TEKNOLOGI DAN INDUSTRI HANKAM DI INDONESIA

You are not logged in
You are here: home  -  presentation  -  show presentation
Login
email

Password

 
I forgot my password.
please send me a new one.

August 2014
sun mon tue wed thu fri sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31
jul  |  sep

Google Search

TEKNOLOGI DAN INDUSTRI HANKAM DI INDONESIA
creator: Rahardi Ramelan
category: Papers
create date: 2004-08-26
user group:
role: all
Show Topic

TEKNOLOGI DAN INDUSTRI HANKAM DI INDONESIA


PENGUASAAN TEKNOLO&I DAN PENGEMBANGAN INDUSTRI HANKAM

DI INDONESIA

Oleh : Rahardi Ramelan, Hasan Iskandar, Endro Kardono*, Adrian

I. PENDAHULUAN

Tahun 1991 merupakan tahun awal dari akhir dasawarsa abad ke-20. Dalam memasuki dasawarsa ini menjelang abad ke-21 tatanan dunia akan melanjutkan proses perubahan yang sangat cepat dan mendasar; baik dibidang politik, ekonomi, sosial maupun hankam. Tatanan dunia dalam abad ke-20 sebagai warisan Perang Dunia II mulai berguguran. Sedangkan, tatanan dunia abad. ini sedang mencari bentuk yang lebih mapan.

Dibidang ekonomi, perubahan-perubahan mendasar tadi mengakibatkan saling ketergantungan yang makin erat dan mengarah pada integrasi ekonomi dunia. Saling ketergantungan ini dimotori terutama oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan dasar inovasi dalam menghasilkan teknologi-teknologi baru baik yang merupakan bagian dari produk maupun bagian dari proses produksi. Kemajuan pesat teknologi di bidang komunikasi dan sistem informasi serta munculnya kekuatan-kekuatan ekonomi baru telah mengubah secara drastis pola investasi, produksi, distribusi dan perdagangan. Dalam lingkungan dunia usaha, kemitraan usaha internasional makin berkembang.

Pada sisi lain perkembangan sistem perekonomian dunia khususnya dalam dasa warsa terakhir ini yang mengarah pada sistem globalisasi sudah akan terbentuk pada awal dasa warsa 90-an ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa implementasi dari sistem globalisasi ini akan terwujud melalui terbentuknya pasar tunggal Amerika bagian Utara, pasar tunggal Eropah maupun pasar tunggal Asia Pasifik yang masih mencari bentuknya dan masih ditunggu perkembangan yang akan terjadi baik dinegara Uni Soviet maupun Eropa Barat lainnya.

Implementasi dari sistem pasar tunggal ini di satu sisi meningkatkan volume permintaan dan menimbulkan perluasan pasar, akan tetapi dari sisi lain juga menuntut persaingan yang semakin ketat antar produsen dalam memasuki pasar tersebut. Dengan perkataan lain bahwa hanya produk yang kompetitif (dari segi mutu, harga dan waktu serah) yang mungkin memasuki pasar tersebut untuk mendapatkan pangsa pasarnya.

Globalisasi sistem perekonomian dunia tersebut mau tidak mau akan memberikan dampak tersendiri bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dan canggih tadi. Untuk menghasilkan produk yang kompetitif dari segi harga, mutu dan waktu serah yang lebih populer dikenal-dengan~'istilah "Quality,' Cost, and Delivery Time (QCD)" tentu memerlukan dukungan kegiatan dan fasilitas penelitian dan pengembangan yang tangguh pula. Akibatnya biaya penelitian dan pengembangan semakin lama semakin mahal pula.

Berakhirnya Perang dingin antara dua negara adi-kuasa Amerika Serikat dan Uni Soviet, bersatunya kembali Jerman, makin terintegrasinya Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur dalam perekonomian dunia, serta kesepakatan negara-negara adi-kuasa untuk mengurangi persenjataan, makin menjamin tercapainya. stabilitas global dan perdamaian dunia.

Bagi kita dengan adanya stabilitas tadi, terbentang peluang-peluang besar dan semakin dinamis dalam mencapai kemajuan-kemajuan teknologi yang tidak dapat' terpisah dari perkembangan ekonomi.

