|
| September 2010
|
| sun |
mon |
tue |
wed |
thu |
fri |
sat |
|
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
| 5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 |
| 12 |
13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 |
| 19 |
20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 |
| 26 |
27 |
28 |
29 |
30 |
|
aug
|
oct
|
|
OJEK, BUSWAY, dan MONOREL
creator: Rahardi Ramelan
category: Opini
create date: 2005-05-09
user group:
role: all
|
OJEK, BUSWAY, dan MONOREL
Oleh : Rahardi Ramelan
Ahli Peneliti Utama BPPT/ Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember ITS
Kampanye menjelang Pemilu yang lalu dan yang sedang berjalan telah membawa rejeki kepada sebagian anggota masyarakat kita. Pembuat dan penjual bendera, spanduk, kaos, dan jam tangan, penjual bambu untuk tiang bendera. Demikian juga peserta kampanye yang mendapatkan berbagai jenis upah , telah bisa menikmati peningkatan pendapatan untuk sejenak. Selain itu juga penyewaan kendaraan, baik bis, metromini, minibis sampai dengan ojek telah meningkat dan mereka mengais keuntungan yang berlipat. Kebahagiaan sementara untuk wong cilik. Tapi yang hendak saya bahas disini bukan soal kampanye, tetapi masalah sistem transportasi kota, dimana ojek adalah salah satu moda.
Ojek
Satu kanyataan bahwa keberadaan ojek banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Malah dalam keadaan jalan yang macet dimanfaatkan oleh siapa saja termasuk menteri dan politisi. Tapi bagaimana sebetulnya kedudukan ojek sebagai salah satu moda angkutan umum? Kita pernah mendengar ada seorang menteri, karena dihadang kemacetan, terpaksa mempergunakan ojek untuk bisa tepat waktu hadir disidang kabinet. Dikota besar, termasuk di Jakarta hampir disetiap simpang jalan kita mendapatkan sederetan sepeda motor menunggu penumpang. Mereka sudah bersiap berlomba merebut penumpang sewaktu bis atau minibis berhenti. Sudah dimaklumi para pengemudi ojek dan penumpang bahwa bis dan minibis tidak berhenti dihalte yang telah ditentukan, melainkan berhenti persis dimulut jalan atau disimpang jalan. Ojek juga menjadi angkutan utama bagi mereka yang tinggal dipinggir kota. Ojek menjadi alat angkut yang vital bagi mereka yang tinggal dikompleks perumahan yang jauh dari rute angkutan umum. Tidak terbatas pada perumahan sederhana RSS, tapi juga perumahan menengah dan mewah. Ojek juga bisa ditemui disepanjang jalan raya yang menghubungkan kota-kota. Didesa-desa kita temui juga angkutan umum yang satu ini, menyusuri bukan hanya jalan yang beraspal, tapi juga menyusuri jalan-jalan setapak. Ojek sudah menjadi moda angkutan yang tidak terelakan. Keberadaannya sangat diperlukan oleh masyarakat luas. Dibeberapa tempat mereka mengadakan organisasi sendiri. Mengatur giliran dapat penumpang. Memakai seragam rompi atau helm. Menyediakan helm untuk penumpangnya. Pangkalan tempat menunggu ada yang diatur dengan rapih dan beratap. Dibeberapa tempat kita menjumpai tulisan Ojek baru dilarang. Tentu dengan tujuan untuk membatasi persaingan tidak sehat. Tetapi juga kita menemukan para pengendara ojek yang semrawut. Bersaing dengan ketat tanpa aturan. Sering membahayakan penumpang. Atau mengganggu kelancaran lalulintas disekitarnya. Kita juga pernah mendengar penumpang ojek dikerjain oleh tukang ojek atau sebaliknya.
Yang jelas sudah menjadi kenyataan ojek merupakan bagian dari masyarakat kita. Ojek sudah menjadi salah satu moda angkutan. Ojek saat ini didominasi oleh sepeda motor, ojek sepeda sudah jarang kita temui. Meng-ojek menjadi pekerjaan yang menjanjikan pendapatan yang cukup untuk membiayai kehidupan keluarga. Tingkat pendidikan formal bukan menjadi ukuran dan persyaratan, ada yang buta huruf tapi ada juga yang sarjana. Meng-ojek juga menjadi pekerjaan sampingan bagi pegawai/pekerja yang perlu menambah penghasilannya untuk kebutuhan keluarga. Membeli sepeda motor yang kemudian disewakan sebagai ojek juga merupakan investasi bagi sebagian masyarakat yang mempunyai modal.
Sepeda motor yang dipergunakan sangat beragam, fasilitas kredit perbankan untuk membeli sepeda motor sangat mudah didapat. Tetapi juga bisnis ojek ini dimanfaatkan sebagai penampungan motor bodong. Apalagi didaerah terpencil. Dibeberapa daerah, kepolisian berinisiatif memberikan nomor khusus bagi ojek bodong sambil menunggu proses hukum diselesaikan. Kepolisian tidak ingin menghambat pelayanan angkutan yang dibutuhkan masyarakat, meningkatkan kompetisi sehingga biaya dapat ditekan. Apakah ini kearifan?
