, dan ukuran kecil 85 ribu rupiah. Demikian juga bagi yang pesan dalam jumlah besar, harganya seperti harga pedagang. <br>
Saat ini pasar agak sepi, sehingga yang membantu pak Sairi hanya 4 orang. Mereka bekerja secara borongan, rata-rata berpenghasilan antara 500 sampai 750 ribu setiap bulan. Pak Sairi sendiri bisa mnenyisihkan penghasilannya antara 1,5 sampai 2,5 juta setiap bulannya. “Cukup tidak cukup, ya dicukup-cukupkan. Sekolahpun sudah mahal”, sambil tersenyum pahit. Sairi sudah menghitung keperluan biaya kalau anaknya yang sekarang di TK akan masuk SD tahun depan. Semoga banyak kasur yang akan terjual. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 19 Juni 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-08-06EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=83UTAMAKAN KESELAMATAN<br>
<br>
Didalam pabrik dan dilokasi pembangunan sering kita jumpai tulisan UTAMAKAN KESELAMATAN. Hal tersebut sudah menjadi ketentuan untuk memberikan peringatan kepada semua yang memasuki lingkungan tersebut. Demikian juga dalam berbagai moda transportasi masalah keselamatan ini jadi sangat penting. Apalagi akhir-akhir ini berbagai musibah kecelakaan lalu lintas, baik udara, laut, mupun darat secara beruntun menimpa bangsa kita. Sebagian besar kecelakaan tersebut disebabkan oleh kelalaian manusia atau human error. Selain kelalaian manusia, faktor lainnya adalah masalah teknis peralatan, yang luput dari pengawasan, walaupun ketentuannya ada. Maklumlah budaya berdamai atau penyelesaian “secara adat” masih terus menghantui kehidupan kita bermasyarakat. Budaya korup.<br>
Beberapa waktu yang lalu telah ditetapkan peraturan bahwa kendaraan roda dua atau sepeda motor yang berjalan di jalan raya harus menyalakan lampunya dan berada disisi sebelah kiri. Setelah beberapa bulan berjalan, rasanya keadaan sudah kembali seperti semula. Sepeda motor berada dimana-mana, diantara pemakai jalan lainnya. Lampu pun sudah jarang-jarang yang dinyalakan. Tidak peduli bahwa itu terjadi didepan Polda, Polres, atau Polsek, dihadapan polisi yang sedang bertugaspun tidak ditintak. Kecuali kalau sedang dilakukan operasi.<br>
Menyalakan lampu dan melaju disebelah kiri jalan, bagi pengendara sepeda motor tidak memberikan keuntungan apa-apa. Juga bagi keselamatannya. Lain halnya keharusan pemakaian helm sudah lebih lumayan ditaati, bukan karena sadar akan keselamatan melainkan takut ditilang. Sering kita jumpai sepasang suami istri dan anaknya berkendara sepeda motor. Hanya sang ayah yang memakai helm, sedang istri dan anak tanpa helm. Saya tidak pernah mengerti apa yang ada dibenak kepala keluarga tersebut.<br>
Sewaktu peraturan keharusan mengenakan helm baru dimulai sekitar tahun 1997, pak Kanto, asal Sragen memulai usahanya berjualan helm sepeda motor. Pria berumur 40 tahun bersama istrinya memanfaatkan rak ukuran 2X2 meter, yang dibuatnya dari kayu untuk tempat menjual helm dan asesoris lainnya seperti mantel hujan, rompi penahan angin, sarung tangan, kaca helm dan lain-lain. Dengan uang sebanyak 2 juta rupiah, selain untuk membuat rak kayu, terpal peneduh, Kanto juga membeli pelengkapan lainnya speperti tang, obeng, kunci pas dan tool-kit lainnya. Kebanyakan yang dijual helm yang murah, dengan harga sekitar 15 sampai 20 ribu, dan untuk itu keuntungannya hanya 2500 rupiah. Kadang-kadang ia juga menjual helm yang 150 ribu rupiah, untuk itu keuntungannya sampai 20 ribu. Ganti kaca helm, pelanggan dipungut ongkos 15 sampai 16 ribu, mantel hujan 30-35 ribu rupiah. Setiap penjualan keuntungannya sekitar 2500 sampai 5 ribu rupiah. Modal kerja untuk pembelian berbagai barang tersebut mencapai 5 juta rupiah. <br>
Sekarang ini pasar sedang sepi, tapi penjualan mantel hujan meningkat. Penghasilan bersihnyapun berkurang, hanya sekitar 900 ribu sebulan. Kanto masih optimis bahwa sutu waktu, kalau semua pengendara motor sadar akan keselamatannya, usahanya akan meningkat. Kita tunggu ketegasan pak polisi! (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 26 Juni 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-08-06EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=84BAN BOCOR<br>
<br>
Makian, omelan dan gerutu, bagaikan peluru senapan mesin, keluar dari mulut begitu ban kendaraan bocor ditengah keramaian lalu lintas. Panas, deru suara mesin, dan bau gas kendaraan semakin menaikan emosi dan tekanan darah. Belum lagi pandangan pengendara lain didalam kendaraannya yang sejuk ber AC. Ban bocor bisa dialami kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja; siang atau malam, panas atau hujan. Bus, sedan, truk, bajaj dan sepeda motor tidak ada bedanya, semuanya bisa menghadapi ban bocor. Sering juga terjadi ban bocor karena tingkah manusia yang tak bertanggung jawab. Dibeberaoa tempat penambal ban menabur paku atau sering disebut ranjau, agar kendaraan bermotor, terutama sepeda motor, yang lewat bisa terjebak ban bocor. Walaupun mereka hanya sebagaian kecil dari pengusaha tambal ban, tetapi tingkah mereka sangat mengesalkan pengendara kendaraan bermotor.<br>
Tapi lain halnya dengan usaha tambal ban yang betul, mereka sangat membantu pengendara yang mengalami “musibah” dijalan. Demikian halnya dengan JL yang jauh datang dari Sumatera Utara, sudah sejak empat tahun membuka usaha tambal ban dan jual oli. “Saya harus usaha apa saja, asal jujur, pak. Perlu mendapatkan penghasilan untuk menghidupi keluarga saya”, katanya sambil menuangkan oli. Sudah lama ia menyelesaikan pendidikan SMA, dan sekarang umurnya sudah menginjak angka 30. “Anak saya satu, pak umur 2 tahun”. Ia mengontrak kios, 7,5 juta setahun, dengan luas 50 meter peregi. Sewaktu memulai usahanya JL mengeluarkan modal sekitar 30-35 juta. Peralatan utama yang harus dimilikinya antara lain kompresor angin komplit, dongkrak, alat pembukan ban hidrolik, dan tool kit lengkap. Selain itu ia melengkapi kiosnya dengan etalase untuk memajang berbagai macam oli, minyak rem dan asesori kendaraan lainnya. Yang paling penting tentunya berbagai pelengkap untuk tambal baik ban tubless maupun ban biasa.<br>
Pengendara yang mendapatkan jasanya harus membayar 5 ribu rupiah untuk tambal satu lobang ban motor dan 8 ribu untuk mobil. Kalau ban tubless 7 ribu untuk motor, dan mobil 10 ribu. Bagi yang datang hanya tambah angin dikenakan biaya 1000 rupiah. Untuk menghadapi pekerjaannya ia dibantu oleh seorang tamatan SLTP yang masih keluarganya.<br>
Selain tambal ban JL juga menjual bermacam-macam oli, untuk itu ia mengambil keuntungan 1-2 ribu rupiah setiap kalengnya. Tapi kalau sekalian mengisikan harganya jadi lain, misalnya untuk 4 liter oli yang harganya 70 ribu ia menjualnya dengan harga 90 ribu. Dari penjualan oli ia mendapatkan penghasilan yang lumayan, walaupun sekarang ini dirasakan agak sepi.Sedangkan oli bekas yang dikumpulkan bisa dijual 300 ribu untuk satu drum kepada pengepul. <br>
Dari usahanyani ini, setiap hari JL bisa mendapatkan 200-300 ribu rupiah. Setiap bulan penghasilan bersihnya antara 2,5 sampai 3 juta rupiah. Sedangkan karyawannya mendapatkan antara 500-700 ribu rupiah. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 3 Juli 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-08-06EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=85BESI MAKIN LANGKA<br>
<br>
Pemakaian besi dalam peradaban manusia yang dimulai ribuan tahun yang lalu, telah banyak mempengaruhi kehidupan manusia di zaman modern sekarang ini. Berbagai perang dahsyat, baik pada zaman dahulu dan sekarang, hanya dimungkinkan karena berkembangnya persenjataan dengan memanfaatkan besi. Sampai hari ini hampir semua peralatan, baik kendaraan bermotor, kapal laut, tank, peralatan pabrik, pembangkit tenaga listrik, roket, sampai peralatan dapur dan makan masih memanfaatkan bahan dasar besi. Pemakain besi terus meluas sebagai bahan bangunan baik rumah dan gedung perkantoran. Besi juga dipakai untuk membangun gedung pencakar langit, menara sampai pembuatan pagar dan tralis rumah.<br>
Bangsa kita juga sudah sejak lama mengenal dan memanfaatkan besi. Pandai besi dan pengesoran logam berada tersebar diseluruh nusantara. Berbagai peralataan pertanian dan perkebunan, sudah lama secara tradisional dibuat oleh pengrajin. Ceper-Jawa Tengah terkenal dengan pengecorannya, Cibatu-Sukabumi terkenal dengan kerajinan pembuatan golok, belati, dan pisau. Masih banyak tempat-tempat lain yang jadi pusat kerajinan besi ini. <br>
Bahan baku besipun terus dicari, sampai pasir besi dari pantai Selatan pulau Jawa diekspor karena mengandung besi dan logam lainnya. Kebutuhan besi terus meningkat, sehingga dunia sekarang ini kekurangan bahan baku besi. Material baru sebagai pengganti besi belum dapat sepenuhnya diandalkan. Sebab itu perburuan akan besi bekaspun terjadi dimana-mana. Sewaktu perang dunia II, kita mengalami bagaimana kolonial Jepang telah mencabut pagar-pagar besi dimana-mana. Perang di Vietnam telah meninggalkan banyak besi tua berasal dari kendaraan dan tank. Kapal-kapal tuapun terus dicari untuk dilebur kembali. Pengumpulan besi bekas ditanah air banyak dilakukan oleh pemulung besi bekas yang keliling dengan gerobaknya, yang kemudian dijual kepengusaha besi bekas sebagai perantara. Salah seorang pedagang besi bekas tersebut adalah bapak Jusup yang sudah sejak 17 tahun menggeluti usaha besi bekas ini. Maklum dengan pendidikannya yang tidak tamat SD sukar untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Dengan sebidang tanah 100 meter persegi yang ia miliki pak Jusup, dengan uangnya sejumlah 3 juta rupiah, melengkapi keperluan usahanya dengan membeli timbangan, gerobak dorong, dan peralatan pertukangan lainnya. Berbagai jenis besi bekas dan logam lainnya, dibeli dari pemulung yang kemudian dijual kepabrik-pabrik pengecoran besi. Besi dibeli dari pemulung dengan harga Rp 1.900 dan dijual kepabrik dengan harga 2000 rupiah perkilogram. Kalau tembaga dibeli dengan harga 46 ribu rupiah dan dijual dengan harga 50 ribu rupiah. Modal kerja yang diperlukan mencapai 50 juta rupiah. Untuk melakukan usahanya tersebut ia dibantu oleh dua orang anak buahnya yang lulusan SD/SLTP.<br>
Walaupun sekarang ini usahanya agak lesu, namun setiap bulan pak Jusup dapat membawa uang kerumah antara 2 sampai 2,5 juta. Sedangkan para pegawainya mendapatkan penghasilan antara 750 – 900 ribu rupiah setiap bulannya. Merekalah pendukung industri besi kita. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 10 Juli 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-08-06EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=86BESI MAKIN LANGKA<br>
<br>
Pemakaian besi dalam peradaban manusia yang dimulai ribuan tahun yang lalu, telah banyak mempengaruhi kehidupan manusia di zaman modern sekarang ini. Berbagai perang dahsyat, baik pada zaman dahulu dan sekarang, hanya dimungkinkan karena berkembangnya persenjataan dengan memanfaatkan besi. Sampai hari ini hampir semua peralatan, baik kendaraan bermotor, kapal laut, tank, peralatan pabrik, pembangkit tenaga listrik, roket, sampai peralatan dapur dan makan masih memanfaatkan bahan dasar besi. Pemakain besi terus meluas sebagai bahan bangunan baik rumah dan gedung perkantoran. Besi juga dipakai untuk membangun gedung pencakar langit, menara sampai pembuatan pagar dan tralis rumah.<br>
Bangsa kita juga sudah sejak lama mengenal dan memanfaatkan besi. Pandai besi dan pengesoran logam berada tersebar diseluruh nusantara. Berbagai peralataan pertanian dan perkebunan, sudah lama secara tradisional dibuat oleh pengrajin. Ceper-Jawa Tengah terkenal dengan pengecorannya, Cibatu-Sukabumi terkenal dengan kerajinan pembuatan golok, belati, dan pisau. Masih banyak tempat-tempat lain yang jadi pusat kerajinan besi ini. <br>
Bahan baku besipun terus dicari, sampai pasir besi dari pantai Selatan pulau Jawa diekspor karena mengandung besi dan logam lainnya. Kebutuhan besi terus meningkat, sehingga dunia sekarang ini kekurangan bahan baku besi. Material baru sebagai pengganti besi belum dapat sepenuhnya diandalkan. Sebab itu perburuan akan besi bekaspun terjadi dimana-mana. Sewaktu perang dunia II, kita mengalami bagaimana kolonial Jepang telah mencabut pagar-pagar besi dimana-mana. Perang di Vietnam telah meninggalkan banyak besi tua berasal dari kendaraan dan tank. Kapal-kapal tuapun terus dicari untuk dilebur kembali. Pengumpulan besi bekas ditanah air banyak dilakukan oleh pemulung besi bekas yang keliling dengan gerobaknya, yang kemudian dijual kepengusaha besi bekas sebagai perantara. Salah seorang pedagang besi bekas tersebut adalah bapak Jusup yang sudah sejak 17 tahun menggeluti usaha besi bekas ini. Maklum dengan pendidikannya yang tidak tamat SD sukar untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Dengan sebidang tanah 100 meter persegi yang ia miliki pak Jusup, dengan uangnya sejumlah 3 juta rupiah, melengkapi keperluan usahanya dengan membeli timbangan, gerobak dorong, dan peralatan pertukangan lainnya. Berbagai jenis besi bekas dan logam lainnya, dibeli dari pemulung yang kemudian dijual kepabrik-pabrik pengecoran besi. Besi dibeli dari pemulung dengan harga Rp 1.900 dan dijual kepabrik dengan harga 2000 rupiah perkilogram. Kalau tembaga dibeli dengan harga 46 ribu rupiah dan dijual dengan harga 50 ribu rupiah. Modal kerja yang diperlukan mencapai 50 juta rupiah. Untuk melakukan usahanya tersebut ia dibantu oleh dua orang anak buahnya yang lulusan SD/SLTP.<br>
Walaupun sekarang ini usahanya agak lesu, namun setiap bulan pak Jusup dapat membawa uang kerumah antara 2 sampai 2,5 juta. Sedangkan para pegawainya mendapatkan penghasilan antara 750 – 900 ribu rupiah setiap bulannya. Merekalah pendukung industri besi kita. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 10 Juli 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-08-06EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=87SENAPAN BUKAN SENPI<br>
<br>
Berbagai ragam bentuk permainan dengan menggunakan senapan mainan semakin digemari oleh kalangan anak-anak dan kaum muda. Permainan seperti Play Station atau PS merebak keseluruh lapisan masyarakat. Tempat permainan semacam ini tidak hanya ada di pusat perbelanjaan atau diruang tunggu bioskop, tetapi sudah menjalar keruko-ruko ataupun rumah penduduk. Kebiasaan bermain PS yang berkelebihan telah merepotkan sebagian orang tua dalam membimbing anaknya untuk belajar. PS versi terbaru bukan saja disenangi oleh anak-anak, tetapi juga digemari remaja dan dewasa. Pemuda dan orang dewasa, sampai para eksekutif banyak juga menggemari permainan dengan senapan lain, yaitu senapan dengan peluru paint ball. <br>
Kegemaran dan merebaknya permainan dengan senapan tidak terlepas dari banyaknya tayangan tv dan film yang menyajikan adegan atau cerita peperangan dan kekerasan. Tejangkaunya harga DVD, baik sewaan maupun pembelian, mendorong makin luasnya penyebaran permainan dengan senapan ini.<br>
Tetapi yang akan diceritakan disini bukan masalah permainan dengan senapan, melainkan usaha Asnam P untuk menghidupi istri dan anaknya. Asnam pemuda, asal Bandung Selatan sudah sejak tahun 1992 menggeluti bisnis sebagai penjual senapan keliling. Yang ia jual bukanlah senapan api, melainkan senapan angin yang banyak diproduksi diberbagai tempat disekitar Bandung. Setelah tamat SMP, Asnam tidak bisa mendapatkan pekerjaan sampai beberapa tahun, kemudian iapun pindah dan mulai usaha menjual senapan angin. Ia berpindah-pindah, mulai dari Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan sampai ke Aceh sampai sebelum terjadinya musibah tsunami, dan kemudian pindah ke Jakarta.<br>
Kini ia menetap di Bekasi dengan mengontrak dua buah kamar, dengan sewa 150 ribu rupiah untuk satu bulan. Ia menjual senapan angin dengan cara keliling, dan biasanya membawa sebanyak 5 buah. Senapan angin, selain banyak dipergunakan untuk menembak burung atau bajing, dipergunakan juga untuk memusnahkan tikus. Untuk sebuah senapan angin Asnam mengambil keuntungan antara 10 sampai 75 ribu rupiah. Yang paling laku sekarang ini tipe Benyamin yang dijual dengan harga 250 ribu perbuah, sedangkan tipe Canon 350 ribu. Untuk usahanya ini ia memerlukan berbagai peralatan untuk menyetel senapan sebelum dijual. Dengan berjualan senapan angin ini ia mendapatkan keuntungan bersih setiap bulannya sebanyak 500 ribu rupiah. “Lumayan untuk menghidupi istri dan anak saya”, katanya lesu. Biasanya untuk menambah penghasilan ia menjual juga kompor minyak tanah yang ia beli dari pengrajin disekitar Cawang. “Sebuah kompor bisa untung 5 sampai 10 ribu”, sambil terus menggosok-gosok senapan dagangannya. Tetapi dengan program elpiji bersubsidi, dagangan kompor Asnampun terancam terhenti. <br>
Kemudian ia menceritakan pengalaman pahitnya ditangkap dan ditahan polisi di Jember. Setelah 12 jam ditahan ia dilepaskan atas perintah atasan yang menangkap karena terbukti tidak melanggar hukum. Iapun diberi makan sebelum akhirnya dibebaskan. Dasar nasib wong cilik. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 17 Juli 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-08-07EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=88DANDANG PENANAK NASI<br>
<br>
Upaya pemerintah mengurangi subsidi minyak tanah terus berjalan. Pembagian botol elpiji 3 kilo dan kompornya secara gratis sudah dilaksanakan disejumlah daerah. Tetapi bagaimana pengisian ulangnya, apa masih mendapatkan subsidi? Langkanya minyak tanah dan mahalnya isi ulang elpiji sebagian masyarakat kembali memanfaatkan kayu bakar untuk keperluan dapurnya. Pemakaian kayu bakar bukan hanya terjadi dipedesaan, melainkan juga terjadi diperkotaan. Pemerintah seolah-olah belum siap menjalankan program pengganti minyak tanah, tetapi sudah diumumkan dan dilaksanakan dibeberapa tempat. Sedangkan minyak tanah selain harganya sudah melambung, tetapi juga menjadi barang langka. Maraknya pemakaian kembali kayu bakar, dan peralatan dapurpun mengalami perubahan. Peralatan yang sudah disimpan lama, kembali diicari dan dimanfaatkan. Bagi mereka yang sudah terlanjur membuang peralatan lama, terpaksa harus merogoh saku untuk membeli yang baru.<br>
Diantara peralatan yang paling sering dipergunakan untuk memasak menggunakan kayu bakar adalah dandang penanak nasi. Dandang yang terbuat dari aluminium masih diproduksi oleh perusahaan-perusahaan menengah, sedangkan dandang terbuat dari tembaga kebanyakan diproduksi oleh industri rumah tangga. Karena dandang juga dapat digunakan kompor minyak tanah, kita masih dapat menjumpai dandang dijual dipasar tradisional dan kios penjual barang klontong dikota kecil atau diperkampungan kota-kota besar. Selain itu kita jumpai juga pedagang klontong dan dandang yang berkeliling menyusuri jalan-jalan sempit di perkampungan. Demikianlah pekerjaan pak Mamat yang telah dijalaninya selama 10 tahun sebagai penjual dandang keliling.<br>
Pak Mamat yang kini berusia 43 tahun, ia bertempat tinggal di Bogor dengan menyewa rumah kecil. Hanya dengan ijazah SD, ia mengalami kesukaran mencari pekerjaan. Oleh sebab itu 10 tahun yang lalu, dengan bermodalkan uang 50 ribu rupiah, ia membeli berbagai peralatan seperti tambang, karung dan pikulan untuk memulai usahanya. Selama ini, dengan harga minyak yang disubsidi, penjualan dandang biasa-biasa saja, dalam sehari ia bisa menjual maksimum 4 buah. “Tetapi kalau nasib sedang sial, kadang-kadang hanya bisa menjual sebuah”, ucapnya sambil tersenyum kecil. Sekarang ini dengan mulainya sebagian rumah tangga di Jabodetabek kembali memakai kayu bakar, pak Mamat bisa menjual 6 sampai 8 buah dandang dalam sehari. Kalau harus keliling agak jauh, paling banyak ia hanya bisa membawa 6 buah dandang sehari, “maklum berat, pak”.<br>
Pak Mamat membeli dandang dari pabrik atau pengrajin. Dandang aluminium 225 ribu, sedangkan untuk dandang tembaga 275 ribu. Dandang-dandang tersebut dijual dengan mengambil keuntungan rata-rata sebesar 25 ribu rupiah perbuah. Tiap hari ia membawa dandang-dandang tersebut didalam karung sampai kewilayah yang akan dijelajahinya. Sesampainya disana disusun dalam pikulan yang sudah dipersiapkan dari rumah.<br>
Dengan usahanya sebagai penjual dandang keliling, pak Mamat mendapatkan penghasilan bersih antara 600 – 800 ribu setiap bulan. “Cukup untuk menghidupi isteri dan kedua anak saya pak”, ujarnya sambil menarik nafas. (rahardi@raemaln.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 24 Juli 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-08-07EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=89SOTO BUKAN PAK KUMIS<br>
<br>
Kita ini memang dasarnya senang makan, berbagai pertemuan sering disertai makan. Tidak terbatas waktu kenduri, tapi juga waktu kumpul-kumpul seperti arisan atau kangenan. Kita juga melihat ditayangan TV, rapat di DPR pun disertai kotak makanan. Berbagai tempat makan, seperti warung, kedai, tenda kaki lima, kafe, rumah makan, restoran, dan lainnya selalu dipadati pengunjung. Bisnis makanan atau jasa boga menjanjikan keuntungan yang besar. Tentu kalau bisa memberikan kekhasan, kenikmatan, kenyamanan dan segmen pasar yang tepat serta harga yang menarik. Jakarta atau Betawi memiliki banyak ragam makanan yang sudah dikenal dan digemari, seperti kerak telor, gado-gado dan soto betawi. <br>
Yang satu ini, soto Betawi, juga dikenal dengan nama soto kaki kambing. Sepanjang jalan Blora, disebelah rel kereta api, berjejer kios “Pak Kumis” tempat berjualan soto Betawi. Bukan hanya kaki kambing yang jadi bahan, tetapi juga daging, iso, babat, dan paru. Kalau yang istimewa tambah otak atau “torpedo”. Soto yang juga memakai santan ini, katanya mengandung kolesterol. Tetapi karena enak, tetap menjadi makanan favorit sampai untuk hidangan pada berbagai resepsi di hotel berbintang. Inilah selera kaki lima di hotel bintang lima.<br>
Soto Betawi bukan hanya monopoli kaki lima di jalan Blora, tetapi sudah meluas diseluruh Jabodetabek, dan kekota-kota besar lainnya. Bang Rusli yang asli Betawi, sudah lama jualan soto Betawi di Bukit Tinggi, Manggarai. Ia meneruskan usaha almarhum abang iparnya yang sudah dimulai sejak 1982. Dengan memanfaatkan lahan 3X5 meter, ia membuat warung disana. “Katanya lahan milik PEMDA pak, dan saya bayar 200 ribu setiap bulan untuk keamanan, kebersihan dan listrik”, sambil terus melayani pelanggannya. Rusli yang berpendidikan STM Sipil dengan dibantu oleh 2 orang lulusan SLTP dan seorang tamatan SLTA, berjualan setiap hari dari pukul 8 sampai pukul 4 sore, kecuali hari minggu yang dimanfaatkan untuk istirahat. Setiap hari Bang Rusli mengeluarkan uang antara 300 sampai 350 ribu rupiah untuk membeli 9 kilo daging, kikil dan keperluan lainnya. “Saya sih tidak tahu bumbunya, pak. Sejak dulu kakak perempuan yang menyiapakan semuanya”. Satu porsi soto ditambah nasi dan satu gelas air teh tawar ia jual dengan harga 12 ribu rupiah. Walaupun disekitarnya sudah ada pedagang soto lainnya, tetapi pengunjung warungnya masih lumayan, meski tidak seramai dulu. Penghasilan kotornya satu hari antara 500 sampai 600 ribu. Para pembantunya menerima gaji harian sebesar 20 ribu rupiah sudah termasuk uang rokok. Tergantung ramainya pembeli, rata-rata Bang Rusli berpenghasilan bersih sekitar 300 ribu rupiah setiap hari. “Kalau nasib baik bisa lebih”, ungkapnya sambil tersenyum. Almarhum Taufik Savalas yang penggemar soto Betawi, tiga bulan yang lalu juga makan di warungnya Bang Rusli. “Orangnya baik, pak. Suka ngebanyol”. (rahardi@ramelam.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 31 Juli 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-08-07EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=90KACAMATA CENGDEM<br>
<br>
Tidak dapat dibantah lagi, produk asal China telah merambah berbagai pusat perbelanjaan. Bukan hanya di kios-kios pertokoan, pasar atau pasar swalayan, melainkan juga ditrotoar jalan, sekitar halte bis dan stasiun. Meluasnya penjualan produk asal China ini, tidak terlepas karena harga yang murah sehingga terjangkau dan digemari oleh masyarakat kalangan bawah. Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh beredarnya makanan asal China yang mengandung formalin, pasta gigi dan kosmetik yang mengandung bahan-bahan berbahaya. Masyarakat pemakai tentu mengira bahwa produk yang beredar sudah mendapat ijin dari pemerintah. Karena peraturannya berbunyi demikian, apalagi produk makanan dan kesehatan. Sekarang ini kita dengan mudah mendapatkan produk makanan di pasar swalayan yang bertuliskan bahasa asing yang tidak kita mengerti. Apalagi mengenai komposisi bahan yang dipakainya yang tidak tercantum. Apa gunanya wakil rakyat di DPR, yang dibiayai uang rakyat, sudah membuat undang-undang mengenai perlindungan konsumen? Kepada siapa masyarakat konsumen harus berlindung. Distributor dan pengedarnya harus dikenakan sanksi, bukan hanya barangnya disita, tetapi usahanya harus disegel sampai ada klarifikasi.<br>
Hal tersebut diatas tidak menggambarkan semua produk asal China. Kita masih ingat mocin (motor China), juga berbagai peralatan rumah tangga, pertukangan dan bengkel banyak diminati masyarakat karena harganya yang murah dan sesuai dengan isi kantong. <br>
Demikian juga dengan kacamata hitam buatan China, dengan harganya yang murah serta kwalitas dan merek yang beragam banyak digemari oleh kalangan muda. Dalam masa kampanye Pilkada Jakarta sekarang ini, omset penjualan kacamata cengdem (seceng adem) meningkat tajam. Demikian juga yang dialami oleh ZZ asal Padang, yang sejak tahun 2005 mengadu nasib menjadi penjual kacamata. Dengan lapak ukuran 2X4 meter diatas tanah milik Pemda, ia mengeluarkan uang 700 ribu rupiah untuk membeli berbagai peralatan seperti meja, kursi dan cermin untuk melengkapi lapaknya. Unduk membiayai usahanya ini, termasuk modal kerja ia mengeluarkan uang sebesar 9 juta. ZZ yang bermodalkan ijazah SLTA, dengan usianya yang sekarang sudah 32 tahun, dan seorang istri, dengan hati tulus melakukan usahanya ini. Untuk setiap kacamata ia mengambil untung antara 2 – 5 ribu rupiah. Di lapak milik ZZ, kacamata hitam bisa didapat mulai 5 ribu sampai 20 ribu rupiah. Sedangkan untuk kacamata baca harganya lebih mahal 30-40 ribu. “Sekarang ini sedang lumayan, maklum udara cerah dan berdebu” katanya sambil tersenyum. “Ditambah lagi di Jakarta sedang kampanye, rupanya mereka mempunyai uang”, tambahnya. Setiap bulannya lapaknya mempunyai omset sekitar 2 – 3 juta rupiah. Dikurangi dengan retribusi untuk kelurahan sebesar 20 ribu, ZZ bisa membawa pulang bersih antara 900 ribu sampai 1,5 juta rupiah. ZZ yang mengkontrak rumah petak 300 ribu rupiah perbulan, merasa bersyukur masih diberi rejeki oleh Allah SWT. Amien. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 7 Agustus 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-08-25EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=91ANDONG KENDARAAN RODA 4<br>
<br>
Beberapa minggu kedepan saya akan membawa oleh-oleh Ekonomi Rakyat dari daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Jawa Tengah dan Yogyakarta menyimpan beragam keunikan yang menjadi daya tarik para pengunjung. Selain peninggalan sejarah dan budaya, keadaan alam, makanan, kerajinan, serta kehidupannya yang serba tenang dan tentram. Sampai sekarang Yogyakarta dan sekitarnya tetap menjadi tujuan utama wisatawan. Seperti halnya kota besar lainnya di tanah air Yogya, demikian sering disebut, juga sudah sibuk, padat, dan terasa pengap. Lalulintas jalanpun sudah terjangkit wabah yang melanda semua kotamadya di tanah air yaitu kemacetan. Berbagai alat angkut memenuhi jalan, sepeda, motor, beca, gerobak, mobil, bis, dan tidak ketinggalan andong. Andong atau delman roda empat ini, bukan saja sebagai angkot atau taksi di perkotaan, melainkan juga sebagai angkutan pedesaan atau semacam bis antar pusat kegiatan.<br>
Di kota Magelang kita mendapati juga alat angkut yang bertenaga kuda ini. Pak Saryono atau pak Beh sejak tamat SMP, ia sudah mengeluti usaha angkutan ini dengan mempergunakan andong. Duapuluh tahun yang lalu, sewaktu umurnya masih 17 tahun, ia sudah menjadi pemilik dan kusir andong. Andong yang dipakainya adalah miliknya sendiri, yang dibeli dengan harga 2 juta rupiah. Sedangkan kudanya ia beli dengan harga 4 juta. <br>
Seperti halnya angkot atau opelet Pak Saryono menjalani trayek Pasar Salaman – Beteng Menoreh yang berjarak dua kilometer. Trayek tersebut, bisa dijalaninya sampai 4 kali dalam satu hari. Tentu tergantung kebugaran pak Salman dan kudanya. Cara operasinya mirip angkutan umum lainnya seperti angkot atau opelet. Seorang penumpang dipungut ongkos sebesar 1.500 rupiah untuk umum, sedangkan untuk pelajar dikenakan biaya 1000 rupiah untuk satu kali jalan. Kadang-kadang andongnya disewa borongan, biasanya untuk acara khitanan, pernikahan atau perayaan HUT Kemerdekaan dan lain-lain, untuk itu ongkosnya 50.000 rupiah. Untuk makanan kuda ia mengeluarkan biaya rata-rata 6000 rupiah setiap hari. Sedangkan penggantian sepatu kuda dilakukan seminggu sekali dan biayanya 12 ribu rupiah.<br>