Perkembangan Teknologi di dunia

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam dasa warsa terakhir ini terasa semakin cepat dan canggih, dan bahkan daur hidup produk (product life cycle) elektronika dan informatika. Perkembangan ilmu pengatahuan dan teknologi tentunya paralel dengan pengingkatan tingkat ketrampilan dan kepintaran manusia dan oleh karenanya perkembangan tersebut telah didayagunakan untuk memperluas ruang lingkup aplikasinya sehingga memberikan dampak yang sangat luas terhadap sektor-sektor industri lainnya dan maupun terhadap alat bantu (tools) dari proses produksi itu sendiri. Oleh karena itu hampir seluruh negara industri maju memberikan prioritas pada upaya penguasaan penelitian dan pengembangan (research & development) industri dan teknologi khususnya dalam bidang teknologi manufaktur, teknologi produk maupun teknologi proses. Pada dasarnya langkah ini mereka tempuh dalam rangka mempertahankan sambil berupaya meningkatkan daya saing produk mereka di pasar internasional.

Demikian pula halnya di antara negara-negara berkembang yang nampaknya telah semakin menyadari pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bagian dari pembangunan nasionalnya, nampak saling berpacu dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun upaya mereka saat ini lebih ditekankan pada peningkatan daya saing dalam rangka membuka akses menuju pasar internasional. Dalam upaya peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan (research & development) sebagai bagian dari upaya peningkatan kemampuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi pada

umumnya dan pengingkatan daya asing produk pada khususnya telah mengarah pada pembentukan pusat-pusat keunggulan teknologi (center of excelence).

Pembentukan pusat-pusat keunggulan teknologi adalah untuk meraih keunggulan teknologi pada masa yang akan datang dimulai dengan terjalinnya kerjasama riset (joint research) antar perusahaan besar yang mempunyai kemampuan dalam bidang penelitian dan pengembangan (R&D).

Bahkan akhir-akhir ini upaya pembentukan pusat keunggulan teknologi tersebut telah diwarnai oleh gejala baru yang lebih dikenal dengan istilah penggabungan (merger) antar perusahaan, acquisition (pembelian), dan "leverage buy out (LBO)", serta aliansi, yang pada dasarnya dilakukan untuk mencapai massa kritis (critical mass).

II. PENGUASAAN TEKNOLOGI DI INDONESIA.

Kalau kita berbicara masalah penguasaan teknologi, kita perlu berasumsi bahwa teknologi itu identik dengan industri. Oleh sebab itu kalau kita ingin menguasai teknologi dalam berbagai bidang maka kitapun tidak boleh lupa terhadap perkembangan industrinya sendiri.

Kebijaksanaan pemerintah dalam rangka penguasaan teknologi merupakan alat yang ampuh di dalam mewujudkan program industrialisasi nasional, dimana pada akhirnya melalui program industrialisasi dan keterampilan yang dimiliki akan dapat menghantarkan bangsa kita ke dalam penemuan-penemuan baru baik "product technology", "manufacturing technology" maupun "production process technology".

Peranan pembangunan industri yang sangat besar di dalam perkembangan dan pertumbuhan pembangunan selan.jutnya, maka pembangunan industri haruslah merupakan usaha terpadu termasuk dalam hal penguasaan teknologi, guna memantapkan proses industrialisasi dalam arti seluas-luasnya.

Dalam usaha mengembangkan pemikiran dalam menentukan prioritas industri yang akan dikembangkan di Indonesia, maka pangkal tolak yang dipergunakan selain penekanan ke arah sasaran yang telah ditetapkan, juga memperhatikan persoalan eknomi yang dihadapi

saat ini, yaitu : pertama, kendala kelangkaan sumber daya dana; kedua, mendesaknya penciptaan lapangan kerja produktif bagi angkatan kerja yang semakin bertambah.

Oleh karenanya pola pengembangan industri nasional ini dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu pertama industri dalam rangka pembentukan modal, kedua industri yang dikaitkandengan pembangunan manusia, dan ketiga adalah program-program keterkaitan antar industri dan / atau sektor ekonomi lainnya.

