Tsunami Bagian Dari Hidup Kita

You are not logged in
You are here: home  -  presentation  -  show presentation
Login
email

Password

 
I forgot my password.
please send me a new one.

September 2010
sun mon tue wed thu fri sat
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30
aug  |  oct

Google Search

Tsunami Bagian Dari Hidup Kita
creator: Rahardi Ramelan
category: Opini
create date: 2005-05-09
user group:
role: all
TSUNAMI BAGIAN DARI HIDUP KITA
Oleh: Rahardi Ramelan
Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember  ITS, Surabaya.

Sudah jadi takdir bahwa sebagian dari bangsa Indonesia harus menghadapi kenyataan bahwa harus hidup dengan tsunami. Ini adalah bagian dari fakta bahwa gugusan kepulauan nusantara Indonesia ini berada diplanet bumi yang kita cintai ini. Apapun yang kita kehendaki atau kita bangun, tidak dapat merubah kenyataan bahwa Indonesia tetap berada ditempat yang sama seperti sekarang ini, seperti ribuan tahun yang lalu, dan akan tetap berada dilokasi yang sama ribuan tahun yang akan datang. Sampai nanti waktunya Pencipta, Pemilik dan Penguasa alam semesta ini menentukan lain.
Ribuan kilometer pantai yang kita miliki, ratusan gunung berapi yang masih aktif betebaran disekitar kita. Ribuan kilometer lempengan tektonik hanya berada beberapa kilometer dari pantai kita yang indah. Kesemua ini adalah karunia Maha Pencipta untuk bangsa ini. Sudah berada ditempatnya ribuan tahun yang lalu. Nenek moyang kitapun sudah hidup dengan keadaan yang demikian. Selain karunia bagi bangsa ini, keadaan ini juga dapat berubah dan menjadi bencana. Bencana dalam berbagai tingkatan dan yang terakhir ini kita alami bencana dahsyat tsunami di Nangro Aceh Darusalam dan Sumatera Utara. Bencana alam inipun telah menggentarkan seluruh dunia.

Bencana dahsyat tsunami yang baru lalu telah menggugah kembali kita semua, baik upaya maupun pemikiran, bagaimana cara untuk menghadapi dan mengurangi dampak bencana semacam ini. Berbagai pemikiran telah sisampaikan melalui tayangan televisi, tulisan di harian dan mingguan. Demikian juga diskusi diberbagai kesempatan. Menteri dan pejabat tinggi telah memberikan rencana mereka secara sektoral.
Sudah saatnya sekarang ini kita secara komprehensif, terkoodinasi dan berkelanjutan, merencanakan dan melaksanakan secara terpadu. Kita perlu segera mengfokuskan dan mulai bekerja untuk dapat mengurangi dan menghindarkan korban, terutama jiwa, dari bencana tsunami yang maha dasyat tersebut.

Kearifan lokal dan tradisional
Tidak tahu kapan bencana dahsyat seperti tsunami pernah terjadi, tetapi nenek moyang kita pasti pernah mengalaminya. Pengalaman dari kejadian-kejadian tersebut tidak banyak yang kita dapati dalam bentuk tulisan. Biasanya pengalaman ini diteruskan dari generasi ke generasi lainnya melalui dongeng, pepatah dan petuah. Masyarakat pulau Simeuleu, sebagai contoh, terselamatkan dari bencana yang besar karena mengikuti petuah leluhur untuk pergi kebukit kalau ada gempa bumi. Tentu petuah ini berlaku bagi pulau Simeuleu ataupun pulau-pulau lain dan pantai yang bisa terkena tsunami. Menurut informasi pulau Simeuleu pernah terkena tsunami pada tahun 1907. Bangsa kita kaya dengan berbagai kearifan tersebut. Kadang-kadang dalam alam modern ini kita memandang berbagai kearifan lokal dan tradisional tersebut sebagai hal yang kuno. Dalam berbagai kehidupan sosial kita sedang kembali menelusuri dang menghidupkan kembali kearifan lokal seperti Ajeg Bali dan Pela Kandong di Ambon.
Seharusnya secara sungguh-sungguh dan berkelanjutan Kementerian Pariwisata dan Kebidayaan bersama dengan pemerintah daerah mengadakan inventarisasi dan pendalaman berbagai kearifan lokal dan tradisonal Tentu dengan melibatkan lembaga-lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan budayawan, yang telah lama membuat kajian mengenai ini. Kearifan Simeuleu dalam menghadapi kedahsyatan bencana tsunami, harus menjadi tonggak bagi kita untuk menempatkan berbagai kearifan yang kita miliki sejak dulu untuk menjadi dasar pemikiran menghadapi dahsyatnya gelombang globalisasi secara keseluruhan.