Sekarang ini persaingannya berat, banyak kendaraan bermotor plat kuning maupun plat hitam yang beroperasi juga di trayek yang sama. “Tapi saya masih bersyukur bisa membiayai kehidupan sehari-hari saya”, dengan muka yang berseri. Memang dengan pendapatan bersih sebesar 450 ribu rupiah sebulan, cukup bagi Pak Saryono yang hidup masih membujang. Ia menyediakan alat transpor bagi umum tanpa menggunakan BBM, berarti juga tidak mendapat subsidi dari pemerintah. Yang ia khawatirkan adalah kesehatan kudanya, yang juga terus bertambah umur seperti dirinya sendiri. Ia harus mengumpulkan uang untuk satu saat bisa membeli kuda sebagai penggantinya. Siapakah yang memikirkan pak Saryono dan temannya yang senasib? (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 14 Agustus 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-08-25EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=92NASI KUCING<br>
<br>
Beberapa hari yang lalu kita baru saja memperingati hari kemerdekaan bangsa kita yang ke 62. Peringatan hari kemerdekaan yang selalu dirayakan secara meriah dan hikmat diseluruh nusantara. Meriah, karena kita merayakan sesuatu yang sangat berarti bagi seorang umat manusia yaitu kemerdekaan. Hikmat, karena kita mengingat kembali bagaimana para patriot kita telah berjuang untuk membebaskan bangsa kita dari penjajahan. Tentu bagi para pejuang dan mereka yang lahir sebelum tahun 1945, kemerdekaan mempunyai nilai yang sangat tinggi bagi kehidupan bangsa sekarang dan masa depan.<br>
Bagi pak Mardianto yang lahir sepuluh tahun setelah proklamasi kemerdekaan, merasakan kemerdekaan sudah menjadi bagian dari hidupnya. Iapun menerima bahwa sejak 12 tahun yang lalu hanya menjadi penjual angkringan. Kita temui pedagang angkringan berderet disepanjang jalan Malioboro dan terus sampai alun-alun Yogyakarta. Gerobak dengan tiga buah teko(ceret) aluminium diatasnya dan berbagai jenis makanan, itulah ciri pedagang angkringan. Pak Mardianto selalu berjualan di Alun-alun Selatan bagian timur. Seperti pedangan angkringan lainnya ia berjualan berbagai makanan ringan yang direbus dan digoreng, sate usus, sate telur puyuh dan sate kikil. Juga berjualan goreng ceker, kepala dan sayap ayam. Makanan yang dijualnya harus bisa memenuhi kemampuan langganannya, yang kebanyakan adalah para penarik beca, kusir andong, pedagang kaki lima dan pelajar serta mahasiswa. Yang penting murah harganya dan enak rasanya. Selain itu dijual juga nasi kucing, yaitu bungkusan nasi putih dengan sekedar sayur dan satu potong tahu atau tempe. Sedemikian kecilnya sehingga disebut nasi kucing. Harganyapun hanya 1000 rupiah. Nasi kucing ini sangat populer dikalangan pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai pelosok tanah air. Sedang untuk minuman tersedia wedang jahe, susu jahe, teh panas atau dingin, dan es jeruk. Tempat pedagang angkringan ini selalu dipadati pelanggannya sampai larut malam, menjadi tempat kumpul dengan biaya murah. Dengan uang 3 sampai 5 ribu rupiah sudah bisa mengenyangkan perut.<br>
Memulai usahanya pak Mardianto mengeluarkan uang sebanyak 2 juta rupiah untuk membeli gerobak, ceret, penggoreng dan kompor atau anglo serta peralatan lainnya. Sekarang ini setiap harinya ia mengeluarkan biaya 100 ribu rupiah untuk membeli berbagai keperluan dagangannya. Biasanya setiap hari ia bisa membawa pulang uang sebesar 150 ribu rupiah, jadi hasil bersihnya 50 ribu. “Cukup atau tidak cukup harus diculupkan, pak” katanya datar. Iapun bekerja tanpa lembur dan dibantu istri dan anaknya. Uang yang ia dapatkan setiap bulan sekitar 1,5 juta rupiah dipergunakan untuk membiayai rumah tangga dan sekolah 4 orang anaknya. Bagi pak Mardianto yang tamatan SMP tidak tahu apa yang akan dikerjakannya selain menjadi pedagang ankringan. “Buat saya yang penting adalah anak-anak agar bisa selesai sekolah dan mendapatkan pekerjaan yang layak”, katanya menyambut peringatan kemerdekaan ke 62. Dirgahayu Republik Indonesia! (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 21 Agustus 2007<br>
<br>
Rahardi Ramelan2007-09-07EKONOM I RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=93MASAK PAKAI APA?<br>
<br>
Antrian ibu-ibu dan anak-anak untuk mendapatkan minyak tanah semakin panjang. Masyarakat terus dibebani dengan berbagai kebutuhan sehari-hari. Harga minyak goreng tidak kunjung turun malah terus naik, sekarang diikuti oleh harga-harga bahan pokok lainnya. Rapat terus diadakan, katanya segera-akan-sedang diusahakan penyelesaian. Apalagi bulan puasa sudah menghadang. <br>
Program pemakaian LPG sebagai pengganti minyak tanah terus dilancarkan, tetapi belum merata. Tetapi Pertamina sudah mengurangi distribusi minyak tanah dengan alasan kuota dari pemerintah. Program pemakaian briket batubara untuk rumah tangga yang dulu pernah digembor-gemborkan, sudah tidak kedengaran suaranya lagi. Masyarakatpun kelimpungan, bagi sebagian dari mereka sudah kembali kekayu bakar dan arang, yang dulu pernah dibuang jauh-jauh karena harus diganti dengan minyak tanah. <br>
Keadaan demikian membawa harapan baru bagi bu Suratinem, dari desa Kasongan, Yogyakarta, yang pernah mengalami keterpurukan sejak terjadinya gempa bumi di daerah Bantul pada bulan Mei 2006 yang lalu. Desa Kasongan sejak dulu dikenal sebagai sentra kerajinan gerabah. Perubahan terjadi sewaktu para seniman Yokyakarta turun ke Kasongan dengan memasukan unsur seni kedalam produk gerabah. Fungsi gerabahpun berubah, bukan hanya sebagai alat dapur dan makan, tetapi juga untuk perhiasan rumah, kantor dan gedung. <br>
Tetapi untuk bu Suratinem sejak dulu ia setia pada kemahirannya membuat anglo (kompor) arang. Selain ia sudah terampil dalam membuatnya, juga sudah menguasai pemasaran, selain sudah dikenal kwalitasnya oleh para pemakai anglo arang disekitar Yogyakarta. Dengan memanfaatkan tempat seluas 300 meter persegi, ia telah mulai usahanya sejak tahun 1980. Sekarang usianya 40 tahun dan memiliki 2 orang anak, “saya tidak pernah sekolah, tapi yang penting bisa usaha sendiri menghidupi keluarga”. Pasca gempa bumi memang omsetnya sempat menurun drastis, tetapi sekarang ini sudah mulai membaik lagi. Mungkin berkat tidak lancarnya program pemakaian LPG dan tersendatnya distribusi minyak tanah. Omsetnya sekarang ini sekitar 30 – 40 ribu rupiah sehari, memang jumlah yang tidak banyak, tetapi cukup bagi bu Suratinem dengan keluarganya untuk hidup sederhana. <br>
Dengan modal kerja 200 ribu rupiah, ia harus membeli tanah liat dengan harga 100 ribu untuk satu colt dan 3 keranjang jerami seharga 30 ribu. Dengan bahan ini ia bisa menghasilkan 100 buah anglo berbagai ukuran. Anglo hasil kejanya dijual di pasar tradisional dan juga ditempat kerjanya. Anglo ukuran besar ia jual dengan harga lima ribu dan ukuran kecil 2000 rupiah.<br>
Kalau dulu program pemakaian minyak tanah dilancarkan untuk menggantikan kayu bakar dan arang, dan kemudian disusul dengan program briket batubara. Apakah program LPG selain menggantikan minyak tanah, akan juga menggeser arang dan kayu bakar, sehingga bu Suratinem harus mencari produk baru? (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tanggal 28 Agustus 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-09-07EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=94JAJAN GUDEG<br>
<br>
Siapa yang tidak kenal gudeg Yogya? Sampai-sampai Yogya juga disebut kota Gudeg. Banyak sekali tempat terkenal untuk makan atau membeli oleh-oleh gudeg Yogya. Beberapa diantaranya sudah mempunyai cabang di Jakarta. Ada juga yang mempunyai agen di Jakarta sehingga kita bisa memesan dan gudeg dikirim langsung dari Yogya. Tergantung dari selera kita, ada yang manis dan ada juga yang kering. Selain tempat-tempat yang sudah terkenal, Yogya juga memiliki ratusan penjual gudeg lainnya, ada yang mangkal seperti warung dan lesehan, tapi ada juga yang keliling dengan gendongan bakul menjajakan gudegnya. Mereka yang mangkal dan keliling rasanya tidak kalah enak, kembali tergantung dari selera kita.<br>
Di daerah Wijilan, sudah sejak tahun 2000, bu Istinah yang lulusan SMK, membuka usaha rumah tangga dengan berjualan gudeg, dengan dibantu oleh tetangganya bu Sunarti. Dengan bermodalkan 3 juta rupiah, bu Istinah melengkapi keperluan usahanya dengan berbagai peralatan masak dan makan. Kemudian menyewa tempat seluas 12 meter persegi untuk tempat jualan dengan lesehan. Memang warung atau tempat makan lesehan ini sudah lama menjamur di Yogya. Beberapa hotel bintangpun menyediakan tempat lesehan semacam itu.<br>
Setiap sore hari bu Istinah sudah bergegas belanja untuk menyiapkan berbagai kebutuhan untuk dagangannya. Dengan uang antara 200 sampai 400 ribu rupiah, ia membeli bahan baku seperti nagka muda atau gori, telur, kerupuk kulit atau kerecek, beras, ayam dan bumbu lainnya. “Repot pak sekarang ini, semua harga naik. Menjelang puasa lagi”, keluhnya sambil menyiapkan berbagai bahan untuk dimasak. Untuk memasak ia dibantu oleh 4 orang lulusan SMA yang juga warga kampungnya. Sedangkan yang jualan setiap harinya ia lakukan sendiri dengan dibantu bu Sunarti.<br>
Langganannya cukup banyak, selain rasanya enak juga harganya terjangkau bagi masyarakat Yogya. Satu porsi gudeg dengan nasi dan telur di warungnya bu Istinah harganya 3500 rupiah, kalau ditambah sepotong ayam 5000 rupiah. Karena keterbatasan modal ia tidak menyediakan minuman kecuali teh pahit yang cuma-cuma. Bu Istinah dalam usianya yang 37 tahun dan dengan dua anak tetap saja gembira dan kelihatan lebih muda. Dari usahanya tersebut setiap hari ia mendapatkan penghasilan kotor antara 40 sampai 50 ribu. “Sekarang sedang sepi pak, tidak tahu mengapa. Mungkin semua orang lagi susah”, sambil tetap senyum. Ia harus bekerja 30 hari dalam satu bulan. Karyawannya adalah pekerja harian, dan setiap minggu mendapat imbalan maksimum sebesar 50 ribu rupiah. Dalam keadaan sepi sekarang ini, dari usahanya bu Istinah mendapatkan penghasilan bersih antara 500 sampai 700 ribu rupiah setiap bulan.<br>
Kalau berkunjung ke Yogya, silahkan mencoba gudegnya bu Istinah, sambil lesehan (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Darian Pos Kota tgl 4 September 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-10-04EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=95PENGUSIR HAUS DAN DAHAGA<br>
<br>
Kekeringan melanda seluruh wilayah negeri tercinta, menurut berita banyak daerah kekeringan dan menghadapi kegagalan panen padi. Puasa belum mulai, harga bahan makanan pokok terus melambung. Minyak tanah hilang dan mahal. Tarif jalan tol dinaikkan, tetapi macet terus terjadi, seperti penyakit yang sudah kronis. Beberapa trayek angkutan umum kena imbasnya. Antrian panjang bukan hanya di pintu jalan tol dan di jalan berlobang, tapi juga di pangkalan minyak tanah. Aduh, kemana para pemimpin negara ini?<br>
Cadangan beras aman, minyak goreng bakal turun sebelum lebaran, demikianlah berita yang kita baca dan dengar, persis seperti iklan berbagai minuman segar yang ditayangkan berbagai siaran tivi untuk menghibur kita. Bukan hanya mengusir haus, tetapi juga menyegarkan seluruh tubuh, memberikan harapan harga-harga akan turun. <br>
Banyak masyarakat kita tidak dipengaruhi iklan, kerena memang tidak mampu harus mengeluarkan ongkos untuk mengusir haus dan dahaga. Udara Jakarta dan sekitarnya makin panas, ditambah lagi berdesakkan di dalam angkot atau metro mini. Antre di pintu toll dan macet dijalan, semakin menjadikan badan panas dan kerongkongan kering. Untunglah di pinggir jalan ada yang berjualan minuman segar. Ada gerobak dorong ada juga yang mangkal. Tidak perlu memakai iklan!<br>
Sudah 8 tahun, Munandar pria berusia 38 tahun asal Cirebon, telah menjalankan usaha minuman segar atau es buah. Dengan bekal pendidikannya yang sempat lulus SLTP, ia bersama istrinya yang berpendidikan setingkat dengannya, menekuni usahanya ini. Mengontrak ruang 2 X 3 meter, dengan biaya 200 ribu rupiah setiap bulan, ia tinggal disitu dan melakukan usahanya. Tidak tahu apa istilahnya, berangkali PEKO (rumah petak-toko). Dengan uang tabungannya 1,5 juta pada waktu itu, ia membeli berbagai kebutuhan usahanya seperti gerobak, serutan es, toples, mangkok, sendok dan lainnya. “Udara seperti sekarang ini, bagus untuk usaha saya, pak”, katanya sambil tersenyum. Biasanya ia mengeluarkan uang sebesar 300 ribu untuk belanja kebutuhan usahanya dalam satu bulan, tapi sekarang ini belum satu bulan ia sudah harus belanja lagi. Dengan modal sebesar 300 ribu, Munandar dan istrinya bisa menyisihkan sekitar 750 sampai 800 ribu. “Cukup untuk membiayai sekolah anak saya yang kelas 2 SD, dan kalau begini kan masih bisa menabung, pak”, sambil terus menyiapkan es campur untuk pelanggannya.<br>
Menghilangkan haus di tempat pak Munandar, cukup dengan mengeluarkan 3000 rupiah untuk jus melon atau alpukat, dan 4000 untuk es campur.<br>
Pak Munandar meminta saran bagaimana caranya ia bisa lebih maju, sehingga bisa menyekolahkan anaknya lebih tinggi dari mereka. Perusahaan mana yang mempunyai tanggung jawab sosial dan sedang mejalankan CSR (Corporate Social Responsibility)?. Ditunggu oleh pak Munandar. Kita juga menunggu. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tgl 11 September 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-10-04EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=96KELAPA BAKAR<br>
<br>
Ikan bakar atau roti bakar sudah biasa kita temukan dimana-mana. Kemudian ada juga bakso bakar. Memasak makanan dengan membakar ini sedang ngetren, mungkin karena harga minyak goreng terlalu mahal. Tidak tanggung-tanggung para produsen minyak goreng dipanggil oleh Presiden. Katanya pemerintah akan mengadakan operasi pasar, tetapi operasi berlalu harga kembali keharga semula. Dijanjikan bahwa menjelang lebaran harga akan turun, mudah-mudahan mereka benar. <br>
Tetapi sudah beberapa lama ini bermunculan dibeberapa tempat di Jabotabek usaha baru kelapa bakar, walaupun biasanya kelapa muda dibuat menjadi minuman segar. Sayapun menjadi penasaran, apa sebenarnya kelapa bakar yang menjadi ngetren tersebut. Pak H. Anwar yang tamatan STM, sudah sejak 5 bulan, telah membuka usaha kelapa bakar ini dengan menyewa sebidang tanah seluas 4X8 meter di pingggir jalan yang ramai sekitar kawasan Pusdika Cibubur. Sebelumnya sejak 2005, ia berjualan ditempat lain, tetapi ketika mengetahui bahwa disekitar Desa Harjamukti sering dimanfaatkan untuk shooting acara tv, maka ia pindah ketempat yang sekarang ini. Untuk memulai usahanya itu pak H. Anwar harus mengeluarkan uang sebesar 3,5 juta rupiah. Uang itu dipergunakan untuk mendirikan tempat usahanya yang sederhana, drum yang dibuat menjadi tempat membakar kelapa dan perlatan minum, seperti mangkok dan sendok.<br>
Setelah dibuka, kedalam kelapa muda dimasukkan berbagai macam rempah yeng komposisinya menjadi rahasianya. Tergantung dari pesanan bisa juga dicampur dengan madu dan/atau susu. Sewaktu saya mencobanya, rasanya mirip bajigur dan wedang jahe. Sedang daging kelapanya seperti sudah terlepas dari tempurungnya. Enak, hangat dan segar. Kelapa muda ia beli dengan harga antara 2000 dan 3000 rupiah. Kalau sudah menjadi kelapa bakar, ia jual dengan harga 10.000 sebuah, dan yang spesial 15 ribu rupiah. Sedang untuk kelapa ijo bakar harganya 17 ribu rupiah. Saya pernah mencoba kelapa bakar ditempat lain, memang rasanya agak berbeda, dan harganya lebih murah. Selain kelapa muda makar, pak H. Anwar juga menjual kelapa muda biasa dengan harga 4000 rupiah. Sedangkan untuk kelapa muda ijo dingin harganya 5 ribu rupiah, sedangkan dengan campuran rempah dan madu ia jual dengan harga 13 ribu rupiah.<br>
“Hasilnya Alhamdulillah, pak. Setelah pindah kesini agak lumayan”, katanya dengan muka yang ceria. Menjalankan usaha ini ia dibantu oleh dua orang adiknya yang hanya lulusan SD. Mereka mendapatkan upah masing-masing 500 ribu rupiah setiap bulan. Sedang pak H. Anwar sendiri rata-rata berpenghasilan 3 juta rupiah setiap bulannya.<br>
“Jualan disini menyenangkan, banyak artis yang datang kesini pak. Mereka banyak ceritanya, baik sebelum maupun sesudah shooting. Kadang-kadang mereka juga menitipkan makanan atau kue yang minta dijualkan”, ucapnya sambil tersenyum. Mungkin sambil membayangkan beberapa artis cantik yang suka minum kelapa bakar ditempatnya. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 18 September 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-10-04EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=97LAS KELILING<br>
<br>
Pembangunan ditanah air kita ini terus melaju. Kehidupan ekonomipun berkembang di kawasan pemukiman baru. Di Jabodetabek perkembangan kawasan pemukinan untuk masyarakat menengah dan bawah, makin jauh dari pusat-pusat kehiatan ekonomi. Jangankan angkutan umum yang terpikirkan, merawat jalanpun hampir tidak pernah dilakukan. Apalagi kalau kawasan tersebut sudah diserahkan kepada pemerintah daerah. Lain halnya dengan kawasan pemukiman yang elite atau super elite yang serba wah, dengan sistem cluster, telah membuat mereka terpisah dari dinamika kehidupan masyarakat, terpisah dari denyutnya masalah masyarakat.<br>
Perkembangan kawasan pemukiman yang demikian pesatnya disegala penjuru Jabodetabek, belum dapat diikuti oleh usaha jasa keperluan rumah tangga secara maksimal. Itulah yang mnyebabkan penjual barang dan jasa kelilingpun makin meluas dan marak. Mulai tukang sayur gerobak, barang kelontong pakai pick up, peralatan elektronik, jasa vermak levis, mengasah pisau dan gunting, sol sepatu, sampai kepada jasa las keliling. Merekalah para pelaku ekonomi rakyat yang tangguh.<br>
Jasa las keliling inilah yang dikerjakan sudah selama 9 tahun oleh Sunarya pemuda asal Lampung yang tinggal di Kawasan Depok. Dengan bermodalkan uang sebesar 1,6 juta rupiah, pada waktu itu, ia membeli sebuah sepeda motor, tabung gas dan blender untuk karbit dan peralatan las lainnnya. Ia bekerja sendiri, mulai persiapan, sampai kembali kerumah setiap hari. Pemuda yang hanya tamatan SD ini, kini setelah 28 tahun membujang, sejak 6 bulan yang lalu sudah mempunyai pendamping. “Alhamdulillah, pak. Hidup jadi tenang”. Biasanya bulan puasa pekerjaan ramai, banyak yang memperbaiki pagar rumah dan memuluskan kendaraan, tetapi kali ini dirasa sepi tidak seperti biasanya, mungkin uang habis untuk beli minyak tanah, minyak goreng dan sembako yang makin mahal.<br>
Pekerjaan yang paling banyak adalah pengelasan pagar dan roda pintu, dengan ukuran sepanjang 2,5 meter biayanya sekitar 70.000 rupiah, las spakbor mobil 40-50 ribu, untuk sepeda motor 25 ribu rupiah. Setiap bulan ia mengeluarkan uang 70 – 100 ribu rupiah untuk membeli karbit, kawat dan BBM. Dengan modal kerja sebesar itu ia bisa membawa pulang rata-rata sekitar 900ribu sampai 1 juta, setelah dikurangi segala kebutuhan untuk usahanya, ia masih bisa menyisihkan sebesar 400-500 ribu rupiah.<br>
Dengan sepeda motornya ia berkeliling mengadu nasibnya di sekitar Parung dan Bekasi. Diakhir pertemuannya ia menceritakan hal-hal yang mungkin dialami oleh semua pedagang keliling. Pungutan dari preman dan oknum satpam sudah menjadi rutin. ”Hampir seperti pajak saja, pak. Setiap hari”, katanya sedih. Kemudian ia menambahkan bagaimana ia ditangkap polisi, tidak tahu alasannya apa, dan diminta membayar 50.000 rupiah. “Kebetulan hari itu saya baru dapat 40 ribu rupiah, pak. Jadi terpaksa mengambil uang makan saya. Begitulah kalau belum nasib baik”, katanya tersenyum.(rahardi@ramelan.com)<br>
<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 25 September 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-10-04EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=98TIMUN DI BULAN RAMADHAN<br>
<br>
Puasa yang kita jalanai di bulan Ramadhan ini telah memasuki bagian terakhir. Semoga Allah SWT menerima saum kita, dan kita sendiri telah berbuat kebajikan lebih dari biasanya. Pedihnya perut mereka yang tidak mempunyai apa yang akan dimakan, kita ikut merasakannya. Dikekeringan tenggorokan disiang yang panas, kita berupaya menahan dahaga, karena keyakinan kita. Keyakinan kita atas perintah-NYA.<br>
Tetapi semuanya berbeda, tidak sama, karena kita tahu kapan dahaga kita akan berakhir. Berbagai minuman segar sudah disiapkan, kelapa muda, es buah, belewah, kulang-kaling, dan timun suri. Buah kurma manis, macam-macam bubur disediakan untuk mengembalikan energi kita kembali. Inilah bedanya kita dari fakir miskin yang harus menghadapinya setiap hari, tanpa mengetahui kapan akan berakhir. <br>
Di bulan ramadhan sekonyong-konyong kita temui hampir disegala pelosok Jabodetabek, dipinggir jalan, ditrotoar, di halaman pusat belanja, dihalte dan terminal bis dan angkot, yang berjualan belewah dan timun suri. Di hari-hari biasa, timun suri luput dari perhatian kita, tetapi dihari-hari bulan puasa menjadi minuman yang kita tunggu-tunggu untuk berbuka puasa.<br>
Sudah sejak 7 tahun, mbah Dhampit, yang tinggal di desa Sukatani, Depok, ia berjualam timun suri. Dengan dibantu anak dan mantunya, mbah Dhampit yang menurut pengakuannya sudah berusia 87 tahun, menyewa tempat ukuran 6 X 6 meter dengan sewa 300 ribu rupiah setiap bulan. Timun suri ia datangkan dari kawasan Parung, yang katanya berasal langsung dari petani Gunung Kidul. Yang ukuran kecil ia beli dengan harga 1.500 rupiah, dan dijual 4000 rupiah. Yang ukuran besar dibeli 2500 dan dijual dengan harga 7000 sampai 8000 rupiah. Setiap hari selama bulan puasa, penghasilannya terus ditambahkan dan dijadikan modal tambahan untuk hari berikutnya. Setiap hari modalnya tambah antara 35 sampai 40 ribu rupiah. Diakhir bulan puasa baru akan dibagi diantara anak dan mantunya, yang turut membantu dagangannya.<br>
Mbah Dhampit dengan bangga menceritakan, bahwa anaknya yang 7 orang, serta cucunya semuanya sekolah. Mereka sudah punya rumah masing-masing, dan hidup baik. Selama bulan puasa inipun rejekinya bertambah “Ahamdulillah”, udaranya panas dan timun surinyapun laku. Mbah Dhampit menceritakan pengalaman yang kerap dialami. Pembeli datang mencari timun ukuran kecil, lalu menekan-nekan timunnya sampai empuk. Tapi kemudian tidak jadi membeli. “Bikin jengkel, pak. Bisanya timun yang begitu tidak ada yang mau beli”, sambil membersihkan beberapa buah timun suri yang masih tersisa dibangku dagangannya. (rahardi@ramelan.com).<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 2 Oktober 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-11-02EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=99PECI=KOPIAH=SONGKOK<br>
<br>
Tidak tahu apa lagi sebutan yang banyak dipakai dilingkungan masyarakat kita selain peci, kopiah, songkok. Sebut saja kopiah, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan anak bangsa ini. Saya masih ingat memakai kopiah pertama kali sewaktu umur 4 tahun, dibelikan oleh almarhum ayah. Tempat pembuatan dan penjualan kopiah di kota kecil Sukabumi, yang sampai sekarang menjadi langganan, kalau membeli kopiah konvensional. Saya membelikan kopiah untuk anak dan cucu, sewaktu mereka berumur rata-rata 4 tahun. Kopiah tradisional atau konvensional, terbuat dari bludru warna hitam, berbagai jenis kwalitas. Walaupun warna yang dominan tetap hitam, tetapi berbagai warna lainpun bermunculan, seperti merah anggur, biru, dan hijau. Ada yang pakai bordir dipinggirnya, sering disebut kopiah Aceh. Ada juga yang bordirannya dibagian atas. Bentuknyapun bervariasi dari daerah-ke-daerah. Kopiah atau songkok Minang lain bentuknya. Orang Bugis dan Sulawesi Selatan lebih gemar memakai kopiah dari bahan akar tanaman. Memang jadi sejuk kalau dipakai. Kopiah warna hitam dari beludru sudah merupakan bagian dari pakaian formal bangsa kita, upacara resmi kenegaraan selalu dilengkapi dengan memakai kopiah.<br>
Lain halnya dengan kopiah haji, yang didominasi warna putih. Biasanya banyak dijual selama waktu haji dan bulan Ramadhan. Akhir-akhir ini berkembang model kopiah yang dirajut. Praktis, mudah membawanya, kombinasi warnanyapun makin beragam. Kopiah semacam ini banyak digemari kaum muda, mereka tidak hanya memiliki sebuah, tapi beberapa buah disesuaikan dengan baju yang akan dipakainya.<br>
Dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, penjualan kopiah, baju koko, jilbab makin ramai. Sudah merupakan bagian dari mode, sudah ngetren. Kesempatan yang hanya setahun sekali ini dimanfaatkan oleh pedagang musiman, seperti pak Achmad yang berasal dari Tasik. Diluar bulan puasa biasanya ia bekerja diproyek. Kadang-kadang berjualan kopiah di jalan Gas Alam, Depok. Sudah 4 tahun ini, ia menyambi berjualan kopiah, untuk menambah penghasilannya untuk membiayai sekolah anaknya yang berumur 7 tahun. Lokasi tempat ia berjualan dikenakan pungutan 2000 rupiah setiap hari. Ia berjualan setiap hari sampai hari Kamis, hari Jumat ia berjualan di halaman masjid. Jualan hari Jumat dimasjid hasilnya lumayan, bisa laku sampai 7 buah kopiah. Kopiah ia beli dari toko dengan harga 5000 rupiah dan dijual 7500 rupiah. Yang mahal ia beli dengan harga 15.000 dan dijual 17.500 sampai 20.000 rupiah.<br>
Dengan mudahnya mendapatkan kopiah, dan tingginya tingkat pengangguran, menjadikan persaingan, makin tajam. “Jadinya keuntungan kamipun terbatas”’ katanya sambil menyeka keringat didahinya. Pak Achmad setiap hari bisa mendapatkan penghasilan bersih sekitr 20 – 25 ribu rupiah. “Insya Allah, kami bisa mudik buat berlebaran”, sambil tersenyum. Semoga Allah SWT memberkahi pak Achmad dan keluarganya. MINAL AIDIN WALFAIDZIN. Mohon maaf Lahir Bathin. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tanggal 9 Oktober 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-11-02EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=100MINAL AIDZIN WAL FAIZIN<br>
<br>
Gemuruh suara takbir memenuhi alam semesta, memenuhi semua ruang di tanah ait tercinta. Suara takbir juga memnuhi relung-relung jiwa setiap insan muslim. Gemuruh yang menandakan kemenangan melawan segala nafsu dan kebatilan yang selalu melekat pada kehidupan kita.<br>
Gelombang sepeda motor mengisi semua ruang tersisa dijala-jalan raya untuk bisa merayakan kemenangan. Bagaikan gelombang tsunami yang bergerak satu sampai tiga hari kemudian berhenti. Kereta api kelas ekonomi dipadati para pahlawan ekonomi rakyat. Pintu tidak cukup menampung mereka, jalan pintaspun dilakukan melalui jendela. Setiap rongga dalam gerbong penuh sesak. Demikian juga terminal bis gambarannya sama. Berdesakkan, berhimpitan dan berebutan untuk bisa mencapai tujuan merayakan kemenangan bersama sanak saudara. <br>
Berdesakkan, berhimpitan dan berebutan bukan merupakan budaya mereka yang selalu hidup dalam batas ketidak cukupan. Takut tidak kebagian, khawatir ketinggalan yang sudah merupakan bagian dari kehidupan mereka sehari-hari dalam mencari nafkah. Didalam keterbatasan ini kadang-kadang mereka harus menghadapi risiko besar bagi dirinya dan keluarganya. Berdesakkan, berhimpitan, dan berebutan bagi mereka adalah keterpaksaan.<br>
Mereka kembali kekampung, mereka kembali ke dalam lingkungan keluarganya, berkumpul dan bersilaturahmi. Untuk beberapa hari mereka mendapatkan kembali identitasnya, bagian dari masyarakat yang bisa menikmati jerih payah menjalankan kehidupan di Jakarta.<br>
Jakarta dan sekitarnyapun menjadi lengang, kehidupanpun lebih banyak dilingkungan keluarga dan kerabat, tidak jauh atau sama dengan mereka yang sedang menikmati di kampung. Tetapi semua ini hanya berlangsung untuk beberapa hari. Jakarta akan kembali kedenyut kehidupan seperti semula: bising, berdesakkan, berhimpitan, dan berebutan. <br>
Menuju kemenangan beberapa perusahaan telah menunjukkan kepedulian sosialnya dengan menyelenggarakan angkutan khusus, betapa mulianya mereka itu. Bagaimana dengan kantor pemerintah? Mengapa bis angkutan pegawai tidak dimanfaatkan untuk tugas yang mulia tersebut? Masih banyak cara yang bisa dilakukan pemerintah dalam membantu mereka yang telah berjuang tanpa bantuan pemerintah, mereka pelaku ekonomi rakyat.<br>
Tugas berat menghadang Bang Foke dan Harjanto, mengurangi kebisingan dan kemacetan, yang telah menambah parah ekonomi kota Jakarta. Jalan khusus busway telah merebut jalan umum yang dibiayai oleh rakyat, tanpa penggantian. Jalur busway telah menjadi monopoli, fasilitas publik telah berubah menjadi fasilitas privat. Bagaimana hitungannya? Belum lagi pengaturan trotoar. Yang dikejar-kejar selamanya hanya PKL, yang tidak memanfaatkan trotoar secara permanen. Banyak sekali kios atau toko permanen dipinggir jalan dan pusat pertokoan yang telah merampas trotoar dan sebagian jalan menjadi tempat usaha ‘permanen’ mereka. Lihat saja disekitar Blok A Kebayoran Baru, jalan Radio Dalam, Galur, dan yang lainnya, bagaimana toko bahan bangunan dan bengkel mobil dan motor telah merampas trotoar. Jadi janganlah selalu PKL yang dikejar-kejar dan disalahkan. <br>