Industri Dalam Rangka Pembentukan Modal

Penekanan yang dilakukan dalam hal ini adalah pembangunan sektor industri yang mengandalkan nilai keunggulan komparatif yang terkandung dalam sumber daya alam yang dimilik bangsa Indonesia. Industri ini dikembangkan pada dasarnya untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam dan hasil-hasil industri primer untuk dijadikan bahan baku, barang setengah jadi atau barang-barang konsumsi. Industri semacam ini telah berkembang baik untuk memenuhi pasaran dalam negeri maupun luar negeri.

Contoh : Industri LNG, minyak, pertambangan,

kehutanan dan lain-lain.

Dalam rangka pemupukan dana pembangunan, industri yang bertujuan ekspor tersebut merupakan industri yang memegang peranan penting. Oleh karena itu usaha-usaha pemilihan teknologi serta efisiensi produksi perlu terus dilakukan dan dikembangkan agar keunggulan komparatif yang dimilik oleh sumber daya alam tersebut dapat dikembangkan atau setidak-tidaknya dapat dipertahankan.

Teknologi yang diperlukan perlu dipilih dari teknologi-teknologi yang paling mutakhir, efisien dan teruji dari seluruh dunia.

Industri yang Dikaitkan Dengan Pembangunan Manusia

Salah satu sumber daya yang kita miliki yang sekaligus juga menjadi tujuan pembangunan kita adalah manusia itu sendiri. Sedangkan pembangunan industri yang didasarkan atas sumber daya manusia itu sendiri dapat dibedakan dari segi kedudukan/fungsinya

yaitu :

- Manusia sebagai konsumen/pemakai hasil industri.

Penekanan yang dilakukan disini adalah pengembangan sektor industri yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan rakyat banyak. Jadi industri yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus benar-benar memenuhi syarat bahwa jumlah dan kwalitas yang memadai serta harga yang terjangkau oleh masyarakat.

Contoh : pangan, sandang, perumahan, kesehatan dan pendidikan.

- Manusia sebagai tenaga kerja/pelaksana proses produksi.

Penekanan yang dilakukan dalam hal ini adalah pengembangan sektor industri yang mampu menciptakan dan memperluas lapangan kerja (industri padat karya).

Untuk mendorong dan memperluas lapangan kerja tersebut seyogyanya perlu diberikan insentif atau setidak-tidaknya diberi keringanan-keringanan bagi industri yang memerlukan investasi per tenaga kerja yang rendah.

Hal tersebut mengingat tersedianya tenaga kerja yang berlimpah dan relatif murah merupakan salah satu keunggulan komparatif yang kita milihi saat ini. (Aneka Industri)

Contoh : berbagai aneka industri baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor

- Manusia sebagai pembawa teknologi.

Pembangunan industri merupakan bagian dari pelaksanaan pembangunan dalam rangka mencapai sasaran pembangunan jangka panjang yaitu struktur ekonomi yang seimbang dimana terdapat kemampuan dan kekuatan industri yang maju yang didukung oleh kemampuan dan kekuatan pertanian yang tangguh.

Dalam rangka mentransformasikan bangsa dan negara kita akan menjadi negara industri pada era tinggal landas nanti dan dikaitkan dengan fungsi manusia sebagai pembawa teknologi, maka pembangunan industri dimaksud perlu dititik beratkan pada industri rekayasa dan manufaktur. Penekanan yang dilakukan disini ialah pengembangan sektor industri yang tercakup dalam strategi transformasi industri dan teknologi (delapan wahana industri) dalam rangka meningkatkan ketrampilan bangsa dan sekaligus menguasai teknologi.

Mengingat penguasaan dan pengembangan teknologi ditentukan oleh manusia itu sendiri, berarti penguasaan dan pengembangan yang dimaksud tak lain adalah usaha pembinaan manusia menjadi lebih terampil dan bermutu. Pada dasarnya penguasaan teknologi ini bukan hanya membutuhkan tenaga terampil saja tetapi juga dana dan waktu.

Keterkaitan antar sektor industri dan/atau sektor ekonomi.

Dalam hal ini penekanannya adalah pengembangan sektor industri yang didasarkan atas keterkaitan antar sektor industri itu sendiri dan / atau sektor ekonomi lainnya. Dalam menyusun komoditi-komoditi secara tegas untuk menentukan pengembangan masing-masing industri, tidak bisa terlepas dari keterkaitan baik antar industri itu sendiri dengan kegiatan ekonomi lainnya.