Ojek adalah jenis angkutan umum yang paling tidak efisien. Satu pengemudi untuk satu penumpang. Tarifnyapun tidak murah. Misalnya dilingkungan saya tinggal, untuk jarak kurang lebih 2 km, tarifnya antara 3 dan 4 ribu rupiah disiang hari. Malam hari mencapai 5 ribu rupiah. Jarak 500 meter dari jalan dimana ada rute angkutan umum sampai satu komplek perumahan (kebanyakan pegawai negeri golongan I dan II) tarifnya sekitar seribu limaratus rupiah. Kita tidak pernah mendengar berita atau polemik dimedia masa mengenai mahalnya jenis angkutan ini. Pengguna jasa ojek ini adalah dari kalangan menengah bawah dan bawah. Mereka tidak terwakili untuk bisa berteriak dan mengeluh dimedia masa, sehingga luput dari perhatian pemerintah atau LSM. Atau bukan menjadi isu menarik untuk diketengahkan. Sampai hari ini pemerintah, baik pusat maupun daerah, belum mengakui (secara resmi) ojek sebagai bagian dari sistim angkutan umum. Ojek bisa beroperasi karena ada kesepakatan antara stakeholder. Aparatpun seperti memaklumi keberadaan ojek tersebut. Walaupun memakai plat nomor polisi hitam, tidak ada yang menindak walaupun dipakai untuk mengangkut penumpang. Beda halnya dengan jenis angkitan lainnya. Keputusan ditetapkan bersama oleh para pelaku. Jauh dari jangkauan tangan birokrasi yang tambah menyulitkan atau tambah biaya. Masyarakat pemakai menerima keadaan tersebut karena memang membutuhkannya.
Busway
Lain halnya dengan moda angkutan Trans Jakarta, yang lebih populer disebut Busway. Lahirnyapun sudah kontroversil. Rasanya semua orang berbicara dan mendapat tempat dimedia. Keberadaan busway untuk sebagian pemakai jalan yang lain menjadi beban tambahan. Moda angkutan umum ini menggunakan bis ber-AC. Halte juga dibuat khusus ber-AC. Jalan menuju dan keluar dari halte dibuat landai, mamakai atap untuk melindungi penumpang dari sengatan terik matahari atau guyuran hujan. Malah sekarang sedang dibuat lift untuk penumpang. Busway berjalan dijalur khusus, yang bikin iri angkutan umum lainnya. Pokoknya busway memberikan segala kenikmatan bagi pemakainya. Termasuk tariff, yang nilainya dua ribu limaratus rupiah untuk semua jarak termasuk dari Blok M sampai ke Kota. Yang jaraknya hampir 17 kilometer. Inipun masih banyak yang mengeluh. Mengapa banyak kalangan yang peduli akan busway ini? Ada yang pro dan ada yang kontra.
Bagaimana hubungannya dengan angkutan umum lainnya? Konyol apa yang kita lihat disekitar Dukuh Atas. Dengan diresmikannya patung Sudirman, maka setasiun kereta api Dukuh Atas dirubah namanya jadi setasiun Sudirman. Tapi anehnya tempat pemberhentian bis kota yang terletak beberapa puluh meter dari stasiun kereta api tetap bernama Dukuh Atas. Dan anehnya juga pemberhentian Busway disitu juga dinamakan Dukuh Atas. Seharusnya tempat ini bisa dipakai sebagai contoh interchange antara beberapa moda angkutan umum di Jakarta. Namanya terserah apa Sudirman atau Dukuh Atas.
Feeder, Busway serta Monorel
Masalah yang lebih penting adalah bagaimana mengintegrasikan semua jenis angkutan umum yang ada¸termasuk tariff. Bukan masalah feeder baru yang harus dibentuk. Dengan dilanjutkannya proyek Busway dengan koridor II dan III, serta monorel, sekurang-kurangnya untuk beberapa moda angkutan umum seperti bis kota, busway, kereta api Jabotabek dan nantinya Monorel, perlu diintegrasikan. Kejadian dengan Dukuh Atas perlu mendapat perhatian. Perlu dipikirkan interchange dari moda-moda angkutan tersebut. Ojek yang tidak efisien, mahal, tapi dibutuhkan bagi masyarakat wong cilik, telah membuktikan eksistensinya karena lahir dan keberadaannya didasari proses demokrasi yang sebenarnya. Jauh dari tangan-tangan jail birokrasi. Lain halnya dengan busway yang serba glamour, nyaman, dan murah, tapi tidak menyentuh wong cilik malah mendapat tempat dipemerintah dan LSM. Kemana sebenarnya pemihakan ini? Kampanye para Carpres-Cawapres yang sedang berjalan, masalah-masalah nyata semacam ini, masalah pemihakan, tidak tersentuh malah terabaikan. Semoga masyarakat peserta pemilu akan memanfaatkan haknya dan menetapkan pilihannya secara tepat. Memilih mereka yang jelas komitmennya pada wong cilik. Yang jelas pemihakannya. Semoga.
Jakarta, 14 Juni 2004
|
|
|
|