SELAMAT IDUL FITRI 1428 H, MOHON MAAF LAHIR BATHIN. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 16 Oktober 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-11-02EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=101MUDIK BERTEMU KELUARGA<br>
<br>
Fenomena mudik menggunakan sepeda motor di akhir bulan Ramadhan terus menjadi perhatian dan pemikiran kita semua. Mudahnya untuk mendapatkan sepeda motor dengan kredit, menyebabkan jumlah sepeda motor dengan pesat bertambah. Setiap hari kita menyaksikan dominasi sepeda motor di jalan-jalan kota Jakarta dan sekitarnya. Seolah-olah tidak ada peraturan yang berlaku bagi mereka. Untuk menghadapi arus sepeda motor yang mudik, berbagai peraturan dan himbauan telah dikeluarkan. Tidak henti-hentinya pihak yang berwajib telah mengsosialisasikan berbagai aturan keselamatan, tetapi kenyataannya tetap saja seperti terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga untuk merayakan hari Idul Fitri, itulah yang didambakan dan menjadi harapan mereka.<br>
Demikian juga yang dilakukan oleh Mas Gimun asal Gunung Kidul, yang telah menetap di Jakarta selama 6 tahun. Selama ini ia sudah empat kali mudik dengan sepeda motor bersama keluarganya. Menjelang perjalanan mudiknya, karyawan dari sebuah pabrik di Cibinong, ia harus mempersiapkan sepeda motornya secara teknis dan menempelkan stiker bertuliskan MUDIK. Perjalanan yang memakan waktu 16 sampai 17 jam memerlukan ketahanan fisik yang luar biasa, bukan hanya bagi Gimun tetapi juga untuk istri dan anaknya yang berusia 4 tahun. “Memang pak, berat sekali, kita istirahat sampai 4 kali”, katanya sekembali dari mudik selama 1 minggu. Untuk membeli bensin ia menghabiskan 65.000 sampai 70.000 rupiah untuk satu kali jalan. <br>
Lain halnya dengan pak Sarwono, yang juga berasal dari Gunung Kidul, setiap tahun ia mudik bersama keluarganya, seorang istri dan 2 orang anak, menggunakan bis umum. Mereka sudah 13 tahun menetap di Depok, dan selama ini sudah 10 kali mudik. Bagi keluarga Sarwono mudik di hari Lebaran menjadi suatu keharusan, bertemu dengan oarang tua, dan saudara-saudara. “Ongkosnya tidak murah, pak. Untuk kelas ekonomi yang biasanya 80 ribu rupiah untuk satu jalan naik menjadi 250 ribu rupiah, kalau karcis ekonomi sudah habis terpaksa dengan bis ber AC VIP dengan ongkos 310 ribu rupiah”, katanya datar. Untuk bisa membiayai kehidupannya, pak Suwarno bekerja di pabrik garmen, sedang istrinya bekerja di pabrik keramik. Beberapa perusahaan bis melayani penumpang dari Jakarta sampai Gunung Kidul, dan ada bis sampai kekampung tempat keluarga Sarwono. Seperti halnya dengan Mas Gimun yang naik sepeda motor, memakai bis umum juga memerlukan waktu antara 16 sampai 18 jam. Selama di perjalanan mereka berhenti 2 kali untuk meluruskan kaki. <br>
Berkumpul dengan keluarga di hari Idul Fitri, merupakan bagian dari budaya kita. Meningkatnya pemakaian sepeda motor, selain merupakan angkutan yang murah serta kemudahan mendapatkannya, juga menunjukan kelangkaan alat angkutan umum didaerah pedesaan. Semoga pihak-pihak yang menangani masalah transportasi, tidak akan menunggu sampai menjelang Idul Fitri yang akan datang, tetapi segera mencari penyelesaian MUDIK yang lebih baik. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 23 Oktober 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-11-02EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=102NASI UDUK ASLI SRAGEN<br>
<br>
Lebaran dan libur panjang telah berlalu. Hiruk pikuk mudikpun sudah surut. Jakartapun kembali menjadi normal, macet dan pengap. Mal dan pusat perbelanjaan sudah dipenuhi oleh pengunjung. Lorong-lorong kecil sudah dipenuhi kembali oleh anak-anak yang bermain. Tukang sayuran keliling sudah melayani kembali semua pelosok kota Jakarta. Restoran dan warung makan yang tadinya sepi atau tutup selama bulan puasa, kini telah ramai dikunjungi kembali oleh para pelanggannya. <br>
Tadinya saya selalu mengira bahwa nasi uduk adalah makanan khas Betawi. Di seantero kota kita bisa mendapatkan nasi uduk dengan mudah, di restoran, di warung, maupun di warung tenda serta pedagang makanan keliling. Ternyata ada juga nasi uduk bukan asli Betawi, nasi uduk Sragen. Di desa Harjamukti, Depok, pak Hayati sejak tahun 2003 telah membuka warung makan nasi uduk dan lontong sayur. Dengan mengkontrak ruangan 2X2,5 meter dengan sewa 250 ribu rupiah perbulan, ia dibantu anaknya yang ketiga, berumur 19 tahun yang dengan tekunnya melayani para pelanggan. Sedang dua anak lainnya telah bekerja secara mandiri. Pak Hayati yang sekarang ini berusia 45 tahun, dan hanya bermodalkan pendidikan SD, menjalankan usahanya ini dengan modal sebesar 4,5 juta rupiah. Dana sebesar itu, selain untuk membeli peralatan masak dan restoran, juga untuk modal kerja awal. “Alhamdulillah, sampai sekarang berjalan lancar”, katanya dengan raut wajah yang gembira. Nasi uduk ia jual dengan harga 3000 rupiah, nasi uduk dengan telor 4 ribu, sedangkan untuk lontong sayur 3000 rupiah. <br>
Warungnya selalu penuh dikunjungi pelanggan terutama pada hari-hari Senin sampai Kamis, sedang pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu pengunjungnya agak berkurang. Dengan usaha nasi uduknya ini, penghasilan kotornya setiap bulan antara 1,7 sampai 1,9 juta, dan penerimaan bersihnya antara 800 sampai 900 ribu. <br>
Setiap hari ia bisa menambah pengetahuannya dengan mendengarkan cerita para pengunjungnya. Dengan muka kesal ia menceritakan bagaimana menghadapi pelanggan yang setiap hari makan di warungnya, tetapi membayarnya seminggu sekali ngutang, dan bayarnya sering tidak tepat waktu, “saya jadi susah, pak, mengatur modal untuk belanja”. Ia mengharapkan proyek jalan tol Cinere-jagorawi akan segera dimulai. “Kalau ada proyek tersebut mungkin omset saya bisa tambah besar”, sambil tersenyum berharap. Anaknya yang membantu di warungnya mendapatkan uang saku. “Walaupun ia lulusan SMU, tapi untuk medapatkan pekerjaan sekarang ini susah sekali”, keluh pak Hayati. Pak Hayati dan kita semua mengharapkan agar pemerintah bukan hanya memikirkan pendidikan, melainkan juga pekerjaan setelah mereka tamat sekolah. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 30 Oktober 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-11-02EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=103PERLENGKAPAN PESTA<br>
<br>
Begitu Idul Fitri berlalu, ramai lagi masyarakat mengadakan berbagai kegiatan upacara selamatan, terutama pernikahan. Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat kita untuk berbagi kebahagian dengan saudara dan teman dekat. Mulai dengan pertunangan, perkawinan, sampai tujuh bulan kehamilan sering diadakan dengan menyelenggarakan pesta, baik di rumah, hotel, maupun gedung khusus. Demikian juga selamatan dalam bentuk pesta kalau merayakan ulang tahun ataupun ulang tahun perkawinan. Akir-akhir ini khitananpun dipestakan secara besar. Sedang di bulan puasa banyak keluarga mengadakan buka puasa dan shalat taraweh bersama. Kalau diselenggarakan dirumah, maka biasanya diperlukan ruangan tambahan, dan untuk itu diperlukan tenda. Bisnis penyewaan tenda di sekitar Jabotabek banyak berkembang. Buka hanya menyewakan tenda melainkan lengkap dengan meja, kursi, pelaminan dan peralatan pesta lainnya.<br>
Usaha penyewaan tenda inilah yang dilakukan oleh ibu Lia sejak sepuluh tahun yang lalu. Dengan memanfaatkan gudang berukuran 10X122 meter didekat rumah miliknya, usahanya telah berkembang dengan pesat. Bukan hanya tenda, kursi dan meja yang disewakan, tetapi juga pelaminan. Ibu Lia juga melayani penyewaan perlengkapan pesta lainnya, seperti untuk prasmanan, piring, sendok-garpu, alat pemanas makanan dan yang lain. Jika dinilai sekarang, maka harga barang-barang yang dimilikinya berjumlah 40 juta rupiah, termasuk sebuah pick-up. Ibu yang mempunyai tiga orang anak ini, setiap harinya dibantu oleh tiga orang lulusan SD dan SMP. “Saya juga melayani penyewaan tenda secara komplit, selain meja dan kursi, juga berbagai jenis tanaman hias dan bunga”, katanya bergairah. Masih banyak masyarakat tidak mau pusing sehingga pesan tenda kompit, harga paket komplit yang sederhana 4 juta rupiah, tipe sedang 7 juta, sedang yang lengkap dengan tanaman dan hiasan sekitar 10 juta.<br>
Tenda disewakan dengan harga anatara 20 ribu sampai 40 ribu setiap meter persegi. Kursi antara 1.500 sampai 2000 rupiah. Kursi lipat dengan sarungnya 5 ribu rupiah. Meja makan dengan taplaknya 20 ribu – 30 ribu rupiah. Pelaminan komplit, kursi dengan gebyoknya dihargai 1,5 sampai 2 juta.<br>
“Sekarang ini pasar sedang baik, pak. Banyak yang mengadakan selamatan”, sambil terus melayani pelanggan. Kalau setiap minggu hanya ada dua kali pemasangan tenda, maka penghasilan setiap bulannya rata-rata antara 10 dan 11 juta rupiah. Pekerjanya di bayar dengan cara borongan, yaitu setiap pemasangan honornya 125.000 rupiah perorang. Setiap hari ibu Lia juga harus menyiapkan berbagai bunga dan tanaman hias.<br>
Selain pesta atau selamatan dirumah-rumah, juga melayani acara di kantor dan perusahaan-perusahaan. “Melayani kantor pemerintah ruwet, pak. Banyak tidak jelasnya”, katanya sambil senyum. Ibu Lia mengharapkan tahun 2008 dan 2009 banyak partai politik yang akan membutuhkan tenda untuk kampanye. Semoga harganya cocok. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 6 Nopember 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-12-02EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=104DONAT UNTUK SEMUA<br>
<br>
Saya tidak ingat lagi kapan kue donat menjadi begitu populer di negara kita. Berbagai jenis merek kue donat bersaing ketat di mall dan pusat belanja. Sekarang ini donat bisa didapatkan juga dikios-kios yang berada di pompa bensin atau SPBU. Kita bisa juga mendapatkan kue donat disepanjang jalan, yang dijual di dalam kendaraan. Kue donat ada dimana-mana dan untuk kita semua. Jenisnyapun bervariasi, tapi yang tradisional, yaitu donat dengan serbuk gula, tetap yang paling digemari.<br>
Di mall dan di pusat perbelanjaan kita bisa melihat dari balik kaca, pembuatan donat dengan mesin otomatis. Tapi beberapa merek donat tidak pernah memperlihatkan cara memasaknya, mungkin ada sesuatu yang dirahasiakan. Lain halnya dengan apa yang dikerjakan oleh ibu Rahayu.<br>
Sejak tahun 2003, ibu Rahayu memulai usahamya dengan membuat kue donat dirumahnya. Rumah di Cilangkap Depok yang dikontrak dengan harga 200 ribu rupiah setiap bulan. Di dalam ruangan dengan ukuran 3X6 meter, yang sekaligus tempat tinggalnya, ibu Rahayu yang sekarang berusia 37 tahun, memulai uasahanya ini. Bermodalkan uang sebesar 500 ribu rupiah, ia membeli berbagai peralataan seperti penggorengan dan kompor. Dibantu oleh suami dan anaknya, setiap malam sudah mempersiapkan adonan yang akan dipakai hari berikutnya. Untuk membeli bahan seperti terigu, gula, minyak goreng dan minyak tanah ia menyediakan anggaran sebesar 70 sampai 80 ribu rupiah. Sampai hari ini ia masih memakai minyak tanah, karena program konversi minyak tanah belum sampai kedaerah tempat ia tinggal. <br>
Donat hasil produksinya, kalau ia jual sendiri, untuk sebuah donat ia hargai 500 rupiah, tetapi kalau ia jual dengan jumlah besar ke warung, maka harganya 400 rupiah. Hasil penjualan setiap harinya antara 130 ribu sampai 150 ribu rupiah. Setelah disisihkan untuk modal pembelian bahan baku untuk hari berikutnya, ia dapat menyisihkan uang antara 50 sampai 80 ribu rupiah. “Sampai saat ini anak saya, yang sudah lulus SMU, belum juga mendapatkan pekerjaan, Sebab itu ia setiap hari bisa membantu usaha donat ini”, katanya sedih. “Mudah-mudahan keadaan akan membaik, sehingga ia bisa mendapatkan pekerjaan”, sambungnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.<br>
Bagi ibu Rahayu, paling menyenangkan kalau ada rapat atau pertemuan di kantor-kantor sekitarnya. Biasanya mereka pesan donat dengan jumlah yang cukup banyak. Untuk itu ia harus bangun lebih pagi, sehingga donat yang dipesan dapat diselesaikan pada pagi hari. Tetapi kadang-kadang terjadi bahwa donat yang sudah dipesan terpaksa mereka batalkan, karena rapat atau pertemuan ditunda. “Saya harus berjualan keliling untuk menghabiskan donat”, ucapnya dengan senyum kecutnya.<br>
Ternyata donat yang berasal dari Amerika, juga dibuat di Cilangkap. Tidak pernah ada yang meributkan atau mempersoalkan hak patennya. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 13 Nopember 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-12-02EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=105GADO-GADO<br>
<br>
Makanan seperti salad sebagai makanan pembuka dengan berbagai macam rasa banyak dikenal di kuliner dunia. Tiap negara mempunyai kekhususan saus (dressing) yang dipakainya. Sedang di negara kita, khususnya di pulau Jawa kita mengenal juga makanan seperti salad, seperti pecel di Jawa Tengah dan Jawa Timur, lotek dari Jawa Barat dan gado-gado dari Jakarta dan sekitarnya. Pecelpun mempunyai rasa yang beragam tergantung daerahnya, misalnya pecel Yogya lain rasanya dari pecel Madiun. Sedangkan di Jawa Barat selain lotek ada juga karedok yang memakai sayuran serba mentah.<br>
Bagi orang Jakarta, gado-gado sudah tidak asing lagi. Ada yang sederhana, ada juga yang istimewa dengan tambahan telur rebus dan lontong atau ketupat. Bagi sebagian orang Jakarta yang paling dikenal adalah gado-gado Boplo. Gado-gado yang berasal dari pasar Boplo ini, sekarang sudah mempunyai cabang dimana-mana. Selain gado-gado Boplo ada ratusan penjual gado-gado lainnya di Jakarta.<br>
Satu diantaranya adalah ibu Mina, yang sudah berjualan gado-gado sejak tahun 2001. Untuk usahanya ini ia mengkontrak ruangan 3X3 meter dengan harga 150 ribu rupiah satu bulan. Ibu dengan dua anak ini memulai usahanya dengan uang sebesar 750 ribu rupiah untuk membeli berbagai peralatan yang diperlukan untuk memulai usahanya. Ia sudah harus memulai pekerjaannya setiap hari pada malam hari, karena setiap pagi sekitar pukul 8 langganannya sudah mulai datang. Dengan dibantu oleh seorang pekerjanya ia bisa mendapatkan penghasilan kotor setiap hari sekitar 100 – 120 ribu rupiah. “Sekarang ini usaha sedang baik pak, banyak proyek dan bengkel baru berdiri disini”, katanya sambil tersenyum. Setiap hari ibu Mina, yang lulusan SD, harus mengeluarkan uang 40 – 50 ribu untuk belanja barang. Sehingga setiap harinya ia mendapatkan penghasilan bersih antara 45 – 50 ribu rupiah. Sedangkan pekerjanya, yang juga masih keponakannya mendapatkan honor harian sebesar 15 ribu rupiah.<br>
Walaupun harga minyak goreng dan minyak tanah masih tetap tinggi, harga gado-gado ibui Mina tetap 5000 rupiah satu porsinya. “Sekarang ini harga bahan-bahan sudah mendingan kalau dibandingkan dengan sebelum hari raya”, sambil terus melayani pelanggannya. “Program konservasi minyak tanah belum sampai disiini, pak. Tapi minyak tanah sudah langka dan harganya naik”, sambungnya. Dengan adanya beberapa proyek di Cimanggis, seperti pembangunan jalan tol dan pemasangan pipa gas PGN, telah memberikan lapangan kerja yang lumayan bagi para pekerja kontraktor. Disamping itu juga memberikan tambahan penghasilan bagi pelaku usaha makanan dan minuman seperti ibu Mina.<br>
Bagi ibu Mina, yang paling penting, dengan usahanya tersebut dapat membantu suaminya, dan terus menyekolahkan kedua anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan SD. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 20 Nopember 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-12-02EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=106MINYAAAAK …………………..<br>
<br>
Dibeberapa tempat di Jabodetabek teriakan penjual minyak tanah yang menjajakan jualannya sudah mulai berkurang. Maklum program konversi minyak tanah ke LPG sudah mulai berjalan walaupun belum merata. Beberapa penghuni RT dan RW disekitar rumah kami di Cibubur, pernah menawarkan tabung LPG 5 kilo untuk saya beli. Bukan karena mereka ingin tetap memakai minyak tanah, tetapi mereka sudah memanfaatkan LPG sejak beberapa tahun. Inilah gambaran penyakit birokrasi kita, jangankan daftar masyarakat yang berhak menerima bantuan program konversi minyak tanah, daftar peserta Pemilu dan Pilkadapun masih amburadul. <br>
Langit yang cerah di hari Sabtu yang lalu telah merangsang saya untuk keliling di jalan-jalan desa di sekitar rumah. Belum jauh saya berjalan kedengaran teriakan “minyaaaaaak”. Karena penasaran saya mendekati penjual minyak tanah keliling yang memakai gerobak. “Kelihatan berat mas gerobaknya”, tanya saya sambil mendekatinya. “Ia pak, masih pagi baru keluar”, jawabnya sambil meratakan napasnya. Gerobaknya berisi 16 jeriken plastik, ada corong dan literan. Saya tidak sempat menanyakan namanya, tapi sebut saja pak Giman, yang berasal dari Tegal. Pak Giman telah menjual minyak tanah dengan pikulan sejak ia tamat SMP, sedangkan umurnya sekarang 35 tahun. Jadi ia sudah menggeluti usaha ini kira-kira 19 tahun. “Sudah lama saya tinggal disini dengan menyewa kontrakan 150 ribu satu bulan”, katanya datar. Kontrakan 150 ribu biasanya hanya satu ruangan dan dibelakang ada kamar mandi yang harus dibuat sendiri. Pak Giman tinggal disitu bersama istri dan dua orang anaknya.<br>
Ia menjual atau menitipkan minyak tanah di warung dan kios, yang menjualnya kepada pembeli dengan harga sekitar 3000 rupiah untuk satu liter. Warung dan kios yang sudah menjadi langganannya cukup banyak. Ada yang setiap hari dikirim, ada juga yang seminggu sekali, tergantung kebutuhannya. Tetapi kalau ada yang beli ngecer juga dilayani. “Namanya juga rejeki, pak, tentu saya layani”, sambil tersenyum. Ia membeli minyak tanah tidak dari satu sumber, kalau jerikennya sudah kosong dimanapun, ia mencari agen minyak untuk bisa mengisi jerikennya lagi. <br>
Setiap hari pak Giman dapat menjual sekurang-kurangnya 100 liter. “Setelah ada program LPG, menjual minyak agak susah, pak”, sambil mendorong grobaknya. Pak Giman menlanjutkan pertualangannya dengan gerobak minyak tanahnya. Setiap liter ia hanya mendapatkan keuntungan sebesar 200 rupiah. Jadi setiap hari, minimum ia mendapatkan penghasilan 20 ribu rupiah. Mungkin lebih kecil dari UMP. Tapi itulah hidup yang harus ia jalani. Bagaimana nasibnya setelah program konversi ke LPG tuntas? Semoga pemerintah melalui program konversi minyak tanah, juga memikirkan nasib masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari penjualan minyak tanah, seperti pak Giman. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 27 Nopember 2007<br>
Rahardi Ramelan2007-12-02EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=107SATE KELILING<br>
<br>
Dalam kalangan tertentu kehidupan di Jakarta dan sekitarnya juga menyenangkan, semuanya tergantung dari bagaimana cara kita melihatnya. Coba saja bayangkan, makanan apa yang tidak bisa didapat di sekitar dan di depan rumah kita? Tidak usah mempergunakan telepon untuk memesan, mereka datang sendiri tanpa dipanggil. Bubur ayam, ketoprak, lontong sayur, dan berbagai macam sate. Khusunya sate, kita mengenal bukan saja jenisnya seperti sate ayam dan sate kambing, melainkan juga dari asal daerahnya, seperti sate Tegal, sate Solo, sate Bali, maupun sate Padang.<br>
Berjualan sate Padang itulah yang memberikan penghidupan kepada saudara Fendy yang berusia 24 tahun dan berasal dari Padang Pariaman. Pria yang sudah beristri ini tinggal di kampung Bojong – Tanggerang, dengan mengkontrak rumah seharga 1,5 juta rupiah pertahun. Sudah 4 tahun ia menjual sate Padang dengan cara berkeliling disekitar pemukiman dan beberapa komplek perumahan. Dengan modal sebesar satu setengah juta rupiah, ia membeli gerobak dorong dan berbagai peralatan seperti panci, kompor, pembakar sate sampai lampu petromax. <br>
Kemudian dengan uang sebesar 80 sampai 100 ribu rupiah, setiap hari ia membeli berbagai keperluan untuk jualannya. Bahan sate, bumbu sate, dan ketupat sudah dipersiapkan di rumah. Kemudian ia menjualnya dengan mempergunakan gerobak, dan untuk satu porsi atau bungkus ia jual dengan harga 5 ribu rupiah. “Saya belajar jualan sate dari kakak saya, yang juga berjualan sate Padang”, ungkapnya sambil terus mendorong gerobaknya. Pemuda yang tamat SMP ini, setiap harinya berpenghasilan kotor antara 150 ribu sampai 200 ribu rupiah. Kadang ia mendapatkan pesanan untuk sebuah pesta. “Saya senang kalau diborong begitu, hanya melayani tamu-tamu dan tidak usah keliling untuk menjual sate”, katanya sambil tersenyum. “Tetapi kalau nasib sedang jelek, saya harus pulang dengan membawa sebagian sate. Yah, terpaksa bikin pesta sendiri dirumah”, matanya sambil menerawang jauh. Mungkin membayangkan kampung halamannya di Padang Pariaman. Fendy setiap harinya dapat menyisihkan uang antara 45 sampai 80 ribu rupiah.<br>
Disela-sela ia melayani pembelinya, kamipun berbincang-bincang mengenai berbagai masalah kehidupannya. “Saya tidak mengerti pak, mengapa ada yang ingin agar makanan, seperti rendang supaya dipatenkan. Jadinya semua orang yang membuat rendang jadi susah”, katanya sambil menatap mata saya. Rupanya Fendy rajin membaca koran dan mengikuti perkembangan di tanah airnya. Bagaimana kalau Cina mempatenkan capcay atau bakso, apakah semua restoran dan pedagang capcay dan bakso harus membayar royalty? Bukankah yang penting bagi kita bahwa rendang diakui dan dikenal berasal dari Padang, seperti halnya gudeg dari Yogya dan rujak cingur dari Jawa Timur? Mudah-mudahan pemerintah akan hati-hati menghadapi berbagai masalah yang berkaitan dengan hak milik intelektual yang sudah menjadi milik publik. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota tanggal 4 Desember 2007<br>
Rahardi Ramelan2008-01-09EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=108PASIR PENYAMBUNG HIDUP<br>
<br>
Konperensi PBB mengenai perubahan iklim masih belangsung di Nusa Dua. Kitapun tergugah dengan menggerakan program menanam pohon secara beramai-ramai. Upaya pengurangan emisi gas buang terus digulirkan. Tetapi disisi lain untuk, mendukung pembangunan gedung-gedung, mal, dan perumahan, penggalian dan penambangan pasirpun terus berkembang dan makin meluas. Penggalian dan penambangan pasir ini bukan hanya dilakukan oleh penggali pasir kecil, tetapi juga dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan besar dengan mempergunakan peralatan yang canggih. Penggalian dan penambangan pasir inipun dibeberapa tempat sudah merusak alam, tetapi luput dari perhatian dunia dan PBB. Sebagian pasir untuk pembangunan Jakarta berasal dari Bogor dan Sukabumi. Pengangkutan pasir dengan mempergunakan truk-truk besar juga telah merusak jalan, dan mengganggu transpotasi. Saya sering mengunjungi tempat-tempat disepanjang hulu sungai Ciapus dilereng gunung Salak di Bogor, tempat yang sejuk unuk camping.<br>
Disanalah saya bertemu dengan Acep, 41 tahun, yang sudah 4 tahun menghidupi keluarganya sebagai penggali batu dan pasir. Dengan bermodalkan uang sebesar 200 ribu rupiah, ia membeli berbagai peralata seperti pacul, sekop, linggis, pahat dan palu besar atau bodem. Dengan dibantu oleh 3 orang rekannya, pria yang tidak mengenyam pendidikan formal ini, setiap hari menggali batu dan pasir di sungai Ciapus, di desa Pasir Eurih. Setiap hari mereka bisa mendapatkan satu truk pasir dan satu truk batu. Satu truk pasir bisa dijual seharga 150 ribu rupiah, sedangkan untuk batu kali dijual selitar 95 ribu rupiah. Penghasilan penjualan pasir dan batu itu kemudian dibagi rata. Kadang-kadang Acep, yang sudah mempunyai istri dan 2 orang anak, harus mengganti perlatannya yang dipakai. Misalnya pahat praktisnya harus diganti setiap 2 minggu. Setiap harinya masing-masing dapat membawa pulang uang sekitar 40 ribu rupiah.<br>
Pekerja penggali pasir dan batu di sepanjang hulu sungai Ciapus ini ada beberapa kelompok. “Sebenarnya kita sudah dilarang oleh Perhutani, tapi bagaimana lagi Pak, ini penghasilan kita satu-satunya”, katanya sambil mengkerutkan dahi. Acep dan kawan-kawannya menyadari bahwa pekerjaannya tersebut merusak lingkungan. Tetapi buat mereka hidup lebih penting dari memelihara lingkungan. Rupanya cara berpikir Acep ini tidak beda dengan para pengusaha besar yang telah merambah hutan dan mengeruk hasil laut. Merekapun terus melaksanakan pekerjaannya dengan aman.<br>
Kalau sedang musim hujan seperti sekarang ini, mereka tidak bisa bekerja setiap hari, karena jalan menuju tempat kerja menjadi licin. Tetapi disisi lain pasir jadi banyak, karena terbawa air dari hulu. “Kalau kemarau kami lebih mudah menuju ke sungai, tetapi pasirnya tidak terlalu banyak”, ujarnya datar. Kita harapkan pemerintah jangan hanya terpaku dengan masalah dunia pemanasan global, tetapi juga memperhatikan kerusakan lingkungan yang dihadapi oleh kita sendiri di tanah air. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 11 Desember 2007<br>
Rahardi Ramelan2008-01-09EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=109REJEKI DARI GAS<br>
<br>
Di musim paceklik seperti sekarang ini pekerjaan di sentra-sentra produksi padi sangat berkurang. Para buruh tanip tanpa ketrampilan tertentupun menyerbu Jakarta dan kota-kota besar lainnya untuk mencari pekerjaan. Kolong jalan layang, jembatan, dan trotoar menjadi tempat mereka mengadu nasib menunggu pemborong, mandor, atau pengerah tenaga kerja mencari mereka. Ditempat tersebut mereka bukan hanya menunggu pekerjaan, melainkan juga tempat mereka tidur dengan alas seadanya dan berselimut langit. Kalau sedang hujan seperti sekarang ini mereka terpaksa mencari tempat untuk bisa berteduh. Kalau rejeki tiba, secara berkelompok mereka bisa bekerja dan mendapatkan sekedar tempat berteduh. Disepanjang jalan di Pondok Indah contohnya, mereka hanya disediakan tenda sederhana untuk bisa melepas lelah, tetapi ada juga proyek yang menyediakan bangunan yang dijadikan mes sebagai tempat menginap. Beberapa pekerja bangunan yang saya temui, ada juga yang bukan pendatang musiman melainkan penduduk Jabodetabek.<br>
Dengan adanya proyek pemasangan pipa gas di sekitar Depok, banyak diperlukan tenaga kerja bangunan ini. Rata-rata mereka mendapat pekerjaan sebagai penggali saluran untuk menempatkan pipa gas. Kemudian saya berbincang dengan salah satu dari mereka, Digin namanya. Pemuda berusia 38 tahun ini, sudah 2 tahun bekerja sebagai pekerja galian. Dengan uangnya sebanyak 65 ribu rupiah, Digin yang mengenyam pendidikan SMP, bisa membeli cangkul dan garpu. Dengan peralatan itulah sekarang ini ia mendapat pekerjaan galian bersama 6 orang rekannya. Karena lokasi proyek berada di Depok, pemborong menyediakan mes untuk mereka tidur di malam hari. Diginpun terpaksa menginap di Depok, meninggalkan istri dan seorang anaknya di Cipaku, Bogor. <br>
Upah yang didapat tergantung dari panjangnya saluran yang mereka gali. Di musim kering tanah menjadi keras, sedangkan dimusim dingin sekarang ini mereka harus bekerja dibawah guyuran hujan. “Sekarang ini kita harus bekerja dalam keadaan basah. Kadang-kadang saluranpun dipenuhi air, sehingga sukar mengerjakannya”, keluhnya. Penghasilan mereka tidak menentu, tergantung keadaan tanah yang dikerjakan. Kadang-kadang mereka dihadapkan dengan lapisan beton atau aspal yang keras, sehingga hasilnyapun berkurang. Setiap hari sabtu mereka sebagai kelompok mendapatkan bayaran, dan Digin membaginya rata dengan rekan-rekannya. Rata-rata Digin dan kawan-kawannya menerima upah setiap hari sekitar 45 ribu rupiah. Setelah dipakai untuk kebutuhan untuk makan dan rokok, setiap hari sabtu mereka bisa membawa pulang rata-rata 150 ribu rupiah.<br>
“Kita selalu meunggu hari sabtu, pak, mandor datang dan membawa upah kita”, katanya sambil tersenyum. Dengan adanya proyek pemasangan pipa gas, untuk beberapa bulan kedepan rejekinya jadi aman. Setiap hari sabtu, Digin selalu menyempatkan pulang kerumahnya di Bogor untuk berkumpul dengan keluarganya. Anaknya yang berusia 16 tahun dan duduk di SMP sangat membutuhkan perhatiannya. “Maklumlah pak sekarang ini banyak godaan narkoba”, ucapnya dengan nada sedih. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 18 Desember 2007<br>
Rahardi Ramelan2008-01-09EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=110SELAMAT DATANG 2008<br>
<br>
Mengakhiri tahun 2007 dan memasuki 2008, negara dan bangsa kita dilanda oleh berbagai musibah. Hujan yang terus-menerus mengguyur menyebabkan luapan air sungai terjadi hampir disemua sungai kita. Longsor dan banjir telah mengsengsarakan rakyat diberbagai tempat. Selain rumah yang terendam, juga ribuan hektar sawah telah tergenang air. Penggundulan hutan, yang menjadi penyebab, terus berlanjut, pembalak liar tetap tidak tersentuh hukum. Siapa yang akan menghentikan mereka? Kesedihan yang dihadapi sebagian masyarakat, tidak menyurutkan pesta penyambutan tahun baru, tahun 2008.<br>