Contoh :

- Bauxit - Alumina - Aluminium.

- Industri gula dengan sektor pertanian tebu. Industri gula yang didirikan tersebut tidak melihat kepada kelayakan ekonominya semata-mata tetapi juga untuk melindungi petani tebu yang sudah ada.

Setelah tadi disinggung mengenai pengelompokkan industri di Indonesia, maka dalam rangka strategi transformasi teknologi dan industri yang merupakan konsep yang menempatkan manusia sebagai pembawa teknologi, didalam awal pelaksanaannya untuk dapat menguasai teknologi ada dua alternatif yang dapat ditempuh yaitu:

pertama; pengembangan teknologi yang telah ada melalui kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan sendiri, atau

kedua; dengan jalan pintas melalui pengalihan teknologi dari negara-negara yang sudah maju teknologinya.

Bagi Indonesia menggunakan cara yang kedua yaitu melalui alih teknologi lebih menguntungkan, karena cara yang pertama, selain memerlukan waktu panjang dan biaya yang besar, juga tersedianya tenaga ahli dan terampil masih terbatas.

Alih teknologi sebagai tahapan pertama adalah cara yang paling bijaksana dalam pelaksanaan program industrialisasi bagi pembangunan industri di Indonesia, dan perlu dilaksanakan terus sampai bangsa kita siap dan mampu secara ilmu pengetahuan dan teknologi maupun industri untuk memasuki era penemuan-penemuan baru baik "produk-produk baru", "manufacturing technology" maupun "production process technology".

Dan dalam konteks ini telah ditetapkan industri-industri yang akan menjadi "pusat keunggulan" dalam bidang-bidang industri alat-alat transportasi baik udara, darat maupun laut, industri telekomonikasi dan elektronika, industri pembangkit energi, industri perekayasaan, industri alat dan mesin pertanian, dan industri pertahanan.

Pemilihan industri dan teknologi tersebut didasarkan atas kebutuhan bangsa kita yang berpenduduk sekitar 200 juta orang pada awal abad yang akan datang dan melingkupi wilayah seluas 5.193.250 km2 yang meliputi wilayah daratan dan wilayah lautan.

Dari segi kesiapan, telah juga dibangun Balai-Balai Libang di Departemen, laboratorium-laboratorium di PUSPIPTEK Serpong dan lain-lain yang dapat menunjang proses penguasaan teknologi tersebut.

Disamping mempersiapkan sarana-sarana fisik tersebut diatas, pemerintah juga memberikan perhatian yang cukup serius dalam pengembangan perundang-undangan dan peraturan, yang erat kaitannya dengan penguasaan dan pengembangan teknologi antara lain:

- Dewan Riset Nasional (DRN) tahun 1984; - Dewan Standardisasi Nasional (DSN) tahun 1984; - Undang-Undang Hak Cipta tahun 1982 dan telah disempurnakan pada tahun 1987;

- Undang Undang Paten tahun 1989;

- Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) tahun 1990.

DANA KEGIATAN LITBANG

Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa sejarah telah membuktikan bahwa sumber daya alam yang berlimpah ruah tanpa ditunjang oleh kemampuan menguasai teknologi tidak lagi dapat dijadikan andalan bagi suatu bangsa dalam melaksanakan pembangunan nasionalnya. Namun menyadari akan besarnya biaya yang diperlukan dalam melakukan penelitian & pengembangan serta adanya tantangan yang diakibatkan oleh globalisasi ekonomi serta kecepatan perkembangan teknologi yang mengakibatkan "life cycle" dari teknologi itu semakin memendek, maka timbul kecenderungan untuk melaksanakan kegiatan penelitian & pengembangan secara bersama (joint research).

Tiap-tiap negara mempunyai keinginan yang berbeda dalam menguasai teknologi untuk kepentingan sendiri. Baik sebagai "leader" dalam teknologi tertentu ataupun untuk bisa menguasai teknologi untuk kepentingannya sendiri karena teknologi tersebut tidak dikembangkan oleh negara lain. Sebab itu Pemerintah dari negara tertentu memberikan anggaran yang cukup untuk kepentingan litbang pada teknologi tertentu saja. Sedangkan teknologiteknologi lainnya diserahkan kepada industri untuk mengembangkannya sendiri. .

