|
| September 2010
|
| sun |
mon |
tue |
wed |
thu |
fri |
sat |
|
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
| 5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 |
| 12 |
13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 |
| 19 |
20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 |
| 26 |
27 |
28 |
29 |
30 |
|
aug
|
oct
|
|
FENOMENA SUTYAOSO
creator: Rahardi Ramelan
category: Opini
create date: 2007-11-02
user group:
role: all
|
FENOMENA SUTYOSO
Oleh: Rahardi Ramelan
Bagi politisi dan partai politik dinegara kita deklarasi Sutyoso menjadi Capres sungguh mengejutkan dan membuat gerah, karena keluar dari berbagai pakem yang sekarang berlaku dalam persaingan menghadapi pemilihan presiden 2009. Berbagai komentar dan pendapat politisi dan partai politik terkesan dingin: terlalu dini, harus dicalonkan oleh partai politik, bukan saingan, tidak masalah, silahkan saja. Mereka hanya menutupi kekagetan, dan kekhawatiran dengan mencoba berlaku tenang. Kalau kita menyimak apa yang dilakukan oleh Sutyoso dalam 10 tahun terakhir, merupakan konsekwensi logis dari pendiriannya selama ini, sebagai Gubernur DKI dan sebagai tokoh masyarakat. DPR yang masih ribut membahas calon independen, walaupun hanya untuk pemilihan umum DPR/DPRD, tetapi sudah muncul kekhawatiran alan berlanjut kepada pemilihan presiden. Tetapi DPR sebagai lembaga legislator, yang dikuasai oleh wakil partai, tidak akan begitu saja mengalah atau menyerah, terhadap calon independen yang akan mengakibatkan berkurangnya kekuasaan partai politik dalam menentukan calon anggota DPR/DPRD, maupun calon pimpinan daerah.
Deklarasi politik Sutyoso sebagai capres, juga telah mengejutkan masyarakat, tetapi juga disisi lain memberikan harapan. Walaupun kita mengenal Sutyoso sudah cukup lama, tapi karena ia mencalonkan diri sendiri dan bukan dicalonkan oleh partai politik tertentu, maka timbul berbagai pertanyaan mengenai pandangan Sutyoso atas berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini. Sebagai prajurit TNI, dengan sumpah prajurit dan sapta marganya, tidak akan diragukkan lagi sikap nasionalisme dan patriotismenya. Sutyoso memiliki waktu yang cukup panjang untuk dapat menjelaskan kepada masyarakat berbagai masalah mendesak yang dihadapi bangsa kita. Sehingga masyarakat yang akan memilih dan partai politik yang akan ikut mencalonkannya dapat menilai wawasan dan visi Sutyoso. Inilah tantangan terberat bagi Sutyoso.
Masalah yang mendesak bagi bangsa kita adalah masalah keterpurukan dan jatidiri bangsa. Krisis yang telah terjadi sejak tahun 1997, telah menciptakan berbagai krisis baru, seperti krisis kepercayaan, baik horisontal maupun vertikal. Penyelesaian berbagai masalah, sering dilakukan dengan protes dan demonstrasi yang menuju kedalam konflik antara golongan masyarakat, antar desa, antar sekolah dan antar institusi. Hampir sudah menjadi kebiasaan bahwa mahasiswa protes atas keputusan pimpinan pergutuan tinggi, atau pimpinan perguruan konflik dengan yayasan pemilik, siswa SMP memprotes keputusan Kepala Sekolah. Kesemuanya diikuti dengan demonstrasi dan perusakan fasilitas pendidikan. Baru-baru ini kita melihat tayangan tivi, dimana pengungsi yang sudah lama menunggu datangnya bantuan, telah mengamuk dan membuang beras, hanya karena jumlah beras yang dibagikan tidak mencukupi bagi seluruh pengungsi. Membuat hati kita miris dan terenyuh. Konflik terbuka diantara lembaga tinggi negara, seperti antara BPK dan MA, antara KY dan KPK, telah memperpanjang daftar terjadinya distrust dalam masyarakat kita. Dana non bujeter Bulog, yang dulu menjadi momok, dan dianggap sebagai sumber korupsi dan harus segera dihapus, tetapi kenyataannya sekarang masih banyak berbagai rekening dan pungutan didalam institusi negara dan di departemen yang masih berjalan dengan aman. Berbagai masalah yang kita hadapi dengan negara tetangga Malaysia, mulai dari masalah pulau-pulau, tenaga kerja, pelecehan tenaga kerja wanita, sampai kepada masalah klaim atas hasil ekspresi budaya, hanya menjadi perdebatan diantara kita, untuk saling tuding dan saling menyalahkan. Kita sendiri tidak berbuat apa-apa mengahdapinya. Sekarang ini juga muncul dikalangan generasi muda dan masyarakat umum perasaan masa bodoh, pesimistis dan skeptis terhadap berbagai upaya pimpinan pemerintah dalam menangani berbagai kasus. Hal-hal diatas menunjukkan betapa bangsa ini terpuruk, yang akhirnya bersumber dari pendangkalan budaya kita. Penempatan portofolio kebudayaan didalam departemen yang menangani parawisata, semakin memperparah situasi dengan seringnya mereduksi arti budaya hanya sejauh kesenian ataupun ekspresi budaya.
Permasalahan yang akhirnya bersumber pada budaya ini, harus dapat dilihat secara jernih oleh Sutyoso, apalagi ia mempunyai kebebasan karena tidak terbelenggu dan terperangkap dengan ideologi partai tertentu. Kita masyarakat yang akan memilih dan partai politik yang akan mengusung, menunggu pandangan dan wawasan Sutyoso, serta visinya dalam penyelesaian masalah yang sangat mendasar ini. Selamat berjuang Bang Yos!
Jakarta, 6 Oktober 2007
Dimuat di Harian Media Indonesia 15 Oktober 2007
|
|
|
|
add comment
|
|