Hotel berbintang, tempat-tempat wisata, mal dan pusat perdagangan menyelenggarakan acara mewh secara besar-besaran bagi mereka yang berkantong tebal. Sedang bagi masyarakat umum Jabodetabek pesta kembang api dipusatkan di lapangan Monas. Tetapi bagi sebagian masyarakat Jabodetabek perubahan tahun dirayakan dirumah-rumah atau dilingkungan RT. Perayaan di rumah-rumah dan lingkungan RT tidak kalah semaraknya. Gerobak dangdut menjadi hiburan utama, tentu dengan harga yang spesial. Walaupun hujan terus mengguyur, perayaan terus berlangsung meriah, bermacam-macam terompet dan kembang api ikut meramaikan.<br>
Keadaan inilah yang dimanfaatkan oleh Jarot, lulusan SMA yang berumur 40 tahun, untuk berjualan kembang api keliling. Usahanya sudah dimuali sejak 4 tahun yang lalu dengan dibantu oleh istrinya yang berjualan kembang api dirumahnya. Untuk usahanya, ia membeli sepeda seken, dan melengkapinya dengan rak, terpal dan tas. Sewaktu itu ia mengeluarkan uang sebesar 250 ribu rupiah. “Saya tidak mengambil keuntungan besar pak. Sekitar 2500 sampai 5000 rupiah untuk setiap paknya”, katanya sambil menyusun barang dagangannya di sepeda. Setiap 2 atau 3 hari ia mendatangani pasar Jatinegara untuk membeli keperluan dagangannya. Satu pak kembang api ia beli dengan harga 15 ribu rupiah, dan dijual 17. 500 kadang-kadang 20 ribu. Sedang untuk mercon air mancur, satu paknya ia beli dengan harga 10 ribu, dan dijual 12.500 rupiah. Mercon air mancur yang besar ia beli dengan harga 3500 rupiah dan dijual 5000 rupiah. “Tahun ini agak sepi, pak, maklum banyak hujan”, sambil mulai mendayung sepedanya kembali. Rupanya pembeli banyak menangguhkan pembelian kembang api untuk merayakan tahun baru sampai hari H, yaitu 31 Desember. <br>
Dengan modal 200 ribu rupiah untuk sekali belanja, setiap hari hasil penjualannya sekitar 60 ribu rupiah. Keuntungan bersihnya rata-rata 27.500 rupiah setiap hari, termasuk hasil penjualan istrinya di rumah. Walaupun sepi, tetapi tahun ini Jarot dan istrinya mendapatkan penghasilan lebih dari hari-hari biasa. Pulang kerumah setelah tengan malam, diawal tahun 2008, Jarot dan istrinya bisa duduk sejenak menikmati kopi panas. Ia mengharap tahu-tahun yang akan datang bisa berdagang barang lain yang lebih membawa keuntungan. Banyak Jarot-Jarot, pengusaha mikro, yang memerlukan bimbingan untuk bisa mendapatkan kredit melalui Kredit Usaha Rakyat yang baru saja diluncurkan oleh presiden SBY. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 8 Januari 2008<br>
Rahardi Ramelan2008-01-31EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=111SAYANG ANAK<br>
<br>
Perusahaan mainan terkenal Amerika, beberapa waktu yang lalu telah menarik jutaan mainan anak-anak buatan Cina dari pasar. Ratusan perusahaan di Cina yang memproduksi mainan anak-anakpun telah ditutup. Yang menyebabkannya adalah pemakaian zat-zat berbahaya baik dalam material maupun cat yang dipergunakan dalam produksi. Bukan hanya mainan yang menggunakan zat berbahaya, melainkan juga pada makanan yang disenangi anak-anak seperti permen atau gula-gula, seperti yang pernah kita alami beberapa waktu yang lalu. Tetapi kasih sayang orang tua kepada anaknya, jarang memperhatikan masalah-masalah seperti ini. <br>
Hari-hari libur panjang, liburan hari raya atau masa liburan sekolah biasanya merupakan rejeki besar bagi pedagang mainan anak-anak. Kita bisa dapatkan mainan anak dihampir semua toko atau warung. Di pusat-pusat perbelanjaan, mal, hiper- dan supermarket, pasar tradisional, sampai di warung-warung kecil mikromarket selalu tersedia mainan anak. Selain itu ada juga pedagang keliling, atau yang mangkal di tempat hiburan atau di halaman sekolah. Bagi masyarakat Jakarta sudah tidak asing lagi pasar tradisional di kawasan Jatinegara yang khusus menjual mainan anak-anak ini. Segala macam mainan tersedia di pasar ini, terutama buatan Cina dan dengan harga yang miring. Seperti halnya pasar grosir lainnya di Jakarta, disinipun pembeli eceranpun dilayani.<br>
Seperti halnya semua pedagang mainan keliling, demikian juga Sunarto asal Sragen, selalu membeli berbagai mainan anak-anak dipasar kawasan Jatinegara tersebut. Susahnya mencari pekerjaan, akhirnya sudah dua tahun ini Sunarto menjadi penjual mainan keliling. Biasanya mangkal di depan salah satu SD di kawasan Cilangkap. Ia memulai usahanya ini dengan modal 150 ribu rupiah, untuk membeli pikulan dan peralatan lainnya, serta berbagai jenis mainan dengan harga 70 ribu rupiah. Ia selalu menyesuaikan barang dagangannya dengan minat anak-anak SD. Sekarang ini sedang banyak digemari mainan jam tangan, mobil-mobilan, dan mainan kaca mata. Mainan jam tangan atau arloji plastik ia beli dengan harga 3500 rupiah dan dijual dengan harga 5000, untuk mobil-mobilan rata-rata ia beli seharga 1500 rupiah dan dijual 2500 rupiah. Untuk mainan kacamata yang dibeli 3500 rupiah, kemudian ia jual dengan harga sampai 5000 rupiah. Selain mainan tersebut juga banyak digemari mainan uang kertas atau duit-duitan mulai nominal 5 ribu sampai 100 ribu. Uang mainan ini dihiasi dengan gambar tokoh-tokoh kartun. Satu kotak yang isinya 5 lembar ia jula denga harga 500 rupiah dan yang 10 lembar harganya 1000 rupiah. Setiap kotak yang 1000 rupiah, Sunarto mengambil untung 500 rupiah. “Saya cuma bisa usaha ini, pak”, kata Sunarto yang hanya tamatan SD tersebut. Penghasilan bersihnya setiap hari hanya sekitar 20 ribu rupiah. “Sementara cukup saja pak karena belum menikah. Tidak tahu nantinya,” kata pemuda yang sekarang ini berusia 23 tahun. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 15 Januari 2008<br>
Rahardi Ramelan2008-01-31EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=112NASI GORENG<br>
<br>
Makanan nasi yang satu ini sangat populer dimana-mana. Di Negeri Kincir Angin juga disebut nasi goreng walaupun bacaannya agak berbeda. Juga di Jerman kalau kita makan di restoran Cina juga namanya nasi goreng. Di Jakarta kita bisa mendapatkannya di seluruh pelosok kota, di trotoar, tempat parkir, pusat perbelanjaan dan mal, restoran, sampai di hotel bintang lima. Jenis nasi gorengpun sangat beragam, misalnya nasi goreng Jawa yang biasanya diberi bumbu kecap, ada juga nasi goreng pete, nasi goreng ikan asin. Kalau di restoran Cina, ada nasi goreng seafood, nasigoreng ayam atau daging sapi. Dimulai di tempat parkir timur Senayan, dikenal nasi gila, tak lain dari nasi goreng yang dicampur dengan telor, daging dan baso. Memang gila rasanya, dan sekarang sudah menjalar kemana-mana. Kalau didaerah Yogya dan Magelang dikenal nasi goreng “magelangan”, nasi goreng dicampur dengan mie goreng. Nasi goreng menjadi pilihan banyak masyarakat. Panas, masak ditempat, serta tidak memerlukan lauk lainnya. <br>
Ibu Wanto, wanita asal Cirebon, sudah sejak tahun 2003 berjualan nasi dan mie goreng untuk menambah penghasilan suaminya. Keluarga yang tinggal di desa Babakan, Depok, setiap hari berjualan, dengan memanfaatkan lahan seluas 2X2 meter persegi yang harus dibayarnya 150.000 rupiah setiap bulannya. <br>
Dengan modal satu juta rupiah bu Wanto, wanita berusia 43 tahun yang memiliki ijazah SLTP, membeli sebuah gerobak, kompor dan peralatan masak, serta bangku dan beberapa buah kursi plastik. Setiap hari dengan uang sebesar 100 ribu rupiah, ia belanja untuk keperluan dagangnya seperti beras, mie, telur dan sayuran lainnya. Setiap hari dengan dibantu oleh seorang keponakannya yang juga lulusan SMP, ia melayani para pelanggannya. Satu porsi nasi dan mie goreng dengan telor ia jual dengan harga 7.000 rupiah, kalau ditambah dengan telor ceplok harganya menjadi 9 ribu rupiah. Selain nasi dan mie goreng, tersedia juga mie rebus dengan harga yang sama. “Alhamdulillah pak, saya setiap hari bisa mendapatkan penghasilan bersih sampai 80 ribu rupiah”, dengan senyumnya khas Cirebon. Dengan kerja kerasnya bu Wanto dapat membiayai dua anaknya yang masih bersekolah di SMP dan SD. Keponakannya yang membantu usahanya mendapat upah harian sebesar 20 ribu rupiah.<br>
“Kalau sedang hujan begini dan dingin di malam hari, penghasilannya lumayan, pak”, katanya sambil terus menyiapkan masakannya. Kemudian bu Wanto menceritakan hari-hari yang kurang menyenangkan di musim kering dan akhir bulan. Kurangnya pembeli dan sukarnya menyimpan sayuran untuk hari berikutnya. Ia mengkhawatirkan dengan naiknya harga tepung terigu akhir-akhir ini, yang otomatis akan menaikan harga mie. Semoga pemerintah peduli dengan masalah yang dihadapi ibu Wanto–ibu Wanto ini. Kita tunggu upaya bapak-bapak di pemerintahan. (rahardi@ramelan.con)<br>
Dimuat do Harian Pos Kota 22 Januari 2008<br>
Rahardi Ramelan2008-01-31EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=113SOTO AYAM MALANG<br>
<br>
Makanan kuah yang satu ini sangat digemari oleh semua kalangan, soto. Kita mengenal berbagai macam soto, ada soto ayam, soto buntut, soto sulung, tetapi ada juga soto yang dikenal karena asalnya seperti soto Ambengan dari Surabaya, soto Bangkong dari Semarang. Juga kita mengenal soto yang membawa nama kota asalnya, seperti soto Betawi, soto Bandung, dan soto Kudus. Soto bisa dimakan sebagai makanan pedamping, tapi juga bisa dicampur dengan nasi.<br>
Hampir lima tahun, ibu Suratmi asal Malang, berjualan soto untuk bisa menghidupi keluarganya. Berjualan dipinggir jalan dengan mempergunakan sebuah gerobak, serta menempati lahan 2X3 meter, yang setiap harinya dipungut bayaran sebesar 2000 rupiah. Bersama suaminya yang sama-sama tamatan SMP, ia membeli peralatan usahanya seharga 700.000 rupiah, termasuk untuk membeli sebuah gerobak dan kompor. <br>
Setiap harinya dengan modal sekitar 100 ribu rupiah, ibu Suratmi berbelanja berbagai bahan untuk dagangannya, termasuk ayam dan telor. Semua persiapan dilakukannya dirumah kontrakannya, dan kemudian suaminya membantu mendorong gerobaknya sampai ketempat mangkal di desa Ciherang, Depok. Pelanggannya sangat beraga, mulai dari anak-anak sekolah, sampai pegawai dari beberapa kantor disekitar temapt mereka jualan. Satu porsi atau satu mangkok soto dijual dengan harga 5000 rupiah, kalau ditambah nasi menjadi 7000 rupiah. Tetapi kalau sekaligus soto dicampur dengan nasi harganya menjadi 6000 rupiah. Bagi mereka yang merasa kurang nasinya, bisa membeli tambahan nasi 2000 rupiah satu porsi. Sedangkan untuk minum hanya disediakan teh pahit panas yang tidak perlu dibayar. Hari-hari biasa hasil penjualannya mencapai 200 sampai 230 ribu rupiah. “Sekarang sih ramai, jadi penghasilannya juga tambah”, katanya sambil melirik kesuaminya. Kalau hari sabtu dan Minggu, penhasilan bu Suratmi bertambah, terutama meladeni mereka yang selesai berolah raga, seperti jalan-jalan, lari, ataupun jogging. Penghasilan bersihnya mencapai 100 sampai 120 ribu rupiah setiap hari. Bagi wanita berumur 37 tahun ini, dengan penghasilan tersebut, bisa membiayai sekolah kedua anaknya. Beberapa bulan yang lalu penghasilannya agak menurun, karena hujan yang hampir setiap hari mengguyur Jabodetabek. <br>
“Sekarang ini susah sekali, pak. Setiap hari harga-harga di pasar naik terus. Bukan hanya kedelai dan terugu, tetapi juga daging ayam dan telor”, sambil terus melayani pelanggannya. Tetapi Ibu Suratmi berupaya tidak menaikkan harga sotonya, tetapi dengan mengurangi sedikit daging dan nasinya. <br>
“Saya ikut sedih mendengar Pak Harto meninggal dunia. Orangnya baik, pak. Kami ikut mendoakan agar beliau diterima oleh Allah SWT”, mengakhiri pembicaraan dengan saya. Mungkin begitulah perasaan para pelaku ekonomi rakyat diseluruh tanah air. SELAMAT JALAN PAK HARTO. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 5 Februari 2008<br>
Rahardi Ramelan2008-03-01EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=114SERAGAM = WIBAWA?<br>
<br>
Pakaian seragam sering menjadi ciri identitas seseorang, dan juga membawakan citra dan prilaku pemakainya. Seragam juga dimaksudkan untuk menciptakan disiplin dan rasa kebersamaan. Partai politik, instansi, perkumpulan, militer, satpam, juru parkir, sekolah dan universitas, serta organisasi selalu dilengkapi dengan pakaian seragam. Perkawinan dan berbagai jenis peringatan biasanya disertai dengan keharusan memakai pakaian seragam. Tetapi sering juga seragam dimanfaatkan untuk menunjukan kewibawaan, seperti tentara dan polisi, gubernur, hansip dan pegawai pemda, satpol pp dan tramtib, satpam dan pengawal. Tetapi kadang-kadang dimanfaatkan juga untuk menunjukan kekuasaan, kekuatan, kesangaran, dan kegarangan. Sisi inilah yang banyak menjadi inspirasi atau menjadi trend anak muda, atau yang merasa muda, untuk memakai pakaian mirip seragam mereka.<br>
Army Look atau seragam mirip tentara, misalnya, banyak digemari oleh anak muda sekarang ini. Bukan hanya mirip seragam TNI, tetapi juga mirip seragam tentara Amerika, Rusia sewaktu masih Uni Sowiet, RRC era Mao Tse Tung, dan Jepang sewaktu perang dunia II. Sekarang mulai muncul juga pakaian Scout Look mirip Pramuka, ataupun mirip pakaian tahanan atau narapidana. Yang berkembang dengan seragam mirip ini ternyata lebih berorientasi untuk menunjukan kekerasan. Dalam bisnis pakaian jadi, berkembang juga trend yang disebut distro, mengembangkan pakaian dengan ciri-ciri khas anak jalanan dan biker, lengkap dengan asesorisnya.<br>
Tapi yang akan saya ceritakan sebetulnya bukan seragam mirip, melainkan bisnis seragam yang sebenarnya, bisnis Kaporlap – Kelengkapan Perorangan Lapangan untuk TNI, Polisi, Satpam, Hansip, Korpri dan yang lainnya. Usaha inilah yang telah ditekuni selama 23 tahun oleh seorang pensiunan TNI, AR, yang sekarang sudah berusia 71 tahun. Dengan memanfaatkan ruangan seluas 4X4 meter di jalan Cibinong, yang dikontraknya dengan harga 13 juta setahunnya, ia berusaha untuk menghidupi keluarganya. “Saya tidak mengambil keuntungan besar, pak. Yang perlu agar pembeli menjadi pelanggan saya”, dengan penuh senyum di raut mukanya yang dihiasi kerut usianya. Untuk sepasang sepatu yang dibeli dengan harga 125 ribu, ia jual 130 ribu, macam-macam atribut misalnya dibeli 17,5 ribu dijual 20 ribu. Sedangkan untuk stelan satpam ia jual dengan harga 160 ribu, hanya mengambil keuntungan 10 ribu. Kalau tanda nama yang dibuat oleh pegawainya dijual dengan harga 15 ribu rupiah. Setiap bulannya pak AR harus membeli barang dagangannya sejumlah 40 sampai 50 juta rupiah.<br>
Dengan usahannya ini, pak AR yang dikurniai 4 orang anak dan 9 cucu, bisa mendapatkan penghasilan bersih setiap harinya sampai 400 ribu rupiah. Dari hari kehari usaha pak AR terus berkembang dan pelangganpun terus bertambah, sehingga saat ini ia mempekerjakan 6 otang tamatan SLTP dan 6 orang lagi tamatan SLTA. Setiap minggunya mereka masing-masing mendapatkan gaji antara 40 sampai 50 ribu rupiah.<br>
Dengan matanya yang berkaca-kaca ia menceritakan kenangannya sebagai prajurit TNI yang pernah menjadi ajudan almarhum Jenderal M. Jusuf. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 12 Februari 2008<br>
Rahardi Ramelan2008-03-01EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=115Tuuuuuuut ……..”Putu”<br>
<br>
Bertanya kekiri dan kekanan, tidak seorangpun dapat menjelaskan dari mana asalnya makanan putu ini. Pejualnyapun sangat beragam, ada yang dari Tegal, Sumatera Barat, tetapi ada juga yang dari Wonogiri. Ada yang berjualan dengan mangkal bersama makanan lainnya, ada juga yang berkeliling dengan menggunakan pikulan.<br>
Sudah menjadi kenyataan bahwa bagi sebagaian besar masyarakat kita yang hidup di pedesaan, sangat sukar untuk mencari pekerjaan untuk dapat menghidupi keluarganya. Kota-kota besar seperti Jakarta dan wilayah sekitarnya, Jabodetabek, selalu menjadi tujuan pencari nafkah dari berbagai daerah. Media koran dan televisi yang mereka tonton di desanya, selalu memberikan gambaran dan harapan akan kehidupan yang lebih baik di kota besar. Ditambah lagi dengan saudara atau kenalannya yang pulang mudik untuk lebaran, selalu menunjukan kelebihan “status ekonomi”-nya dibandingkan dengan mereka yang tinggal di desa. <br>
Demikianlah yang terjadi dengan pak Padmo K, ia meninggalkan desanya untuk mencari rejeki di Jakarta. Delapan tahun yang lalu ia meninggalkan istri yang baru melahirkan dan anak laki-lakinya yang pada waktu itu berumur 7 tahun. Sejak itu pak Padmo berjualan kue putu dengan berkeliling disekitar Depok.<br>
Dengan modal sebesar 300 ribu rupiah, ia membeli perlengkapan seperti pikulan, kompor, jengkok, gerbak dan peralatan lainnya. “SD saja saya tidak tamat, jadi saya berusaha apa adanya”, katanya sambil memandang dagangannya. “Anak saya sekarang sudah berumur 15 tahun dan di SMP, sedang yang kedua berumur 8 tahun dan masih di SD”, ucapnya bangga. Walaupun keadaan ekonominya yang paspasan pak Padmo tetap memperhatikan keluarganya di desa Paci, Wonogiri. Ia berusaha setiap dua bulan pulang kedesanya untuk bertemu dengan istri dan kedua anaknya.<br>
Sekarang ia menempati sewaan di Depok, yang harus dibayarnya 150 ribu rupiah setiap bulannya. “Kalau sedang hujan begini agak susah, terpaksa mangkal. Pembelipun agak berkurang”, sambil membetulkan kompornya. Kemudian ia mengeluh keadaan ekonomi yang semakin jelek. “Cari minyak tanah saja susah, kalaupun ada harganya mahal sekali”, gerutunya.<br>
Untuk usahanya ini setiap hari ia mengeluarkan uang 60 ribu rupiah, yang dipakai untuk membeli beras, kelapa, gula merah dan minyak tanah. Mulai subuh ia sudah mempersiapkan berbagai bahan, dan sore hari mulai berkeliling menelusuri rumah-rumah diberbagai kawasan pemukiman. Beberapa pembeli sudah merupakan langganannya. Kadang-kadang iapun dipanggil borongan untuk sebuah pesta. “Bahagia rasanya, pak”. Iapun berharap selalu ada keriaan atau keramaian lainnya seperti pasar malam, supaya tidak usah keliling. Dengan harga sebuah putu 500 rupiah, dan kalau dagangannya habis, pak Padmo bisa mengantongi 130 ribu rupiah. Sesudah menyisihkan untuk modal dan uang sewa, ia dapat menyimpan uang antara 50 sampai 60 ribu setiap harinya.<br>
Sambil pamitan sayapun membawa 10 buah kue putu yang sudah dibungkus. <br>
Tuuuuuuuuuuut. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 19 Februari 2008<br>
Rahardi Ramelan2008-03-01EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=116IKAN PENOLAK STRESS<br>
<br>
Ada yang dinilai dan dihargai karena bentuknya, tapi ada juga karena warnanya. Bukan hanya itu, kelangkaan dan bentuk sisiknyapun menjadi penentu harga. Tetapi bagi yang menggemari tarung, mereka menyenangi ikan yang penuh keberanian untuk bertarung. Banyak sekali jenis ikan hias yang diburu oleh para penggemarnya. Salah satu pusat perdagangan ikan hias di jalan Barito, sudah rata dengan tanah. Perlawanan para pedagang kecil, menjadi tidak berarti melawan Satpol PP yang tidak jelas profesionalismenya. Barito hilang, untung masih ada tempat-tempat lainnya seperti di jalan Sumenep - Menteng, jalan Johar Baru – Kramat, dan sepanjang kali didekat Pasar Baru. Ikan hias bukan saja dicari oleh penggemar didalam negeri, melainkan juga oleh penggemar di manca negara. Untuk pedagang besar dan pengusaha pengekspor ikan hias, di Rancamaya - Bogor sudah ada Pusat Lelang ikan hias.<br>
Semakin meluasnya penggemar ikan hias, juga bermunculan usaha kecil yang menjual berbagai macam ikan, pakan ikan, dan berbagai macam peralatan aquarium. Demikian juga yang dikerjakan oleh Pepen bersama kawannya yang tinggal di Desa Sukatani, Depok, dengan menyewa kontrakan dengan harga 250 ribu setiap bulannya. Usahanya sebagai penjual ikan hias sudah dilakukannya selama 7 tahun, dengan menyewa sebuah ruangan berukuran 2X3 meter, dengan sewa bulanan 200 ribu rupiah. Untuk melengkapi tempat usahanya itu, Pepen, 30 tahun yang masih bujangan, mengeluarkan uang sebesar 2 juta rupiah. Di tempat usahanya ia dibantu oleh seorang temannya yang sama-sama tamatan SMA. Modal yang pergunakan untuk usahanya tersebut juga berasal dari kawan akrabnya itu.<br>
Tergantung dari jenis dan harganya, ia mengambil keuntungan antara 1000 sampai 10 ribu rupiah untuk setiap ekor ikan. Misalkan ikan yang ia beli dengan harga 5000 rupiah, dijual sampai 7000 rupiah. Demikian juga dengan pakan ikan, bungkusan kecil 1000 rupiah dan bungkusan besar 7000 rupiah, sudah termasuk keuntungan Pompa sirkulasi dijual dengan harga 30 ribu rupiah, untuk itu Pepen sudah mendapatkan keuntungan sebesar 5000 rupiah. Dengan modal tetap sekitar 700 ribu, omset hariannya mencapai 150 ribu. Dari hasil penjualannya tersebut ia mendapatkan keuntungan sekitar 70 ribu rupiah, dan kemudian dibagi dua dengan kawannya. <br>
“Rupanya sekarang ini sedang banyak yang stress, pak. Penghasilan saya jadi lumayan, lebih dari rata-rata”, sambil tersenyum. Kadang-kadang ada yang membeli secara borongan dengan pakan dan berbagai peralatannya, dan hal demikian sangat menggembirakannya. “Kalau sudah kehabisan oksigen, saya jadi rugi, pak. Tapi begitulah nasib orang kecil”, sambil menundukkan kepalanya. Sekarang ini musim adu ikan cupang, Pepenpun mempunyai stock yang cukup banyak. Rupanya bukan saja masyarakat kita yang senang berkelahi dan bertarung antar sesama, melainkan juga dimasyarakat ikan. Lebih buaskah kita daripada ikan cupang? (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 26 Februari 2008<br>
Rahardi Ramelan2008-03-01EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=117ES KRIM SEPEDA<br>
<br>
Menjalani hidup dalam keadaan ekonomi seperti sekarang ini, serba susah. Bagi masyarakat bawah, dari hari kehari, beban hidup terus bertambah dengan melejitnya berbagai harga bahan pokok makan. Kita sering disebut dengan bangsa tempe, karena tempe harganya murah. Tetapi sekarang tempepun sudah mahal, ditambah lagi dengan harga minyak goreng yang meroket, serta terigu yang dibebaskan untuk tidak memakai tambahan zat gizi. Entah siapa yang mengatur negara kita ini? <br>
Krisis yang sudah sepuluh tahun, tetap dijadikan alasannya. Demikianlah krisis yang menimpa nasib Satino, terkena PHK dari sebuah pabrik. Setelah tidak berhasil mencari pekerjaan di pabrik, akhirnya pada tahun 2000 Satino yang waktu itu berumur 29 tahun, memutuskan untuk mulai berdagang. Karena tidak memiliki modal, iapun menghubungi agen penjual es krim dan menjadi penjaja keliling. Di Citeureup agen tersebut mempekerjakan 10 orang penjaja yang rata-rata lulusan SLTA. Mereka dilengkapi dengan sepeda beserta sound system dan terompet mobil, tempat es krim, serta pakaian seragam. Setiap hari ia mengayuh sepeda puluhan kilometer, pagi hari disekitar pasar, dan sore hari menelusuri komplek-komplek perumahan. Satino berjuang keras untuk bisa menghidupi keluarganya serta mendidik 2 orang anaknya yang berumur 8 dan 4 tahun. “Sekolah sekarang mahal, pak. Saya harus terus bekerja, agar anak saya bisa sekolah lebih dari SLTA”, sambil melayani beberapa pemilik kios dipasar Citeureup. Kita semua heran mengapa seorang lulusan SLTA hanya menjadi penjual es krim keliling. Siapa yang salah?<br>
Satino dan penjaja es krim lainnya, mendapatkan komisi dari penjualannya dan keuntungan kalau ia dapat menjual dengan harga yang lebih mahal. Es krim kecil dijual dengan harga 2000 rupiah, sedangkan dari agen harganya 1750 rupiah. Untuk kemasan yang satu liter dengan harga 30 ribu rupiah ia mendapatkan komisi 2000 rupiah. “Hujan yang terus-terusan ini bikin saya repot juga, jadi harus banyak mangkal”. Satino pun mengelukhan jalan yang berlubang dan digenangi air dimana-mana. “Sekarang ini tidak ada aturannya pak, jalan sempit saja dilewati bis dan truk besar”, keluhnya. “Pokoknya bayar kepada preman atau pak Ogah, polisinya tidak tahu kemana”, dengan suaranya yang mendongkol. Kedongkolan Satino mewakili kita semua, melihat kesemrawutan lalulintas hampir disemua pelosok negara ini.<br>
Dengan jerih payahnya, ayah dua anak ini bisa membawa penghasilan antara 40 sampai 50 ribu rupiah setiap harinya, berasal dari keuntungan dan komisi agen. Bagi pekerja harian seprti Satino, selain tekad yang penting adalah sehat, sakit berarti tidak ada penghasilan. Negara ini tidak mengenal jaminan sosial bagi Satino.<br>
Satino dan kawan-kawannya masih mempunyai harapan bahwa tahun ini dan tahun depan akan banyak hiburan dalam rangka Pilkada, Pemilu dan Pemilihan Presiden yang biasanya banyak memberikan keuntungan. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 4 Maret 2008<br>
<br>
Rahardi Ramelan2008-03-28EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=118LELE DUMBO<br>
<br>
Ikan air tawar yang kita makan pada waktu yang lalu, terbatas pada ikan mas, nila, mujair dan gurame. Sedangkan di warung-warung dan kaki lima sering kita disodori dengan menu lele goreng atau pecel lele. Jenis ikan tawar sekarang ini tambah bervariasi, seperti ikan patin, bawal, dan lele dumbo. Sebelumnya bermacam ragam ikan ini hidup bebas dikali, didanau maupun diempang dan setu, tetapi sekarang ini sebagian besar sudah diternakkan dengan berbagai cara. Kegiatan peternakan ikan ini ada yang mengusahakan secara besar, tetapi kebanyakan diusahakan oleh peternak-peternak skala kecil, pelaku ekonomi rakyat. Selain peternak yang membesarkan ikan, ada juga peternak yang khusus hanya menyediakan bibit ikan.<br>
Peternakan dan pembibitan ikan, banyak kita temui di daerah Parung, Bogor. Ditanah seluas 100 meter persegi di Parung, pak Emen membangun 3 buah kolam pembibitan dengan ukuran 2 X 3 meter. Ia mulai usaha pembibitan ikan ini 5 tahun yang lalu, dengan modal satu juta rupiah. Selain untuk pembuatan kolam, ia juga membeli keperluan lainnya seperti ijuk, plastik dan sepasang induk atau biang lele. Pak Emen, yang sekarang berumur 34 tahun, belajar usaha pembibitan dari beberapa pengusaha yang ada di Parung. Diawali dengan biang lele yang ia beli seharga 20 ribu rupiah, ia mnenyuntiknya dan ditunggu samapai bertelur. Sungguh mengagumkan bawa sekali bertelur bisa menghasilkan bibit ikan sebanyak 10 sampai 15 ribu ekor. Dengan dibantu seorang yang masih terikat keluarga, ia merawat bibit ikan itu sampai siap dijual. Ia harus mengeluarkan uang 150 sampai 200 ribu rupiah, untuk memelihara bibit ikan tersebut dan sudah termasuk pembelian pakan. “Saya hanya tamat SD pak, jadi saya belajar dari pengalaman orang lain saja”, seraya menengok wajah saya. Untuk mengurangi resiko dan pengeluaran untuk pakan ikan yang terus melambung harganya, pak Emen yang sudah beristri ini, menjual bibit ikannya yang hanya berumur 1 sampai 10 hari, dengan harga 75 sampai 100 ribu untuk setiap kolam. Biasanya setiap kolam berisi antara 5000 ekor bibit ikan lele. Kadang-kadang ia menjual bibit yang berumur antara 10 dan 20 hari dengan harga untuk setiap kolamnya 150 sampai 175 ribu rupiah. <br>
Dari 3 buah kolam, pak Emen rata-rata setiap 15 hari atau setiap panen bisa mendapatkan penghasilan 450 sampai 500 ribu dan bersih 200 sampai 250 ribu rupiah. Untuk karyawannya yang juga lulusan SD memberikan upah sekitar 80 ribu untuk setiap panennya.<br>
Musim hujan seperti sekarang ini, hasil pembibitannya agak berkurang, banyak yang mati. “Bukan hanya saya yang terkena, tetapi pembibit ikan yang lain juga, pak”, katanya agak lesu. Matahari yang sudah mulai menampakkan wajahnya disekitar Jabodetabek, mudah-mudahan memberikan rejeki kepada pak Emen dan reka-rekannya. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 11 Maret 2008<br>
<br>
Rahardi Ramelan2008-03-28EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=119ADUH MAHALNYA TERIGU!<br>
<br>
Kalau kita masuk ke mal sering disuguhi semerbak wanginya roti yang merangsang selera kita. Berbagai jenis merek roti bersaing dengan kerasnya, dengan berbagai nama “bread”, baik yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri. Penjual roti dan kue lokal dan tradisional yang sudah lama dikenal di Jabodetabekpun masih eksis. Sampai-sampai nama “unyil” pun dipakai untuk menarik pembeli. Suburnya berbagai jajanan yang memakai terigu dan meluasnya pemakaian mi, menyebabkan pemakaian tepung terigu terus meningkat. Kita tidak tahu persisnya kapan terigu mulai banyak dimanfaatkan di Indonesia, karena semuanya harus diimpor. Gandum tidak tumbuh di negeri kita. Meluasnya pemakaian terigu dikalangan masyarakat luas, pemerintah menetapkan untuk memanfaatkan terigu sebagai bahan pangan yang mendapatkan asupan mikro gizi, seperti asam folat, zat besi, berbagai macam vitamin yang diperlukan untuk pertumbuhan balita. Dengan meningkatnya harga tepung terigu akhir-akhir ini, tanpa alasan yang jelas pemerintah mencabut keharusan memberikan asupan mikro gizi kedalam terigu. Sungguh aneh ketetapan pemerintah tersebut, dikala kita membaca berita puluhan balita menderita kekurangan gizi.<br>