Sebagai contoh di beberapa negara maju, ratio pengeluaran pemerintah terhadap total investasi untuk kegiatan penelitian & pengembangan pada tahun 1985, yaitu :

- Jepang 19,4 %

- Jerman Barat 39,6 %

- Inggris 42,6 %

- Amerika Serikat 46,8 %

- Perancis 53,5 %

Sedangkan kalau dilihat dana pengeluaran untuk kegiatan penelitian & pengembangan terhadap GNP di beberapa negara, yaitu:

- Jepang (1986) 2,74 %

- Amerika Serikat (1986) 2,70 %

- Jerman Barat (1985) 2,80 %

- Korea (1985) 1,77 %

- Indonesia (1983) 0,45 %

- Malaysia (1984) 0,66 %

- Thailand (1985) 0,30 %

Di lain pihak dalam suatu kelompok (group) perusahaan besar baik yang tergolong "multi bussiness" ataupun yang tergolong "multi national corporation", terdapat kecenderungan bahwa semakin besar biaya proyek penelitian yang diperlukan maka semakin sentral pula penanganannya. Dengan perkataan lain bila dibuat klasifikasi kegiatan penelitian yang dapat dilakukan mulai dari tingkat perusahaan, group, sampai tinglsat "corporate", maka jelas -terlihat bahwa penelitian dasar ("basic research") hanya layak dilaksanakan pada tingkat "corporate" saja.

(Gambar 1 : Kegiatan litbang di sektor swasta. )

Disamping itu, mengingat besarnya dana yang dibutuhkan untuk kegiatan "basic research", maka sumber pendanaan kegiatan dimaksud dapat dipilcul bersama oleh industri/perusahaan dan pemerintah, bahlcan khusus bagi penelitian yang bersifat strategis dan menunjang kepentingan nasional dapat pula sepenuhnya dibebankan pada pemerintah.

Oleh karena itu, biasanya pemerintah menetapkan jenis- jenis penelitian yang akan dibantunya.

Berikut ini disajikan tabel tentang alolcasi dana litbang yang dibiayai bersama antara pemerintah dan pihak swasta untuk berbagai kegiatan litbang di Amerika Serikat.

(TABLE I)

Dari data di atas terlihat bagaimana pemerintah di beberapa negara maju menunjang kegiatan penelitian pengembangan di negaranya masing-masing, di mana untuk penelitian bidang-bidang yang lebih dibutuhkan pemerintah maka sebagian atau bahkan seluruh kebutuhan dana dapat dibiayai oleh pemerintah. Sedangkan untuk bidang-bidang yang dianggap lebih banyak manfaatnya bagi swasta malca pemerintah hanya membiayai / memberikan subsidi sebagian kecil atau bahkan sama sekali tidak.

Salah satu bentuk baru dalam rangka mengefektifkan serta memproduktifkan kegiatan litbang yang meliputi keterbatasan dana, globalisasi pasar dan langkanya tenaga ekspert, maka beberapa industri di dunia melakukan atau menempuh cara: merger, aliansi strategis, acquisition (pembelian). Walaupun cara-cara tersebut bagi orang-orang yang hanya berorientasi pada globalisasi pasar hal ini ditafsirkan sebagai upaya yang menjurus ke arah konglomerasi, namun ditinjau dari segi kegiatan litbang upaya ini nampaknya cukup efektif untuk mendorong perkembangan teknologi.

KERJASAMA DALAM KEGIATAN LITBANG.

Pelaksanaan kegiatan litbang dalam rangka penguasaan teknologi, industri tidak melaksanakannya sendiri akan tetapi industri juga harus mengadakan kerjasama dengan lembaga litbang dan perguruan tinggi. Suatu synergy dalam bentuk kerjasama antar pelaku dalam iptek yaitu industri-lembaga penelitian-perguruan tinggi, perlu dikembangkan semakin erat serta ditata dan dilibatkan ke dalam program-program yang pelaksanaannya antara lain melalui pendirian apa yang disebut dengan "science based industrial park" atau "technology based industrial park" yaitu: mengembangkan pusat-pusat industri di sekitar perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian.