Pelindung alam dan tata ruang
Jutaan hektar hutan bakau (mangrove) kita disepanjang pantai telah musnah oleh prilaku kita sendiri. Sedang kita sadari juga bahwa hutan bakau adalah salah satu usaha alam untuk meindungi pantai dari gerusan gelombang laut, dan menahan gelombang tinggi. Dalam hal inipun sampai hari ini, kita belum mampu mengatasi secara keseluruhan kerusakan hutan bakau ini. Lain halnya dengan apa yang ada dipantai Sayangheulang, Pameungpeuk, Garut. Salah satu harian nasional (Kompas), pada tanggal 8 Januari 2005, telah mengemukakan pandangan saudara T. Bachtiar, Ketua Masyarakat Geografi Indonesia, mengenai keberadaan bukit-bukit pasir disepanjang pantai selatan Garut, yang bisa menjadi penahan gelombang tsunami. Hutan bakau dan bukit pasir ini mungkin hanya sebagi contoh bagaimana alam melindungi dirinya dari kedahsyatan bencana oleh elemen alam lainnya. Perlu menjadi kajian (mungkin sudah ada) dan mengumpulkan informasi mengenai kemampuan alam dalam melindungi dirinya ini. Tetapi sayangnya kemampuan alam ini telah dirusak oleh manusia sendiri. Mungkin tanpa menyadari akibatnya. Atau karena kerakusan. Bisa juga karena desakan pertumbuhan penduduk dan kemiskinan yang mengakibatkan melupakan semuanya sekedar untuk bisa mempertahankan hidupnya. Prilaku manusia, karena keterpaksaan atau kerakusan, juga telah merusak tata ruang. Sehingga dengan telah rusaknya lingkungan hidup, kehidupan kita telah berada diambang berbagai bencana. Masalah tataruang ini, jangankan menghadapi tsunami, menghadapi bencana yang kita hadapi secara periodik setiap tahun, seperti banjir, seperti tidak berdaya. Hasil kajian, analisa dan pandangan para ahli baik dari lembaga penelitian, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat dan yang lain sudah sering diungkapkan, tetapi kebanyakan berhenti sebagai informasi saja. Baru kali ini, setelah bencana terjadi, pandangan-pandangan ini mulai terungkap. Tentu kita memerlukan komitmen para petinggi Departemen Kehutanan, Departemen Perikanan dan Kelautan, Kementrian Lingkungan Hidup, Kementrian (Departemen?) Pekerjaan Umum ,dan pemerintah daerah, serta para wakil rakyat di DPD, DPR dan DPRD Ini merupakan pekerjaan besar. Selain tsunami ataupun bencana dahsyat lainnya, kita setiap tahuin menghadapi bencana-bencana yang lebih kecil ukuran dan dampaknya.

Kenyataan menunjukan bahwa alam dan kearifan telah dapat mengurangi akibat kedahsyatan bencana tsunami. Disisi lain manusia, seperti di Jepang, dapat mendirikan tanggul-tanggul panahan tsunami ciptaan manusia. Tapi manusia tidak bisa menghentikan tsunami. Tsunami tetap akan ada. Tetap menjadi bahaya bagi sebagian masyarakat kita. Pengalaman di Aceh mengharuskan kita memikirkan dan merencanakan pembangunan sistem peringatan dini (early warning system). Apapun sistem yang akan dibangun, yang paling penting adalah bagaimana masyarakat dapat mendapatkan informasinya. Bagaimana masyarakat tepat waktu diperingatkan. Simeuleu dan masyarakat hewan menunjukan kepada kita kepekaannnya terhadap gejala yang menjadi peringatan.
Bencana Aceh menjadi kesedihan dan keprihatinan seluruh dunia. Kepedulian dan kedukaan umat manusia. Kita terharu menyaksikan tayangan di televisi bagaimana masyarakat Eropa menundukan kepala dan mengheningkan cipta selama tiga menit, dimanapun mereka berada. Mengheningkan cipta dipimpin oleh kepala Negara dan Paus. Kegiatan bandara, bursa, parade dan orang bejalanpun berhenti. Begitu hikmat. Bendera dimana-mana setengah tiang selama satu minggu. Dunia ikut sedih.
Saya kecewa dan sedih bahwa instruksi Presiden untuk mengibarkan bendera setengah tiang tidak ditindak lanjuti dengan informasi yang meluas kepada masyarakat. Sungguh menyedihkan. Hanya sebagian kecil masyarakat kita yang mengibarkan bendera setengah tiang. Ada apa dengan bangsa kita ini?
Semoga segala upaya Presiden diikuti oleh pemimpin dan petinggi bangsa yang lain. Bersama Kita Bisa yang menjadi slogan SBY-JK dalam kampanye semoga bukan hanya sebagai slogan.

Jakarta, 9 Januari 2005

add comment

webmaster