Kegemaran memakan roti dan kue ini, bukan hanya menguntungkan produsen, melainkan juga bagi para pedagang, baik kecil maupun besar. Kita sering melihat penjual roti dan aneka ragam kue baik di hiper- dan supermarket, ruko-ruko, maupun di kios-kios pasar tradisional. Demikian juga dengan bu Tumini asal Klaten yang dibantu oleh seorang keponakannya telah berjualan berbagai jajanan kue dan roti sejak tahun 2001, dengan mengkontrak sebuah kios berukuran 2X3 meter di pasar tradisional yang terletak di Desa Sukatani – Depok.<br>
Uang kontrakan kiosnya satu bulan 200 ribu rupiah. Berbagai peralatan untuk usahanya, seperti meja, nampan, kranjang dan lainnya harus ia sediakan, “waktu itu saya beli sekitar satu juta rupiah”. Bu Tumini berjualan untuk membantu suaminya yang menjadi tukang ojek. Setiap harinya ia membeli berbagai jenis kue dan roti dengan harga 200 sampai 300 ribu rupiah. Kue yang dibeli dengan harga 500 rupiah, ia jual dengan harga 700 rupiah. Sebuah kue tart ulang tahun misalnya, ia jual dengan harga 40 ribu, dan sudah mendapatkan keuntungan 10 ribu rupiah. Sedangkan kue bolu yang dibeli dengan harga 15 ribu rupiah, ia jual dengan harga 20 ribu. “Sekarang lumayan, pak. Rejekinya anak yang masih sekolah”, katanya. Bu Tumini mempunyai 3 orang anak yang sudah besar, dan 2 orang cucu. Dengan usahanya ini ia dapat memberi penghasilan kepada keponakannya 20 ribu sehari. Sedangkan Bu Tumini membawa uang pulang setiap hari sebesar 200 – 250 ribu bersih, sudah menyisihkan modal untuk belanja. Hari-hari baiknya kalau ada pesta atau yang ulang tahun, pesanannya selalu banyak. Selain itu biasanya mereka membayar setengahnya dimuka, jadi modalnyapun bertambah. “Sekarang harga kue dan roti mahal, pak. Katanya terigunya sudah mahal”.(rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 18 Maret 2008<br>
<br>
Rahardi Ramelan2008-03-28EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=120REJEKI DARI BURUNG<br>
<br>
Flu-burung yang melanda negara kita beberapa tahun yang lalu hampir membangkrutkan usaha Mas Bagyo, yang sejak tahun 2003 berjualan burung dan pakan burung. Sebelumnya berbagai upaya telah dilakukannya dalam mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Tetapi perekonomian sekarang ini samasekali tidak berpihak kepada masyarakat wong cilik. Ijazah sekolah umum seperti SLTP hampir tidak mempunyai arti bagi mereka. Demikianlah nasib Mas Bagyo, asal Bantul Yogyakarta, dengan ijazah SLTPnya ia memulai usahanya sebagai penjual burung dan pakannya.<br>
Rumah kontrakan berukuran 3X8 meter, ia jadikan seperti RUKO, untuk jadi tempat usahanya itu. Ia memilih rumah kontrakan dijalan yang strategis di Depok, dengan harga sewa 4 juta untuk satu tahun. Dengan uang tabungan dan hasil penjualan perhiasan yang dimilikinya ia membeli berbagai peralatan seperti etalase dan rak dari aluminium, bok tempat jangkrik, dan berbagai jenis sangkar burung, semuanya seharga 3 jta rupiah. “Sekarang penjualannya lumayan, pak. Mungkin banyak yang stress”, katanya. Benar juga pendapat Mas Bagyo, yang terpaksa meninggalkan istri dan dua anaknya di Bantul, bahwa banyak orang yang stress mencari obat penenang dengan memelihara burung. Ia, dengan dibantu oleh seorang juga datang dari Bantul, memanfaatkan ruangan 3X4 meter untuk usahanya ini.<br>
Yang paling banyak dibeli pelangganannya ialah pakan burung. Merek “Top Son” yang dibeli dengan harga 3.800 dan merek “Fantasy” 3.500 rupiah, ia jual dengan harga 5000 rupiah. Biasanya ia membeli jangkrik satu box yang berisi 100 ekor jangkrik besar, kemudian dijual dengan harga 1000 rupiah untuk setiap 15 ekor. “Lumayan untungnya kalau jualan jangkrik”, ucapnya gembira. Yang banyak dicari juga kroto, yang dibelinya dengan harga 70 ribu rupiah untuk satu kilonya dan dijual seharga 90 ribu. Selain pakan burung Mas Bagyo juga menjual sangkar burung berbagai ukuran. Tetapi persediaannya terbatas, yang ukuran kecil ia jual dengan harga 30 ribu dan ukuran besar 40 ribu rupiah. “Saya mengambil keuntungan dari penjualan sangkar ini antara 10 sampai 15 ribu rupiah”.<br>
Tidak ketinggalan ia juga menjual burung, untuk ini modalnya agak besar. Untuk seekor burung jalak suren ia harus mengeluarkan uang sampai 425 ribu rupiah, tetapi keuntungannya bisa mencapai 50 ribu rupiah. Untuk perkutut lokal yang dibelinya dengan harga sekitar 250 sampai 300 ribu rupiah, Mas Bagyo mendapatkan keuntungan sekitar 50 ribu. Sedangkan untuk perkutut Bangkok, ia bisa mendapatkan keuntungan sampai 200 ribu rupiah setiap ekornya. “Perkutut Bangkok seperti yang disana, harganya satu juta lebih pak”, sambil menunjuk sangkar besar dipojok ruangan. <br>
Hasil penjualannya pada hari Sabtu dan Minggu mencapai 1,2 samapi 1,5 juta, sedangkan hari kerja biasa sekitar 600 ribu rupiah. Penghasilan bersihnya rata-rata setiap hari sekitar 300 ribu rupiah, sedangkan karyawannya mendapat upah bulanan sebesar 350 ribu rupiah. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 11 Maret 2008<br>
<br>
Rahardi Ramelan2008-03-28EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=121ADUH MAHALNYA TERIGU!<br>
<br>
Kalau kita masuk ke mal sering disuguhi semerbak wanginya roti yang merangsang selera kita. Berbagai jenis merek roti bersaing dengan kerasnya, dengan berbagai nama “bread”, baik yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri. Penjual roti dan kue lokal dan tradisional yang sudah lama dikenal di Jabodetabekpun masih eksis. Sampai-sampai nama “unyil” pun dipakai untuk menarik pembeli. Suburnya berbagai jajanan yang memakai terigu dan meluasnya pemakaian mi, menyebabkan pemakaian tepung terigu terus meningkat. Kita tidak tahu persisnya kapan terigu mulai banyak dimanfaatkan di Indonesia, karena semuanya harus diimpor. Gandum tidak tumbuh di negeri kita. Meluasnya pemakaian terigu dikalangan masyarakat luas, pemerintah menetapkan untuk memanfaatkan terigu sebagai bahan pangan yang mendapatkan asupan mikro gizi, seperti asam folat, zat besi, berbagai macam vitamin yang diperlukan untuk pertumbuhan balita. Dengan meningkatnya harga tepung terigu akhir-akhir ini, tanpa alasan yang jelas pemerintah mencabut keharusan memberikan asupan mikro gizi kedalam terigu. Sungguh aneh ketetapan pemerintah tersebut, dikala kita membaca berita puluhan balita menderita kekurangan gizi.<br>
Kegemaran memakan roti dan kue ini, bukan hanya menguntungkan produsen, melainkan juga bagi para pedagang, baik kecil maupun besar. Kita sering melihat penjual roti dan aneka ragam kue baik di hiper- dan supermarket, ruko-ruko, maupun di kios-kios pasar tradisional. Demikian juga dengan bu Tumini asal Klaten yang dibantu oleh seorang keponakannya telah berjualan berbagai jajanan kue dan roti sejak tahun 2001, dengan mengkontrak sebuah kios berukuran 2X3 meter di pasar tradisional yang terletak di Desa Sukatani – Depok.<br>
Uang kontrakan kiosnya satu bulan 200 ribu rupiah. Berbagai peralatan untuk usahanya, seperti meja, nampan, kranjang dan lainnya harus ia sediakan, “waktu itu saya beli sekitar satu juta rupiah”. Bu Tumini berjualan untuk membantu suaminya yang menjadi tukang ojek. Setiap harinya ia membeli berbagai jenis kue dan roti dengan harga 200 sampai 300 ribu rupiah. Kue yang dibeli dengan harga 500 rupiah, ia jual dengan harga 700 rupiah. Sebuah kue tart ulang tahun misalnya, ia jual dengan harga 40 ribu, dan sudah mendapatkan keuntungan 10 ribu rupiah. Sedangkan kue bolu yang dibeli dengan harga 15 ribu rupiah, ia jual dengan harga 20 ribu. “Sekarang lumayan, pak. Rejekinya anak yang masih sekolah”, katanya. Bu Tumini mempunyai 3 orang anak yang sudah besar, dan 2 orang cucu. Dengan usahanya ini ia dapat memberi penghasilan kepada keponakannya 20 ribu sehari. Sedangkan Bu Tumini membawa uang pulang setiap hari sebesar 200 – 250 ribu bersih, sudah menyisihkan modal untuk belanja. Hari-hari baiknya kalau ada pesta atau yang ulang tahun, pesanannya selalu banyak. Selain itu biasanya mereka membayar setengahnya dimuka, jadi modalnyapun bertambah. “Sekarang harga kue dan roti mahal, pak. Katanya terigunya sudah mahal”.(rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di Harian Pos Kota 25 Maret 2008<br>
<br>
Rahardi Ramelan2008-05-25EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=122KETOPRAK YANG DIMAKAN<br>
<br>
Hari Sabtu pagi, setelah sarapan saya bersama tetangga membersihkan halaman dan jalan desa. Maklumlah hidup disebuah desa pinggiran Jakarta, Depok dan Bogor, gotong royong masih menjadi kebiasaan. Lain halnya dengan kehidupan politik yang saling mengganjal dan menjegal, apalagi menghadapi Pilkada dan Pemilu. Para elit politik sudah enggan memikirkan kehidupan masyarakat yang harus berjuang sendiri menghadapi dan mengakali minyak tanah yang semakin langka dan mahal, harga minyak goreng yang melambung, harga beras yang mulai merayap naik. <br>
Sambil minum dan ngobrol, berbagai tukang makanan menjajakan jualannya dengan berbagai cara, kupat sayur, bubur kacang ijo, juga ketoprak. Kemudian semuanyapun sepakat untuk istirahat sambil menikmati ketoprak.<br>
Irfan yang sudah dua tahun tinggal dilingkungan desa kita, sejak awal berdagang ketoprak keliling memakai gerobak beroda, yang sekarang ini harganya sekitar 2 juta rupiah. Pemuda berusia 29 tahun, asal Brebes ini sudah berkeluarga dan mempunyai seorang anak. Ia menyelesaikan pendidikannya di sebuah pesantren di jalur selatan Jawa Timur di Glenmor. Dengan uang yang dimilikinya ia menyewa tempat kontrakan 450 ribu rupiah sebulan. “Tempatnya lumayan pak. Ada kamar tamu, kamar tidur, dapur dan kamar mandi”, katanya sambil terus menggoreng tahu. “Pakai minyak apa itu, curah ya?”, tanya saya sambil menunjuk kepenggorengan. Sejak awal berdagang ketoprak, Irfan sudah menggunakan minyak goreng kemasan walaupun harganya sekarang mencapai 14.500 untuk satu liter. “Saya memperhatikan rasa pak”, ujarnya. Iapun menceritakan bagaimana ia harus menghadapi harga minyak tanah yang mencapai 7.500 satu liternya. “Ganti saja dengan gas, lebih bersih”, komentar saya. Irfanpun menjelaskan bahwa proses memasaknya tidak memungkinkan memakai gas. Sayapun diam, tidak mengerti bagaimana cara memasak lontong dan tahu untuk ketoprak. “Harga tidak naik,pak. Tapi ganti”, katanya sinis.<br>
Ia menjual ketoprak dengan harga 3000 rupiah untuk satu piring, kalau tambah tahu menjadi 4000 rupiah. Setiap harinya ia belanja bahan makanan dan keperluannya rata-rata 100 ribu rupiah. Kalau laku semua ia mendapatkan penghasilan 300 ribu rupiah. “Saya sih tidak mengeluh pak. Tapi bagaimana pemerintah ini. Rakyat dibiarkan sendiri menghadapi harga yang semakin gila”, mukanyapun berubah. Masyarakat seperti Irfan sangat merasakan beban hidup yang semakin berat. Sebab itu ia berusaha untuk mendapatkan pasar dengan pendekatan pemasaran pintu ke pintu. Ia mengetok pintu rumah langganannya, didaerah Sukatani dan Harjamukti. “Paling susah melayani yang pacaran malam-malam. Pesannya hanya satu piring untuk berdua, tapi makannya lama sekali. “Pak Walikota pernah juga memborong pak. Pesan 1000 porsi dengan harga 4000 satu porsinya. Rejeki pak, saya tidak usah keliling”. Hari yang paling jelek yang pernah ia alami, hanya mendapatkan 150 ribu rupiah. “Sudah paling mentok pak, tetapi syukur saya masih diberi rejeki oleh NYA”, ucapnya dengan logat Tegalnya. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 1 April 2008<br>
<br>
Rahardi Ramelan2008-05-25EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=123SAKAZAKII BAWA SIAL<br>
<br>
Pada bulan Februari 2008 yang lalu, ibu-ibu dibuat kebingungan dengan pengumuman Tim Peneliti salah satu perguruan tinggi tentang ditemukannya bakteri Sakazakii dibeberapa susu formula. Masyarakat banyak mempertanyakan mengenai Sakazakii tersebut, apakah bakteri itu berasal dari Jepang. Tidak adanya penjelasan dari pemerintah, ibu-ibupun mulai menghindari pemberian susu formula untuk bayinya. Pemerintahpun terkesan diam dan membisu. Bukannya menyelesaikan masalah, malah saling tuding diantara berbagai instansi pemerintah dan perguruan tinggi. Sepertinya sudah membudaya. Rupanya kepentingan rakyat bukan lagi menjadi prioritas mereka, melainkan yang utama adalah kepentingan instansi atau pribadi. Sungguh satu prilaku yang menyedihkan. Di Amerika kejadian mengenai keberadaan bakteri Sakazakii didalam susu formula pernah juga terjadi ditahun 2002. Akibatnya beberapa jenis susu formula pada waktu itu telah ditarik dari pasar negara paman Sam.<br>
Implikasi masalah pencemaran bakteri Salazakii dalam susu formula, bukan hanya mempengaruhi pasar susu formula dan kebingungan para ibu, melainka juga mempengaruhi penjualan susu murni. Masalahnya pemerintah tidak pernah memberikan penjelasan yang tegas mengenai kasus tersebut. Inilah yang dialami oleh saudara Dodo, asal Klaten, yang sejak tahun 2002 berjualan susu murni dengan berkeliling. “Gara-gara Sakazakii yang beli susu berkurang, tapi untuk sekarang mulai membaik, walaupun belum pulih seperti semula”, sambil mengerutkan dahinya. Dengan beberapa rekannya seprofesi, Dodo yang kini berusia 43 tahun, berjualan susu murni dengan berkeliling. Ia bekerja untuk seorang agen bersama 10 orang rekannya, yang rata-rata tamatan SD atau SLTP. Sepeda becak, box serta peralatan lainnya, disediakan oleh agen. Demikian juga barang dagangan didapat dari agen, susu dengan aneka rasa yang didapat dari agen 1500 rupiah, ia jual 2000 rupiah. Sedangkan susu murni tawar, untuk botol setengah liter ia jual dengan harga antara 3500 dan 4000 rupiah, sedangkan harga agennya 3000 rupiah.<br>
“Modalnya hampir tidak ada, pak. Tekad, tenaga dan kepercayaan hanya itu modalnya”, iapun menjelaskan. Pak Dodo bekerja setiap harinya 12 jam, mulai pukul 6 pagi sampai pukul 6 sore. Omsetnya satu hari rata-rata 120 sampai 140 ribu riah, jadi setelah dipakai untuk makan ia membawa uang pulang sebesar 25 sampai 40 ribu. “Harus dipas-paskan untuk keperluan keluarga”, dan kemudian Pak Dodo menceritakan mengenai keluarganya, dengan 5 anak dan seorang cucu. “Yang tinggal dengan saya tinggal 3 orang yang masih sekolah”. <br>
Kemudian iapun mengeluhkan mengenai harga keperluan sehari-hari yang terus tambah mahal. “Disuruh pindah pakai LPG, LPG menjadi mahal dan menghilang. Musim panen harga gabah di petani anjlok, lucunya harga di pasar naik. Rakyat seperti saya ini jadi bingung pak”, sambil menunduk. “Siapa sih yang pro rakyat”. Sayapun terdiam, sambil mengusap dada, dan semoga penyelesainnya tidak harus menunggu sampai 2009. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 8 April 2008<br>
<br>
Rahardi Ramelan2008-05-25EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=124SARIMIN TERUS BERAKSI<br>
<br>
Bulan Nopember 2007 yang lalu, masyarakat Jakarta, menikmati pertunjukan “Sarimin”, monolognya Si Butet Yogya di Taman Ismail Marzuki, yang sebelumnya telah menghibur kota kelahirannya Yogyakarta. Pertunjukan berupa parodi politik ini, khususnya yang menyangkut carut marutnya hukum di negeri tercinta ini, kemudian mendapat larangan pentas di Surabaya, walaupun sebelumnya sempat pentas di kota pahlawan tersebut pada bulan Desember. Berbagai pertunjukan, baik pentas maupun tv, dan tulisan parodi politik, dinegara kita ini, masih sukar diterima oleh para elit politik atau penguasa. Sering diterima sebagai penghinaan atau keritik ngawur. Sarimin adalah nama yang sudah melekat pada pelaku utama pertunjukan topeng monyet, yaitu seekor monyet. Sarimin tunduk kepada perintah bos-nya, dan permainan diatur dan disesuaikan dengan jumlah uang yang diterima atau dijanjikan. <br>
Pertunjukan topeng monyet keliling ini masih banyak dijumpai di sekitar Jakarta. Mereka menelusuri jalan-jalan sempit, sumpek dan padat, atau beraksi disekitar pasar tradisional dan pusat keramaian seperti terminal bis dan angkot. Merekapun sering berkeliling di komplek perumahan atau disekitar gedung sekolah SD. Dalam keadaan ekonomi seperti sekarang ini, dimana harga serba mahal, dan langkanya lapangan kerja, pekerjaan apapun akan dilakukan untuk dapat mempertahankan hidup.<br>
Demikianlah yang dilakukan oleh Koko bersama 2 orang kawan sekampungnya. Sejak empat tahun yang lalu, mencari penghasilan dari topeng monyet. Dengan modal sekitar 500 ribu rupiah, ketiga pemuda jebolan SMP dan SD ini, membeli berbagai peralatan seperti gamelan, drum, gendang, serta berbagai peralatan mainan. Monyet dibeli dikampung mereka dengan harga 50.000, yang kemudian dilatih selama 3 bulan.<br>
Mereka menempati rumah kontrakan dengan sewa 250 ribu per bulannya. Setiap hari, dengan membawa uang 25 ribu untuk makan dan rokok, mulai dari pagi hari mereka menyusuri jalan-jalan sempit, mengitari komplek perumahan, dan nongkrong di terminal atau pasar tradisional. Kembali kerumah sekitar pukul 6 malam.<br>
Sekali tanggap mereka dibayar antara 15 sampai 20 ribu rupiah, sedangkan kalau saweran, masing-masing membayar 5 sampai 10 ribu rupiah. “Sekarang ini sedang sepi pak”, kata Koko yang ditemui disekitar Pasar Cimanggis. Banyaknya mainan murah buatan Cina, dan adanya tempat-tempat Play Station sampai didesa-desa, menyebabkan penghasilan mereka berkurang. Pendapatan setiap hari dibagi tiga, setelah dikurangi untuk uang jalan besok, serta uang untuk sewa dan makan. Ketiga pemuda yang berumur sekitar 25 tahun dan masih lajang tersebut, masih bisa menyisihkan penerimaan bersih setiap harinya sampai 25 ribu rupiah.<br>
“Kalau ditanggap hasilnya lumayan pak. Kadang-kadang diberi makan lagi. Tetapi kalau lagi saweran, mereka biasanya minta macam-macam, tapi sawerannya pelit. Bikin dongkol, pak”, ungkap Koko dengan diiringi tawa teman-temannya.<br>
Kapankah topeng-topeng monyet dan Sarimin-Sarimin di dunia politik kita akan berhenti beraksi? (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 6 April 2008<br>
<br>
Rahardi Ramelan2008-05-25EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=125KOMIDI PUTAR <br>
<br>
Taman hiburan Ancol dengan berbagai atraksinya, bukan lagi monopoli tempat hiburan di Jakarta. Berbagai tempat rekreasi besar dan mewah, seperti Water Bom sudah banyak disekitar Jakarta. Untuk masuk ketempat rekreasi semacam itu, tarif yang dikenakan, jauh melebihi penghasilan harian para pelaku ekonomi rakyat. Oleh karena itu berbagai macam hiburan keliling di pinggiran kota, selalu dikerumuni anak-anak. Odong-odong, sarimin, komidi putar dan yang lainnya masih merupakan usaha yang dapat memberikan penghasilan untuk bisa melanjutkan hidup.<br>
Demikian juga yang dilakukan oleh Mi., Ma. dan Ya., yang bertetangga di Indramayu, sejak tahun 2001, mereka menyelenggarakan komidi putar keliling. Dengan bermodalkan uang sebesar 3 juta rupiah, mereka membuat peralatan komidi putar mini yang horisontal, dan melengkapinya dengan tape recorder yang memakai accu, untuk memutar lagu-lagu yang digemari. Tergantung dari ramainya anak-anak yang berminat dengan hiburan tersebut, mereka menetap disatu lokasi antara 2 sampai 5 hari. Setiap hari mereka harus membayar sewa lahan untuk menempatkan peralatannya sekitar 20 ribu rupiah. Komidi putar mini yang mereka miliki berdiameter 5 meter, dengan 10 tempat duduk dengan bermacam-macam bentuk. <br>
Berangkat dari rumah yang dikontrak dengan harga sewa 300 ribu rupiah per bulan, mereka mulai bekerja pukul 8 pagi dan baru kembali sekitar pukul 9 malam. Anak-anak pemakai komidi putarnya hanya dipungut biaya seribu rupiah. Dari kerja kerasnya mereka bisa mendapatkan pendapatan antara 120 sampai 150 ribu rupiah setiap harinya. Dari penghasilan tersebut harus disisihkan 20 sampai 40 ribu untuk keperluan mengisi accu dan keperluan makan dan minum hari berikutnya. “Lumayan pak, bisa meyisihkan 30 ribuan setiap hari”, kata Mi sambil terus menghitung uang penghasilannya untuk hari itu.<br>
Setiap bulan mereka bersama-sama pulang kekampungnya untuk membawa hasil pekerjaannya untuk istri dan anak-anak mereka. Mi mempunyai 3 orang anak, Ma dua orang, sedangkan Ya baru mempunyai 1 orang anak. Bisanya mereka tinggal di kampung paling lama 5 hari. <br>
Umur mereka sekitar 40 tahun, hanya Ma. yang berpendidikan SMP, sedangkan dua lainnya berpendidikan SD. “kalau pekerjaannya begini, tidak ada bedanya tamat SD atau SMP”, jelas Mi. sambil melirik kedua kawannya yang mengangguk tanda menyetujuinya. Selain pendidikan, bagi mereka yang lebih penting lagi adalah pekerjaan. Itulah yang dirisaukan juga oleh mereka dalam mendidik anak-anak mereka. “Saya sih kalau mampu dan diberi rejeki inginnya anak-anak bisa jadi sarjana, pak. Supaya penghasilannya bagus, tidak tanggung-tanggung seperti tamatan SMP atau SMA”, kata Ya. menyambung penjelasan kawannya.<br>
Bagi mereka musim liburan yang paling membahagiakan, “Banyak anak-anak yang naik, pak. Sekarang ini sedang sepi”. Apalagi sekarang ini sudah banyak saingan, seperti komidi putar vertikal, yang lebih digemari”, lanjut Ya. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 13 Mei 2008<br>
<br>
Rahardi Ramelan2008-05-25EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=126DUNG, DUNG, DUNG<br>
<br>
Dung, dung, dung. Bunyi bonang yang sengaja dipukul dengan keras, terdengar dijalan-jalan sempit dan gang disekitar pemukiman SSSSS, yang penuh dengan rumah petak sewaan. Anak-anak kecilpun berhamburan keluar rumah, mendekati gerobak becak Pak Karso yang berjualan es putar. Anak-anak yang menggunakan beragam jenis dan warna pakaian, ada yang telanjang dada, ada yang ingusan, meramaikam pemandangan. Kebanyakan mereka adalah anak-anak yang belum bersekolah, masih balita. Masa depan bangsa, menjadi modal SDM kita yang produktif di tahun 2030.<br>
Begitulah gambaran kehidupan masyarakat kita di lingkungan pemukiman padat, baik yang direncanakan seperti Rusunami, tapi juga yang tumbuh liar disekitar Jabodetabek. Hampir semuanya memanfaatkan air tanah dengan sumur pompa, PLN kebanyakan sudah menjangkau mereka. Saluran air limbah, tidak jelas bermuara kemana. Didepan rumah dan dijendela-jendela bergantungan jemuran pakaian. Setiap pedagang jajanan lewat, dengan berbagai bunyi dan musik yang dipakainya, akan menarik kelompok anak-anak kecil berlarian keluar rumah mereka. Gang Kelinci seperti yang dilantunkan Lilis Suryani tahun 60-an, sudah berada dimana-mana sekitar kita. Penuh dengan anak-anak seperti anak kelinci. Jakarta sudah penuh sesak dengan anak-anak, pemuda, pengangguran, dan pensiunan yang tidak produktif. Tetapi keadaan demikian tidak menggentarkan para pelaku ekonomi rakyat, bukan pengusaha karena tidak memiliki NPWP, untuk terus menghidupi keluarganya.<br>
Pak Karso, yang penjual es puter atau es dung-dung, sudah 28 tahun menekuni usaha ini. Bersama istrinya, bapak dari tiga anak asal Klaten, menempati kontrakan dibelakang sebuah pasar. Ketiga anaknya sudah dewasa dan bekerja bersama sebuah grup hiburan keliling dibeberapa pasar malam. Demikian juga pak Karso, kadang-kadang untuk mendapatkan tambahan, bekerja ditempat yang sama. ?Lumayan ada tambahan, pak?, sambil terus menyiapkan es puter dirumahnya, yang dikontrak 300 ribu setiap bulannya. Setiap hari ia menyisihkan 100 ribu rupiah dari penghasilannya, untuk membeli berbagai bahan baku es puter, seperti kelapa, hun kue, tepung dan dua macam buah. ?Sekarang ini saya pakai stroberi dan durian, pak?! Menyiapkan jualannya, pak Karso selalu dibantu istrinya, yang tidak pernah mengenyam pendidikan. <br>
Pak Karso, yang tamatan SR, menjual es puternya dengan harga 1000 rupiah untuk gelas kecil dan 2000 rupiah gelas besar. ?Tapi saya kadang-kadang terpaksa menjual 500an, melayani anak-anak yang nangis minta es?, sambil tersenyum. Di komplek perumahan dan bagi yang sedang mengadakan pesta, ia sering melayani pesanan dengan termos. Satu termos dengan isi untuk 300 gelas, dijual dengan harga 300 ribu rupiah, minimum pesan 2 termos. Rata-rata setiap hari ia bisa mendapatkan sekitar 180 ribu rupiah, setelah dipotong modal dan uang rokok, sisanya diserahkan kepada istrinya. <br>
?Sekarang sedang banyak orang hajatan, pak. Rejekipun jadi tambah?. Semoga tahun ini pak Karso penghasilannya bisa bertambah, banyak kampanye partai-partai politik menjelang Pemilau dan Pilpres. ?Pak nanti Pemilu mau memilih apa?, tanya saya iseng. ?Saya tidak tahu, pak. Ikut yang lain aja?, katanya tidak bersemangat. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 6 Jan 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=127ONDE-ONDE TERTAWA<br>
<br>
Yang tetap bundar bukan hanya bola, tetapi juga onde-onde masih tetap bundar. Selain onde-onde masih banyak jajanan atau snack tradisional yang memiliki penggemar. Kerak telor, arum manis, odading atau bolang baling, kueh cubit, untir-untir dan masih banyak lagi. Ada juga onde-onde versi lain, onde-onde tertawa atau gelek kata orang Semarang. Dengan berkembangnya berbagai toko kue wara laba seperti gurita, banyak jajanan tradisional kita tersisihkan. Waralaba dengan berbagai nama .....bread......., menempati lokasi-lokasi strategis di mal dan pusat perbelanjaan. Para pedagang jajanan tradisionalpun semakin tergerus.<br>
Walaupun demikian Jakarta masih terus mempesona dan menjadi magnet para pendatang dari seluruh penjuru nusantara, terutama dari daerah padat penduduk seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Demikian juga dengan Mas Gun, pria asal Brebes, yang sudah beberapa tahun menetap di Desa Sukatani Depok. Bersama seorang istri dan dua orang anaknya yang masih kecil, ia menempati rumah yang dikontraknya 300 ribu rupiah satu bulan. Dua tahun yang lalu ia di PHK dari sebuah pabrik didekat Cibinong. ?Beberapa kenalan saya sekarang juga kena PHK, pak. Sedang krisis rupanya?, mencoba menyakinkan saya. <br>
Sejak di PHK, ia bersama istrinya membuat onde-onde, dan menjualnya dengan menggunakan gerobak dorong. Dengan memanfaatkan uang simpanannya sebanyak 1,5 juta rupiah, Mas Gun melengkapi peralatan usahanya seperti kompor dan wajan termasuk membeli gerobak dorong. Mulai siang hari ia berjualan dikompleks perumahan sekitar Desa Harjamukti dan Sukatani. Sedangkan adonan untuk onde-onde sudah disiapkan oleh istrinya, yang juga berbelanja bahan ke pasar. Onde-onde ukuran kecil dijual dalam kemasan plastik berisi 20 buah dengan harga 2500 rupiah, sedang ukuran besar dengan kemasan berisi 5 buah dijualnya dengan harga 5000 rupiah. Pria yang berpendidikan SMP dan demikian juga istrinya, mengaku bahwa penghasilan kotornya setiap hari sekitar 140 sampai 160 ribu rupiah. ?Sekarang ini sedang sepi, pak. Orang-orang lebih senang pergi ke mal sambil jalan-jalan dan membeli kue?, katanya tidak bersemangat. Biasanya penghasilan Mas Gun akan bertambah, kalau ada ibu-ibu yang menyelenggarakan arisan atau pengajian, mas Gunpun tidak usah mendorong gerobaknya kemana-mana. Iapun berharap akan banyak arisan dan pengajian di tahun 2009 ini.<br>
?Semua penghasilan saya serahkan kepada istri saya. Ia belanja setiap pagi ke pasar, membeli terigu, kacang ijo, dan wijen?, melanjutkan ceritanya. Untuk bahan dagangan istrinya mengeluarkan uang setiap hari sekitar 60 ribu rupiah. ?Semoga tahun ini dan seterusnya tambah baik, ya pak. Saya perlu menyekolahkan anak?, ucapnya lirih sambil menata dagangannya. Mungkin Mas Gun tahu bahwa ada krisis yang akan berdampak kepada usahanya, tetapi ia tetap berharap untuk bisa menenangkan gejolak pikirannya. Sayapun berharap bahwa para calon pemimpin yang sedang rebutan kursi sekarang ini, mempunyai gagasan untuk memperbaiki kehidupan para pelaku ekonomi rakyat seperti Mas Gun. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 13 Jan 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=128BAKPIA<br>
<br>
Saya sudah berkunjung kembali ke Yogya, inilah oleh-olehnya. <br>
Hampir semua wisatawan domistik atau yang sering disebut wisnus, kalau berkunjung ke Yogja sering mencari oleh-oleh makanan khas Yogya. Bukan hanya gudeg atau buah sukun, tetapi antara lain juga bakpia. Selain dipusat belanja oleh-oleh, kita juga bisa langsung ke daerah lingkungan produksi dan pengrajin bakpia. Menyusuri sebuah jalan di Pathok ? Yogya, berderet toko penjual dan produsen bakpia, mereka hanya dibedakan dengan penggunaan angka yang berbeda, seperti Bakpia 25, Bakpia 55 ataupun Bakpia 77 dan masih banyak angka lainnya. Angka-angka tersebut kebanyakan mencermikan nomer rumah atau toko yang ditempati. Karena lokasinya di Pathok tersebut, maka bapia dari Yogya lebih dikenal dengan nama Bakpia Pathok.<br>