Salah satu gambaran kongkrit yang membuat kita optimis bahwa kita akan berhasil mengantarkan bangsa kita memasuki tahap dapat mengembangkan teknologi sendiri adalah pengalaman yang berhasil dicapai di sektor industri pesawat terbang yaitu dengan diproduksinya CN-235 oleh IPTN dan kini IPTN sedang mempersiapkan produk terbarunya N-250 yang merupakan hasil rancang bangun dan rekayasa bangsa sendiri adalah jelas melambangkan bawha industri tersebut telah memasuki tahapan kedua dalam proses penguasaan teknologi. Pengalaman dan prestasi ini jelas merupakan hasil kerja keras yang dilakukan dalam bidang penguasaan teknologi dan tidak terlepas dari keterpaduan kerjasama antara industri (IPTN) - lembaga penelitian (LUK & LAGG di Serpong) - Perguruan Tinggi (ITB).

Contoh lainnya keberhasilan PT. PAL Indonesia dalam melakukan rancang bangun dan rekayasa kapal Caraka Jaya pada gilirannya meningkatkan kemampuan berbagai industri galangan kapal nasional, karena untuk memproduksi kapal Caraka Jaya tersebut galangan-galangan lainnya juga turut dilibatkan. Keterpaduan antara industri dengan kegiatan penelitian dilaksanakan dengan didirikannya Laboratorium Hydrodinamika lengkap dengan "Towing Tank" di ITS - Surabaya, sekaligus memperlihatkan adanya skenario yang utuh dalam mengefektifkan hubungan "industri - laboratorium penelitian - perguruan tinggi".

Upaya penguasaan teknologi yang dilakukan oleh berbagai BUMN dalam rangka mengembangkan misinya sebagai "agent of development" diharapkan mampu menumbuhkan berbagai pusat keunggulan teknologi (center of excellence) di bidangnya masing-masing. Selanjutnya hasil-hasil yang telah dicapai melalui kegiatan alih teknologi dapat pula disebarkan ke seluruh industri yang sejenis.

Dalam kaitannya dengan kerjasama antara ketiga pelaku teknologi dalam pelaksanan kegitan litbangr-:maka baik industri (BUMN/BUMNIS/SWASTA) - lembaga penelitian - perguruan tinggi diperlukan adanya satu perencanaan terpadu untuk emenempatkan ketiga pelaku teknologi pada tempatnya sehinggadapat tumbuh lebih cepat terbentuknya pusat-pusat keunggulan teknologi.

Terbentuknya pusat-pusat keunggulan teknologi ternyata dapat pula dijadwalkan keunggulan komparatif industri dalam negeri dalam mengantisipasi kecenderungan pemusatan keunggulan teknologi secara internasional. Sehingga industri nasional yang telah memiliki pusat keunggulan teknologi nantinya diharapkan dapat membentuk aliasi dengan negara-negara maju yang memiliki pusat keunggulan teknologi yang sejenis.

INCUBATOR PROGRAM

Untuk lebih meningkatkan kaitan antara industri - lembaga penelitian - perguruan tinggi dan untuk lebih menyalurkan inovasi-inovasi perorangan atau kelompok menjadi suatu kenyataan yang dapat dikomersilkan sejak tiga dekade di Amerika Serikat yang juga kemudian diikuti oleh negara-negara Eropa Barat dan negara berkembang telah dikembangkan pusat-pusat pengembangan usaha teknologi yang disebut "Incubator". Program "incubator" ini diciptakan untuk memberikan tempat yang murah serta pelayanan teknologi dan kewiraswastaan untuk para inovator supaya dapat menegaskan penemuannya tersebut, sehingga pada suatu saat bisa menjadi usahawan/entrepreneur.

Incubator ini biasanya dipusatkan di sekitar Perguruan Tinggi atau pusat-pusat penelitian dan pengembangan. Sejalan dengan program incubator ini juga dikembangkan Lembaga Keuangan Non bank yang dapat berpartisipasi dalam proses pematangan suatu penemuan sampai terbentuknya perusahaan bisa berkembang dan menguntungkan. Lembaga-lembaga Keuangan ini biasanya menyediakan apa yang disebut "Seed Capital" dan juga yang berbentuk "Venture Capital". Jadi pada awal proses pengembangan inovasi sampai terbentuknya perusahaan inovator tersebut tidak dibebani keharusan memberikan garanti untuk pinjaman bank serta tidak dibebani oleh bungan bank. Dengan demikian penguasaan teknologi dapat terlaksana baik pada perusahaan-perusahaan besar maupun bisa berawal dari perorangan atau kelompok.

Dengan program incubator ini, yang telah mulai dijajagi di Indonesia, akan memberikan iklim yang lebih mendorong pemanfaatan teknologi dan tidak terbatas pada perusahaan-perusahaan besar, tetapi juga oleh perorangan ataupun kelompok yang lebih kecil.

Dikaitkan dengan pendanaan melalui Lembaga Keuangan seperti "Venture Capital", maka satu jalan menuju lahirnya usahawan usahawan/entrepreneur baru dibidang teknologi akan lebih terbuka dan pada sisi lain akan lebih merangsang daya kreatif intelektual bangsa kita untuk menghasilkan penemuan/inventions dan inovasi inovasi. Keterlibatan baik

perusahaan besar perorangan dalam teknologi ini merupakan bagian dari proses pemerataan yang kita harapkan dan perjuangkan.

III. PENGEMBANGAN INDUSTRI HANKAM DI INDONESIA

Industri pertahanan keamanan ialah tatanan segenap potensi industri nasional baik milik pemerintah maupun swasta, yang mampu secara sendiri-sendiri atau kelompok, untuk sebagian atau seluruhnya menghasilkan alat peralatan Hankam serta jasa pemeliharaan guna kebutuhan pertahanan keamanan negara. Dengan demikian industri Nasional merupakan salah satu prasarana Nasional yang perlu diarahkan untuk mampu menunjang pengelolaan pertahanan dan keamanan Negara. Oleh karena itu, penataan industri nasional harus demikian rupa sehingga salah satu aspek kemampuan industri nasional adalah industri pertahanan dan keamanan untuk mendukung kebutuhan pertahanan dan keamanan negara akan alat dan peralatan sistem senjata.

Salah satu kebijakan yang ditempuh pemerintah pada akhirakhir ini yang akan menentukan keberhasilan bangsa kita dalam menguasai dan mengembangkan teknologi adalah dibentuknya Badan Pengelola Industri Strategis yang membawahi 10 BUMN yang dinilai strategis bagi pengembangan teknologi di Indonesia.

Diharapkan kesepuluh perusahaan tersebut dapat berkembang menjadi "center of excellence" atau pusat keunggulan teknologi di bidang masing-masing, sehingga mampu mendorong industri dalam negeri lainnya untuk menguasai teknologi manufaktur dan teknologi produk. Melalui langkah ini diharapkan daya saing produk dalam negeri semakin meningkat serta akses menuju pasar internasional semakin terbuka.

Selanjutnya dalam operasionalisasi dari strategi Transformasi Industri dan Teknologi yang dikemukakan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi, bahwa pelaksanaan transformasi industri dan teknologi dilaksanakan dalam 8 wahana industri. Kesepulih BUMN Industri Strategis merupakan pelaksana dari pada strategi transformasi industri dan teknologi yang termasuk di dalam 8 wahana tersebut.

Sekarang kalau kita lihat kembali bahwa dalam rangka strategi transformasi industri dan teknologi untuk menguasai dan mengembangkan teknologi, maka industri-industri strategis di lingkungan BPIS yang mewakili wahana-wahana transformasi industri dan teknologi sebagai berikut :

- Industri Penerbangan diwakili oleh PT. IPTN;

- Industri Maritim & Perkapalan diwakili oleh PT. PAL Indonesia;

- Industri Alat Transportasi Darat diwakili oleh PT. INKA;

- Industri Telelcomunikasi dan Elelctronika diwakili oleh PT. INTI dan LEN-BPIS;

- Industri Alat Pembangkit Energi diwakili oleh PT. BBI;

- Industri Perekayasaan;

- Industri Alat dan Mesin Pertanian diwakili oleh PT. Barata Indonesia;

- Industri Pertahanan diwakili oleh PT. PINDAD dan PT. DAHANA.