Jangan kaget kalau industri bakpia ini sudah meluas kebanyak daerah disekitar Yogya, bukan hanya di Pathok, melainkan antara lain ke Gunung Kidul. Pak Adi sudah sejak tahun 2000 memproduksi bakpia, sebagai industri rumah tangga, dirumahnya di Karang Duwet, Karang Mojo ? Gunung Kidul. Dengan modal sekitar 2 juta rupiah yang ia kumpulkan sewaktu bekerja dipabrik bakpia di Pathok, ia memulai usahanya dan memakai nama ?Barokah?. ?Sebetulnya saya berpendidikan STM, pak. Tapi rupanya bakpia ini yang memberikan berkah?, katanya santai. Anak pak Adi yang besar, 29 tahun, masih kuliah disebuah PTS dan yang kedua umurnya 23 tahun. ?Mudah-mudahan mereka akan bernasib lebih baik?.<br>
Ia memproduksi bakpia dan menjualnya dalam kemasan kotak doos. Yang berisi 27 buah, ia jual dengan harga 7000 rupiah, sedangkan doos yang agak besar dengan isi 32 buah, harganya 10 ribu rupiah. ?Sekarang ini pembelinya sedang banyak, pak? sambil tersenyum. Dengan dibantu 4 orang karyawan yang semuanya adalah keponakannya sendiri. ?Kasihan mereka, pak. Banyak yang menganggur, sedangkan mereka adalah tamatan SMU, SMK, dan ada yang STM?, katanya sambil menunjuk kesalah seorang dari mereka. Mereka setiap hari masing-masing mendapat upah 15 ribu rupiah, tetapi kalau sedang banyak pekerjaan mereka mendapat uang ekstra.<br>
Setiap hari pak Adi rata-rata mengeluarkan uang 200 ribu untuk membeli berbagai kebutuhan produksi, terutama tepung kacang hijau. Dari hasil penjualan bakpia, ia mendapatkan 450 ribu setiap hari. Kalau sedang musim liburan dan lebaran hasilnya lebih banyak. Sesudah dikurangi ongkos produksi dan lain-lain, pak Adi bisa menyisihkan bersih sekitar 160 ribu rupiah. ?Kadang-kadang ada yang pesan, tetapi tiba-tiba dibatalkan. Sedih kalau begitu, Pak?, katanya lirih. Mudah-mudahan menjelang Pemilu ini partai-partai politik bisa memanfaatkan hasil indutri kecil termasuk bakpia untuk keperluan kampanye. Kabarnya ada partai politik besar dalam rangka kampanye pemilu, yang untuk atribut partainya memesan dari luar negeri. Kemana nurani mereka. Cari partai yang mana, dan partai demikian tidak perlu dipilih. Mereka menghianati perjuangan masyarakat pelaku ekonomi rakyat. (rahardi@ramelam.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 20 Jan 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=129NASI UDUK GN KIDUL<br>
<br>
Saya masih berada di Yogya, serta mengagumi keuletan masyarakat disekitar Yogya dalam menghadapi kehidupan yang serba susah. Banyak sekali warga Gunung Kidul yang merantau ke Jabodetabek untuk mengadu nasib, mencari penghasilan bagi keluarganya. Keluarga, istri dan anak ditinggalkan. Kadang-kadang hanya dua bulan sekali menjenguk pulang. Bukan hanya itu, kehidupan bersosialisasi dengan lingkungan dan dengan budaya mulai juga tercerabut. Tetapi ada juga yang mencari tambahan dengan memanfaatkan peluang di Gunung Kidul atau Yogya dan sekitarnya.<br>
Bu Tris, yang hanya tamat SD, dan suaminya yang lulusan SMP, adalah petani di Gunung Kidul. Kedua anaknya, dengan ijazah SMU dan SMP, sudah beberapa tahun merantau ke Tanggerang, seperti banyak pemuda lainnya dari kampungnya. Bu Tris, yang sekarang berusia 52 tahun, harus tetap tinggal di kampungnya, karena diserahi menunggu dan mendidik 2 orang cucucnya. ?Saya senang momong cucu. Mereka lucu-lucu?, katanya gembira. Itulah kehidupan kita, tidak ada nenek yang tidak senang kalau dititipi cucunya. Tetapi yang jadi masalah Bu Tris dan suaminya, adalah menurunnya penghasilan sebagai petani. ?Saya heran, pak. Kalau dengar tivi, katanya ekonomi membaik. Tapi nyatanya, hidup kita dikampung makin repot?, ucapnya dengan mata yang melebar. <br>
Sebab itu sejak dua tahun yang lalu Bu Tris, dengan memanfaatkan gardu pos ronda yang kosong disiang hari, memulai berjualan makanan dan jajanan untuk anak-anak sekolah. Kebanyakan anak-anak dipedesaan pergi kesekolah tidak membawa bekal makanan, dan juga belum makan pagi atau sarapan. Dengan keterampilan yang dimiliknya sebagai ibu rumah tangga, Bu Tris berjualan nasi uduk, nasi kuning dan es dawet. Kalau di Yogya dikenal dengan nasi kucing yang harganya 1000 rupiah, demikian juga Bu Tris berjualan nasi uduk dan nasi kuning seadanya dibungkus daun pisang. Dijual dengan harga 500 rupiah untuk satu bungkus. Sedangkan es dawet 200 rupiah. Kalau hanya minum air es dengan sirup harganya 100 rupiah. Disamping makanan dan minuman tersebut, Bu Tris juga berjualan macam-macam jajanan dalam bungkusan yang sedang digemari anak-anak. Pengaruh tayangan tivi. Selain anak sekolah, banyak juga pembeli lainnya.<br>
?Sekarang lumayan, pak. Sekolah sudah mulai lagi?, sambil terus melayani anak-anak sekolah dengan seragam putih-merah, yang tampak sudah pudar. Sewaktu libur sekolah, Bu Tris terpaksa kembali membantu suaminya bertani dikebun. Dari usaha dagangnya setiap hari diperoleh 120 ribu rupiah. Sebesar 80 ribu rupiah disisihkan untuk belanja besok harinya. ?Saya berjualan hanya sampai pukul 12. Kemudian pulang ngurus cucu lagi?, katanya ringan. Untuk mempersiapkan dagangannya ia dibantu oleh suaminya. ?Kalau dia tidak perlu dibayar?, sambil ketawa terkekeh dengan menutup mulutnya.<br>
Ribuan mungkin jutaan masyarakat kita yang bernasib seperti Bu Tris dan suaminya. Janganlah kita melupakan mereka dalam Pemilu dan Pilpres, karena suara mereka nilainya sama dengan seorang konglomerat, Ketua Partai ataupun Menteri. Tapi bagaimana nasib mereka setelah itu? (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 27 Jan 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=130PATILO -MANILO<br>
<br>
Selamanya sekitar Hari Raya Imlek bumi kita selalu diguyur hujan. Mungkin itu juga yang membuat tanah kita subur. Tetapi kesuburan karunia Tuhan tersebut tidak menjadikan makmur para pengolah tanah didesa. Petani kita tetap saja harus mencari pekerjaan atau usaha lain untuk menyambung hidupnya. Walaupun harga hasil-hasil pertanian meningkat, tetapi keuntungannya dinikmati pada pedagang atau pemilik lahan yang luas. Kalau harga turun petanilah yang paling menderita. <br>
Hujan juga telah mendatangkan kemuraman bagi produsen patilo alias pati dari telo atau singkong. Semacam tepung dari singkong, yang sering juga disebut manilo. Ada juga yang dijual sudah dalam bentuk krupuk atau reginan yang sudah digoreng. Usaha inilah yang digeluti oleh Mas Sarijo di desa Sumbergiri ? Gunung Kidul. ?Empat tahun yang lalu, saya kena PHK. Anak yang sudah tamat SMU-pun masih menganggur sampai sekarang?, dengan raut wajah penuh protes. Bagaimana tidak, ia sendiri tamat SMK, istrinya SMU dan demikian juga anaknya, tetapi kehidupan mereka tidak membaik. ?Bagaimana tidak mangkel pak. Sesuai anjuran pemerintah kita mendidik anak sampai SMU, tapi tidak ada pekerjaan?, masih terus menggrutu dengan nada protes.<br>
Sejak di PHK tahun 2004, dengan modal simpanan seadanya, Mas Sarijo memulai usaha patilo, dibantu oleh istrinya. Setiap hari ia membeli singkong dari masyarakat sekitar atau pasar. Rata-rata ia mengeluarkan uang sekitar 90 ribu rupiah setiap hari untuk membeli berbagai kebutuhan lainnya. Sekarang ini singkong harganya 1000 rupiah satu kilo. Kalau sudah jadi patilo dijual dengan harga 6000 ribu rupiah. Selain menjual patilo dalam kemasan 1 dan setengah kilo, Mas Saridjo juga menjual dalam bentuk krupuk dan reginan. ?Tetapi kebanyakan hanya membeli patilo saja, pak. Lalu mereka yang membuat berbagai jajanan?, sambil menyelesaikan rokok kreteknya.<br>
Penghasilan Mas Saridjo setiap hari mencapai 150 ribu rupiah, dan bersih diserahkan kepada istrinya sekitar 40 ? 45 ribu rupiah. ?Cukup tidak cukup, ya harus dicukupkan?, katanya sambil ketawa. Kalau musim kemarau banyak yang menanam singkong, harganyapun jadi murah. ?Sekarang sedang sepi, dan kalau hujan susah mencari singkong. Juga susah menjemur patilo?, katanya sambil melihat kesekeliling. ?Apa setelah pemilu dan pilpres hidup kita akan lebih baik pak?? Sayapun tersentak dan tidak tahu apa yang harus dikatakan.<br>
Sekilas terbayang dimata saya baliho-baliho raksasa di Yogya dengan macam-macam warna, yang menampilkan calon-calon anggota DPR dan DPRD, yang katanya akan mewakili rakyat. Papan-papan reklame raksasa mengalahkan reklame HP, motor dan sabun. Apa mereka juga akan untung seperti jualan HP, motor, dan sabun? Bagaimana caranya mereka bisa untung? Mudah-mudahan harapan Mas Sarjito dan harapan jutaan masyarakat Yogya bisa terkabul, untuk hidup lebih baik. <br>
Semoga di tahun kerbau kita bisa lebih baik. Gong Xi Fat Choi! (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 3 Feb 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=131SNACK JAWA<br>
<br>
Pak Tukino sudah berhasil mendidik ketiga anaknya, bahkan melebihi anjuran pemerintah. Dua orang selesai pendidikan SMU dan seorang lagi selesai SMP, walaupun ia sendiri dan istrinya hanya menyelesaikan SR atau SD sekarang. Ketiga anaknya, semua merantau ke Bakasi dan Tanggerang, seperti halnya kebanyakan anak muda dari desa Ponjong ? Gunung Kidul. Bagi saya Gunung Kidul selalu menjadi inspirasi tentang keuletan dan ketangguhan masyarakat untuk berjuang dan melanjutkan hidup. Mereka menjadi pedagang atau produsen dan merantau hampir diseluruh pulau Jawa. Mereka yang tertinggal di desa biasanya hanya wanita, anak-anak dam laki-laki yang sudah mulai tua dan berprofesi petani.<br>
Demikianlah nasib pak Tukino, yang kini berusia 58 tahun, pekerjaan sehari-harinya adalah petani. Tetapi sejak 5 tahun yang lalu, terpaksa mencari penghasilan tambahan, karena dari tani penghasilannya terus merosot. ?Kalau dari tani sudah cukup, saya kan tidak bikin emping, pak?, katanya tegas. Dengan wajah yang penuh dengan kerutan, tetapi kelihatan tegar dan sehat, ia hidup bersama istri dan cucunya. Sejak tahun 2003 ia membuka usaha membuat emping melinjo dibantu oleh istrinya. Bermodalkan uang 700 ribu rupiah, ia membeli berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk memproduksi emping. <br>
Ia mulai usaha emping ini karena melinjo mudah didapatkan di Gunung Kidul. Jumlah pengrajin emping dari tahun ketahun terus bertambah. Melinjo mentah ia beli dengan harga 3000 rupiah untuk satu kilo. Dari 3 kilo melinjo bisa dihasilkan 1 kilo emping. ?Kalau hujan begini, agak repot, pak. Sukar menjemur, empinya tidak kering-kering?, katanya sambil menata emping di tampah, serta melihat kearah matahari yang tertutup awan tipis. ?Mudah-mudahan hujannya malam saja?. Emping yang sudah kering ia jual dengan harga 24 ribu rupiah satu kilo untuk kwalitas super. Sedangkan untuk kwalitas biasa dijual dengan harga 20 ribu. ?Baca dikoran dan mendengar di tivi katanya ada krisis, ya pak. Pantesan pembeli sepi sekali?, keluhnya. Setiap hari pak Tukino mengeluarkan 100 ribu rupiah untuk membeli melinjo dan kayu bakar. ?Sejak kapan bapak pakai kayu bakar, pak?, tanya saya. ?Orang memang sekarang ribut memakai kayu bakar lagi, saya dari dulu sudah pakai kayu bakar. Jadi biasa-biasa saja?, katanya sambil tersenyum. ?Hanya harga kayu bakar sekarang jadi naik, sudah 10 ribu rupiah untuk satu pikul?, ucapnya dengan rasa penyesalan. Setiap harinya pak Turino dapat menjual melijo sampai 120.000 rupiah. Setelah dikurangi untuk modal, sisanya sekitar 30 ribu rupiah, ia serahkan kepada istrinya.<br>
Dalam persaingan dengan berbagai makanan ringan atau snack, emping masih mendapatkan konsumennya. Bukan saja bertambah variasi sebagai snack, melainkan juga sebagai penambah sedap beragam makanan seperti gado-gado, lotek, soto, dan yang lain. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 17 Feb 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=132?GUANO RAYA?<br>
<br>
Guano Raya bukan nama sebuah restoran atau kafe di Jakarta, melainkan nama sebuah perusahaan di Gunung Kidul milik Pak Puji. Memang nama perusahaan tersebut terkesan sangat ngetren. Pak Puji sudah beberapa bulan masuk keluar gua di Gunung Kidul. Bukan mencari fosil peninggalan nenek moyang, atau bersemedi mencari wangsit agar lekas kaya. Ia sedang mengembangkan usahanya, menggali dan menjual tanah dari dalam gua. Pak Puji, dengan ijazah SMP yang dimilikinya, sebelumnya mejalankan pekerjaannya sebagai tukang kayu. Tetpi penghasilan sebagai tukang kayu dalam 2 tahun terakhir terus menurun sehingga tidak cukup untuk membiayai keluarganya. Ia sudah berhasil menyekolahkan anaknya, yang pertama sampai di SMU. Tetapi seperti halnya semua pemuda di Gunung Kidul, anak Pak Puji setelah dewasa dan menamatkan sekolah, pergi merantau ke Jakarta. Sedangkan anaknya yang kedua masih duduk di SMP. ?Ongkos sekolah sekarang tambah berat. Bukan hanya bayaran sekolah, melainkan untuk ongkos transpor dan lainnya?, keluh Pak Puji. Itulah potret kehidupan di Gunung Kidul.<br>
Sejak beberapa bulan yang lalu, Pak Puji memulai usahanya menggali dan menjual tanah hasil galian dari gua. Sudah sejak lama di Gunung Kidul ada beberapa perusahaan yang memproduksi pupuk fosfat dengan cara mengolah tanah gua. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Pak Puji bersama 12 orang kawannya untuk mengusahakan penggalian tanah tersebut. Dengan mempergunakan alat sederhana seperti pacul, garpu dan karung, setiap hari mereka menggali tanah gua. Setiap hari bisa menghasilkan sampai 2 ton tanah. Merekapun harus menggunakan obor untuk masuk ke gua yang gelap. Tanah gua tersebut dibeli oleh pengepul dengan harga 60 ribu rupiah untuk satu ton. Sore hari mereka membagi rata hasil penjualannya. <br>
Kalau sedang hujan seperti sekarang ini, mereka tidak dapat bekerja setiap hari. Kalaupun mereka menggali, hasilnya akan kurang. ?Kalau sudah begitu, pusing pak. Harus pinjam uang kesana-sini, untuk bayar pekerja, makan dan ongkos sekolah?, katanya dengan muka muram. Di hari-hari baik Pak Puji dan kawan-kawannya dapat menghasilkan tanah gua lebih dari 2 ton. Itupun masih tergantung pengepul yang datang untuk membeli tanah gua hasil kerja mereka. Pak Puji yang sekarang berumur 46 tahun, tidak tahu harus kerja apa lagi kalau tanah gua sudah habis atau tidak laku lagi. ?Kita membutuhkan bimbingan, pak. Jangan biarkan kami mencari-cari sendiri?, katanhya berharap.<br>
Mungkin Pak Puji dengan kawan-kawannya tidak mengetahui adanya krisis. Untuk mereka yang penting mendidik anak-anaknya. ?Itu pak, kawan-kawan kerja saya, hanya berpendidikan SD. Sebab itu anak-anak saya harus lebih baik?, ucapnya dengan tegas. Pak Pujipun berharap anak keduanya bisa menamatkan SMU, atau kalau mungkin lebih. Pemerintah dan DPR jangan hanya mengurusi anggaran pendidikan yang 20 persen dari APBN. Yang perlu, dimana mereka akan bekerkja setelah tamat sekolah. Apakah ijazah bagi mereka mempunyai arti lebih, dan memiliki nilai tambah dalam mencari pekerjaan? (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 3 Maret 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=133BERMODAL KREATIFITAS<br>
<br>
Sudah sejak kecil Somardi senang bermain dengan pisau dan kayu. Berbagai jenis permainan sederhana dibuat sendiri, kadang-kadang juga untuk teman-temannya. Berbagai bahan yang ada disekitar rumahnya, di desa Ponjong Gunung Kidul, dimanfaatkan untuk membuat berbagai jenis mainan dan hiasan. Daun, pelepah pisang, batu, tanah, rumput, ranting, kayu dan apa saja yang ia temukan, ditangannya berubah menjadi barang yang berguna dan nyeni. Rupanya jiwa seni mengalir didalam darahnya, ditambah lagi keinginannya untuk selalu berbuat sesuatu, telah menumbuhkan kreatifitasnya. Hal itu juga yang mendorong pemuda kelahiran tahun 83 meneruskan sekolahnya ke Sekolah Menengah Kerajinan ? SMK di tempat kelahirannya. Kalau tema-teman sebayanya banyak yang gandrung untuk pergi kekota besar seperti Yogya, Jakarta dan Surabaya untuk mencari pekerjaan, lain halnya dengan Somardi, setelah tamat SMK, ia memilih untuk tetap tinggal di Gunung Kidul. ?Memang rejeki saya disini, pak. Tempat saya lahir dan dibesarkan?, katanya dengan tegas.<br>
Sesudah beberapa lama bekerja serabutan, sejak 3 tahun yang lalu Somardi membuka usaha kayu dan ukir kayu. Memanfaatkan lahan seluas 50 meter persegi, disamping rumahnya, ia mendirikan bengkel sederhana. Iapun melengkapi peralatan tukang kayu seperti gergaji, berbagai jenis pahat, bench-saw. Karena ia ingin juga menerima kerjaan dan menjual kayu ukiran, maka peralatan pengukir kayupun harus dibelinya. ?Saya mengeluarkan uang hampir 3 juta rupiah. Termasuk beli beberapa batang kayu dan beberapa lembar papan?, sambil menunjukkan bengkel kayunya. <br>
Mula-mula banyak pesanan hanya membuat berbagai jenis kusen. Kalau masyarakat setempat, biasanya membawa kayunya sendiri. Ongkos membuat kusen rata-rata 25 ribu. Karena pekerjaan ukir Somardi termasuk halus, dan juga menawarkan berbagai ukiran hasil kreatifitasnya, lama-kelamaan banyak pelanggan datang untuk ukiran kayunya. Untuk pekerjaan kayu ukiran, ia hargai 10 ribu rupiah permeter, belum termasuk harga kayu. ?Jemis dan kwalitas kayu tergantung permintaan. Mereka juga bisa membawa kayu sendiri?, sambil menunjukan beberapa hasil ukirannya. Tetapi untuk ukiran yang rumit dan halus ongkosnya rata-rata 25 ribu rupiah per meter. ?Soalnya memakan waktu lebih lama. Dan harus hati-hati?, tangannya sambil tetap memegang palu dan pahat.<br>
Somardi yang masih bujangan, setiap bulan rata-rata bisa mendapatkan penghasilan bersih sekitar 800 ribu rupiah. ?Ya, cukup untuk makan dan beli pulsa?, ujarnya datar. Ternyata pemakaian ponsel sudah merambah kepelosok-pelosok. Keperluan untuk berkomunikasi sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Atau hanya menjadi ciri kemajuan dengan memiliki ponsel sebagai salah satu life style sekarang ini? Sayangnya saya tidak sempat menanyakan kaitan ponsel dengan usahanya, dan berapa uang yang harus ia keluarkan untuk membeli pulsa. Semoga saja keberadaan teknologi komunikasi yang semakin meluas, akan memberikan faedah dan meningkatkan martabat rekan kita di Gunung Kidul atau tempat-tempat lainnya di nusantara. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 17 Maret 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=134DESAK-DESAKAN KE KAMPUS<br>
<br>
Hampir disemua kota di tanah air, masalah angkutan perkotaan menjadi masalah besar. Apalagi kalau dikaitkan dengan pemukiman RSS yang biasanya jauh dari mana-mana. Di Jakarta janji monorel hanya tinggal janji, berhenti dengan tiang-tiang yang belum rampung dan mulai berkarat, mengotori pemandangan kota. Sedangkan kereta dibawah tanah atau metro belum juga ketahuan ujungnya. Katanya segera dibangun, semoga nasibnya tidak seperti monorel. Solusi busway di Jakarta, sudah membantu masyarakat untuk jalur-jalur tertentu. Sebagian besar masyarakat masih memanfaatkan angkutan metromini atau bis kota yang lebih pantas masuk kuburan mobil. Untuk jarak dekat banyak beroperasi ojek, walaupun katanya tidak ada dalam sistim angkutan kota, tetapi kenyataanya tetap ada dan diminati. Angkutan legal yang tidak legal, begitulah kira-kira. Sedangkan untuk jarak-jarak menengah banyak beroperasi seperti omprengan, terutama melayani kelompok-kelompok dari pemukiman untuk pergi-pulang kekantor, kampus atau sekolah.<br>
Angkutan kampus, atau yang sering disebut Kampusan, inilah yang digeluti oleh Darno, yang tinggal di Gunung Kidul, semenjak ia di PHK empat tahun yang lalu. Seperti halnya yang terjadi dimana-mana, semangat mengikuti pendidikan tinggi juga merasuk sebagian pemuda di Gunung Kidul. Dengan susah payah mereka harus mencari angkutan untuk bisa mencapai kampus, dan tentu dengan ongkos yang tidak sedikit. Mereka menghabiskan waktu sampai 4 jam setiap hari diatas kendaraan dan di terminal. Walaupun sudah ada Trans Jogya, tetapi angkutan umum di Yogyakarta masih sangat terbatas.<br>
Dengan uang yang ia pernah kumpulkan, Darno yang lulus SMP dan sekarang berusia 35 tahun, ia membeli minibus L 300 yang terkenal paling bandel. Dengan dibantu seorang keponakan, bapak dari 2 orang anak, setiap hari kerja melayani para pelanggan dengan antar dan jemput. Untuk jarak sekitar 4 kilometer, setiap penumpang dikenakan ongkos 4 ribu rupiah untuk antar dan jemput. Mobilnya bisa dimuati 21 orang, kalau dijalan ada yang ikut menumpang dikenakan ongkos 3 ribu rupiah untuk sekali jalan. ?Lumayan, pak. Bisa membiayai anak-anak sekolah?, katanya sambil membersihkan kendaraannya. Setelah tugas antar di pagi hari, Darno masih melayani carteran untuk masyarakat lain, terutama ibu-ibu yang akan belanja atau darmawisata. ?Kadang-kadang saya dapat makan siang juga, itu kalau sedang ada rejeki?.<br>
Rata-rata penerimaan Darno setiap hari sebesar 40 ribu, setelah dipotong untuk bensin dan uang untuk keponakan. Kalau ada carteran tentu penghasilannya bertambah. Tetapi kadang-kadang ada mahasiswa yang membayarnya bulanan, mereka menunggu kiriman uang dari orang tuanya. ?Jadi repot juga buat saya. Harus cari uang untuk membeli bensin?. Sekarang ini pengelola angkutan Kampusan semakin bertambah, jadi merekapun harus tetap merawat kendaraannya dan memberikan pelayanan tepat waktu.<br>
?Mudah-mudahan setelah pemilu dan pilpres, kita akan lebih baik, ya pak?, ucapnya dengan pandangan kosong yang tidak yakin. Saya hanya bisa senyum dingin dan menganggukan kepala. Semoga. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 31 Maret 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=135PONSEL DAN KOSMETIK<br>
Ia meninggalkan di Garut seluruh keluarganya, seorang istri dan tujuh anak. Anaknya yang terbesar sudah berumur 42 tahun dan sudah berkeluarga, sedangkan yang terkecil baru berumur 9 tahun. Sebut saja namanya Pak Yayat, yang sudah sejak 26 tahun yang lalu datang di Jakarta dan mencari penghasilan dalam kerasnya kehidupan di ibu kota. Pak Yayat, yang sekarang berusia 61 tahun, tidak pernah mengenyam pendidikan, walaupun demikian ia bisa membaca: ?saya bisa membaca sedikit, dulu pernah ikut program belajar membaca?. Awalnya ia mengikuti seseorang datang ke Jakarta, dan sampai sekarang ikut tinggal dengannya di Pasar Minggu, dan ia juga yang kemudian menjadi bosnya.<br>
Sejak permulaan ia tinggal di Jakarta, pak Yayat berjualan berbagai jenis dompet dan kosmetik sederhana. Ia berupaya mempunyai langganan di lingkungan yang luas. Sebab itu setiap minggu ia berjualan dengan berpindah tempat, mulai dari Cimanggis sampai ke Depok, di empat lokasi yang berbeda. Setelah 4 minggu pak Yayat kembali ke lokasi semula, dan biasanya sudah ditunggu oleh para pelanggannya. Dengan cara itu ia bisa menjaring pelanggan yang lebih banyak. Dengan mempergunakan pikulan dan peralatan lainnya, ia berjualan berbagai jenis dompet dan kosmetik. Berkembangnya pemakaian ponsel dimana-mana, sekarang sarung ponsel menjadi dagangan utamanya. ?Pokonya saya sediakan segala bentuk dan warna, pak. Laku sekali dan lumayan untungnya, katanya sambil ketawa.<br>
Untuk sarung ponsel rata-rata ia menjual dengan harga 20 ribu rupiah, sedangkan untuk dompet paling murah 30 ribu rupiah. Dari sarung ponsel dan dompet, rata-rata ia mengambil keuntungan sebesar 5 ribu rupiah. Sedangkan kosmetik yang dijual oleh pak Yayat hanya bedak dan lipstik. Bedak yang leih dikenal dengan nama Ponds, dibeli dari pasar seharga 7 ribu rupiah dan dijual 9 ribu. Sedangkan lipstik ia jual seharga 11 ribu rupiah, setelah ditambah keuntungan sekitar dua ribu rupiah. Sarung ponsel dan dompet ia mengambil dari bosnya, dan baru setelah laku dibayar. Sedangkan untuk kosmetik ia harus mengeluarkan modal sekitar 100 ribu rupiah, untuk belanja barang. Sekarang ini rata-rata penghasilan bersihnya antara 20 sampai 25 ribu rupiah setiap harinya. Sebelum adanya mini market yang tumbuh bagaikan jamur, penghasilan pak Yayat jauh lebih baik. ?Bagaimana pak nanti setelah Pemilu, mungkin kita akan lebih baik??, tanyanya. Rupanya pak Yayat tidak mengetahui adanya krisis ekonomi yang semakin mendalam, serta pengangguran dan PHK sudah mulai terjadi. Sayapun lebih baik diam, dan mulai berbicara masalah lainnya.<br>
Setiap tiga bulan pak Yayat pulang ke Garut untuk bertemu dengan keluarganya. Ketiga anaknya yang besar bekerja sebagai tukang ojek, sedang beberapa orang masih menganggur sampai sekarang, dan yang paling kecil masih sekolah. Setelah beberapa hari berada dirumah ia kembali ke Jakarta. Sepedih apapun kehidupan di Jakarta, tetapi bagi pak Yayat tetap memberikan penghasilan dan harapan. Ia tidak mengeluh dengan nasibnya, walaupun kadang-kadang harus menginap dirumah teman atau menghabiskan malam di masjid atau mushola. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 14 April 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=136MENEKUNI PROFESI<br>
<br>
Pak Tukiyo sekarang usianya sudah 65 tahun. Keempat anaknya sudah berkeluarga dan semuanya merantau ke Jakarta. Cucunya sudah 7 orang. ?Anak-anak saya semua sekolah sampai SMP, lain dengan saya yang hanya tamat SR?, katanya lesu. Pak Tukiyo memutuskan untuk tetap tinggal di Gunung Kidul, melewati hari-hari tuanya.<br>
Sebagai buruh tani dengan penghasilan terbatas, untuk menambah penghasilannya, sejak 29 tahun yang lalu, ia membuat tempat penitipan sepeda dan sepeda motor dihalaman rumahnya. Memanfaatkan lahan seluas 10 X 15 meter disamping rumahnya, ia membangun dengan biaya 2 juta rupiah, tempat yang bisa menampung 10 sepeda motor dan 20 sepeda. Ia beruntung, karena lokasi rumahnya didekat terminal bis dan angkutan umum lainnya, serta dekat dengan beberapa sekolah dan pasar. Pelanggannya biasanya mereka yang akan bepergian kekota lain dengan menumpang bis, dan kemudian menitipkan sepeda motornya. Untuk sebuah sepeda motor, dikenakan biaya penitipan sebesar 2 ribu rupiah. Banyak pelajar yang menitipkan sepeda motornya, walaupun sekolahnya dekat. Mereka takut terjaring razia polisi, karena motornya bodong atau tanpa STNK resmi. Sebagian merekapun tidak memiliki SIM. Untuk sepeda, ongkos penitipan sebesar 1000 rupiah. Penitip merasa aman menitipkan sepeda atau sepeda motornya di tempat pak Tukiyo. Selain mendapatkan tanda penitipan dengan nomor urut, juga semua sepeda motor dan sepeda dirantai dan digembok.<br>
Hari-hari biasa, tempat penitipannya, maksimum hanya bisa diisi dua kali. Sehingga penghasilannyapun terbatas, sekitar 40 ribu rupiah. Kalau tempatnya sudah penuh, ia bisa beristirahat santai dirumahnya. Tempat penitipan kemudian dijaga oleh seorang keponakannya yang ikut membantu pekerjaannya. Untuk itu, setiap hari keponakannya mendapat honor 10 ribu rupiah.<br>
Bagi pak Tukiyo, hari-hari libur justru menjadi kepedihan. Tempat penitipannya sepi, hanya diisi satu-dua sepeda motor saja. Kalau sepi demikian ia menyuruh keponakannya pulang, karena tidak sanggup membayar honor. Lain halnya dihari-hari pasaran, setiap pon dan legi, tempat penitipannya selalu penuh. Ia terpaksa menampung sampai 40 sepeda motor, melebihi kapasitas tampungnya. Merekapun menitipkan hanya untuk waktu yang pendek. Hari-hari pasaran bagi pak Tukiyo bisa mendapatkan hasil sampai 150 ribu rupiah. Iapun membagi kebahagiannya dengan menambah honor keponakanya yang sudah bekerja keras. Selain hari-hari pasaran, bagi pak Tukiyo, juga segala macam keramaian selalu membawa rejeki. Termasuk masa kampanye pemilu yang lalu. ?Saya senang sekali pak. Bisa membelikan mainan untuk cucu. Nanti kalau mereka datang mudik saya berikan?, katanya dengan penuh senyum. Paling sedikit keempat anaknya dan cucunya pulang kampung dua kali setahun.<br>
Bagi pak Tukiyo dan istrinya, kegembirannya berlipat, kalau keempat anak bersama cucu-cucunya dapat berkumpul, dan tempat penitipan ia serahkan kepada keponakannya. (rahardi@ramelan.com) <br>
Dimuat di harian Pos Kota 28 April 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=137SUDAH NASIB JADI PEMULUNG<br>
<br>
Umurnya sudah lebih tua dari republik ini. Perawakannya agak kurus, dan badannya membungkuk. Sorot matanyapun sudah lemah, sedang kulitnya berwarna gelap dan berkeriput, seperti buah sawo yang sudah layu. Sudah lebih dari 49 tahun pak Alimah yang berasal dari Cirebon bertempat tinggal didekat pasar Cisalak. Sekarang dalam usianya yang sudah 71 tahun, ia masih terus menekuni pekerjaannya sebagai pemulung. <br>
?Saya sudah menjadi pemulung sewaktu presiden Bung Karno, pak Harto, sampai sekarang presiden SBY, sayapun masih tetap sebagai pemulung?, katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar. Pak Alimah sejak tahun 1960 menjalani profesinya sebagai pemulung. Waktu itu, ia keliling kampung untuk mengumpulkan rambut, setelah rambut tersebut dicuci bersih, dan kemudian dijadikan cemara. ?Dulu cemara laku sekali, pak. Harganyapun lumayan. Tetapi sekarang saya mengumpulkan botol dan plastik ?.<br>
Bagi pak Alimah, yang tidak pernah mengenyam pendidikan, sekarang mengumpulkan segala macam barang yang dibuang. Mulai plastik, botol, dan sisa-sisa tekstil. ?Sekarang sudah sukar mendapatkan barang, pak. Banyak persaingan dengan pemulung lainnya?, sambil tersenyum. Sehingga penghasilannya juga banyak menurun, hanya sekitar 15 sampai20 ribu rupiah setiap hari. Sekarang ini keenam anaknya sudah berkeluarga, dan dikaruniai 10 orang cucu. Satu dari anaknya meneruskan profesi ayahnya sebagai pemulung juga. Yang lainnya banyak berdagang disekitar pasar Cisalak. Dibeberapa komplek perumahan kelas menengah, kadang-kadang ada keluarga yang membuang barang bekas sambil memberi uang. ?Memang Tuhan selalu memberi jalan, pak?. <br>