(GRAPH)

Dengan dibentuknya center of excellence bukan berarti bahwa semua komponen dibuat sendiri di center of excellence tersebut, justru cenderung memacu laju pertumbuhan industri-industri penunjang yang dapat berbentuk sub-contract, vendors spesific maupun universal equipment.

Dengan terbatasnya anggaran pertahanan untuk pengadaan peralatan yang memungkinkan keterkaitan dengan pengembangan industri di dalam negeri, maka kebijaksanaan investasi kemampuan produksi dan penguasaan teknologi didasarkan kepada produk-produk komersial.

Kemampuan produksi dan teknologi yang dipilih dan dikembangkan sedemikian sehingga relevan untuk memproduksi dan mengembangkan produk militer.

Bidang-bidang industri pertahanan dan keamanan, untuk mendukung keperluan Hankam/ABRI yang dibahas pada kesempatan ini:

- sistem senjata meliputi platform (udara, laut dan darat), senjata dan bahan peledak dan propelant.

- sistem Komando, Kendali, Komunikasi dan Informasi (K3I)

PLATFORM

1. Platform Udara

Dalam melakukan pengalihan teknologi atas dasar lisensi PT. IPTN telah memproduksi platform pesawat bersayap tetap NC212 dibawah lisensi dari Construcciones Aeronauticas SA (CASA), Spanyol (1976); platform Helikopter tipe NBO-105 dibawah lisensi Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB) Jerman Barat(1976); helikopter Puma NSA-330 dan Super Puma NAS-330 dibawah lisensi Aerospatiale, Perancis (1977); helikopter NBell-412 lisensi dari Bell Textron Inc, USA (1982); dan helikopter NBK117 lisensi dari MBB - Kawasaki (1982).

Bentuk kerjasama lain ialah offset dengan General Dynamics USA sehubungan dengan pengadaan pesawat jet tempur F16. Dalam pelaksanaan program offset tersebut pesawat tempur F-16 berdasarkan kontrak, PT. IPTN membuat 3.476 komponen meliputi wing flaperon, vertical finskin, forward engine access door, main landing gear door, weapon pylon dan fuel tank pylon.

Demikian juga program offset dengan British Aerospace Co. dalam pengadaan Rapier serta kerjasama dengan Boeing dan Fokker dalam menyediakan bagian pesawat untuk produksi Boeing dan Fokker yang dikaitkan dengan pembelian pesawat-pesawat terbang oleh Garuda dan Merpati.

a Kemampuan Manufaktur

Fasilitas permesinan tidak kalah pentingnya untuk mendukung pengembangan program PT. IPTN telah disiapkan. Fasilitas permesinan sedemikian mutlak diperlukan agar supaya PT. IPTN memungkinkan mendapatkan tempat tersendiri dalam kelas dunia industri pesawat t-erbang. Sekarang PT. IPTN mampu membuat semua komponen pesawat terbang produksinya. Bersama - sama dengan pertambahan program pengembangan dan dalam rangka menuju "Full Manufacturing"; PT. IPTN memasang mesin-mesin modern pada perluasan area produksi.

Sejak tahun 1981 PT. IPTN memasang mesin modern optical milling dan memasang 156 mesin conventional, 51 Touch-in Numerical Control (TNC) dan 24 unit Computerized Numerical Control (CNC) Machine untuk keperluan membuat jigs dan tools serta membuat komponen pesawat terbang; Chemical Milling Process digunakan untuk membuat komponen pesawat terbang sampai ketebalan 5 mm yang cukup sulit jika dilakukan dengan Milling Machine; 3 unit Autoclaves dengan kemampuan sampai dengan diameter 3.000 mm dan panjang sampai dengan 10.000 mm yang digunalcan untuk membuat komponen pesawat terbang dari bahan composite dan rencana pendirian Composite Bonding Center (CBC).

b. Kemampuan Desain

Pengembangan tahap kedua yaitu tahap integrasi teknologi dengan melalui kerjasama program. Untuk melaksana


add comment

webmaster