Sudah 49 tahun ia menempati rumah yang sama. Semula ia hanya membayar sewa 10 ribu sebulan, tapi sekarang sudah menjadi 100 ribu. Setiap hari ia mulai kerjanya pukul 8 pagi, dan pulang sekitar pukul 5 sore. Untuk menambah penghasilannya, pak Alimah keliling perumahan sambil menjual mainan anak-anak. Yang paling laku mainan mobil-mobilan plastik yang dibeli dengan harga harga 800 rupiah, dan dijual 1000 rupiah. Kartu gambar dijual dengan harga 2000 rupiah, sedangkan dibeli di pasar dengan harga 1000 rupiah. Keuntungan dari penjualan mainan itu yang dijadikan modal untuk membeli barang bekas. Ia belanja mainan tiga hari sekali, rata-rata menghabiskan modal 30 ribu rupiah. ?Sekarang ini sedang banyak hujan, pak. Kadang-kadang seharian tidak dapat uang?, keluhnya.<br>
Iapun menceritakan pengalamannya mencontreng di Pemilu yang lalu, ?ruwet pak, saya contreng gambarnya saja. Habis tidak mengerti?. Iapun kebingungan menghadapi pilpres yang akan datang. ?Katanya semua partai mikirin ekonomi rakyat dan wong cilik?, katanya dengan nada tinggi. ?Tetapi buktinya, sejak dulu, saya tetap saja jadi pemulung. Anak saya jadi pemulung juga?.<br>
Iapun tidak tahu siapa yang bakal bisa jadi presiden, selain SBY. Apakah nasib wong cilik akan betul-betul diperjuangkan oleh partai politik dan Presiden? Semoga cucu pak Alimah tidak akan meneruskan profesi kakeknya, menjadi pemulung. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 12 Mei 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=138PILPRES DAN EKONOMI RAKYAT<br>
<br>
Tiga pasangan capres-cawapres sudah dideklarasikan, merekapun sudah lolos kriteria KPU. SBY masih menjabat presiden, Mega pernah menjadi wapres dan presiden, JK masih menjabat wakil presiden. Mereka sebetulnya pernah berkuasa atau ikut berkuasa menentukan keberadaan ekonomi rakyat. Tetapi mengapa sekarang dalam menghadapi kampanye, masih menekankan perlunya pembangunan ekonomi rakyat? Apa mereka tidak berhasil atau telah mengingkari janji kampanyenya dulu?<br>
Sejak negara kita merdeka tahun 1945, gerakan ekonomi rakyat sudah digelindingkan dan menjadi pernyataan politik yang laku. Semula gerakan ini, tak lain untuk memperkuat kedudukan pelaku ekonomi pribumi, yang dirasakan terbelakang dibandingkan dengan warga lainnya. Tetapi faktanya, ekonomi rakyat menjadi sekedar jargon politik; kebijakan dan pelaksanaannya dilapangan belum membawa hasil memuaskan. Jurang antara ekonomi rakyat dan ekonomi kapitalis semakin lebar. Janji-janji capres-cawapres tidak jelas apa yang ditawarkan, dan bagaimana nanti dalam prakteknya.<br>
Kenyataannya, rakyat kecil atau wong cilik, masih terus harus berjuang mempertahankan hidupnya dan keluarga. Kota-kota besar, seperti Jakarta dan sekitarnya, masih terus memberikan harapan untuk bisa mendapatkan penghasilan yang ?layak?. Kerja apa saja, serabutan, menghiraukan ijazah yang dimiliki. Kios, gerobak, ruko, kaki lima, terminal, pikulan, sepeda, sepeda motor, menjadi tempat mereka mengadu nasib. <br>
Begitu juga dengan Taslimin, pemuda asal Tegal, telah mengembara selama 20 tahun di Jakarta. Dengan modal ijazah SMP yang tidak bermanfaat, pemuda yang sekarang berumur 33 tahun dengan seorang isteri, semenjak tahun 2002, berjualan bermacam-macam barang, mirip dengan mikro-mart. Dengan menempati sebuah ruko ukuran 3 X 4 meter, yang disewa 50 ribu rupiah perbulan, ia mengeluarkan uang sebesar 2 juta rupiah untuk modal awal. Termasuk membeli sebuah gerobak untuk berdagang keliling. Sebelum berdagang, Taslimin bekerja serabutan sebagai kuli harian.<br>
Yang dijual kebanyakan makanan dan bumbu masak. Ada roti, keripik singkong, gorengan, macam-mcam bumbu dalam kemasan, pokoknya yang laku untuk rakyat kecil juga. Setiap hari ia mengeluarkan uang 100 sampai 150 ribu rupiah untuk modal. Penghasilan bersihnya setiap hari bisa mencapai 50 ribu. ?Itupun kalau sedang ada rejeki, pak?, katanya datar. Ia sering melihat tayangan tivi, membaca koran, dan mendengarkan siaran radio, ?saya tidak mengerti yang dimaksud dengan globalisasi. Baik ngga, ya pak, buat kita-kita?, tanyanya dengan mata agak melotot. Walaupun katanya ada krisis, tetapi Taslimin merasakan dalam beberapa bulan ini pelanggannya bertambah. Iapun semakin bingung. Apalagi hujan masih terus mengguyur Jakarta dan sekitarnya, telah menambah omset hariannya.<br>
Kemudian ia menceritakan pengalaman hidupnya, termasuk mengenai pemilu yang lalu. ?Saya bingung, pak. Pokoknya asal nyontreng?, ucapnya masa bodo. Sewaktu saya tanya mengenai pilpres yang akan datang, ?Lihat-lihat dulu, pak. Jangan sekedar janji?. <br>
Mudah-mudahan pengusung ?kerakyatan?, akan betul-betul memperhatikan nasib rakyat. Bukan hanya sisi ekonomi, melainkan kehidupan sebagai rakyat Indonesia seutuhnya. Mari kita cermati ketiga capres-cawapres. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 26 Mei 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=139ROTI PANGGANG 1000 RASA<br>
<br>
Lulus dan memiliki ijazah SMP bukan garansi bagi banyak anggota masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan. Demikianlah yang dialami oleh Taslimin, setelah tamat SMP, ia meninggalkan desanya dari Tegal, pergi merantau ke Jakarta mengadu nasib. Setelah berbulan-bulan tidak bisa mendapatkan pekerjaan, kemudian iapun terpaksa menjadi kuli serabutan. Untungnya pekerjaan menjadi kulipun tidak berlangsung terlalu lama. Taslimin kemudian memulai usaha sendiri. Diawali sebagai penjual roti keliling dan akhirnya menjadi tukang penjual bakso. Tetapi penghasilannyapun masih terbatas dan pas-pasan. Bagi Taslimin menjadi penjual keliling, dirasakan upayanya belum maksimal Sebab itu sejak 5 tahun yang lalu ia memulai usaha baru sebagai penjual roti panggang. ?Saya memilih roti panggang, setelah memperhatikan pedagang lain?.<br>
Selama bekerja serabutan, ia dapat menabung, dan dengan uang tabungannya dapat membeli gerobak dan berbagai peralatan seharga 2 juta rupiah, untuk usaha barunya sebagai pedagang roti panggang. Setelah mengamati sekeliling, ia memilih tempat mangkal di emperan ruko yang dipakai sebagai Kantor Notaris dan Klinik Dokter. Menempati plataran berukuran 3X4 meter, ia harus membayar kepada pengelola ruko 50 ribu rupiah perbulan, sedangkan untuk listrik 20 ribu.<br>
Dengan memanfaatkan gerobak yang beretalase kaca, ia menyiapkan dagangannya setiap hari. Mempergunakan kompor gas dengan tabung 3 kg, dan penggorengan datar, Taslimin memanggang roti dengan selera bumbu sesuai permintaan pelanggan. Setiap hari ia membelanjakan uang antara 100 sampai 150 ribu rupiah, untuk membeli roti, bermacam rasa sele, beragam rasa bumbu masak yang sudah jadi. Roti panggang dengan bermacam rasa itu, ia jual dengan harga 7 ribu rupiah. Untuk menambah penghasilannya, iapun menjual keripik singkong yang ia beli dari pasar. Keripik singkong ia beli seharga 50 ribu rupiah untuk satu bal, empat kilogram; kemudian di bungkus dalam plastik kecil menjadi 30 bungkus dan dijual dengan harga 3 ribu rupiah. Tabung gas 3 kg, bisa dipakai untuk satu minggu.<br>
Dari usahanya ini, pemuda yang sudah beristeri ini, mendapatkan penghasilan bersih antara 40 sampai 50 ribu rupiah. ?Sebagian uangnya harus saya sisihkan untuk membayar kontrak rumah. Dua juta untuk satu tahun?, katanya tenang. Iapun masih harus menyisihkan untuk keperluan mendadak, seperti sakit atau pulang kampung. <br>
?Sekarang ini masih banyak hujan, penghasilan sayapun lumayan?, sambil mengemasi dagangannya. Kemudian iapun menceritakan pengalamannya baik yang manis, maupun yang pahit. ?Mudah-mudahan presiden yang akan datang, akan lebih memperhatikan kehidupan kita-kita ini, ya pak?, katanya sambil menunjuk keliling, dimana PKL menjual berbagai ragam makanan dan jajanan. Dan apakah lulusan SMP masih harus terus bekerja serabutan atau menjadi PKL?.(rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 23 Juni 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=140KULINER KELILING<br>
<br>
Banyak yang mengatakan sekarang ini sedang krisis. Tetapi kta amati, mal dan pusat belanja terus dipadati pengunjung. Jam-jam tertentu, restoran, warung, rumah makan, kafe, dan food court atau pujasera, dipenuhi mereka yang tidak sempat pulang untuk makan, atau sengaja mencari makan diluar. Terutama saat ini semua tempat makan semakin ramai, dipadati anak-anak sekolah yang sedang libur. <br>
Tayangan TV dan informasi di media mengenai makanan semakin sering kita jumpai. Sudah menjadi trend sekarang ini yang dinamakan wisata kuliner. Masyarakat berwisata mencari makanan khas dan baru. Lokasi dimanapun sudah tidak terlalu menjadi halanagan. Berbagai jenis makananpun bermunculan, ada mie yang memakai spagethi, rujak eskrim, atau nasi bakar. Makanan tradisionalpun mengalami perubahan dan pembaharuan. Kombinasi berbagai jenis makanan dari beberapa negara dan daerah, banyak kita temukan, disebut fusion. <br>
Selain wisata kuliner, juga penjual makanan keliling atau yang mangkal dengan gerobak, sepeda motor dan mobil, semakin bertambah dan bervariasi. Berjualan makanan ini masih merupakan penghasilan yang lumayan bagi pelaku ekonomi rakyat. Demikianlah yang dilakukan pak Didin, pria tamatan SD asal Garut, yang sudah 4 tahun ini berubah profesi sebagai pedagang keliling makanan. Sebelumnya, pria berumur 40 tahun, yang sudah beristri, berjualan asesoris kebutuhan wanita dengan berkeliling. Ketika usahanya menurun, maka ia merubah dagangannya, menyesuaikan selera masyarakat. <br>
Pak Didin, yang meninggalkan ketiga anaknya di Garut, pada tahun 2005 menyisihkan uangnya 300 ribu rupiah untuk membeli berbagai peralatan untuk memulai membuat dan menjual pindang bandeng dan tongkol. Setiap hari ia membeli ikan tongkol dan bandeng di pasar. Perkilonya sekarang rata-rata 12 ribu, dan ia dapat menghabiskan sampai 5 kilo setiap hati. Bersama istrinya, yang lulusan SMP, ia memasak ikan tersebut menjadi pindang. Semua persiapannya ia lakukan dirumahnya yang disewa dengan biaya 200 ribu rupiah setiap bulannya. ?Untungnya tidak banyak, pak. Tapi rejeki tetap saja ada?, ucapnya dengan nada gembira. Dengan raut mukanya yang nampak lebih tua, ia setiap hari berkeliling dibeberapa komplek pemukiman. Setiap hari pak Didin bisa menyisihkan penghasilannya sekitar 50 ribu rupiah, dan diserahkan seluruhnya kepada istrinya. <br>
Pak Didin setiap bulan masih harus mengirim uang ke Garut untuk membiayai dua anaknya yang masih sekolah di SMP dan SD. ?Anak saya yang besar sudah berkeluarga. Tinggal yang dua ini yang masih harus dibiayai?, sambil menerawang jauh. Hari itu ia kelihatan gembira, karena ada ibu yang baru saja memborong pindang tongkolnya. ?Jadi saya tidak usah keliling lagi, pak?. Kemudian iapun berceritra mengenai hidupnya, dan harapan dimasa mendatang, harapan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya.<br>
Apakah para pelaku ekonomi rakyat seperti pak Didin dengan berbagai harapannya ini, tersentuh oleh pemikiran para capres-cawapres? Bagaimana nasib anak-anaknya setelah 2014, 2019, dan 2024?(rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 7 Juli 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=141PENDAMPING MINUM ANGGUR<br>
<br>
Mengaku sudah berumur 71 tahun, kakek asal Cirebon ini sejak tahun 2002 berjualan kerang ijo rebus. Mukanya yang masih kelihatan lebih muda dari umurnya, menjelaskan bahwa sebelumnya bekerja di pabrik garmen yang kemudian ditutup dan terkena PHK. Dengan pesangon seadanya ia harus menjalankan kehidupan keluarganya, membelanjai seorang istri dan seorang anak berumur 14 tahun, yang ditinggalkan di kampungnya.<br>
Sejak meninggalkan kampungnya, pak Kang, tinggal di kawasan Cimanggis dengan menyewa kontrakan 200 ribu rupiah sebulannya. Setelah terkena PHK ia sempat bekerja serabutan, kemudian dengan modal 200 ribu rupiah ia mulai berjualan kerang ijo rebus. Dengan mempergunakan sebuah gerobak dorong, yang dilengkapi dengan dandang dan kompor minyak tanah, ia berjualan mulai pukul 2 siang dan biasnya sampai pukul 10 malam.<br>
Setiap pagi ia membeli kerang di pasar sebanyak 15 kilo dengan harga 4000 rupiah satu kilonya. Kebanyakan ia mangkal di tempat yang ramai dengan gerobak jajanan lainnya. Ia merasakan bahwa setiap hari yang berjualan makanan terus bertambah dan semakin beragam. ?Kalo kerang ijo rebus, belum ada saingan pak. Alhamdulillah?, sambil tersenyum. Kerang rebus dijual 6000 rupiah untuk satu kilo, tetapi ia melayani juga mereka yang ingin membeli eceran. Selama ini dagangannya selalu habis, tetapi akhir-khir ini pasar sedang sepi. ?Sudah beberapa bulan ini sepi pak. Juga pedagang yang lain?, mungkin ia ingin menyebut bahwa terjadi krisis. Tetapi buat pak Kang tidak peduli apa yang terjadi, yang penting dagangannya laku. Ia pulang kampung sekali dalam 2 atau 3 bulan, tergantung dari jumlah uang yang dapat dikumpulkan. ?Kangen juga pak sama kampung dan yang dirumah?, dengan wajah yang sayu. Rata-rata setiap hari dapat disisihkan 30 ribu rupiah, yang dikumpulkan untuk dibawa pulang.<br>
Setiap pagi sebelum kepasar, ia selalu mencari informasi lokasi hiburan malam. ?Kalau ada hiburan malam biasanya permintaan banyak, pak. Jadi saya harus menyiapkan lebih. Mumpung ada rejeki,? katanya santai. Apalagi kalau hiburannya dangdut atau band banyak anak muda yang meminati dagangannya. Biasanya pak Kang berdagang sampai larut malam menjelang pagi. ?Anak-anak banyak yang teler pak. Mulutnya sudah bau alkohol?, katanya sedih. Anak-anak muda ini saling berebutan membeli kerang rebus, walaupun membelinya dengan uang yang terbatas. Tetapi pak Kang tetap melayani, yang penting dagangannya segera habis. ?Kata mereka kerang ijo pas untuk menemani minum anggur dan bir?.<br>
Pak Kang sempat mengeluh mahal dan sukarnya mendapatkan minyak tanah. Untuk memulai memakai LPG ia belum mempunyai cukup modal. ?Mudah-mudahan pemimpin yang akan datang memikirkan kita-kita, rakyat?, ucapnya dengan mata yang mulai merah karena kantuk.<br>
Kita semua berharap para pemimpin jadi dewasa, tidak hanya mengurusi hasil pemilu dan pilpres, dan melupakan AMPERA ? Amanat Penderitaan Rakyat. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 21 Juli 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=142BUNGA KEGEMBIRAAN DAN KESEDIHAN<br>
<br>
Penghuni planet bumi ini mempunyai penilaian yang sama akan makna bunga. Bunga dipakai untuk menyatakan perasaan seseorang baik dalam kesedihan maupun kegembiraan. Kita mengirimkan karangan bungan bagi yang sedang merayakan ulang tahun, perkawinan, naik pangkat, atau dipilih menjadi anggota DPR atau Presiden. Kita mengirimkan juga karangan bunga saat ada yang meninggal dunia, sakit dan melahirkan. Buga juga dikirimkan untuk yang kita cintai. Bunga merupakan ungkapan isi hati dan perasaan kita.<br>
Di Jakarta dan sekitarnya terdapat ratusan mungkin ribuan pedagang perangkai bunga atau florist. Mulai kelas pinggir jalan sampai kelas hotel berbintang dan mal. Sebuah rangkaian bungan dihargai mulai puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Bisnis bunga ini semakin menggairahkan dan meluas.<br>
Sudah 20 tahun Yatno, asal Prambanan-Yogyakarta, menggeluti usaha sebagai perangkai dan pedagang bunga. Dengan menempati sebagaian dari rumah kontrakannya di jalan Raya Pondoiok Gede, ia dibantu oleh istri dan seorang karyawannya, mencari rejeki untuk bisa membiayai penghidupannya dan biaya sekolah anaknya. ?Alhamdulillah, anak pertama sudah lulus S-1 dan bekerja sebagai PNS?, katanya gembira. Anaknya yang kedua, berumur 23 tahun, masih kuliah di Yogya.<br>
Ditempat kerjanya dengan ukuran 3X3 meter, yang diberi nama Citra Florist, ia menjual berbagkai rangkaian bunga dengan harga antara 300 sampai 500 ribu rupiah. Tergantung jenis bunga yang dipilih. Selain itu ia juga melayani beberapa kantor dengan rangkaian bunga didalam pot dengan harga 35 ? 50 ribu setiap potnya. ?Sekarang agak sepi, pak. Mudah-mudahan sbentar lagi banyak pesanan untuk lebaran dan banyak anggota baru DPR dan DPRD. Menjelang berbagai hari raya, Yatno selalu kewalahan melayani pesanan. ?Kadang-kadang kita harus kerja sampai larut malam?.<br>
Yatno yang berpendidikan SMP, demikian juga istrinya, dibantu seorang karyawan lulusan SMA, yang berasal dari Prambanan juga. Karyawannya mendapat upah borongan, untuk setiap rangkaian bunga mendapat 50 ribu rupiah, sedangkan untuk pot kecil sekitar 5 ribu rupiah, sehingga setiap bulan bisa membawa pulang rata-rata 600 ribu rupiah.<br>
?Saya pulang ke Jawa, setahun sekali. Anak-anak sudah besar, dan disini bersama istri. Paling-paling kangen sama cucu?, sambil tersenyum. Yatno bersama istrinya merasa hidupnya cukup, dan merasa bahagia karena kedua anaknya berpendidikan perguruan tinggi. ?Semuanya berkah jualan bunga, dan rejeki dari Gusti Allah?, ucapnya serius. Ia tidak acuh sewaktu ditanyai mengenai masalah Pemilu dan Pilpres. ?Buat rakyat seperti kita, yang penting jangan ada kenaikan harga. Bisa repot dan penghasilan menurun?. Yatno, mewakili gambaran mayoritas rakyat kita yang sederhana dan hidup secukupnya. Bagi mereka yang penting adalah jaminan kesehatan dan garansi anaknya bisa sekolah. Siapapun presidennya bagi mereka bukan menjadi persoalan. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 4 Ag 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=143WAKIL RAKYAT LUPA . . . . .<br>
<br>
Rasa kecewa, sedih, marah dan jengkel merasuk kesebagian masyarakat Indonesia yang menyaksikan tayangan TV atau membaca berita bahwa Dewan Perwakilan Rakyat lupa mengumandangkan lagu Kebangsaan Indonesia Raya diawal Pidato Kenegaraan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus.<br>
Apakah rasa kebangsaan para elite politik di DPR sudah pudar? Tidak seorangpun, terutama Ketua DPR bersama anggotanya, berani mengadakan interupsi bahwa ada sesuatu yang terlupakan. Bukan hanya terlupakan, melainkan menghilangkan kesakralan sebuah pidato kenegaraan. Biasanya sidang-sidang DPR dipenuhi dan diramaikan oleh interupsi yang kadang-kadang tidak banyak berarti. Apakah para politisi kita menganggap mengumandangkan lagu Kebangsaan Indonesia Raya diawal sidang paripurna DPR hanya sekedar kebiasaan? Sebuah peristiwa yang menggambarkan kedangkalan jiwa berbangsa. Tidak berani mengadakan koreksi walaupun mungkin mereka mengetahui atau merasakan adanya kejanggalan. Takut atau masa bodoh. Yang disalahkan MC atau perangkat Sekretariat Jendral DPR, seperti biasa prilaku pimpinan yang mencari kambing hitam. Sudah dapat diduga.<br>
Kita semua sadar dan merasakan dengan mengumandangkan lagu Kebangsaan, bisa menggetarkan jantung dan mendorong semangat kita sebagai bangsa. Indonesia Raya telah menjiwai perjuangan kita, menyatukan bangsa ini, menggetarkan jiwa dan sanubari kita, mengobarkan semangat, bukan hanya sebagai lagu yang dinyanyikan atau dihafal. Apakah para anggota DPR terhormat yang sudah akan mengakhiri masanya, sudah tidak fokus dan menjadi pelupa? Atau menunggu instruksi Ketua Fraksi atau arahan partai?<br>
Lagu Kebangsaan selalu dikumandangkan dalam peristiwa atau acara yang memberikan dorongan berjuang dan memberikan penghormatan. Sebelum pertandingan tinju, atau pembagian medali bagi pemenang sebuah pertandingan olahraga selalu diiringi lagu kebangsaaan. Tidak pernah ada yang lupa!!! Indonesia Raya juga mengiringi berbagai demonstrasi di negara kita, mereka mengingatkan akan tujuan kemerdekaan bangsa ini. Mengingatkan para penguasa jangan hanya mengikuti peraturan yang sudah ada, walaupun mereka sadar bahwa itu keliru. Keliru karena tidak memperjuangkan hak rakyat. Hak rakyat untuk mendapat kesejahteraan dan hak bangsa yang paling utama yaitu kemerdekaan. Itulah esensi perjuangan yang masih terus harus dikobarkan.<br>
Semoga kejadian di Sidang Paripurna DPR, yang dihadiri para Duta Besar, ditayangkan diseluruh tanah air, direkam oleh berbagai media, kejadian yang akan dapat ditelusuri hingga ratusan tahun yang akan datang, tidak akan terulang. Semoga para politisi kita, terutama wakil rakyat di DPR, janganlah dikendalikan oleh acara, peraturan atau MC semata kalau mengetahui dan menyadari bahwa itu bertentangan dengan tugasnya membela dan mempertahankan kepentingan rakyat, negara dan bangsa. Semoga para anggota DPR yang akan datang tidak lupa bahwa mereka adalah wakil rakyat dan wakil bangsa..<br>
......INDONESIA RAYA MERDEKA MERDEKA HIDUPLAH INDONESIA RAYA.........<br>
MERDEKA!MERDEKA! DIRGAHAYU KEMERDEKAAN NEGARAKU YANG KE 64. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 18 Ag 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=144MALAYSIA LAGI......<br>
<br>
Lagi-lagi kta berhadapan dengan Malaysia, gara-gara tari Pendet dari Bali dan wayang kulit dijadikan bagian dari iklan pariwisata Malaysia yang ditayangkan TV internasional. Siapa yang tidak geram, Malaysia terus menerus membuat ulah seenaknya, mulai dari pengakuan batik dan reog Ponorogo sebagai bagian budaya mereka, sampai masalah pengakuan pulau Ambalat sebagai teritorinya.<br>
Harus kita akui bahwa keadaan ekonomi mereka sekarang ini lebih baik dari kita. Sebab itu banyak tenaga kerja kita mencari nafkah di Malaysia. Tetapi juga kita mengetahui adanya masalah dengan TKW, dan TKI tanpa ijin atau ilegal. Keadaan demikian bukan berarti mereka bisa semena-mena terhadap kita. Bukan berarti juga bahwa kita tidak dapat tegas menghadapi mereka.<br>
Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan Malaysia selalu membuat masalah dengan kita, baik masalah teritori maupun masalah budaya. Terkesan pemerintah tidak tegas menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan ini. Pertimbangan politik dan hubungan antar negara lebih diutamakan dari perasaan masyarakat. Khususnya dalam masalah budaya, yang terkait dengan HAKI, pernyataan para pejabat negara sering menunjukan ketidak pahaman mereka mengenai masalah yang sebenarnya dihadapi. Khususnya mengenai produk-produk tradisional, yang sudah menjadi milik umum, yang menjadi permasalahn bukan soal didaftarkan atau tidak, melainkan pengakuan dunia. Keris dan wayang kulit walupun telah mendapatkan pengakuan dunia, tetapi kita sendiri tidak memanfaatkannya untuk promosi bangsa dan negara kita. Pemerintah hanya bereaksi kalau negara lain telah memanfaatkan, seperti yang dilakukan oleh Malaysia baru-baru ini. Ataupun pemerintah berbuat sesuatu setelah didesak masyarakat. <br>
Sudah saatnya masyarakat secara nyata menjunjung tinggi hasil ekspresi budaya bangsa sendiri. Serta memanfaatkannya dalam keseharian. Jauhkan kegemaran pemakaian bahasa asing untuk gedung, pemukiman, ataupun pemakaman. Banyak sekali nama-nama Indonesia yang dapat dimanfaatkan. Kita akan merasa bangga kalau berbagai motif batik dimanfaatkan Garuda Indonesia untuk mengecat pesawatnya. Atau gedung-gedung tinggi di kota-kota besar memanfaatkan nama gunung atau sungai. <br>
Kita sudah tidak dapat lagi menerima pelecehan seperti sekarang ini. Kita jangan hanya ribut kalau sudah ada bangsa lain memanfaatkannya. Tidak cukup hanya menyatakan keberatan, protes atau demonstrasi. Sudah saatnya masyarakat bersama-sama menghargai budaya kita secara nyata. Bukan hanya sekadar harus mendaftarkan atau mendapatkan pengakuan. Mari kita mulai sekarang, sebelum ada pulau baru dan kreasi budaya kita diklain oleh Malaysia atau negara lainnya. Diharapkan juga pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara sungguh-sungguh menjunjung tinggi budaya kita dalam kehidupan sehari-hari, serta melindungi, memanfaatkan, dan mengembangkan kekayaan intelektual kita secara nyata. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 1 Sept 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=145CELENGAN<br>
<br>
Seperti halnya setiap bulan puasa, tahun ini kita menyaksikan lebih banyak kuli sindang yang menunggu pekerjaan dibandingkan dengan biasanya. Mereka berkumpul di tempat strategis sekitar simpang jalan atau jembatan, tidak jauh dari proyek pembangunan jalan atau proyek gedung. Kebanyakan dari mereka adalah pekerja bangunan dadakan atau musiman, tetapi ada juga yang menjalaninya sebagai profesi tetap. Meningkatnya jumlah kuli sindang kali ini, selain kebiasaan di bulan Ramadhan, tetapi juga disebabkan kemarau yang panjang, sehingga pekerjaan sebagai penggarap pertanian di pedesaan berkurang.<br>
Kang Yatmin, asal Kuningan yang sudah mempunyai 9 cucu, sebelum menggeluti pekerjaan yang sekarang, semula juga mencari nafkah di Jakarta sebagai kuli sindang bersama keempat anaknya. Tetapi sejak lima tahun yang lalu, karena umur sudah bertambah, ia memilih profesi baru sebagai pedagang keliling celengan yang terbuat dari tanah liat.<br>
Sudah sejak nenek moyang kita, tanah liat dipakai sebagai bahan baku untuk membuat berbagai peralatan dapur dan rumah tangga. Banyak desa-desa disekitar Kerawang dan Purwakarta menjadi pusat pembuatan gerabah ini. Kang Yatmin sendiri, mengkhususkan berjualan celengan dengan berbagai bentuk. Tempat menabung atau celengan yang terbuat dari tanah liat sangat diminati oleh anak-anak di kampung dan pedesaan, karena bentuknya yang beragam.<br>
Entah mulai kapan dinamakan celengan. Bentuknya yang menyerupai babi atau celeng hampir tidak pernah terlihat lagi, banyak celengan dari tanah liat yang berbentuk binatang, terutama anjing dan ayam jago. Bentuk dan warnanya yang menarik, celengan dari gerabah ini bisa dimanfaatkan juga sebagai penghias ruangan. Kang Yatmin dengan bermodalkan pikulan dan keranjang, selalu belanja di pasar Kranggan, yang tidak jauh dari tempat kontrakannya. Bersama denga tiga orang kawan seprofesinya mereka menyewa kontrakan dengan membayar masing-masing 150 ribu rupiah setiap bulannya. Ia rata-rata mengambil keuntungan dari setiap dagangannya sekitar 10 ribu rupiah. Dari uasahanya ini ia mendapatkan keuntungan rata-rata 50 ribu rupiah setiap harinya. Kalau sudah terkumpul ia membawanuya pulang ke Kuningan.<br>
Dalam bulan puasa dagangannya cukup laris, mungkin anak-anak banyak dianjurkan menabung untuk ?jajan? di Hari Raya. ?Tetapi sebentar lagi bakal sepi Pak, jadi saya sementara akan jadi kuli sindang lagi?, katanya sambil tersenyum. Bagi para pendatang dari daerah, Jakarta selalu menjadi tujuan untuk mencari penghidupan dan rejeki. Khusunya pada bulan puasa menjelang lebaran, banyak dermawan yang menyumbang makanan untuk berbuka puasa. Selain itu juga ada dermawan yang memberikan uang. ?Walaupun tidak ada pekerjaan, masih bisa berbuka puasa, dan sekedar mendapatkan uang?, ucapnya dengan raut muka yang tidak berubah. ?Saya tidak tahu, sampai kapan harus menjalani kehidupan seperti ini. Juga anak-anak saya?, katanya datar. Usahanya menyekolahkan anak-anaknya tidak banyak menghasilkan perubahan dalam kehidupannya. Semoga saja cucu-cucu kang Yatmin bisa menjalani hidup yang lebih baik. Kapan? Walahualam. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 15 Sept 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=146BATIK<br>
<br>
Hari-hari diawal bulan Oktober, merupakan hari-hari yang penuh dengan warna dan gairah nasionalisme. Dengan ditetapkannya batik sebagai Peninggalan Budaya bangsa Indonesia oleh Unesco pada tanggal 2 Oktober 2009 yang lalu, sepertinya telah memberikan energi baru, antusiasme, dan masa depan bagi dunia batik kita. ?Di mal sepertinya ada pesta, banyak yang menggunakan batik?, celetuk seorang pemuda yang menenteng komputer dan berkemeja batik. Beberapa perusahaan, terkasuk restoran, memberikan potongan harga bagi mereka yang memakai pakaian batik. Demikian juga beberapa taman hiburan.<br>
Upaya untuk terus melestarikan batik sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia, telah lama dilakukan. Kantor dan sekolah sudah rutin mengharuskan untuk memakai batik seminggu sekali. Sejak Bang Ali menjadi gubernur DKI, batik lengan panjang bagi pria sudah dianggap pakaian resmi dan sejajar dengan memakai jas dan dasi. Batik dengan beragam corak dan kwalitas, telah dapat diterima dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Masalah yang timbul dan masih menjadi perdebatan adalah, apakah tekstil printing dengan motif batik dapat dikatagorikan sebagai batik.<br>
Diharapkan dengan penetapan Unesco tersebut, akan membawa pengaruh kepada meningkatnya pemakaian batik, bukan saja batik tulis halus maupun kasar, melainkan juga batik cap. Para perancang busana telah bekerja keras dan berhasil menempatkan pakaian dari bahan batik ditengah masyarakat. Pengusaha batik makin bertambah dan berkembang. Tetapi bagaimana nasib pengrajin dan buruh batik? Di pelosok Bantul, Tasikmalaya, Pekalongan dan kota-kota lainnya para pengrajin dan buruh batik, masih terus mengerjakan batik untuk pesanan para pengusaha. Tetapi nasib mereka tidak bertambah baik seiring dengan membaiknya nasib para pengusaha batik. Masih ada dari mereka yang bekerja hanya dengan bayaran sekitar 50 ribu rupiah untuk menyelesaikan satu lembar batik. Ada yang bekerja dalam kelompok dan koperasi, atau bekerja diperusahaan sebagai buruh batik, tetapi ada juga yang bekerja dirumah sebagai pekerjaan sambilan. Mereka kebanyakan adalah kaum wanita.<br>
Beberapa waktu yang lalu, para pengrajin batik dihadapkan pada kenyataan langkanya dan mahalnya minyak tanah. Dimana-mana bermunculan gagasan pemakaian jenis bahan bakar lainnya, seperti LPG, minyak jarak, maupun minyak nyamplung. Sampai kemanakan upaya-upaya ini? LPG sudah mulai dimanfaatkan bagi mereka yang bekerja berkelompok. Tetapi disisi lain semakin banyak pengrajin batik yang bekerja dirumah mempergunakan kembali kayu bakar atau sabut kelapa. <br>
Momentum penetapan Unesco ini, harus dijadikan pemikiran dan upaya yang menyeluruh untuk per-batikan kita. Mulai dari pemanfaatan, pengembangan dan pelestariannya, meningkatkan kesejahteraan para pengrajin dan buruh batik, sampai pada masalah regenerasi pembatik. Batik tidak dapat terlepas dari ekonomi rakyat, sebab itu harus menjadi prioritas.<br>
Semoga batik akan mendapatkan tempat yang terhormat dalam masyarakat kita dan masyarakat dunia. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 6 Okt 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=147PIK PULO GADUNG<br>
<br>
Membicarakan ekonomi rakyat di Jakarta, kita tidak bisa terlepas dari Pulo Gadung. Sejak akhir tahun 80an, Jakarta memiliki Perkampungan Industri Kecil(PIK) di Cakung Jakarta Timur. Tetapi sekarang ini, masih adakah yang melirik keberadaan perkampungan industri kecil dengan lahan seluas 44 hektar, yang berlokasi berdampingan dengan Kawasan Industri Pulo Gadung.<br>
Sekarang ini keadaannya sangat menyedihkan dan kumuh, tidak jelasnya cara pengelolaan. Sangat disayangkan lokasi yang berada didalam kota, yang semula bukan hanya dijadikan lokasi percontohan pemukiman industri kecil, juga dimaksudkan untuk tujuan wisata. Kemajuan kota Jakarta selama 20 tahun belakangan ini, sepertinya sama sekali tidak menyentuh PIK ini. Berbagai pusat perbelanjaan yang berkembang di Jakarta tidak ada hubungannnya dengan pemukiman industri ini. Adanya UKM Center di Tanah Abang, dan UKM Gallery di Gedung Smesco Jalan Gatot Subroto, sepertinya sama sekali tidak terkait dengan pengusaha industri kecil dari Pulo Gadung yang pernah menjadi kebanggaan Jakarta. <br>
Bagi pengusaha industri kecil dari luar Jakarta seperti Krawang, Cirebon, Indramayu dan kota-kota lainnya, lebih mudah memasuki kota Jakarta dibandingkan dengan para penghuni PIK Pulo Gadung. Jalan masuk dan keluar kawasan tersebut sangat tidak layak bagi sebuah kawasan industri. <br>
Menjadi pertanyaan bagi kita semua, terutama masyarakat Betawi, sejauh mana pemerintah DKI memikirkan peran industri kecil khususnya yang berada di PIK Pulo Gadung? Apakah lahan seluas 44 hektar ini akan dibiarkan menjadi kawasan kumuh dengan ketidak jelasan Rencana Tata Ruang(RT) dan Rencana Wilayahnya(RW). Dengan diijinkannya para penghuni PK Pulo Gadung, bukan saja menyewa melainkan membeli dan memiliki bangunan dan lahan yang mereka pakai, maka akan muncul masalah masa depan PIK tersebut. Pengalaman beberapa lingkungan industri kecil di tempat lain, menunjukan bahwa generasi penerus dari para pengusaha industri tersebut mempunyai kehidupan yang lain, sehingga yang terjadi, adalah kawasan tersebut sudah berubah fungsi. Berbeda dengan perkampungan industri kecil yang berkembang karena adanya tradisi dan budaya lokal sejak dulu, PIK Pulo Gadung adalah lingkungan yang diciptakan tanpa ada tradisi dan budaya.<br>
Kawasan industri kecil lainnya di Jakarta dan sekitarnya telah tumbuh dan berkembang bersamaan dengan berkembangnya kota Jakarta. Ada yang merupakan bagian dari kawasan industri, tetapi ada juga yang berkembang di tempat terpisah. Industri-industri kecil tersebut jelas keterkaitannya dengan pasar dan industri menengah dan besar lainnya. <br>
Sudah saatnya pemerintah DKI bersama pemerintah pusat, memikikan masa depan lahan seluas 44 hektar tersebut, memikirkan nasib para penghuni PIK Pulo Gadung. Jangan-jangan sudah ada pengembang yang melirik lahan strategis ini. Semua menaruh harapan kepada Bang Foke, dan siapapun yang menjadi Menteri UMKM, untuk berbuat sesuatu. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 20 Okt 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16PERSAINGANhttp://www.leapidea.com/blog?blogId=148CICAK DAN BUAYA<br>
<br>
Akhir-akhir ini masyarakat banyak meributkan soal cicak lawan buaya. Terlalu banyak kiasan yang dipakai oleh para petinggi kita. Kenapa sih tidak terang-terangan saja dan tunjuk hidung, agar sesuatunya jadi lebih jelas dan selesai. Atau memang politik harus selalu gelap atau remang-remang, walaupun masyarakat mengetahui siapa yang dimaksud.<br>
Yang jelas cicak banyak berkeliaran dirumah dan gedung, walaupun kadang-kadang kotorannya menyebalkan, tetapi keberadaannya diperlukan untuk membasmi serangga terutama nyamuk. Cicak sama sekali tidak mengganggu kehidupan kita, para pelaku ekonomi rakyat tidak pernah berurusan dengan cicak. Makanan cicak hanya yang besar dan lezat. Nyali dan seleranya besar, bukan hanya buaya yang diserangnya, melainkan semua pemakan daging dan penghisap darah dijadikan musuhnya.<br>
Lain halnya dengan buaya, yang rakus dan tak pernah kenyang, bukan hanya binatang hidup yang dimakan, tetapi juga bangkai dilahanpnya. Ayam, kambing, tikus dan juga manusia diserangnya. Yang kecil dan yang besar, ataupun yang kurus dan gemuk, untuk buaya sama saja. Mereka adalah mangsanya. Merasa kesal mulai diserang cicak, sekarang ini buaya menyerang balik, ingin memangsa cicak.<br>
Para pelaku ekonomi rakyat bukan hanya berhadapan dengan buaya, melainkan juga dengan tokek dan biayawak. Mereka melata, menjulurkan lidahnya, menjilat dan memakan. Kesalahan kecil atau kekeliruan terus dicari dan dijadikan penambah selera. Kaki lima, pasar tradisional, terminal bis, dan perempatan jalan menjadi tempat mereka menunggu mangsa. Setiap hari kita menyaksikan para pelaku ekonomi rakyat, menjadi sasaran empuk bagi tokek, biayawak, dan buaya. Hampir-hampir tidak ada yang peduli dan membela mereka. Negara dan partai politik yang katanya memihak rakyat dan wong cilik, sama sekali tidak berdaya. Prilaku buaya, toke dan biayawak yang menjijikan, oleh negara dianggapnya kejadian biasa. Sungguh suatu ironi bagi negara yang ingin menegakkan keadilan. Siapa yang akan membela masyarakat lapis bawah? <br>
Gunjang-ganjing antara cicak dan buaya yang terus berkembang, kalau tidak diberhentikan, bisa melebar dan mengikutkan tokek dan biyawak kedalamnya. Alangkah naif dan piciknya kita, kalau para penegak hukum terlibat dalam adu kekuatan memperebutkan lahan penghidupan. Atau mereka berdalih hanya berdasarkan baris-baris dalam undang-unndang tanpa mendalami makna dan akibat sosialnya, serta mempergunakan nurani dalam mengambil keputusan. Penegakkan hukum yang demikian hanya akan menimbulkan gesekan-gesekan, dan antipati. Kitapun bisa terlepas dari keterkaitan moral dan budaya.<br>
Masyarakat, terutama masyarakat kecil pelaku ekonomi rakyat, sangat berharap dan menanti penyelesaian tuntas masalah cicak dan buaya ini. Tetapi yang lebih penting lagi agar buaya, tokek dan biayawak merubah prilakunya. Jangan diartikan prilaku mereka yang sekarang ini merupakan hal yang biasa, melainkan prilaku mereka ini luar biasa memalukan. <br>
Masyarakat kita tidak bodoh lagi, mereka tahu siapakah yang dimaksud dengan cicak, buaya, tokek maupun biyawak. (rahardi@ramelan.com)<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=149KAMBING HITAM<br>
<br>
Keributan cicak lawan buaya belum selesai, sudah muncul cerita baru mengenai ?markus? atau makelar kasus. Politisi, petinggi negara, dan ahli hukum akhirnya mengakui bahwa markus itu memang ada. Masyarakat sudah lama membicarakan adanya ?markus?, tetapi tidak pernah didengar. Betapa jauhnya antara mulut rakyat dengan telinga para petinggi kita. Semoga tidak ada kambing hitam yang dicari.<br>
Tetapi, dimanapun keberadaan mulut rakyat, terutama para pelaku ekonomi rakyat, mereka harus makan. Demikian juga dengan Pak Mathoha, yang tinggal di Cileungsi harus mencari pekerjaan tambahan selain pekerjaan utamanya sebagai petani. Sejak tahun 1982 ia sudah dikenal sebagai ppembuat bedug, produknya dikenal luas di beberapa desa sekitar, sampai ke Jakarta, Bogor dan Bandung.<br>
Dengan dibantu oleh seorang anaknya yang masih belajar di SMP, ia membuat bedug dengan memanfaatkan drum bekas dan kulit kambing. Di dalam ruang kerja yang berukuran 2 X 3 meter, berbagai peralatan tukang dan gunting tersedia. ?Sekarang pesanan sedang banyak, pak. Jadi saya harus bekerja keras?, katanya. Ayah dari tiga anak, pak Mathola yang hanya tamat SD, berusaha agar anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang lebh baik. ?Tetapi gimana ya pak, sekolah sampai SMP, ongkosnya mahal, tetapi pekerjaan tidak ada?, keluhnya. Kenyataannya, kedua anaknya yang sudah berkeluarga, terpaksa menjadi tukang ojek untuk bisa mendapat penghasilan menghidupi keluarganya.<br>
Untuk sebuah bedug, ia memerlukan modal sekitar 100 ribu rupiah. Sudah termasuk membeli drum dan kulit kambing. Saat ini, menjelang hari Raya Idul Adha, ia sudah menyiapkan dana yang cukup untuk membeli kulit kambing. ?Sebentar lagi kulit kambing agak miring harganya, pak?. Ia sudah menghubungi beberapa mesjid yang biasanya mendapat banyak kambing kurban. Pak Mathoha hanya memilih kulit yang lebar dan bagus, tidak peduli apakah berasal dari kambing hitam, kambing hitam sungguhan. Setiap bedug bisa dijual dengan harga antara 300 sampai 350 ribu rupiah. Sedangkan anaknya yang ikut membantu pekerjaannya, mendapatkan 30 sampai 50 ribu rupiah untuk sebuah bedug. Bagi pak Mathoha, tambahan penghasilan dari pembuatan bedug, dapat mencukupi kehidupannya sebagai petani palawija.<br>
?Mudah-mudahan semuanya aman ya, pak. Supaya banyak yang membeli bedug?, katanya lirih. Iapun kemudian bercerita mengenai masalah cicak dan buaya, ?markus? dan preman. ?Setiap hari ada saja yang meminta uang kesini pak. Resmi dan tidak resmi?, katanya dengan nada keras. Begitulah kehidupan masyarakatnya pak Mathoha, menghadapi segala ukuran buaya, biyawak dan toke. Mereka berharap penyelesaian perselisihan antara cicak dan buaya, juga meniadakan prilaku buaya kecil, biyawak, toke dan sejenisnya. Akhirnya ia berharap semua yang memesan bedug akan mengambil pesanannya serta membayar. (rahardi@ramelan.com) <br>
Dimuat di harian Pos Kota 24 Nop 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=150PEMPEK PALEMBANG<br>
<br>
Usaha yang paling banyak dilakukan oleh para pelaku ekonomi rakyat sekarang ini ialah usaha makanan atau jasa boga. Kadang-kadang usaha ini sebagai transisi atau hanya usaha sementara sebelum mendapatkan pekerjaan tetap lainnya. Selain modal tidak terlalu besar, pasarnyapun kelihatan masih terbuka. Yang penting adalah jenis makanan yang dipilih dan lokasi tempat berjualan.<br>
Jakarta dan sekitarnya menjadi tempat bermukimnya hampir semua suku dari seluruh Indonesia. Mulai dari Aceh sampai Papua. Demikian juga dengan pendatang dari luar yang sudah menjadi bagian dari bangsa kita, seperti Tionghoa, Arab, Pakistan, India, dan mereka yang datang kemudian seperti dari Eropa, Amerika dan Afrika. Tempat bercampurnya berbagai suku bangsa ini memberikan peluang bagi penjual makanan dan jajanan dengan berbagai rasa daerah dan negara asal. <br>
Peluang usaha jajanan daerah ini dimanfaatkan oleh Pak Ismail, yang lebih senang dipanggil Bang Mail, yang asli Betawi. Tujuh tahun yang lalu, Bang Mail yang menyandang ijazah SMP, terkena PHK sebagai supir dari sebuah pabrik. Setelah membicarakan dengan istri dan kedua anaknya, ia kemudian memutuskan untuk memulai berjualam pempek Palembang. Iapun memilih lokasi di kaki lima sebuah Gedung Pertemuan dengan membayar 20 ribu rupiah setiap harinya.<br>
Dengan dibantu anaknya yang juga tamatan SMP, ia membeli berbagai peralatan dan gerobak dengan etalase kaca. ?Waktu itu saya mengeluarkan dana sebesar 3 juta rupiah?, kata Bang Mail tersenyum. Setiap hari ia memmpersiapkan berbagai bahan untuk pempek Palembangnya. ?Langganan saya bukan hanya orang Palembang. Pempek sudah disenangi oleh semua orang. Mungkin rasanya yang agak kecut?, ungkapnya.<br>
Setiap malam Bang Mail berjualan, dan menghabiskan antara 30 sampai 40 porsi, penghasilan kotornya mencapai 150 sampai 200 ribu. ?Setiap hari saya bisa menyisihkan 50 sampai 75 ribu, yang saya serahkan keistri dirumah?, katanya datar. Sedangkan untuk anaknya yang ikut membantu pekerjaannya, mendapatkan uang jajan 10 ribu rupiah setiap harinya. ?Ia tidak mau sekolah lagi. Kakaknya yang tamat SMU saja hanya jadi tukang ojek?, keluhnya. Bang Mail kemudian banyak menceritakan keluh kesahnya mengenai keadaan ekonomi sekarang. Untuk mencari pekerjaan lagi sebagai supir hampir tidak mungkin. Ia sendiri tidak mempunyai keahlian lain. <br>
Kalau sedang ada kegiatan atau perayaan di gedung pertemuan tersebut, Bang Ali selalu menyiapkan dagangannya lebih. Rejeki katanya. ?Bulan ini sedang banyak acara, jadi saya bisa menyisihkan uang lebih banyak. Lumayan untuk persiapan lebaran dan kurban tahun depan?, katanya dengan mata yang bersinar.<br>
Di tempat Bang Mail bekerja, saya menyaksikan bang mail-bang mail lainnya. Ada yang berjualan gado-gado Jakarta, sate Padang, ikan bakar Makasar, soto Madura, ayam betutu Bali. Ada juga yang berjualan burger ala Amerika dan dosis Jerman. Betawi sudah mendunia. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 8 Des 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=151JAJANAN SEHAT<br>
<br>
Walaupun ia hanya tamatan SD, tetapi kedua anaknya telah lulus SMA. Pak Rono, asal Pemalang telah mengeluarkan uang sebesar 500 ribu rupiah untuk mengurus berbagai surat untuk kedua anaknya agar segera bisa mendapat pekerjaan. ?Sampai hari ini mereka masih menganggur. Kadang-kadang kita bingung, pak. Sekolah lama dan mahal akhirnya menganggur?, keluhnya. <br>
Sudah sejak 27 tahun, Pak Rono tidak merubah profesinya dan tetap pada pekerjaannya semula. Berjualan jagung dan kedelai rebus, di Jakarta. Setiap hari ia berkeliling menjajakan jualannya mulai pukul 13 sampai pukul 22 malam. Setiap hari ia belanja jagung dan kedelai di Pasar Induk Kramat Jati. Ia memperkirakan harga gerobak yang ia pakai setiap hari, dengan berbagai peralatannya seperti kompor dan dandang, bernilai 1.750.000 rupiah. ?Sekarang semua barang naik harganya, saya harus menyediakan uang 150 ribu rupiah setiap harinya untuk belanja?, katanya sambil terus menyusun jagung dan kedelai yang sudah direbus sebelumnya. Setiap hari rata-rata ia dapat menjual 30 buah jagung dan 20 ikat kedelai rebus. ?Sekarang jagung saya hargai 1500 dan satu ikat kedelai 2000 rupiah?. Setiap hari hari pendapatanntya sekitar 220 ribu rupiah. Uang tersebut harus ia bagi dengan baik. Selain untuk modal, juga untuk tabungan dan sewa kontrakan.<br>
Bersama seorang kawan sekampungnya, ia mengontrak rumah ukuran 3 X 3 meter, dengan sewa 200 ribu setiap bulan. Uang tabungannya ia bawa pulang ke Pemalang 3 bulan sekali. ?Saya masih mempunyai dua anak lainnya yang masih memerlukan biaya sekolah?, ujarnya dengan mata sayu. Pria yang sekarang berumur 49 tahun ini, merasa tidak mempunyai ketrampilan lainnya. Ia merasa puas dengan pekerjaannya sebagai penjual jagung rebus. Yang ia harapkan sekarang, hanya bagaimana kedua anaknya yang telah lulus SMA bisa segera bekerja.<br>
?Mudah-mudahan tahun 2010 yang akan datang akan lebih baik, ya pak?, harapnya. Kemudian ia bercerita mengenai berbagai hal yang ia baca di koran dan lihat di tayangan TV. Dia hanya mengenal SBY, tapi siapa menteri yang seharusnya memikirkan kehidupan mereka, sama sekali tidak dikenalnya. ?Kasihan itu bu Prita pak. Saya ikut menyumbang koin untuk bisa membayar dendanya?, katanya tidak bersemangat. Ia pun mengeluhkan bagaimana mahalnya obat dan pelayanan kesehatan. Pak Rono sangat mengharap di tahun 2010 banyak perubahan di Indonesia.<br>
Menjelang perayaan pergantian tahun, pak Rono telah memikirkan untuk menambah dagangannya. ?Setiap ada keramaian, buat saya berarti rejeki. Hasilnya bisa lebih dari dua kali?, matanyapun kelihatan bersinar. Setelah perayaan Tahun Baru, iapun merencanakan untuk pulang ke Pemalang. ?Sudah kangen, pak?.<br>
Semoga harapan pak Rono bisa terkabul, dan kita semua Bangsa Indonesia dapat hidup lebih baik, tenang, bergairah, serta lebih berkwalitas. <br>
SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU 2010. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 22 Des 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=152TAHUN 2010<br>
<br>
Bagi yang merayakan atau pun tidak merayakan detik-detik pergantian tahun 2009-2010, saya mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2010. <br>
Tahun 2009 kita tinggalkan dengan perasaan dan kenangan yang berbaur. Duka yang menyelimuti bangsa kita dengan meninggalnya mantan Presiden RI ke 4 Gus Dus, dan seprang pejuang yang mempunyai prinsip Bapak Frans Seda. Keduanya adalah tokoh-tokoh yang mempunyai peran berbeda dalam membangun masyarakat kita. Kecewa mengalir terus didada kita, menonton lelucon Perang Tanding Cecak-Buaya dan Dagelan Banl Century. Lelucon dan dagelan yang tidak lucu, melainkan menyedihkan.<br>
Di akhir tahun 2009, kita sedih melihat para pedagang terompet masih memenuhi sekitar tempat diselenggarakannya pesta tahun baru. Mereka bertahan sampai subuh tahun 2010. Haru melihat kuli sindang masih menunggu rejekinya disepanjang kaki lima dekat ke proyek dan jembatan-jembatan. <br>
Tahun 2009, dinikmati rakyat karena banyaknya politisi dan partai politik mengumbar janji dan hadiah untuk mendapatkan dukungan dalam Pemilu dan Pilpres. Banyak janji yang sekedar pemanis mulut, sudah luntur, koyak, dan hilang seiring dengan menghilangnya dan terkoyaknya bendera partai politik yang masih berkibar lusuh di tiang-tiang tinggi, serta menghilangnya poster-poster dari tembok jalan.<br>
Tahun 2010, katanya kita harus optimis. Semoga semuanya bertambah baik. Tetapi belum apa-apa kita dilanda tsunami baru bagi pelaku ekonomi rakyat. Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China, yang akan mulai berlaku tahun ini. Sebelum tahun 2010 kita sudah merasakan banjir produk China yang banyak merugikan industri kecil kita, tekstil, mainan anak-anak, barang-barang keperluan tangga, pokonya semua barang kelontong. Kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan produk China ini, bukan saja banjir atau air bah, melainkan tsunami. Buah-buahan, makanan dan minuman, jamu tradisional (China), kembang apai dan mercon, akan ikut menggilas pasar kita. Menteri, pejabat, politisi, pengusaha dan rakyat banyak yang mengkhawatirkan dampak negatif perjanjian ini. <br>
Saatnya bagi kita, kita semua, untuk bersungguh-sungguh, untuk mencintai produk bangsa kita sendiri. Kalau perlu kita kembali memakaiperalatan dan mainan tradisional, utamakan pemakaian bahan baku lokal dan tradisional, seperti gerabah dan daun. Kita nikmati kembali makanan, buah dan jajanan tradisional. Kita utamakan makan beras dari mie, makan pisang dari apel atau anggur. Kita harus saling mendukung, petani dan nelayan, pengrajin dan industri kecil, pedagang dan warung, serta konsumen, untuk mempertahankan diri dari tsunami yang akan melanda.<br>
Kita tidak perlu menunggu perintah dan himbauan, atau membentuk tim dan pansus, kita lakukan apa yang terbaik. Politisi dan pejabat masih ribut mencari jalan keluar, tentu dengan perhitungan untung-rugi dan kekuasaan. <br>
Semoga tahun 2010 akan membawa perbaikan untuk kehidupan kita, kehidupan para pelaku ekonomi rakyat dan keluarganya, serta rakyat Indonesia pada umumnya.<br>
SELAMAT TINGGAL 2009, SELAMAT DATANG 2010. (rahardi@raemelan.com)<br>
Dimuat di harian Pos Kota 5 Januari 2009<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=153DOMPET DAN ROMPI<br>
<br>
Barang China semakin merajalela memasuki pasar kita. Mungkin bagi pedagang tidak ada masalah, malah menguntungkan karena dengan modal sama bisa mendapat barang lebih banyak. Tetapi bagi para pengrajin atau industri rumah tangga, kebijakan pemerintah menyetujui pasar babas dengan China, bisa membawa malapetaka. ?Saya sering membaca di koran dan melihat di televisi, mengapa pemerintah harus begitu??, kata pak Bagas menjawab pertanyaan tentang penyebab menurunnya pelanggan yang datang.<br>
Pak Bagas yang berasal dari Cilacap sudah lama tinggal di Jakarta. Sebelum menjadi pengusaha dompet, topi, tas dan rompi, ia mengabdikan dirinya sebagai PNS di salah satu Departemen. ?Setelah pensiun, saya harus mencari penghasilan tambahan untuk membiayai sekolah anak-anak?, katanya lirih. Sejak tahun 1970, pak Bagas mendirikan usaha pembuatan topi dan rompi. Waktu itu banyak sekali pesanan oleh berbagai kelompok perkumpulan. Usahanya terus berkembang dan menambah produknya dengan dompet dan tas. Dengan menempati ruangan sebesar 4 X 6 meter yang terletak disamping rumahnya, pada waktu jayanya pak Bagas mengoperasikan 7 buah mesin jahit dan 2 buah mesin obras, dengan pekerja 7 orang. Pada waktu itu dana yang dikeluarkan sebesar 2,5 juta rupiah. ?Sekarang tinggal sebuah mesin jahit dan sebuah mesin obras. Saya pun hanya dibantu oleh istri saya?, ucapnya dengan wajah lesu. <br>
Pak Bagas dan istrinya mempunyai 6 orang anak. Sedangkan yang tinggal dirumah hanya yang bungsu dan masih sekolah di SMK. Yang lainnya sudah bekerja semuanya. Ia mengerjakan pesanan bersama istrinya. Ongkos menjahit sebuah topi 12 ribu rupiah. Dompet dijual dengan harga 15 ribu rupiah, sedangkan rompi dijual dengan harga 80 ribu. Tetapi sekarang ini bekerjanya hanya berdasarkan pesanan. Kalau ada pesanan, rata-rata setiap hari ia memerlukan modal sebesar 500 ribu rupiah untuk bahan, dan bisa mendapatkan penghasilan bersih sebesar 400 ribu rupiah. ?Kalau tidak ada pesanan, biasanya beli bahan 200 ribu dan menunggu sampai ada pembeli?, dengan mata menatap jauh. <br>
Dengan usianya yang menginjak 63 tahun, pak Bagas bekerja santai. ?Saya tidak ngoyo pak. Sudah mulai capek?, katanya. Ia hanya berharap mendapatkan uang untuk membayar sewa tempat ia bekerja, sebesar 200 ribu setiap bulan. Ia kemudian banyak ceritra mengenai kekhawatirannya bahwa harus menutup usahanya. ?Sudah banyak teman-teman saya menutup usahanya. Pedagang di pasar sudah mendapatkan barang yang lebih murah, sehingga tidak mau menjualkan barang kita?. <br>
Semoga saja pemerintah segera mengambil langkah agar teman-teman pak Bagas masih dapat terus menjalankan usahanya, untuk menghidupi keluarganya. Pak Bagas masih berharap masa jayanya, dengan 7 buah mesin jahit dan 2 mesin obras, dapat kembali. Apakah itu harapan atau impian? Hanya waktu yang bisa membuktikan. Semoga. (rahardi@ramelan.com)<br>
Dimuat 19 Januari 2010<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=154EKONOMI RAKYAT YANG MANA?<br>
<br>
Sebuah Seminar Akbar mengenai kaitan ekonomi kerakyatan dengan budaya nusantara, diselenggarakan di Wonogiri pada tanggal 30 Januari 2010 yang lalu. Yang menarik, bahwa seminar ini diprakarsai antara lain oleh seorang Bupati Wonogiri, Begug Poernomosidi.<br>
Globalisasi dan ekonomi pasar bebas banyak menimbulhan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Ditambah lagi dengan perjanjian dagang bebas ASEAN dan China yang mulai berlaku 1 Januari 2010. Kekhawatiran ini sudah meluas dan semakin lantang di suarakan. Apa yang digembor-gemborkan oleh para politisi sewaktu pemilu dan pilpres, kenyataannya wong cilik tetap cilik atau tambah cilik. Yang besar tambah besar dan menggurita. Yang berupaya mencari isi perut dengan berbuat kriminal kecil ditahan dan dihukum. Para pencoleng uang rakyat dibiarkan berkeliaran, dan terus tertawa.<br>
Di Wonogiri tidak ada pabrik dan tidak ada konglomerat. Kita mengenal Wonogiri mungkin dari tukang baso dari Wonogiri, termasuk baso Lapangan Tembak yang terkenal. Atau penjaja jamu gendong. Gaplek dan tapioka banyak dihasilkan dari Wonogiri. Bupati dengan warga Wonogiri mengembangkan dirinya untuk ekonomi yang mereka perlukan, ekonomi rakyat. <br>
Nilai-nilai budaya dan kearifan lokal menjadi dasar untuk menentukan dasar dan arah. Koperasi dilakukan berdasarkan kebersamaan di tingkat RT. Dilingkungan kacamatan tidak ada minimarket dan supermarket. Itu haknya rakyat membuka warung dan toko klontong. Pasar tradisional dan pasar ternak terus berkembang, yang sudah menjadi tradisi. Ekonomi tradisional yang bermakna bersilaturahmi dan tawar-menawar mencari kesepakatan.<br>
Menko Kesra dalam sambutan pembukaannya menekankan bahwa kita ekonomi pasar bebas. Masyarakat yang harus siap dan berupaya menghadapinya. Mungkin beliau lupa bahwa masyarakat wong cilik dari dulu sudah terus berupaya. Bebas tanpa arah adalah sangat keliru. Dengan kemampuan dan modal terbatas, pelaku ekonomi rakyat terpaksa berdagang di trotoar atau bahu jalan, dengan membayar restribusi siluman. Razia datang, diusir dan lapak diangkut dan dihancurkan. Toko dan kantor yang berada di lingkungan pemukiman mewah kalau dirazia hanya ditempel bahwa DISEGEL. Tetapi kegiatannya berjalan terus dan tidak dibongkar. Apa itu ekonomi pasar bebas? Dimana letak keadilannya?<br>
Akibat ketidakadilan kolonial, sejak awal kemerdekaan semua sadar bahwa ada sebagian masyarakat kita yang perlu dilindungi dan diberdayakan. Mereka adalah kelompok tertinggal, kelompok tidak mampu dan kelompok miskin. Sampai sekarang kita masih terus berupaya mengatasinya, tetapi kalah cepat dengan yang berorientasi pasar bebas.<br>
Semoga kita semua masih mempunyai nurani untuk mengakui bahwa keadilan masih belum tercapai, sehingga perlu adanya pemihakan dan perlindungan. Dalam perekonomian, kita tidak memerlukan ekonomi pasar yang bebas, melainkan ekonomi pasar yang ber Pancasila, yang didasari falsafah dan budaya bangsa. Ekonomi pasar yang bermoral, manusiawi, nasionalis, demokratis dan berkeadilan sosial.<br>
Kepala daerah dan anggota DPRD sudah dipilih oleh rakyat, sudah saatnya mengabdi kepada rakyat, bukan kepada partai atau atasan. Mari kita mulai dari bawah RT, RW, desa, kecamatan dan kabupaten. <br>
Fenomena Wonogiri perlu ditularkan ke daerah lainnya.<br>
Dimuat 2 Februari 2010<br>
Rahardi Ramelan2010-12-16EKONOMI RAKYAThttp://www.leapidea.com/blog?blogId=155KEMBALI PAKAI TEPLOK<br>
<br>
Walaupun minyak tanah sudah sukar untuk didapat, masyarakat kelompok bawah masih terus mencarinya. Mereka bukan lagi membutuhkan untuk memasak, melainkan untuk keperluan pengganti lampu. Maklum mereka mengalami pemadaman listrik yang dilakukan PLN. Kelompok masyarakat menengath atas dan lapisan atas biasanya sudah menyiapkan genset yang akhir-akhir ini merebak diperdagangankan.<br>
Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat yang telah dicapai dengan meluasnya jangkauan listrik, membuat pemadaman listrik yang akhir-akhir ini sering terjadi telah menyulitkan kebiasaan kehidupannya dimalam hari. Listrik bukan saja berfungsi sebagai sumber penerangan, melainkan juga untuk kebutuhan mengikuti acara televisi dan mengisi batere hp yang sudah merupakan kebutuhan mereka. Jadi bagi mereka dengan penghasilan yang pas-pasan, para pelaku ekonomi rakyat selain memakai listrik, terpaksa memanfaatkan lampu teplok atau sentir yang mempergunakan minyak tanah.<br>
Bagi pak Tukijo, asal Plered Bantul, keadaan ini telah menambah rejekinya. Pak Tukijo, yang sekarang berusia 54 tahun, sejak 9 tahun yang lalu mulai berjualan berbagai kebutuhan rumah tangga, khususnya lampu teplok, sentir dan sumbunya. Ia meninggalkan istri dan anak-anaknya di Bantul, dan tinggal di rumah kontrakan bersama 2 orang teman sekampungnya. ?Beginilah nasibnya, pak. Pisah sama istri dan anak sudah menjadi kebiasaan kawan-kawan sekampung?, kata pak Tukijo datar. Selain istri, ia mempunyai tiga orang anak yang semuanya sudah berkeluarga. Walaupun ia tidak pernah sekolah, tetapi pengakuannya bisa membaca. Ketiga anaknya tamat sekolah SMP, SMA, dan SMK, serta sudah bekerja. <br>
Pak Tukijo berdagang dengan pikulan dan keliling dibeberapa lokasi perumahan sederhana dan kampung-kampung. Ia membeli barang dagangannya di pasar setiap minggu. ?Rata-rat